
"Max, cepatlah hari ini aku akan ada meeting." Ujar Clara sambil menyiapkan sarapan dimeja makan.
Maxy bergegas keluar sambil memasang dasinya.
Tidak ada pertanyaan dari Maxy tentang notifikasi chat tengah malam pada Clara. Seakan dia telah lupa dengan apa yang terjadi.
"Sayang, apa kau bisa membantuku?" Lelaki itu masih saja sibuk memilin-milin dasinya. Masih belum bisa memasang dasinya dengan benar.
"Seperti ini saja tidak bisa." Ledek wanita itu padanya.
Clara tersenyum melihat Maxy yang kebingungan diapun segera membantu lelaki itu memasang dasinya.
"Untuk itulah makanya aku membutuhkanmu disini." Ujar Max sambil mencolek hidung Clara.
Mereka segera menyelesaikan sarapan kemudian bersiap-siap ke kantor masing-masing. Maxy menggunakan mobilnya dan Clara juga begitu, karena arah kantor mereka berbeda.
Diperjalanan, Maxy teringat sesuatu. Dia mengambil handphonenya kemudian menghubungi seseorang.
"Halo, Jack. Aku punya tugas untukmu." Ujarnya pada seseorang diseberang sana.
"Ya bos, apa yang bisa kulakukan untukmu?"
"Aku mau kau menyelidiki Clara. Kau cari tahu siapa yang sedang mendekatinya!" Titah lelaki itu pada seseorang yang bernama Jack itu.
"Baik bos. Perintah anda akan segera saya lakukan." Lelaki itu menyanggupi dengan cepat.
Pembicaraan merekapun terhenti setelah Maxy menutup telpon.
Hampir lima belas menit Clara masih mengemudikan mobilnya. Dia melihat dari kaca spion dari dalam mobilnya ada sebuah mobil mengikutinya. Dia merasa heran, mobil siapa itu? Sepertinya dia belum pernah melihat ataupun mengenali pemilik mobil itu. Clara segera mempercepat laju mobilnya, orang yang berada didalam mobil itupun segera melajukan mobilnya, tapi...
Ciiitt !!!
Tiba-tiba mobil si pengemudi terhenti dan dia harus mengendalikan remnya. Dia hampir saja menabrak mobil yang baru saja melintas dihadapannya.
Sial!!! umpat lelaki itu dihatinya.
"Hei kau!!! Apa kau buta?! Tidak bisakah kau mengendarai mobilmu dengan baik!!" Pemilik mobil yang hampir dia tabrak mengeluarkan kepalanya dari balik jendela kemudinya.
"Maafkan aku tuan." Si pengemudi itu menyembulkan wajahnya, tapi tak begitu terlihat jelas karena dia mengenakan topi, berkacamata hitam dan masker diwajahnya.
Sipemilik mobil itu hanya mengacungkan jari tengahnya kemudian pergi dari hadapan orang itu.
Sementara itu Clara sudah tidak terlihat lagi seiring dengan berlalunya pengemudi tadi.
Si penguntit itu kehilangan jejak Clara, tapi dia tidak kehilangan akal. Kali ini dia menggunakan GPS untuk melacak keberadaan wanita itu dan benar saja wanita itu tidak sedang menuju ke kantornya, tapi ke tempat lain.
***
Lelaki yang mengikuti Clara kini telah berada di parkiran hotel. Dia melihat ada mobil Clara yang terparkir ditempat itu, kemudian dia melihat arah GPS nya kemana Clara pergi.
Wanita itu baru saja sampai di loby hotel. Reynold, Evan, Victory dan Ayesha baru saja menuju loby dan orang suruhan Maxy yang bernama Jack segera memasang mata dengan penuh waspada menyusuri ke arah Clara. Dia menyalakan kamera pengintai tanpa kabel yang telah disisipkannya dijas hitamnya. Lelaki itu duduk di dekat Clara tapi tidak terlalu dekat hanya saja masih bisa meneliti dan mendengar pembicaraan Clara. Lelaki itu merekam apa yang sedang dilakukan Clara.
"Hi Clara, kau sudah lama menunggu?" Tanya Reynold dengan wajah sumringah. Dia mencium pipi kanan dan pipi kiri Clara bergantian.
