
"Nak, usia kehamilanmu udah berapa bulan?" tanya Shinta yang sedang menyiapkan dagangannya.
"Udah mau masuk dua bulan bu," jawab Silvi sambil membantu Shinta.
"Kamu udah periksa ke dokter kandugan belum?"
" Belum bu, rencananya mau periksa tapi nanti aja bu, aku sama mas Vico masih ada ujian. Paling nanti kalau udah ada waktu luang aku minta mas Vico nemenin aku ke dokter kandungan."
"Iya nanti biar ibu ingetin si Vico biar ga lupa. Yuk kita duduk sebentar, ibu pengen ngobrol sama kamu," tukas Shinta sambil mengajak Silvi duduk didekatnya.
Silvi hanya mengekori ibu mertuanya kemudian duduk didekat wanita paruh baya itu.
"Gimana selama hamil kamu sering mual-mual ga nak?"
" Ada sich buk, tapi gak pernah mengalami mual sampai muntah-muntah gitu buk," jawabnya sambil mengulas senyum dibibirnya.
"Ibu dulu waktu hamil Vico, di tiga bulan awal kehamilan, dari minggu pertama sampai ke minggu ke lima belas. Setelah tahu hamil di minggu ke lima ibu sering mual-mual dan susah makan, gampang capek, ngantuk, dan juga lebih emosional. Setiap hari setelah makan siang pasti lagsung ketiduran karena ngantuk," jelas Shinta mengingat kembali masa-masa kehamilannya.
Silvi terkekeh mendengarkan penjelasan mertuanya itu.
"Jadi mas Vico udah bandel dari semenjak dalam kandungan ya bu, suka bikin ibu kecapean dan malas ngapa-ngapain. Terus gimana lagi bu? Ceritain pengalaman ibu sama aku." Ujar Silvi antusias dengan cerita Shinta.
"Iya begitulah, tapi untung aja ayahnya Vico pengertian banget. Jadinya lebih sering ayahnya turun ke dapur cuma sekedar nyiapin sarapan paginya atau minumannya. Pernah juga tu satu waktu sama suami jadi gampang marah. Ada aja yang ibu cemburuin. Maunya barengan terus dan gak suka kalau kalau bapak pulang terlambat pulang. Padahal kan bapak itu ngajar dari pagi sampe sore. Ibu juga jadi gampang cengeng juga," jelas ibu sambil mengenang saat ayah Vico masih hidup.
Tidak terasa, wajah Shinta menyendu dan kini buliran bening itu mengalir begitu saja dari sudut matanya.
"buk ibu nangis?" Silvi merasa tak enak hati melihat mertuanya menangis karena teringat saat bersama suaminya.
"Ah, ga kok nak. Ibu cuma kangen aja sama ayahnya Vico." Wanita itu menyeka wajahnya menutupi kesedihannya.
"Maafin aku ya buk. Aku udah bikin ibuk jadi sedih." Wanita itu memeluk Ratna dan mengusap lengan wanita paruh baya itu.
Tiba-tiba Vi co muncul dari dalam menghampiri mereka.
"Wah ini ada apa kok kayaknya lagi pada melow." Celetuk Vico.
"Ga mas, ini ibu jadi sedih gara-gara aku nanyain pas ibu hamil mas Vico."
"Lah, kenapa malah bahas itu?"
"Ga kok nak. Ibu tadikan nanya Silvi udaj cek kandungannya belum? Katanya belum terus tadi malah cerita-cerita pas ibu lagi hamil kamu gitu." Jelas Ratna padanya.
__ADS_1
"Iya dech bu."
Vico senang melihat Silvi bisa seakrab itu dengan ibunya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Vico kalau Silvi akan secepat itu beradaptasi dan menyatu dengan ibunya.
Mereka bersiap-siap berangkat sekolah untuk ujian kembali.
"Vico, nanti jangan lupa ke dokter kandungan ya." Pesan Ratna pada putranya.
"Iya buk, nanti aku anterin Silvi ke dokter kandungan."
Anak lelaki itu menyalami punggung tangan ibunya diiringin dengan Silvi dan Zahwa. Kemudian mereka berangkat ke sekolah.
***
Siang hari telah tiba, ujian hari itu telah berakhir. Para siswa segera keluar dari ruangan kelas. Vico teringat akan janjinya untuk mengantarkan Silvi ke dokter kandungan. Mereka segera pulang kemudian mengganti seragam sekolah mereka dengan baju santai untuk pergi ke dokter kandungan.
Saat di dokter kandungan...
Seorang perempuan berumur tiga puluh lima tahun dengan jas putih dan perlengkapan dokternya menghampiri Silvi. Dia memeriksa kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan Silvi.
"Silakan bu Silvi," tukas dokter itu sambil mengajak Silvi ke bankar untuk diperiksa.
Keduanya hanya mengangguk sambil saling menatap. Terlihat raut bahagia Silvi dan Vico dalam penantian mereka untuk calon bayi mereka.
