Menikah Dini

Menikah Dini
Menolak Kesepakatan


__ADS_3

Pertandingan semakin sengit kedua pemuda itu tidak mau mengalah satu sama lain. Motor Farel mulai mendahului motor Tom, dia menoleh ke arah Tom sambil melontarkan senyum mengejek padanya membuat lelaki itu semakin panas. Dia tidak ingin dikalahkan lagi oleh Farel. Terlebih lagi taruhannya bukan cuma uang tetapi juga kekasihnya.


Merasa takut dikalahkan, Tom mempercepat laju motornya dan ketika sedikit lebih dekat dengan Farel dia menyenggol knalpot Farel hingga membuat lelaki itu oleng sedangkan disana ada truk besar yang baru saja melaju kencang dari arah yang berlawanan.


Tom memperlihatkan senyum menyeringai menyaksikan Farel yang akan terlindas truk. Namun Farel yang dengan kondisi tidak stabil masih mencoba menghindar agar tidak terjadi kecelakaan dan nyaris saja! Hanya dengan jarak beberapa centimeter dari tubuhnya hampir saja terpental ke arah truk itu dan kecelakaanpun berhasil dihindari.


"Aargghhh sial!!! Kenapa ga mati aja sich tuch orang!" umpat Tom sambil memukul stang motornya. Dia merasa sangat kesal karena kecurangannya tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.


Farel yang hampir saja terjatuh dan nyaris terlindas truk, tetap menyeimbangkan tubuhnya. Dia kini menyusul ketinggalannya yang cukup jauh dari Tom. Saat berada didekatnya Tom berusaha menghalangi Farel agar tidak bisa mendahuluinya lagi, tapi Farel memang sangat pintar mengatur strategi.


Dia menghindari Tom dan akhirnya dia lebih dulu sampai di finish daripada Tom.


Farel tersenyum sambil memperlambat laju motornya. Dia mengayunkan tangannya ke udara meraih kemenangannya.


Usai balapan, Farel menagih janji Tom padanya, "sesuai perjanjian kita diawal tadi, kalau gue menang, cewe lo jadi milik gue. Sekarang dia milik gue," Farel mengenggam tangan perempuan itu dan menarik wanita itu kesisinya.


"Dia cewe gue," Tom terlihat tidak terima. Diapun menarik wanita itu kearahnya.


Tapi wanita itu malah menepis tangan Tom dan satu tamparan mendarat ke pipi Tom, "dasar cowo brengsek!!! Masih berani lo sebut gue cewe lo setelah lo jadikan gue taruhan? Hah?" sorot mata wanita itu tajam. Terlihat luka, kecewa dan sakit hati yang kini dia luapkan pada kekasihnya itu.


"Tapi lo emang pacar gue" Tom masih ngotot tidak terima.


Farel hanya tersenyum kecut sambil memperhatikan sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu.


"Huh, gue ga sudi punya cowo kayak lo. Mulai sekarang kita putus!!!" tegas wanita itu kemudian dia mengalungkan tangannya ke lengan Farel.


Jelas saja wanita itu marah dan langsung memutuskannya. Dia benar-benar tersinggung dan lebih memilih Farel, karena Farel jauh lebih tajir dan lebih tampan daripada Tom.


"Winda, ga bisa gitu! Gue ga pernah mutusin lo," Tom berusaha mencegah wanita itu pergi.


"Eh, bro lo yang sportif dong. Udah jelas lo yang setuju buat jadiin Winda buat tarohan. Sekarang Farel yang menang dan dia yang dapatin tu cewe," Lucky menengahi sambil mendorong dada Tom.


Lelaki itu termundur karena dalam posisi tidak siap, tapi masih bisa mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh. Dia mencoba melawan dan mendapatkan wanitanya kembali. Lucky benar-benar kesal dengan sikap lelaki satu ini dan dia melayangkan tangannya ke wajah lelaki itu, hingga membuatnya terhuyung. Kemudian anak buah Lucky memegangi lelaki itu agar tidak membuat keributan. Lucky menunjukkan dua jari ke matanya dan mata lelaki itu.


Farel tersenyum penuh kemenangan kemudian membawa wanita itu bersamanya. Wanita itu hanya mengikutinya.


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali seorang lelaki berjas hitam mengetuk pintu rumah Ratna, seseorang dalam rumah itu segera membukakan pintu.


"Tuan Gerald"


"Selamat pagi bu, saya ke sini untuk mengambil dokumen yang saya berikan kemarin. Apakah dokumennya sudah ditanda tangani oleh anak ibu?" lelaki itu bertanya dengan tenang.


"Siapa bu?" Vico menyembulkan wajahnya dari balik pintu kamarnya untuk melihat siapa tamu yang datang.