Tentu saja Reynold sangat bahagia, karena Clara datang menemui mereka. Tadi memang Clara sengaja berbohong pada Maxy kalau dia ada meeting hari ini, karena dia tidak ingin Maxy akan melarangnya menemui teman-temannya itu.
Maxy sangat over protective padanya. Sehingga dia tidak akan membiarkan seorang lelakipun mendekati Clara, kalau perlu dia akan mengirimkan anak buahnya untuk mencari tahu kemana Clara akan pergi.
"Hi Mrs. Clara. Kau datang ke sini? Bukankah harusnya kau ke kantor pagi ini?" Ayesha begitu antusias dengan kedatangan Clara.
"Iya. Seharusnya aku ada meeting pagi ini di kantor, tapi karena aku ingat kalian akan kembali ke Indonesia, jadi aku putuskan untuk menemui kalian dan mengantarkan kalian ke bandara." Jelas wanita itu padanya.
"Terus siapa yang akan memimpin rapat?" Evan tiba-tiba ikut dalam pembicaraan mereka.
"Itu gampang. Di kantorku ada sekretaris sekaligus orang kepercayaanku. Dia yang akan menghandle itu semua." Jelasa Clara.
__ADS_1
Evan menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Oh iya, kalian berangkat jam berapa?" Tanya Clara lagi.
"Kami akan berangkat jam sepuluh." Jawab Victory yang baru saja duduk di dekat mereka.
"Ya sudah, kalau begitu bersiaplah aku akan suruh supirku untuk mengantarkan kalian ke bandara." Ujar Clara pada mereka.
Suatu kehormatan bagi mereka rekan bisnis sekaligus investor mereka sangat baik sekali hingga memberikan tumpangan kepada mereka.
"Clara kau tidak perlu repot seperti itu." Tukas Reynold merasa sungkan pada wanita itu.
"Tidak apa-apa Rey. Aku senang bisa mengantarkan kalian. Tolong jangan menolak ya. Aku akan sedih nanti." Bujuknya sambil memasang mata pupy eyes.
Clara ini memang sangat pintar merayu. Jangankan pria seperti Reynold. Siapapun pasti akan luluh jika dia sedang merayu. Wajahnya itu benar-benar menggemaskan saat dia memohon agar permintaannya dikabulkan.
Merasa tidak enak untuk menolak, akhirnya Reynold setuju dan mereka diantarkan oleh supir Clara ke bandara.
***
Hari ini adalah hari pertama Vico dan Silvi masuk sekolah setelah menjalani skorsing. Suasana sekolah tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya saja kondisinya yang terlihat berbeda. Dari kejauhan, Lyora n the geng memperhatikan mereka.
"Wah, masih punya muka ya kalian datang ke sekolah ini setelah apa yang terjadi sama kalian?" Ejek Lyora yang menghampiri mereka.
Silvi dan Vico cukup tersentil dengan ucapan pedas Lyora. Bisa-bisanya dia nenyakiti disetiap pertemuan. Silvi hanya bisa menunduk karena dia tidak ingin memulai perdebatan, Vico yang memperhatikan sikap Silvi langsung menggenggam tangannya untuk menguatkan perempuan itu.
"Emang kenapa ya Ly? Toh kitakan cuma di skors bukan dikeluarin dari sekolah." Jawab Vico merasa tidak terima dengan ucapan Lyora.
"Ya gue pikir setelah video itu beredar kalian ga bakalan kembali lagi, tapi ternyata kalian masih mau datang ke sekolah ini." Lyora memiringkan bibirnya dengan mata sinis memandang kedua orang itu.
"Lo ga usah kebanyakan bicara. Gue tahu kok siapa orang yang udah nyebarin video itu. Atau lo mau gue laporin ke guru BK biar lo diskorsing atau mungkin dikeluarin dari sekolah sekarang juga?" Gertak Vico padanya.
Lyora tertegun. Dia merasa heran mengapa bisa bicara seperti itu? Apa Vico tahu kalau dirinyalah penyebab dari masalah Vico dan Silvi.
