Menikah Dini

Menikah Dini
Babak Baru Kehidupan


__ADS_3

Vico dan Denis telah sampai di kantor. Mereka segera menuju ruang kerja mereka masing-masing. Baru saja Vico masuk ke ruangannya, seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.


Tok... tok... tok...


"Ya,  masuk," ujar Vico sambil meletakkan tas ranselnya diatas meja.


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu dengan raut wajah cemas.


"Vico, kamu ga apa-apa? Udah baikan kamu?" tanya wanita itu sambil memperhatikan Vico.


"Iya mbak, aku baik-baik aja kok,"  jawab Vico datar.


"Aku khawatir loh Vic. Pas kamu dikeroyok kemarin aku benar-benar ga nyangka dan ga menduga sama sekali,"Aurel mencoba memberikan perhatian pada Vico.


"Mbak Aurel ga perlu khawatir, semuanya udah selesai kok."


"Selesai gimana Vic?" wanita itu mengernyitkan dahinya.


"Aku sudah mencabut tuntutanku," Vico menghela nafas.


"Kok gitu sich kan kamu diserang Vic. Udah seharusnya kamu mengajukan tuntutan," terlihat Aurel merasa tidak suka. Dia benar-benar merasa tidak terima karena pelaku penyerangan itu tidak dipenjarakan.


"Udahlah mbak, biarin aja. Saya juga udah cape bahasnya. Lebih baik, mbak tinggalin saya sendiri dulu. Saya mau menenangkan pikiran saya dulu,"  pinta Vico sambil menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


"Baiklah, kalau begitu. Sepertinya kamu lagi ga mau bicara. Mungkin saya salah waktu buat bertanya sama kamu. Maaf ya, kalau saya mengganggu waktu kamu," ucap wanita itu kemudian dia segera keluar dari ruangan Vico.


Dia sadar diri, saat memperhatikan Vico bicara tadi. Mungkin mood Vico lagi kurang baik. Makanya Vico jadi sensian seperti itu. Wanita itu segera kembali ke ruangannya untuk bekerja.


***


Lyora sedang sibuk mempersiapkan dirinya, karena hari ini dia akan memulai kehidupan barunya di Australia. Reynold sebagai kakak yang baik, mengantarkan sang adik menuju ke kampus barunya, karena kebetulan kampus yang akan menjadi tempat Lyora kuliah itu berdekatan dengan proyek apartemen yang sedang dibangun Reynold bersama timnya tentunya memudahkan baginya untuk melakukan dua hal sekaligus. Yaitu mengantarkan Lyora dan mengawasi proyeknya.


"Kak, itu bangunan apartemen baru ya kak?" Lyora mengedarkan pandangannya ke arah apartemen yang baru dibangun disekitar kampus.


"Iya Ly, itu proyek kakak. Sebentar lagi mau selesai, lagi tahap finishing," jelas Reynold pada adiknya.


"Wah, kakak hebat ni. Pantas saja papa memilih kakak jadi CEO di perusahaan kita, ternyata kakak memang berkompeten ya,"

__ADS_1


Lyora kagum dengan kepiawaian sang kakak di perusahaan. Siapa yang tidak kenal dengan Reynold Bagaskara? Semua rekan bisnis ataupun rivalnya sangat menyegani lelaki muda itu.


"Ini semua bukan berkat usaha kakak saja. Ada campur tangan Victory dalam pembangunan proyek ini. Dia udah buat proyek ini goal dalam pertemuan meeting."


"Wah makin kagum aku sama kalian berdua kak. Pokoknya kalian the best," ujar gadis muda itu sambil mengacungkan dua jempolnya pada Reynold.


"Kamu juga bisa kok dek, jadi kayak kakak, yang penting niat dulu dan kuliah yang benar." Reynold menasehati adiknya sambil.mengusap kepala gadis muda itu.


Gadis itu mengangguk mantap, dia juga bertekad menjadi pengusaha sukses seperti sang papa dan kakaknya.


"Oh iya kak, aku boleh nanya sesuatu?"


"Kamu mau nanya apa?"


"Aku penasaran ni kak, sama itu cewe bule yang kemarin itu kak. Siapa namanya? Cla... Clarisa... Carla... aduh siapa namanya?" gadis itu menunjukkan wajah kebingungan membuat Reynold gemas dan terkekeh melihatnya.


"Clara sayang. Namanya Clara," tukas Rey.


"Iya Clara. Sebenarnya kakak sama dia ada hubungan apa?"  selidik Lyora pada kakaknya.


"Ahm, dia rekan bisnis kakak," jawab Rey sekenanya.


"Eh, anak kecil kepo banget jadi orang," sungut Reynold sambil mencubit gemas pipi sang adik.


