
Pagi itu Ayesha telah bersiap-siap untuk berangkat. Dia telah mempersiapkan koper dan semua keperluan saat di London nanti. Tiba-tiba handphonenya berdering. Ayesha segera menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Halo, Ayesha. Kamu udah siap?" tanya seorang lelaki dari seberang sana.
"Iya pak, saya udah siap kok sebentar lagi saya akan ke bandara."
"Kamu tunggu aja dirumah, saya jemput kamu,"
"Ga usah repot-repot pak, saya bisa pesan taxi online,"
"Ayolah Ayesha, saya sudah berada didekat jalan ke rumahmu. Aku jemput kamu ya,"
"Tapi pak..."
Telpon diputuskan secara sepihak dari orang diseberang sana. Mau tidak mau Ayesha terpaksa ikut saja dengan perkataan lelaki itu.
Sepuluh menit menunggu ternyata orang itu datang juga. Lelaki itu berhenti tepat dihalaman Ayesha, dia turun dari mobilnya, dengan senyum khasnya dia menghampiri Ayesha.
"Kamu udah siap?"
"Sudah pak Victory," Ayesha membalas senyuman lelaki itu.
"Ayo berangkat," lelaki itu mengambil koper bawaan Ayesha untuk menaruh ke mobilnya.
"Loh, pak Victory kok bapak malah mengangkat koper saya? Biar saya aja pak yang bawa," Ayesha merasa tak enak hati, karena atasanya itu malah membawakan kopernya.
"Sudah kamu naik aja ke mobil, cuma koper satu ini aja ga berat kok." Ujar Victory sambil tetap membawa koper itu ke mobil kemudian meletakkannya ke bagasi mobil.
Ayesha hanya tersipu malu, karena lelaki itu sangat baik padanya. Meskipun dia seorang atasan tapi dia begitu baik pada Ayesha dan selalu ada diwaktu yang tepat.
"Nak Victory, ada disini juga," Indri yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Victory yang sedang membantu Ayesha.
"Iya bu, saya jemput Ayesha biar sama-sama ke bandara," jelas lelaki itu sambil menata koper di bagasi. Lalu dia menghampiri Indri yang sedang berdiri di depan pintu.
"Bu, saya pamit dulu ya. Saya ijin bawa Ayesha juga," ujarnya sambil menyalami tangan wanita paruh baya itu.
Ayesha terpesona dengan sikap santun lelaki itu, dia bukan hanya baik hati tapi juga sangat santun pada orang tua.
Begitu juga dengan Indri yang memperhatikannya, dia menyambut tangan pria itu dan memandangnya penuh harap. Andai saja lelaki itu benar-benar menjadi menantunya pasti putrinya akan bahagia bersama lelaki yang baik sepertinya.
"Hati-hati ya," ucap Indri sambil mengusap kepala lelaki muda itu.
__ADS_1
Kini Ayesha juga mengiringi langkah lelaki itu menyalami ibunya. Kemudian masuk ke dalam mobil dan berangkat ke bandara.
***
Silvi telah sampai di danau tempat biasa mereka bertemu dan kali ini dia melihat Vico sedang sendirian menghadapnke arah danau.
Tiba-tiba niat jahil Silvi muncul, dari belakang dia sengaja menepuk bahu Vico. Sontak saja lelaki itu terkejut. Hampir saja dia menjatuhkan dirinya ke dalam danau, tapi dengan cepat Silvi memeluknya dari belakang.
"Silvi. Kamu mengagetkan saja, kalau aku jatuh tadi bagaimana?"
"Tenang, tidak perlu khawatir aku memelukmu jadi, kamu tidak akan jatuh," ujar gadis itu sambil meletakkan kepalanya diceruk pundak lelaki itu dan tetap memeluknya dari belakang.
"Kenapa tiba-tiba peluk gitu? Kangen ya sama aku?" Lelaki itu mengulas senyumnya sambil mengusap kepala wanita itu.
Silvi masih dengan posisi memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahu Vico. Dia memejamkan mata merasakan kenyamanan. Lelaki itu membalikkan tubuhnya kemudian memeluk dirinya.
"Kamu kenapa? Kok aku merasa sepertinya ada yang mau kamu bicarakan sama aku?"
Silvi membuka matanya menatap Vico "aku kangen, aku mau kita tetap sama-sama terus seperti ini," wajahnya terlihat menyendu seakan menyimpan kerinduan.
"Iya sayang. Aku juga maunya begitu. Makanya aku ajak kamu ke sini. Aku mau bicara serius tentang hubungan kita," dia menyelipkan helaian rambut gadis itu ke telinganya.
"Kamu tahukan apa yang udah mama lakukan untuk pernikahan kita?" Wanita itu menengadahkan kepalanya memperhatikan sorot mata kekasihnya.
"Iya Vico, aku udah berpikir sangat lama tentang ini, aku sempat berpikir bagaimana kalau aku menggugurkan anak ini. Kemudian kita akhiri semuanya dan aku bisa melanjutkan kuliah ke Amerika, tapi aku salah semakin ke sini aku mengerti aku mendambakan pernikahan ini dan ingin mempertahankan anak ini."
"Aku sangat senang mendengarkannya Silvi. Perkataan itu yang aku tunggu selama ini. Sebelumnnya aku mau mempertanyakan ini padamu tapi aku lihat kekecewaan didalam matamu, rasanya aku tidak sanggup menanyakannya. Makanya aku tunggu kamu yang mengungkapkan semua ini. Supaya aku yakin kita menikah bukan karena keterpaksaan." Jelasnya sambil mengusap kepala Silvi.
"Lantas, sekarang apa rencanamu, pernikahan kita akan dilaksanakan satu minggu lagi, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?"
