
Setelah membantu Zahra untuk pengobatan dan interview, Daren memutuskan untuk kembali ke kantornya.
“Halo, Raner cepatlah datang ke rumah sakit X. Kau harus mengantarkan seorang gadis ke rumahnya gadis itu mengalami cidera pada kakinya karena aku tidak sengaja menabraknya tadi,” jelas pria itu pada orang suruhannya.
“Baik bos, akan segera saya lakukan, kirimkan saja fotonya bos,” sahur Raner sambil bersiap-siap menuju ke tempat yang disuruh oleh atasannya.
Tak berapa lama kemudian muncul notifikasi dari Daren yang mengirimkan foto Zahra. Raner mengamati foto itu dan segera menuju ke rumah sakit untuk menunggu wanita yang dimaksud sang atasan selesai dengan aktifitasnya.
Sementara itu, Daren baru saja sampai ke kantor.
“Daren, jam berapa ini? Kenapa kamu baru datang?” Rebeca menghampiri sang anak yang sangat terlambat datang ke kantor.
“Maaf ma, aku ketiduran,” jawabnya asal.
Daren tidak mungkin menjawab kalau dia terlambat karena dirinya bermalam di club karena mabuk dan bersama wanita disana. Sang mama tidak boleh mengetahui hal itu, pasti akan membuatnya dimarahi habis-habisan.
“Apa? ketiduran, maksudmu kau tidur di apartemenmu?” cecar Rebeca pada sang anak.
Tanpa ragu Daren menganggukkan kepalanya, karena tidak ingin memperpanjang masalah.
“Kau berbohong pada mamamu, apa kau pikir aku tidak tahu kalau tadi malam kau tidak ke apartemenmu?” Rebeca menatap tajam pada sang anak.
Seketika Daren jadi gugup bingung harus menjawab apa, dirinya memejamkan mata sejenak lalu mulai menjawab, “iya ma, aku tidak menginap di apartemen tapi aku menginap dirumah temanku,” bohongnya lagi.
“Benarkah itu?” Rebeca memicingkan matanya mencoba mempercayai perkataan sang anak.
“I ... iya ma. Aku tidak bohong,” Daren tersenyum kecil menutupi kegugupannya.
“Hm, baiklah mama percaya padamu, tapi awas saja kalau kau berbuat nakal seperti di Amerika dulu. Mama akan memberimu pelajaran,” ancamnya pada sang anak.
Memang benar, sewaktu di Amerika Daren sering keluar masuk club hanya untuk berfoya-foya. Waktunya banyak dihabiskan untuk mabuk-mabukan dan main perempuan. Itu semua karena dia tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Semenjak umur sepuluh tahun Daren sudah mendapati kedua orang tuanya berpisah dan hal itu sangat membuatnya terpukul. Sang papa, Fabian Davidson pergi meninggalkan sang mama untuk hidup bersama wanitanya sementara sang mama meninggalkannya pada sang nenek untuk bekerja bertahan hidup.
Sang nenek Ana Maria yang merawatnya dari usia sepuluh tahun hingga Daren menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di perusahaan sang mama. Selama dibesarkan sang nenek, Daren tidak pernah bertemu sang ayah. Pria itu benar-benar telah melupakan anak semata wayangnya dan kewajibannya. Sedangkan Rebeca sebagai seorang ibu harus menghidupi anaknya dan sang ibu. Rebeca jarang pulang karena sibuk bekerja tapi selalu menghubungi sang anak melalui ponsel dan Skype. Terkadang jika adaa waktu luang dia akan menemui sang anak dan ibunya.
Namun, hal itu belum cukup bagi Daren karena yang dibutuhkannya saat itu adalah kasih sayang kedua orang tuanya. Oleh karena itu dia selalu membuat masalah untuk mendapatkan perhatian. Mulai dari berkelahi dengan teman-teman club motornya, mabuk-mabukkan, main perempuan, dan lain sebagainya. Semuanya dia lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian dari sang mama. Karena dengan cara seperti itu sang mama akan berada disisinya dan hal itulah yang akan membuatnya tenang.