"Ngaku deh kak. Dia pacar kakak kan?" tanya Lyora sambil menyenggol bahu Reynold dengan bahunya.


"Belum sich, masih pendekatan."


"Yach... kok belum sich? Padahal kalo aku perhatikan kakak sama Clara saling suka gitu. Kalian juga cocok."


"Ya gimana ya, dia belum mau sama kakak. Mungkin suatu saat nanti dia bakalan mau."


"Hm, iya kak. Pokoknya aku doakan yang terbaik buat kakak," ucap gadis itu sambil merangkul sang kakak.


"Kamu sendiri gimana? Apa cowo yang jadi gebetan kamu udah kamu dapetin?" selidik Reynold pada adiknya.


"Hm, Vico maksud kakak?"

__ADS_1


Reynold menganggukkan kepalanya.


"Kayaknya aku ga ada harapan sama dia kak. Cape ngejar-ngejar dia tapi dia ga pernah mau sama aku. Belum lagi dia selalu nolak aku kak. Aku kan malu kak, masa jadi perempuan terlalu merendahkan diri. Jadi aku putuskan buat menjauh dari mereka. Kayak sekarang ini kak," jawab gadis itu sambil menundukkan kepala.


Dia mencebikkan bibirnya, ada tersirat kesedihan diwajahnya. Namun sebagai kakak yang baik Reynold berusaha menghiburnya.


"Sabar ya dek, kita memang orang-orang terbuang dalm percintaan tapi harus optimis untuk mengejar cinta,"  kelakar Reynold.


Lyora yang tadinya ingin menangis tiba-tiba terkekeh gara-gara ucapan kakaknya.


"Ah... kakak bisa aja ni. Haha"


"Nah, gitu dong. Kan cantik, adik seorang Reynold Bagaskara ga boleh cengeng harus kuat," ujar Reynold menyemangati sang adik.


"Makasih kak. Aku sayang banget sama kakak. Kakak emang selalu negertiin aku." Lyora memeluk tubuh bidang kakaknya itu.


Reynold memang tinggal di Australia semenjak dia dipilih menjadi CEO perusahaan Bagaskara Grup, tapi hubungannya dengan saudara perempuannya Lyora sangat harmonis, karena memang dari kecil Lyora selalu menjadi anak kesayangan dalam keluarganya.


***


Clara telah sampai Di London. Sudah dua hari Clara berada dinegaranya, diapun disibukkan dengan aktifitasnya, belum lagi harus pergi ke persidangan untuk menyelesaikan kasusnya dengan Maxy. Semuanya cukup menyibukkan dirinya.


"Berdasarkan bukti-bukti yang ada dan keterangan dari para saksi, maka dengan para hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman satu tahun penjara bagi saudara Maxy dan kelima orang terdakwa lainnya atas tuduhan pemaksaan."


Hakim mengetuk palu tiga kali setelah memberikan keputusan di pengadilan. Akhirnya Clara bisa bernafas lega tanpa ada bayang-bayang Maxy didekatnya lagi. Orang-orang didalam pengadilanpun bersorak bahagia dengan hasil keputusan itu. Terutama keluarga Clara.


Setelah putusan pengadilan selesai. Maxy dan lima orang anak buahnya digiring ke tahanan. Namun, sebelum masuk ke jeruji besi Maxy sempat berpapasan dengan Clara. Lelaki itu terlihat menyimpan dendam dan amarah pada gadis yang masih jadi tunangannya itu.


"Kau!!! Aku pasti akan membalasmu dan lihat saja aku akan segera bebas!!! Aku akan buat perhitungan denganmu!!!" ujar lelaki itu menggeram dengan tangan terborgol.


"Maxy, aku tidak pernah membencimu, tapi sikapmu sudah keterlaluan dan aku tidak bisa menerima semua itu. Aku lelah Max, mulai hari ini kita putuskan saja pertunangan kita." Tegas wanita itu pada Maxy.


"Apa? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau milikku Clara. Sampai kapanpun kau tetap milikku!!!"


"Hei... jaga bicaramu. Kau tidak berhak bicara seperti itu pada anakku! Kau sudah menyakitinya terlalu banyak. Sebaiknya kau menjauh dari kehidupan anakku!" Tegas seorang lelaki paruh baya yang bersama Clara.


Ya, lelaki itu adalah Mr. Handerson papanya Clara. Dia adalah pemilik perusahaan Handerson Corporation yang sedang bekerjasama dengan perusahaan Bagaskara Group.

__ADS_1


Maxy menggeram dan mencoba memberontak, tapi para polisi segera mengamankannya kemudian memasukkannya ke dalam jeruji besi.


__ADS_2