"Iya tentu saja aku sudah mempersiapkannya. Aku sudah mempersiapkan dari jauh hari. Ya mungkin persiapanku hanya sederhana, asalkan kamu bisa menerimanya aku pasti akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu dengan segenap kemampuanku."
"Aku percaya sama kamu Vico. Aku sayang banget sama kamu." Wanita itu menyandarkan kepalanya didada bidang Vico. Tanpa terasa air matanya membasahi baju lelaki itu.
"Aku juga mencintaimu." Dia merasakannya, dia tahu pasti wanita itu sedanf menangis dihadapannya. Diapun mendekapnya penuh dengan kasih sayang.
Sebenarnya yang dibutuhkan Silvi saat ini bukanlah kemewahan untuk pernikahan mereka, yang diinginkannya hanyalah keseriusan Vico. Dia hanya mau tahu lelaki itu benar-benar berniat menjalani bahtera rumah tangga bersamanya atau hanya ingin menikahinya karena ancaman sang mama? Karena telah mendapatkan jawaban yang pasti, Silvi bisa merasa lega dan tenang.
***
"Akhirnya sampai juga. Untung saja kita tidak terlambat," ujar Victory sambil melepas sabuk pengamannya.
"Iya pak, padahal tadikan macet banget, tapi untung aja masih ada waktu setengah jam lagi," timpal Ayesha.
__ADS_1
Mereka segera keluar dari mobil tersebut. Victory mengambil troli kemudian meletakkan koper mereka ke atas troli.
"Ayesha tunggu sebentar. Saya mau memarkirkan mobil dulu." Tukas Victory padanya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya mengerti.
Victory memang selalu memakirkan mobilnya untuk beberapa malam ditempat yang disediakan bandara setiap kali akan berpergian jauh. Terutama ke luar negeri seperti saat ini. Selain memudahkan dirinya juga tidak butuh waktu lama. Karena dia bisa pulang dan pergi kapanpun dia mau.
Selesai memarkirkan mobilnya, dia menemui Ayesha dan mengajaknya ke ruang chek in, kemudian menuju ruang tunggu. Disana Reynold telah menunggu mereka bersama seorang karyawan kantornya. Dia melambaikan tangannya pada Victory dan Ayesha yang masih menoleh kanan kiri mencari keberadaan mereka. Ayesha yang memperhatikan pergerakan Reynold langsung menepuk bahu Victory dan menunjuk ke arah Reynold.
"Pak, lihat itu pak Reynold dan Evan disana".
Victory dan Ayesha segera menghampiri mereka.
"Kalian sudah lama datang?" Victory menyapa kedua orang itu.
"Tidak juga, baru lima belas menit yang lalu. Kalian janjian ya." Goda Reynold sambil memandangi Ayesha dan Victory.
Evan yang duduk didekat Reynold hanya tersenyum melihat mereka yang kikuk.
"Tidak pak. Tadi pak Victory hanya menjemput saya." Ujar Ayesha malu-malu.
"Ya, daripada naik taxi online dan terlambat datang kan ribet. Mending aku jemput saja. Lagian kita kan mau berangkat sama-sama." Jelas Victory pada Reynold.
"Ya... ya... aku paham. Kau juga pahamkan Van." Reynold mengiyakan dengan nada mengejek sambil menyenggol lengan Evan.
"I... iya pak." Evan ikut menganggukkan kepalanya.
Tidak perlu dijelaskan mengapa Victory dan Ayesha berangkat bersama ke bandara, karena itukan hanya alasan Victory saja. Dia masih belum mau jujur pada perasaannya terhadap Ayesha tapi mungkin melalui sokapnya itu dia bisa menunjukkan rasa sukanya pada Ayesha. Semoga saja Ayesha tanggap.
Lama menunggu, akhirnya pesawat yang akan membawa mereka ke London, terdengar dari mikirofon menyuarakan penerbangan ke London akan segera berangkat mereka segera bersiap-siap menuju ke pesawat.
Di pesawat, Victory duduk dibagian tepi yang memperlihatkan jendela pada badan pesawat, kemudian tepat disebelahnya Ayesha. Seharusnya disebelahnya itu adalah tempat duduk Reynold tapi Reynold sengaja mempersilahkan Ayesha duduk ditempatnya dan berganti tempat ditempat duduk Ayesha yang sedikit berjarak dua bangku, supaya Victory bisa berada didekat Ayesha.
Sekarang posisinya Reynold disebelah kanan dari Ayesha duduk berdekatan dengan Evan.
Butuh waktu dua puluh empat jam menunggu penerbangan itu sampai ke London. Cukup melelahkan, walaupun hanya duduk didalam pesawat.
Ayesha terlihat begitu lelah dia tertidur sangat pulas, namun tanpa sengaja kepalanya malah terjatuh ke bahu Victory. Victory yang belum bisa tidur karena belum mengantuk dan matanya memang belum bisa dipejamkan, melihat ke arah Ayesha. Dia memperhatikan wajah polos gadis itu saat tidur. Manis sekali gumamnya sambil memperbaiki posisi kepala gadis itu, tapi gadis itu malah menggeliat dan memegang tangannya dan memeluk tangan kekarnya seperti anak kecil yang butuh dekapan ayahnya.
Sepertinya dia kedinginan. Merasa tidak tega Victory membiarkan kepala gadis itu tetap berada dibahunya, tapi kali ini dia sengaja menghadapkan tubuhnya ke arah gadis itu supaya gadis itu merasa nyaman dan menaikkan selimutnya yang sedikit terbuka. Sementara Reynold dan Evan terlelap ke dalam mimpi.
Untung saja kedua orang itu tidak melihat kejadian barusan, kalau tidak pasti keesokan hari akan jadi bahan gosipan mereka.
__ADS_1