
Setelah satu minggu berlalu, akhirnya Silvi membuka matanya kembali. Akhirnya penantian keluargapun membuahkan hasil.
"Silvi, kamu udah bangun nak?" Marinka menghampiri sang anak.
"Mama, papa, mas Vico." Silvi menyapa orang-orang yang diingatnya bersamanya saat akan melahirkan.
"Nak, kamu baik-baik ajakan?" Tanya Davina dengan wajah sendu mrmperhatikan Silvi.
"Kenapa kalian semua berkumpul disini?" Silvi bingung dengan keadaan yang dilihatnya.
"Kamu pendarahan setelah melahirkan dan koma selama seminggu." Jelas Vico pada istrinya.
Silvi hanya menatap nanar pada sekelilingnya. Dirinya merasa bingung dan tidak bisa mengingat apa-apa setelah mengalami pendarahan pasca melahirkan.
Saat ini tidak ada satupun yang berani mengungkapkan kebenaran tentang Silvi. Mengingat dirinya yang baru aaja pulih. Semua yang ada di tempat itu hanya bisa diam dalam pemikiran mereka masing-masing.
Silvi teringat pada putri mungilnya. Dirinya mencari keberadaan putrinya.
"Anak-anakku, dimana mereka? Aku kangen ingin memeluk mereka." Ujar Silvi.
"Anak-anak lagi diruang perawatan. Kamu belum bisa ke sana karena kondisi kamu belum stabil." Jelas Vico sambil membantu Silvi untuk duduk.
"Tapi aku kangen sama mereka mas. Aku pengen peluk dan menyapih mereka." Pinta Silvi.
Merasa tidak tega melihat Silvi yang begitu ingin bertemu anaknya. Vico berinisiatif untuk membawa putri kembarnya ke hadapan Silvi.
"Dokter, apakah anak-anak sudah bisa dipertemukan dengan ibunya?" Vico bertanya pada dokter yang baru saja selesai mengecek keadaan Silvi.
"Sebenarnya, untuk saat ini belum bisa pak, cuma melihat kondisi sang ibu yang begitu menginginkan bayinya kami akan memberikan kelonggaran. Tapi jangan terlalu lama, supaya pasien bisa beristirahat."
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Vico langsung menuju ke ruang bayi, kemudian membawa dua bayi kembarnya. Dibantu oleh Riana dan Hans.
Saat sedang bersama Vico, Hans dan Riana membuka percakapan.
"Vic, menurut lo gimana ya kalau nanti Silvi tahu dia sama Riana saudara kembar?"
"Entahlah Hans. Gue belum mikir itu, cuma aku kasihan aja sama mama Marinka, dia pasti sedih banget sekarang."
"Aku rasa sebaiknya kita ga usah bahas itu dulu yang, nanti yang ada Silvi malah tambah sakit." Pinta Riana pada suaminya.
"Maaf ya, gara-gara Silvi sakit acara honeymoon kalian jadi batal. Padahal Silvi udah booking hotel itu dari jauh-jauh hari buat kalian."
__ADS_1
Vico merasa sungkan pada dua sahabatnya itu. Rencana kejutan yang telah dipersiapkan untuk sahabatnya itu malah berakhir di rumah sakit.
"Ga apa-apa Vic. Silvi itu saudaraku juga, lebih penting kesembuhannya dibanding honeymoon. Lagian itu masih bisa dilaksanakan lain waktu." Tukas Riana pada Vico.
"Pokoknya makasih banyak ya. Kalian udah banyak bantu gue dan Silvi. Dari mulai masih jaman sekolah sampai hari ini kalian selalu ada buat jadi penolong."
"Lo ga usah sungkan Vic. Gue dan Riana bakal selalu bantu lo berdua. Jadi lo ga usah ngerasa ga enak hati."
Vico hanya tersenyum melihat kebaikan hati sahabatnya. Dia tahu betul sahabatnya itu memang selalu bisa diandalkan.
***
Baru saja sampai di ruang rawat Silvi, mereka melihat ada tamu yang menjenguk Silvi.
"Mbak Aurel, udah lama di sini mbak?" Tanya Vico berbasa basi pada teman kantornya.
"Ga kok Vic. Aku sama mas Denis baru aja disini. Tadi pagi kita ga sengaja ketemu sama Hans, jadi sekalian aja mampir menjenguk Silvi." Jelas Aurel pada Vico.
