
Ayesha telah kembali kekamarnya, dia juga telah membersihkan diri dan merapikan dirinya. Kemudian dia membangunkan Clara yang masih tertidur pulas.
Ayesha membuka gorden kamar, mentari pagi menyingsing menerangi wajah Clara, membuatnya merasa silau. Clara mengerjapkan matanya sambil menaikkan selimut ke tubuhnya. Udara musim dingin London begitu menusuk tubuh wanita itu membuatnya ingin berlama-lama menikmati tidurnya.
"Good morning Miss Clara". Sapa Ayesha membangunkan wanita itu.
Clara membuka matanya perlahan sambil meletakkan tangannya di atas matanya. Menutupi sinar matahari yang menyilaukan matanya. "Dimana ini?"
"Anda berada dikamarku Mrs. Clara."
"Bagaimana bisa aku ada disini?"
Gadis itu tidak ingat sama sekali dia dibawa ke kamar Ayesha karena mabuk berat, setahunya tadi malam dia bersama teman-temannya ke club dan bertemu dengan Reynold dan teman-temannya. Kemudian mereka minum dan bercengkrama sambil melepaskan kepenatan setelah bekerja. Setelah itu Clara tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Maafkan saya Ayesha karena mabuk aku jadi merepotkanmu. Aku sungguh-sungguh tidak bisa mengingat apapun." Dia mengusap pelan wajahnya. Dan sekarang wajah wanita itu memerah karena malu.
"Tidak apa-apa miss, sekarang anda mandi saja dulu. Nanti kalau anda mau anda bisa ikut jalan-jalan bersama kami." Tukas Ayesha.
"Jalan-jalan? Aku ikut." Pinta wanita itu.
Ayesha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Wanita itu segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian menuju ke kamar mandi.
"Mrs. Clara, saya tunggu di loby bersama yang lain ya!!." Ayesha sedikit berteriak karena wanita itu telah berada dikamar mandi.
Clara hanya memberi kode dengan jempol tangannya yang tersembul dibalik kamar mandi.
***
Ayesha segera menuju ke Loby bersama Reynold dan yang lainnya.
"Ayesha, mana Clara?" Reynold memperhatikan Ayesha yang berjalan sendirian. Matanya menyusuri setiap sisi ruangan mencari keberadaan gadis blonde bermata biru itu.
"Mrs. Calara lagi bersiap-siap. Dia baru saja bangun." Jelas Ayesha yang kini berdiri diantara mereka.
"Cieee lo kangen ya sama Clara?" Ledek Victory pada sahabatnya itu.
Reynol tidak menjawab, hanya menatap sedikit kesal karena ledekan Victory, tapi yang dikatakan Victory itu benar. Dia memang merindukan gadis itu, karena sejak pertemuan mereka di club dia benar-benar ingin dekat dengan gadis itu. Sekarang wajahnya memerah rahangnya mengeras, bukan karena marah tapi dia menjadi salah tingkah oleh ucapan Victory.
Tak lama setelah menunggu Clara muncul dihadapan mereka. Wanita itu kini memakai dress pendek selutut berwarna biru menampilkan kaki jenjangnya yanf terbalut high hells yang berukuran tinggi 10 cm, dengan rambut surainya yang diletakkan ke bagian depan tubuhnya. Benar-benar maha karya Tuhan yang begitu indah.
"Hi... everyone? I'm late?" Tanyanya sambil memperhatikan keempat orang itu.
"Clara... you so beautifull." Spontan saja kata-kata itu keluar dari mulut Reynold.
Wanita itu tersenyum dan wajahnya memerah malu karena pujian Reynold. Sungguh wanita itu benar-benar merasa pujian itu sangat menggelitik hatinya, untuk menutupi rasa groginya dia menyibakkan rambutnya kebelakang sambil tersenyum.
"Mrs. Clara, rencananya kita mau jalan-jalan apa anda mau ikut?" Tanya Evan padanya. Sambil mendekati wanita itu.
"Oh tentu saja aku ikut. Aku akan tunjukkan destinasi wisata terbaik dikota ini." Tukasnya.
Mereka sepakat untuk pergi dan Reynold segera memesan mobil untuk mereka jalan-jalan. Cukup menunggu 15 menit mobil itu datang menjemput mereka dan mereka segera pergi ke tempat yang ditunjukkan Clara.