Selanjutnya dokter itu memberikan gel pada Silvi. Perempuan itu mengoleskan gel itu ke perutnya. Dokter itu memasang alat USG ke perut Silvi, kemudian melihat dari monitor pergerakan bayi didalam perut Silvi.
Dari layar itu Silvi bisa merasakan detak jantung yang dimiliki oleh sang bayi. Ukuran bayi saat memasuki usia kandungan minggu ke lima ini masih seukuran dengan wijen. Organ organ vital yang dimiliki sang bayi juga belum berkembang pesat mulai dari otak, medulla spinalis, jaringan syaraf hingga tulang belakang.
Memasuki usia minggu ke delapan, bayi akan memiliki usus buntu yang sudah ada pada tempatnya. Usia kehamilan ini juga akan membentuk sumsum tulang belakang yang membentang sepanjang embrio dan membentuk otak. Tali pusar janin pun akan menggantikan posisi kantung kuning telur dan bekerja sama dengan ari ari untuk membawa nutrisi serta oksigen ke janin.
Pada minggu ini, ada empat anggota tubuh yang mulai terbentuk yaitu sepasang tangan dan sepasang kaki. Untuk melihat hasil perkembangan janin, Anda bisa mengunjungi dokter khusus kehamilan untuk mengetahui perkembangan janin.
Namun, perut Silvi terlihat seperti hamil tiga bulan. Ternyata ada sesuatu yang baru saja dilihat oleh dokter itu.
"Ini kandungan bu Silvi sepertinya anaknya kembar."
Jelas dokter itu.
"Kembar?!" serentak Silvi dan Vico bertanya pada dokter itu.
"Iya, ini coba bapak dan ibu lihat yang kayak biji wijen itu ada dua. Itu pertanda anak anda kembar." Tukas dokter itu.
__ADS_1
Silvi dan Vico benar-benar terkejut dengan penjelasan dokter itu. Baru mendengar detak jantung saja , rasanya sangat bahagia, akhirnya Silvi merasakan juga yang namanya mencintai bahkan ketika sebelum bertemu.
Sekarang malah dikatakan mereka akan memiliki anak kembar.
"Dokter boleh ga saya minta foto USG ini nanti?"
"Tentu saja pak. Nanti saya akan berikan hasil USG nya," jelas dokter itu sambil merapikan baju Silvi.
Dokter itu telah selesai memeriksa kandungan Silvi.
Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata kebahagiaan mereka saat ini. Vico dan Silvi saling menggenggam erat tangan mereka untuk menyalurkan rasa bahagia mereka.
Dokter muda itu menjelaskan kembali.
"Dimasa seperti ini nanti akan banyak gejala-gejala yang akan dialami oleh ibu hamil," jelas dokter itu sambil duduk ke kursinya.
"Gejala seperti apa dokter?" tanya Silvi antusias.
"Pada usia kehamilan trimester pertama minggu ke 5, bunda akan mengalami beberapa gejala seperti mood swing. Perubahan suasana secara drastis ini sangat wajar terjadi saat memasuki minggu ke lima usia kehamilan. Bunda akan merasakan gembira, senang, atau bahkan kesal secara tiba tiba,"
"Hal ini akan menyebabkan emosi bunda berubah-ubah karena mood yang tidak menentu. merasakan mual dan muntah dengan morning sickness yang hampir dialami oleh sebagian besar wanita hamil. Mual dan muntah ini akan berdampak pada asupan gizi dan nutrisi untuk janin. Oleh karena itu, sebaiknya selalu upayakan segala cara agar asupan nutrisi si kecil tetap terjaga,"
"Bunda juga akan cepat merasa lelah karena memproduksi banyak darah salama kehamilan. Hal ini berfungsi untuk membawa nutrisi dan oksigen ke janin yang masih ada di dalam rahim. Pada usia ini juga bunda akan memiliki flek, yang berguna untuk membantu memberi makan pada janin dan menempel pada rahim."
Dokter itu menjelaskannya secara detail.
"Tapi ga akan berdampak buruk buat bayi saya kan dok?" tanya Silvi sambil mengusap perutnya.
"Ibu tidak perlu khawatir itu hanya gejala awal kehamilan dan tidak membahayakan janin." Jelas dokter itu sambil tersenyum.
Kemudian dia memberikan hasil USG yang baru saja keluar dari mesin pencetak itu pada Silvi.
"Ini hasil USGnya"
Silvi dan Vico memperhatikan foto itu. Terlihat samar dan belum terlalu jelas tapi bisa terlihat dua buah bentuk mungil sebesar biji wijen disana.
" Ga keliatan sama sekali ini dok." Vico terlihat bingung sambil mengarahkan foto itu ke arah lampu untuk melihat dimana letak bayinya saat ini.
Dokter itu terkekeh melihat kelakuan Vico.
"Iich kamu itu. Kan anaknya baru lima minggu mana keliatan." Ujar Silvi sedikit sebal melihat kelakuan Vico.
__ADS_1