Lyora sedikit takut dengan apa yang dikatakan Vico. Diapun memilih diam dan tidak lagi mengejek kedua orang itu, kemudian meninggalkan keduanya.
Vico dan Silvi baru saja menyelesaikan ujian mereka. Seperti rencana mereka kemarin. Mereka akan bertemu dengan Riana dan Hans di Cafe. Silvi dan Vico sengaja menunggu mereka di depan pintu kelas.
"Riana, yuk ikut sama kita ke cafe." Ajak Silvi saat melihat Riana baru saja keluar kelas.
"Ada acara apa Vi, ke cafe?" Tanya Riana pada mereka.
"Gini Ri, kemaren itu gue ngelamar kerja dikantor papanya Hans dan gue diterima. Jadi gue mau ajakin traktiran sambil ngumpul-ngumpul gitu. Kan udah lama banget kita ga bareng-bareng kayak dulu lagi." Jelas Vico pada Riana.
"Oh bagus itu. Ok aku mau". Riana menyetujui ajakan mereka. Mereka segera berangkat ke cafe yang dituju.
Hans telah sampai duluan, karena jadwal kuliahnya hari ini tidak terlalu padat dia langsung saja menuju Cafe setelah selesai jadwal kuliah.
Sesampainya di Cafe, Vico, Silvi dan Riana mencari dimana keberadaan Hans, karena sudah melihat mereka terlebih dahulu Hans langsung memanggil mereka untuk bergabung bersamanya.
Tak lama, waiters mendatangi mereka dan memberikan daftar menu makanan. Mereka segera memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan kemudian waiters mencatat pesanan mereka. Tidak butuh waktu lama waiters itu segera membawa kertas menu pesanan mereka dan menyiapkan makanan.
"Bro... lama kita ga ketemu. Gimana kabar lo?" Hans terlebih dahulu membuka percakapan.
"Ya seperti yang lo lihat sekarang." Ujar Vico sambil tersenyum.
"Silvi lo sehatkan?"
"Alhamdulillah kak, sehat."
Riana yang memperhatikan Hans hanya tersenyum menyapa lelaki itu.
"Wah sekarang kalian udah mau jadi papa muda dan mama muda ni." Celetuk Hans yang memperhatikan perubahan pada tubuh Silvi.
Silvi dan Vico hanya tersenyum memberikan jawaban untuk Hans.
__ADS_1
Tidak terbayangkan diusia muda mereka akan mempunyai anak. Ini benar-benar perjuangan sekaligus anugerah Tuhan yang tak terkira bagi mereka.
Selang setengah jam pesanan merekapun tiba dan waiters menyajikan makanan dan minuman dimeja mereka.
"Eh iya gimana kemarin ketemuan sama papa gue?" Tanya Hans pada Vico.
"Iya kemarin itu ada insiden sedikit. Pas gue mau menemui papa lo, koperasi yang ada didekat kantor papa lo hampir dirampok sama begal."
"Hah? Kapan itu Vic?" Riana terkejut mendengar penjelasan Vico.
"Jadi kemarin gue pengen ngelamar kerja ni ceritanya, tapi ada pergerakan mencurigakan dari arah pagar kantor. Terus gue liatin dulu mau apa mereka? Pas gue lihat ada pegawai koperasi yang di todong pake belati ya udah gue tolongin aja."
"Terus lo nya ga apa-apakan?" Tanya Hans sambil memperhatikan lelaki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Hm, lo lihat ni gue ga apa-apa. Hehe. Berkat kejadian itu juga gue ketemu sama om Arya. Singkat cerita gue kenalan dan jelasin tujuan gue ke sana. Akhirnya gue diterima kerja. Om Arya minta gue jadi kepala bengkel."
Riana dan Hans mendengarkan dengan saksama penuturan Vico.
"Wah Hoky tuch Vic, kamu bisa langsung ketemu om Arya terus dikasih kerjaan. Selamat ya." Riana tersenyum lebar merasakan kebahagiaan temannya.
Selesai bercengkrama, Vico ingat akan rencananya untuk menemui sang ibu.
"Hans, Ri, kayaknya kita ga bisa lama-lama disini. Gue mau ke rumah ibu gue. Kangen udah dua minggu ga ketemu."