Clara menyuruh supir itu ke arah Southbank dan Somerset House. Tempat itu merupakan wilayah pusat seni di London. Tempat kunjungan pertama, Southbank Centre, terletak sekitar lima menit jalan kaki dari stasiun Waterloo.
"Ini adalah tempat pameran seni. Acara-acara yang diselengarakan Southbank Centre berlangsung sepanjang tahun. Biasanya di Southbank Centreuntuk." Jelas Clara.
Mereka hanya memperhatikan sekeliling tempat itu sambil menganggukkan kepala. Bangunan klasik dengan ciri khas eropa yang benar-benar terlihat elegan. Dengan berbagai patung seni yang terlihat seperti manusia asli. Di tempat itu ada beberapa patung pemain sepak bola dan juga tokoh-tokoh ternama yang sangat mirip dengan aslinya. Keempat orang itu saling berpandangan memperhatikan patung-patung itu.
"Di musim panas juga sering diadakan pertunjukan gratis. Semacam konser musik atau bahkan pameran fotografi. Bahkan ada tenda sapi ungu untuk festival seni pertunjukan, Udderbelly. Nah, di Udderbelly ini ada pertunjukan sirkus teater yang lain dari sirkus biasanya, komedi, teater anak-anak dan banyak hal lainnya. Tahun lalu di Udderbelly aku pernah nonton sirkus teater, Flown. Jadi kalau ke London, coba deh kunjungi Southbank Centre ini." Jelas Clara lagi sambil menunjukkan tempat yang biasa digunakan untuk teater musim panas kepada rekan-rekannya itu.
"Apakah saat musim dingin juga ada acara seperti itu?" Tanya Ayesha yang tertarik dengan cerita Calara.
"Saat ini musim dingin seperti ini, biasanya di luar Southbank Centre ada Christmas Market.
"Apakah kalian suka shopping atau mau lihat barang-barang dengan desain yang keren? Disini ada dua toko di bagian dalam dan sebelah Southbank Centre yang isinya sarung bantal sampai stationery dengan desain terbaru. Oya, ada juga toko dekat Southbank Centre, tepatnya di depan Royal Festival Hall, yang produknya didesain khusus untuk seni teater. Jika kalian tertarik kalian bisa membelinya untuk oleh-oleh yang unik dari Inggris." Tawar Clara pada mereka.
"Wah boleh. Ayo kita membeli oleh-oleh ditempat yang Clara bilang." Ajak Reynold.
__ADS_1
Mereka segera berbelanja untuk oleh-oleh saat mereka pulang nanti.
Setelah puas berbelanja mereka menaruh barang belanjaan mereka ke dalam mobil. Selanjutnya Clara mengajak mereka ke BFI, British Film Institute. Tempat ini selalu menampilkan film-film indie dan klasik. Kalau mau nonton, sangat dianjurkan book in advance, karena sering tiket akan sold out jika terlambat memesan tiket.
Untung saja mereka tidak terlambat. Mereka bisa mendapatkan tiket dan menonton film kolosal berjudul Breavheart. Selama dua jam mereka menikmati film hingga film berakhir. Sekarang mereka merasa lapar dan haus. Tempat tujuan mereka kini adalah Kafe dan restaurant yang terdapat disekitar tempat itu.
Mata Ayesha tertuju pada penjual buku di depan BFI, kalau siang, di depan BFI hampir selalu ada pasar buku dan vinyl bekas, karena Ayesha suka membaca diapun beli buku bekas di sini. Harganya £1.20 atau sekitar Rp22.000. Dia membeli sekitar 10 pcs novel kesukaannya.
"Berapa buku-buku ini tuan?" Tanyanya pada penjual buku itu.
"Semuanya £12." Jawab penjual buku itu.
"Pak ini uangnya." Victory tiba-tiba saja muncul dan membayar semua buku Ayesha.
Ayesha terkejut, karena dia hanya meminta Victory menemaninya saja tapi lelaki itu malah membelikannya buku.
"Tapi kamukan tidak beli buku." Sela wanita itu padanya.
"Tidak apa sayang. Kan kamu suka bukunya biar aku belikan saja." Jawab Victory sambil membawakan buku-buku tersebut kemudian meminta dibungkuskan oleh penjualnya.
"Teman-teman yang lain dimana?" Tanya Ayesha sambil melirik kanan kiri.
"Mereka menunggu dicafe dan restoran sana." Tunjuk Victory kearah seberang.