Meskipun begitu, Daren tidak sepenuhnya buruk. Dirinya masih fokus dengan kuliahnya hingga menjadi lulusan terbaik dan bekerja di perusahaan sang mama dan menjadi CEO di perusahaan keluarga.
"Daren, nanti kita akan ada pertemuan dengan perusahaan Leonardo Group. Mama mau kamu yang memimpin rapat," pungkas sang mama pada Daren.
Leonardo Group? Bukankah itu perusahaannya Adi Leonardo yang merupakan papa Silvi?
"Itu, bukannya perusahaan papanya Silvi ya ma?" tanya Daren sambil menoleh ke arah sang mama.
"Hm, benar sekali. Nanti om Adi dan asistennya akan datang ke sini, mereka berencana mengadakan kerja sama dengan perusahaan kita. Kondisi perusahaan Adi Leonardo diujung tanduk, mama ingin membantunya," jelas sang mama pada Daren.
"Aku mengerti ma, tapi mama ga melibatkan masalah pribadikan?" selidik Daren pada sang mama.
"Kamu, kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" Rebeca sedikit tersentil oleh ucapan sang anak. Sepertinya Darena mengetahui sesuatu tentangnya dan Adi.
"Aku tahu mama pernah dekat sama om Adi dan masih mempunyai perasaan padanya tapi aku hanya ingin mengingatkan pada mama kalau om Adi itu sudah menikah dan mempunyai anak. Anaknya itu masih teman dekat aku ma, jadi jangan sampai ada kedekatan yang lebih antara mama dan om Adi," jelas Daren pada sang mama.
"Tenang saja, mama juga ga berniat merebut Adi dari Marinka. Memang mama masih menyukainya tapi mama juga tahu diri, tidak ada tempat dihati Adi untuk mama," ujar Rebeca dengan senyum simpul menatap sang anak. Kemudian pergi meninggalkannya.
Daren hanya menatap sang mama yang berlalu sambil berpikir, aku tahu mam, bibir mama berkata lain mata mama mengatakan yang lain. Aku sangat memahami bagaimana rasanya mencintai seseorang yang telah dimiliki orang lain. Kita sama ma, tapi kita harus berusaha untuk move on.
Pria muda itu tahu benar bagaimana sifat sang mama. Rebeca memang masih memendam rasa cintanya pada Adi tapi hal itu tidak boleh berlarut, pasti akan menyakitkan baginya.
***
Siang harinya, Daren memimpin rapat. Disana hadir bermacam-macam pemilik perusahaan yang mengajukan kerja sama, ada beberapa perusahaan yang cukup menarik dan yang lebih diutamakannya adalah Leonardo Group karena perusahaan itu merupakan relasi sang mama dan jangan lupakan Daren kenal baik dengan Adi Leonardo pemilik sekaligus pemimpin perusahaan itu.
"Setelah melalui banyak pertimbangan dalam rapat ini, saya putuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan Leonardo Group," pungkas lelaki itu memberikan keputusan.
"Selamat pak Adi, perusahaan anda terpilih untuk bekerja sama dengan perusaha Rebeca Coorporate," salah seorang peserta rapat sekaligus pimpinan perusahaan memberikan selamat pada Adi.
"Wah selamat pak Adi, ini suatu keberuntungan bagi anda bisa bergabung diperusahaan besar ini," timpal pemilik prusahaan lainnya pada Adi.
"Terimakasih pak Daren, suatu kebanggagaan bagi saya bisa bekerja sama dengan perusahaan anda," ujar Adi tersenyum lebar dan menyalami Daren.
"Tidak usah terlalu formal om Adi. Jangan panggil bapak sama saya, saya lebih muda dari om Adi panggi Daren saja padaku," Daren mencoba untuk bersikap rendah hati pada Adi.
Pria paruh baya itupun mengangguk. Sungguh saat ini perusahaan Adi sangat membutuhkan suntikan dana, dengan menjalin kerja sama antara perusahaannya dan perusahaan Rebeca, kemungkinan besar untuk perusahaannya tetap bertahan akan lebih besar.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan rapat, Daren teringat pada Zahra. Pria muda itu segera menelpon orang suruhannya tadi.