"Loh kok bisa mbak pagi-pagi ada di rumah sakit?"
"Iya Vic, anaknya Aurel dirawat di rumah sakit ini juga." Jelas Denis yang bersama Aurel.
"Oh iya, aku lupa. Maaf ya mbak, aku belum sempat jenguk anak mbak Aurel. Aku sibuk ngurusin Silvi."
"Ga apa-apa Vic. Chika udah mendingan kok. Cuma perlu istirahat aja." Jelas Aurel pada Vico.
Kemudian mereka masuk ke ruangan Silvi dan mendapati Silvi yang sedang terbaring lemah.
Saat pintu terbuka, hal pertama yang dilihat Silvi adalah putri kembarnya. Dirinya sudah menahan kerindun cukup lama karena tidak bertemu dengan putrinya selama seminggu.
Sikap keibuannya pun langsung muncul dan dirinya ingin segera bangkit dari brankar, tapi ditahan oleh Marinka dan Davina.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu nak. Kamu baru aja abis operasi nanti jahitannya lepas kalau kamu banyak bergerak." Ujar Marinka pada putrinya.
Davina tidak mau kalah, diapun berusaha mencari perhatian anaknya.
"Minum dulu nak, biar enakan." Davina mengambilkan minuman dan memberikannya pada Silvi.
Silvi langsung meminum air yang diambilkan Davina. Dirinya merasa haus pasca operasi.
Selesai minum Silvi langsung ingin bersama dua buah hatinya, tapi Silvi merasa asing dengan dua orang yang bersama Vico.
__ADS_1
"Mereka siapa mas?" Tanyanya pada suaminya.
"Silvi, ini ada teman aku mau menjenguk kamu."
Silvi melihat ke arah Aurel dan Denis kemudian tersenyun pada mereka.
"Kenalin ini mbak Aurel dan ini mas Denis."
Ujar Vico memperkenalkan mereka. Setelah itu mempersilahkan mereka menemui Silvi.
Setelah memperkenalkan kedua rekan kerjanya,
Vico bersama Hans ingin memberikan anak-anak itu pada Silvi tapi Marinka dan Davina malah berebut untuk memberikan anak-anak itu pada Silvi.
"Sini biar mama bantu." Ujar Davina menggendong bayi itu.
"Eh... biar mama aja." Marinka juga ingin melakukan hal yang sama pada bayi mungil itu.
Melihat kelakuan dua ibu-ibu yang saling berebut untuk menggendong bayi itu, Silvi menjadi kebingungan.
Hampir saja terjadi rebut-rebutan untuk menggendong bayi, untung saja para Adi dan Hermawan langsung tanggap. Mereka segera mengambil alih.
"Sudah-sudah, sini biar kakeknya saja yang mengantarkan pada mamanya." Tukas Adi dan Hermawan secara bersamaan.
Mereka saling menatap karena memikirkan hal yang sama sedangkan Vico dan Hans terkekeh melihat sikap mereka.
Akhirnya anak-anak itu diberikan pada Silvi secara bergantian. Sebagai seorang ibu naluri keibuannya muncul.
"Maaf, kaum lelaki tolong keluar dulu saya mau menyusui anak saya." Canda Silvi pada mereka.
Tanpa perlu banyak bertanya para ayah, termasuk Vico dan Hans menunggu diluar.
Setelah mereka keluar dari ruangan Silvi langsung menyusui dua buah hatinya secara bergantian. Terlihat sekali Silvi sangat menyayangi mereka. Dirinya tak henti-hentinya menciumi kedua buah hatinya.
Marinka dan Davina terharu melihat putrinya kini telah menjadi ibu. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata kebahagiaan yang dirasakan mereka, karena telah menjadi nenek.
Aurel merasa tergerak hatinya untuk membantu Silvi. Diapun menggendong salah satu bayi Silvi dengan penuh kasih sayang.
"Silvi bayi kamu cantik-cantik sekali ni. Kamu udah kasih nama belum buat anak-anak kamu?" Tanya wanita itu sambil menatap ke arah bayi mungil yang sedang digendongnya.
"Belum mbak. Aku sama mas Vico belum ada ide kasih nama bayi-bayi kami." Jelas Silvi.
__ADS_1
"Iya Silvi, sebaiknya secepatnya dikasih nama. Biar enak manggil mereka." Tukas Aurel.
Silvi menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian menyusui buah hatinya.