Mereka segera ke tempat itu untuk segera bergabung. Dari kejauhan Clara melambaikan tangan pada kedua orang itu. Mereka sengaja menuju ke sana. Reynold sengaja memilih tempat outdor karena ingin menikmati makanan dan minuman sambil melihat salju musim dingin kota London.
"Dari mana kalian?" Tanya Reynold
"Kami membeli buku-buku ini." Jawab Victory.
"Banyak sekali." Ujar Evan.
"Iya aku sengaja beli banyak karena harganya murah." Ucap Ayesha.
"Kau membeli novel ya?" Clara melirik bungkusan Ayesha.
Wanita itu menganggukkan kepalanya sambil menikmati coklat panas.
"Kalau begitu kau bisa membaca bersamaku nanti." Tukas Ayesha sambil menikmati makanan yang telah disediakan oleh waiters.
***
Selesai menikmati makanan dan minuman mereka lanjut lagi ke arah jembatan dekat Southbank Centre, Hungerford Bridge.
"Nah, ini pasti adalah salah satu momen yang paling kalian tunggu". Ujar Clara pada mereka.
Mata keempat orang itu membulat memperhatikan keindahan kota London dari atas jembatan. Langsung saja mereka mengambil kamera yang telah mereka bawa dan menyiapkan triport untuk penegak kamera itu, karena tempat itu adalah tempat terbaik untuk foto landscape London. Mereka mengukir kenangan di jembatan itu dengan berpose dengan berbagai gaya. Mulai dari foto sendiri-sendiri, berdua dan foto bersama. Menyenangkan sekali. Benar-benar momen terindah yang tak terlupakan.
Puas berfoto-foto mereka melanjutkan perjalanan ke Somerset House yang ada di seberang jembatan. kalau musim semi dan panas, biasanya di tempat itu akan menampilkan berbagai pameran seni, ada yang gratis ada yang juga harus bayar. Kalau datang ke sini akhir April awal Mei, sebaiknya mampir ke pameran illustrasi dan grafis, Pick Me Up yang isinya karya up-and-coming artists. Biaya masuk £10. Nah, di pameran ini pengunjung bisa partisipasi dengan aneka aktivitas dan workshops. Semua seniman yang hadir untuk menjual karya juga sangat ramah, bahkan mendorong pengunjung tertarik untuk mengambil foto karya-karya mereka.
Namun karena ini bulan Desember dan musim dingin. Jadi tempat pameran itu tidak dibuka. Hanya saja dipelataran tempat pameran itu disediakan tempat untuk bermain ice ceating.
Victory sangat suka bermain ice ceating tanpa ragu dia mengajak Ayesha dan yang lainnya untung bermain ice ceating bersamanya. Reynold dan Clara yang telah terbiasa bermain ice ceating langsung saja mengambil peralatan dan perlengkapan kemudian bermain dengan lincahnya. Begitu juga Evan yang sangat senang bermain.
"Ayesha ayo ikut bersama kami." Ajak Clara.
Ayesha hanya tersenyum merespon ajakan Clara dan tetap berdiri di dekat pelataran. Bukannya tidak mau ikutan hanya saja dia tidak bisa bermain ice ceating.
Victory yang menyadari kondisi Ayesha langsung menghampirinya.
"Ayesha ayo. Apa kau tidak bisa bermain ice ceating?"
Ayesha hanya menggelengkan kepalanya. Dia merasa malu karena diantara mereka hanya dirinya yang tidak bisa bermain ice ceating.
Victory mengerti. Dia segera mengulurkan tangannya pada Ayesha kemudian mengambilkan peralatan dan perlengkapan ice ceating untuk Ayesha.
"Apa kau yakin menyuruhku ikut bermain?"
__ADS_1
"Ya tentu saja. Kau tidak perlu khawatir aku akan mengajarimu hingga kau akan menikmati bermain ice ceating dimusim dingin."
Ayesha sangat senang dengan ajakan Victory. Diapun memberanikan diri untuk mencoba. Victroy berdiri dihadapannya sambil memegangin dirinya agar tidak jatuh. Awalnya Ayesha sangat gugup dan sesekali dia terjatuh karena tidak seimbang, tapi Victory selalu melindunginya hingga Ayesha tidak terhempas.
Victory mengajarinya dengan sangat sabar. Hingga lama kelamaan Ayesha bisa melakukannya sendiri.
"Victory, lihat ini aku sudah bisa." Wanita itu memamerkan kepandaiannya kepada Victory.