"Oh iya... iya... kalau begitu lo sama Silvi lanjut aja dulu ke rumah ibu. Gue mau ngobrol dulu ni sama kesayangan gue." Goda Hans pada kekasihnya.
"Ich... apaan sich kamu?" Riana menepuk pelan lwngan Hans. Wajah Riana jadi memerah karena ucapan Hans.
Hans hanya tersenyum sambil mengusap pucuk kepala gadis itu.
Vico dan Silvi terkekeh melihat Riana.
"Ya udah kalian lanjut aja dulu. Kita berangkat ke tempat ibu." Tukas Vico pada kedua orang yang masih duduk di Cafe itu. Kemudian mengajak Silvi pergi bersamanya.
***
Hermawan duduk disinggasananya. Ya, kursi kerjanya adalah tempat favoritnya untuk melepas penatnya saat ini. Dibukanya laci meja kerjanya sambil mengeluarkan sebuah kertas foto. Didalam kertas itu ada foto dua orang bayi. Tangannya mengusap foto bayi itu, ada buliran air mata yang mengalir membasahi sudut matanya.
Sakit! Itu yang dia rasakan saat ini. Foto yang berada dalam genggaman tangannya itu terus diperhatikannya. Seakan ada rasa yang ingin diungkapkan namun dia bisa menjelaskannya. Semuanya sangat membebani hati dan pikirannya saat ini.
Hingga suara ketukan pintu dari seseorang membuyarkan lamunannya.
"Pak, apa saya boleh masuk?" Tanya seseorang diluar sana.
"Iya masuk." Jawabnya sambil mengusap kasar buliran air mata yang membasahi wajahnya. Agar orang yang diluar itu tidak memperhatikan kesedihannya.
"Pak, ini ada laporan yang harus ditanda tangani." Tukas seorang wanita yang membawakan setumpuk dokumen padanya.
"Baik. Kamu taruh disana saja dulu. Nanti saya tanda tangani." Titahnya sambil menunjuk kearah meja dihadapannya pada sekretarisnya itu kemudian wanita itupun melatakkan dokumen itu disana dan dia segera kembali ke ruangannya.
***
Maxy baru saja menikmati secangkir kopi espreso di ruangan kerjanya. Handponenya bergetar. Dia segera mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.
Ada sebuah notifikasi masuk dan dia menyentuh layar handphonenya. Ada sebuah kiriman dari seseorang.
Ternyata sebuah rekaman video yang dikirimkan oleh Jack untuknya.
Maxy memperhatikam dengan saksama video itu. Disana dia melihat Clara sedang menemui tiga orang pria dan seorang wanita. Sepertinya mereka bukan warga Inggris, lebih tepatnya keempat orang itu adalah orang Indonesia.
Siapa mereka? Gumamnya didalam hati. Apakah orang itu klien Clara. Diapun mendengarkan pembicaraan mereka. Matanya nyalang saat Clara menyebut nama Reynold. Reynold? Siapa pria itu? Masih menjadi tanda tanya besar baginya siapa pria bernama Reynold itu. Sedekat apa Clara dengannya? Sampai-sampai sepagi itu Clara menemui lelaki itu.
Maxy merasa kesal dan marah. Diapun menendang meja kerjanya. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia benar-benar tidak bisa bersabar darahnya menjadi mendidih membayangkan jika benar pria yang bernama Reynold itu adalah kekasih Clara.
Maxy mengambil kunci mobilnya yang tergeletak begitu saja di meja kantornya, dia segera keluar ruang kerjanya menuju lift di depan ruang kerjanya. Saat pintu lift terbuka dia langsung masuk kedalam lif dan menekan tombol ke lantai dasar. Cukup jauh dari ruang kerjanya ke lantai dasar karena dia bekerja dilantai sepuluh gedung bertingkat pencakar langit itu.
__ADS_1
Sampai dibasement dia menuju ke paekiran dan memacu mobilnya. Dia harus menemui Clara secepatnya dan meminta penjelasan dari Clara tentang keempat orang itu. Terutama kejelasan tentang lelaki yang bernama Reynold itu.