"I... ini pengacara bu Marinka. Tuan Gerald," jelas Ratna gugup.


Mendengar kata pengacara, Farel langsung menghamburkan diri keluar kamar menghampirinya. "Anda pengacara bu Marinka?"


"Iya, perkenalkan saya Gerald Anderson pengacara bu Marinka," lelaki itu mengulurkan tangannya.


Vico hanya memperhatikan lelaki itu. Kemudian menyambut tangan lelaki itu.


"Silakan masuk tuan Gerald. Kita bisa bicarakan semuanya didalam"


lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu masuk ke rumah itu kemudian duduk berhadapan dengan Vico dan Ratna.


"Bagaimana dek Vico, surat perjanjian pra nikah yang diajukan bu Marinka sudah dibaca dan ditanda tangani?" tanya lelaki itu dengan suara yang cukup tenang.


"Saya ga akan tanda tangan sebelum saya bertemu dengan Silvi dan bu Marinka. Jadi dokumen ini silakan anda bawa kembali."


Pengacara yang bernama Gerald itu mengambil dokumen tersebut. Dia paham dengan keadaan yang terjadi saat ini dan dia tidak mungkin memaksa Vico supaya menandatangani dokumen tersebut.


"Saya mohon maaf, tuan sampaikan saja pada bu Marinka saya akan menemui bu Marinka untuk membicarakan kesepakatan ini. Tuan Gerald," Vico masih berusaha sopan pada lelaki itu meskipun saat ini hatinya benar-benar marah tapi dia masih berusaha meredam emosinya.


Gerald menganggukkan kepalanya, " baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan menyampaikan pesan anda pada beliau,"


Lelaki itu pergi dari rumah itu dengan mobil sedan hitamnya.


Ratna hanya memandangi putranya dengan khawatir tapi dia tidak berkata apapun.


"Ibu ga usah khawatir. Aku pasti akan menemui bu Marinka untuk membicarakan hal ini," tukas Vico.


Ratna mengangguk pelan.

__ADS_1


***


Gerald baru saja menghentikan mobilnya. Dia mengambil handponenya dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang. Tanpa perlu menunggu lama panggilannya segera dijawab.


"Halo Gerald".


"Nyonya Marinka, anda dimana? Saya ingin menemui anda untuk membahas surat perjanjian pra nikah yang saya antarkan ke rumah Vico," jelas lelaki itu.


"Saya lagi di rumah sakit. Mas Adi lagi dirawat. Kamu tunggu saya di Cafe Star. Saya akan menemui kamu satu jam lagi," jelas Marinka sambil memelankan suaranya. 


Saat ini dia sedang berada di ruang inap Adi suaminya dan dia sengaja keluar ruangan supaya tidak mengganggu Adi yang sedang beristirahat. Lagi pula didalam sana ada Johan dan Farah, mereka tidak boleh mengetahui rencana Marinka, kalau mereka sampai tahu pasti semuanya akan berantakan.


"Baik nyonya, saya akan segera ke sana," 


Telpon terputus secara sepihak dari Marinka.


Wajah Marinka kini terlihat begitu cerah mendapat kabar surat perjanjian itu telah dibawa oleh Gerald, tanpa bertanya apakah lelaki itu membawa kabar baik atau tidak? Dipikirannya saat ini adalah Vico pasti menyetujui perjanjian itu dan telah menandatangani surat itu.


Dia begitu bersemangat untuk menemui pengacara muda itu, tanpa berpikir lama, Marinka berpamitan pada Silvi, Johan dan Farah untuk pergi menemui seseorang.


Johan dan Farah juga berpamitan pada Silvi karena sudah terlalu lama di tempat itu. Mereka segera pergi ketempat tujuan masing-masing.


"Mas, kamu ga curiga sama Marinka?" Tanyanya pada Johan yang sedang menyetir mobil disampingnya.


"Emangnya kenapa?"


"Masa suaminya sakit malah dia janjian sama orang,"


"Ya, mungkin dia memang ada keperluan sama orang itu,"


"Apa mungkin ga sich si Marinka selingkuh mas?"


"Hust, omongannya dijaga. Jangan ngomong sembarangan gitu," Johan terlihat melirik tajam pada Farah.


"Ya kali aja kan mas," ujar Farah sambil menaikkan bahunya.


"Jangan su'udzhon gitu, ga baik."

__ADS_1


"Gimana kalau kita ikutin dia mas?" ajaknya sambil memegang tangan suaminya.


Johan hanya menatapnya bingung. Sebenarnya Johan penasaran juga dengan sikap Marinka, tapi dia masih tidak percaya kalau Marinka selingkuh. Kan selama ini Marinka sangat setia pada Adi.


__ADS_2