"Raner, apa interviewnya sudah selesai dan apa kau sudah mengantar wanita itu kembali ke rumahnya?"
"Sudah bos, semuanya berjalan dengan lancar. Wanita itu telah lulus interview dan aku telah mengantarnya kembali ke rumahnya,"
"Hm... baguslah, aku senang mendengarnya,"
Tanpa disadari ataupun tidak Daren tersenyum bahagia saat mwngetahui wanita yang baru dikenalnya itu telah mendapatkan pekerjaan dan telah sampai ke rumahnya dengan selamat.
"Hm, sepertinya putra mama senang sekali," suara Rebeca telah terdengar di belakang Daren.
"Mama, sejak kapan mama di sini?" mendadak Daren menjadi gugup melihat sang mama didekatnya.
"Mama baru saja datang, tapi siapa yang telah membuatmu begitu senang hari ini? apa dia seorang wanita?" selidik Rebeca pada sang anak.
Rebeca sangat penasaran dengan sikap putranya. Tidak pernah dia melihat sang putra sebahagia ini. Untuk pertama kalinya dia melihat sang putra tersenyum kembali setelah perpisahan dirinya dan sang suaminya dulu.
"Ah, itu hanya teman ma," jelasnya singkat. Daren belum mau menjelaskan tentang Zahra pada sang mama.
"Baiklah. Kapan-kapan perkenalkan dia pada mama ya," imbuh Rebeca yang spontan saja dijawab dengan anggukan oleh Daren.
***
"Pak, saya turun disini saja," Zahra meminta Raner menghentikan mobilnya di depan rumahnya.
Saat akan membuka pintu mobil, dengan cepat pria itu membantunya.
"Sebentar nona, biar saya bantu," lelaki itu segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Zahra lalu membantunya duduk dikursi roda.
"Terimakasih pak," ucap gadis muda itu padanya. Raner mengangguk dan tersenyum padanya kemudian mendorong kursi roda itu menuju rumah Zahra.
Saat di depan pintu rumah, sang ibu keluar dengan tergopoh-gopoh.
"Zahra, kamu kenapa nak? kok pulang-pulang malah pake kursi roda?" Shinta memperhatikan sang anak dengan saksama sambil mematut pria muda yang mengantarkan sang putri.
"Ini, tadi pagi pas mau interview aku ke tabrak sama orang bu, tapi untungnya orang itu baik, dia membantuku ke rumah sakit dan bertanggung jawab atas insiden yang terjadi padaku. Dia juga menyuruh mas ... " Zahra menatap ke arah pria yang membantunya sedari tadi tanpa mengenal namanya.
"Raner. Panggil saya Raner," jelas pria itu padanya.
"Iya, mas Raner yang menjaga dan mengantarkanku pulang," jelasnya lagi pada sang ibu.
"Makasih ya nak Raner udah membantu anak ibu. Mampir dulu kita minum kopi atau teh," ajak Shinta pada lelaki muda itu.
"Tidak, terimakasih bu. Saya masih ada pekerjaan mungkin lain kali saya akan mampir," ujar lelaki itu sambil tersenyum. Kemudian diapun berpamitan pada Shinta dan Zahra.
Shinta sangat suka dengan sikap lelaki itu. Dia cukup terkesan dengan pria muda itu dan sempat berharap pria itu bisa mendampingi anaknya kelak.
"Kamu kok ga bilang sama ibu kamu lagi dekat sama seseorang?" goda Shinta pada putrinya.
"Ibu apaan sich, aku tidak mengenalnya dia itu orang suruhan dari lelaki yang menabrakku tadi," jelas Zahra yang wajahnya mulai memerah.
__ADS_1
"Oh, begitu. Orang suruhannya saja setampan itu apalagi yang menabrakmu tadi? Ibu yakin pria itu tampan dan baik hati," goda sang ibu lagi.
Zahra hanya tersenyum kecil. Ibunya ini memang suka menggodanya. Memang benar yang dikatakan sang ibu, pria yang menabaraknya itu tampan dan baik tapi ibu tidak tahu saja pria itu pria dingin dan arogan.