Dia berjalan menggunakan ice ceating itu tanpa ragu sambil berputar ala balerina dihadapan Victory. Lelaki itu tersenyum kagum memperhatikannya. Victory menghadiahi tepuk tangan untuknya. Sontak saja orang-orang yang melihatnya juga ikut memberikan applaouse memberikan semangat padanya.
Reynold, Evan dan Clara mendekati Ayesha kemudian mereka bermain bersama-sama. Mereka menunjukkan permainan yang bagus membuat orang-orang yang memeperhatikan gerakan mereka berdecak kagum.
Hari itu benar-benar hari yang menyenangkan, karena secara tidak langsung mereka membuat momen terindah di London.
***
Hari telah beranjak sore, matahari telah mulai bersembunyi dibalik awan. Saatnya mereka untuk kembali ke hotel. Berwisata bersama Clara yang merupakan penduduk Inggris asli sangat menyenangkan. seharian mereka tak henti-hentinya tertawa riang dan menikmati keindahan kota London.
Akhirnya mereka mengantarkan Clara kerumahnya, karena telah malam mereka tidak mampir ke rumah Clara. Mereka segera kembali ke penginapan.
Baru saja masuk ke dalam pagar rumah. Seorang laki-laki menghampirinya.
"Dari mana saja kau Clara?"
Suara lelaki itu terdengar mengejutkan bagi Ayesha.
"Max... kau? Sejak kapan kau ada disini?" Wanita itu heran menatap lelaki yang berada didepannya.
"Sejak kau tidak pulang semalam." Jawab lelaki itu dingin padanya.
Clara menundukkan kepalanya. Dia tahu dia salah karena tidak pulang semalam, tapi dia juga tidak ingin ribut dengan lelaki itu.
Lelaki yang dipanggilnya Max itu bernama Maxy Alehandro. Dia adalah tunangan Clara, tapi hubungan mereka tidak terlalu baik karena lelaki itu sangat posesive membuat dirinya merasa terkekang dan sangat terbelenggu.
"Ayo kita masuk dulu. Aku akan jelaskan padamu didalam." Ajak wanita itu pada lelaki tinggi bermata abu-abu dan rambut pirang itu.
Lelaki itu hanya mengikutinya, tanpa ada perdebatan. Terlihat raut wajahnya sangat masam ketika melihat wanita itu masuk mengendap-endap dari pagar tadi.
Sesampainya diruangan rumah itu. Lelaki itu duduk dan menegakkan tubuhnya.
"Sekarang ceritakan padaku, mengapa kau tidak pulang semalam? Kau bersama siapa? Dan tidur dimana?" Cecar lelaki itu padanya.
"Aku menginap ditempat temanku Max. Mereka adalah klienku dari Indonesia jadi aku menemani mereka jalan-jalan tadi." Jelas wanita itu dengan lembut.
Lelaki itu masih saja dingin dan menunjukkan sikap tidak senangnya.
"Benarkah? Apa kau tidak sedang membohongiku?" Lelaki menatap dengan curiga.
"Apa maksudmu?" Clara balik bertanya padanya.
"Aku hanya ingin kau berkata jujur. Apa benar kau hanya menemani klienmu, atau kau sedang pergi dengan kekasih barumu?!" Mata lelaki itu menajam mengarah kepada wanita blonde bermata biru.
"Kau menuduhku?" Clara tidak terima dengan ucapan lelaki itu.
"Ya mungkin saja kau pergi dengan lelaki lain." Ucapnya lagi.
"Kau keterlaluan Max. Aku ini tunanganmu, tapi kau menuduhku dengan alasan konyol itu."
Wanita itu memalingkan wajahnya dia beranjak dari sofa. Dia kecewa dengan sikap Max yang selalu mencurigainya tanpa ingin mendengarkan penjelasannya sedikitpun.
Lelaki itu mengikutinya dan meraih lengan wanita itu lalu memeluknya dan menaruh wajah cantik itu ke dada bidangnya.
"Maafkan aku. Aku hanya sedikit cemburu. Aku takut kau berpaling dariku." Ucap lelaki itu dengan nada rendah.
Clara menerima pelukan itu dan memejamkan matanya didada lelaki itu.
Sungguh, dia sangat mencintai lelaki itu tapi lelaki itu benar-benar membuatnya lelah dengan sikap cemburunya dan selalu menuduh tanpa alasan.
__ADS_1