
Pagi itu cuaca begitu cerah mnegantarkan hari baru di kota London. Ayesha telah membersihkan diri dan mengenakan kemeja putih yang dilapisi blezer hitam dengan celana panjang hitam. Rambutnya digerai dengan poni menghiasi wajah mungilnya. Dia terlihat cantik dengan make up minimalis.
Tok...tok... tok...
Seseorang diluar sana mengetuk pintu.
"Ya sebentar," Ayesha segera membuka pintu kamarnya.
Terlihat Victory yang telah berada di depan pintu. Lelaki itu terkesima melihat sosok wanita cantik yang berada di depan matanya. Matanya terfokus pada wajah mungil yang dihadapannya.
"Pak... pak... pak Victory," wanita itu menyibakkan telapak tangannya di depan mata Victory.
Lelaki itu mengerjapkan matanya, "Iya, kau sudah siap?"
"Sudah pak. Bapak baik-baik sajakan?" tanyanya heran.
"Aku baik-baik saja. Ayo cepat meetingnya akan segera dimulai," ajak lelaki itu padanya.
Ayesha segera mengikutinya. Mereka sekarang telah memasuki ruang meeting. Reynold dan Evan juga menyusul.
Suasana rapat begitu serius saat Victory menjelaskan semua proyek yang akan mereka rencanakan. Kali ini mereka akan membuat proyek jalan, Reynold dan the dream ligth team miliknya ingin membuat proyek jalan dan jembatan.
Victory menjelaskan perencanaan proyek dengan sangat telaten dihadapan para investor. Para investor terlihat mengangguk-anggukkan kepala mereka mendengarkan penjelasan Victory. Bahkan Ayesha sekarang malah melongo menatap kagum pada pemuda dua puluh tujuh tahun itu.
Bagaimana tidak terpesona melihat kharismatik lelaki seperti Victory? Dia begitu pandai membuat para rivalnya jadi kehilangan kata-kata untuk menyanggahnya. Dan akhirnya rapat ditutup dengan dimenangkan oleh Abimana Group.
Reynold begitu bahagia karena perusahaannya dilirik oleh investor Inggris.
"Terimakasih tuan Reynold akhirnya perusahaan kita bisa bekerja sama," wanita berambut blonde dan bermata biru itu mengulurkan tangannya kepada Reynold.
"Saya yang harus berterimakasih pada nyonya Clara Davinson, karena anda telah bersedia menjadi investor untuk perusahaan kami. Ini suatu kehormatan bagi kami," ucap Reynold sambil menatap mata indah yang berada didepannya.
***
Selesai meeting mereka pergi ke club untuk merayakan kemenangan mereka.
Saat ini mereka telah masuk ke dalam club, gemerlap lampu yang kerlap kerlip menghiasi ruangan itu dengan suara musik DJ yang menggema. Suasana malam itu sangat ramai karena mereka datang saat satnight.
"Ayesha kamu suka main ke club ga?" tanya Reynold yang memperhatikan Ayesha dari tadi hanya diam.
"Aku hanya sesekali pak pergi ke club," ujarnya sekenanya.
"Victory kapan-kapan lo bisa mengajak Ayesha pergi berdua bersamamu."
"Apaan sich Rey, lo tuch yang mestinya cari cewe biar ga ngeledekin gue terus. Atau lo deketin tu mis Clara kan lumayan cantik. Pasti lo suka," ledek Victory padanya.
Reynold hanya berdecih mendengarkan ucapan Victory.
Disela-sela mereka menikmati makanan dan minuman mereka seorang wanita dengan pakaian sexy berwarna hitam menghampiri mereka.
"Hai... can I join with you?" Wanita itu berdiri dihadapan mereka.
Serentak mereka menoleh pada pemilik suara yang menyapa mereka.
"Miss Clara!" sapa Reynold padanya.
__ADS_1
Pucuk dicinta ulampun tiba. Baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul dihadapan mereka. Sepertinya semesta mendukung ucapan Victory dan mungkinkah Clara akan bersama Reynold untuk kedepannya?
"Miss Clara, ayo duduk sini bersama kami," ujar Victory.
Evan yang berada di dekat Victory bergeser supaya gadis blonde bermata biru itu bisa duduk didekat Ayesha yang berada disampingnya.
"Kalian cukup panggil aku Clara saja," jelas wanita itu sambil duduk didekat Ayesha.
"Anda ke sini dengan siapa Miss Clara. Eh clara?" tanya Evan padanya.
"Tadinya aku bersama teman-temanku tapi karena aku melihat ada kalian disini jadi aku bergabung saja dengan kalian," jelas wanita itu.
"Dimana teman-temanmu?" Reynold melihat ke arah kanan dan kiri.
"Itu mereka sedang sibuk dance," tunjuknya pada beberapa orang yang sedang berjingkrak-jingkrak bersama pasangan mereka.
Malam itu memang malam yang sangat panjang bagi mereka. Mereka menikmati suasana malam. Tanpa terasa mereka begitu banyak minum. Hanya Ayesha yang tidak terlalu banyak minum. Dia tidak ingin minum banyak karena dia mau pulang dalam keadaan baik-baik saja. Begitu juga dengan Victory. Tapi Clara, Reynold dan Evan banyak sekali minum membuat mereka mabuk berat.
Malam semakin larut, akhirnya Victory memutuskan untuk mengajak teman-temannya kembali ke hotel.
"Ayesha, kamu ajak Clara menginap dikamarmu saja ya, karena tidak mungkin dalam keadaan seperti ini mengantarnya pulang," tukas Victory pada gadis berponi itu.
"Iya pak." Wanita itu menyanggupi dan memapah Clara yang masih menceracau dan tertawa tak jelas.
Victory memapah Reynold dan Evan yang terlihat tidak sadar dengan meminta bantuan security.
***
Sesampainya di hotel mereka masuk ke kamar hotel dan membiarkan orang-orang yang sedang mabuk itu beristirahat.
"Bicara dengan saya? Tentang apa pak?"
"Kau datang saja ke kamarku. Kita bicara sebentar."
"Baiklah pa," Ayesha menyetujui ucapan lelaki itu kemudian memapah Clara ke kamarnya dan melepaskan sepatu wanita itu kemudian menyelimutinya.
Ayesha menuju ke kamar Victory yang berada disebelah kamarnya.
Gadis itu mengetuk pintu kamar Victory.
"Pak Victory ini saya Ayesha,"
"Masuklah Ayesha,"
Ayesha membuka pintu kamar itu, terlihat Victory sedang duduk di kursi. Ayesha menghampiri lelaki itu.
"Duduklah,"
Ayesha hanya mengikutinya saja. Wajahnya begitu gugup karena begitu dekat dengan Victory. Dia bingung kenapa tiba-tiba Victory menyuruhnya malam-malam kekamarnya?
"Maaf ya, saya mendadak menyuruh kamu ke sini," Victory mensejajarkan duduknya di hadapan Ayesha.
"Iya pak, apa ada pekerjaan yang harus diselesaikan atau_"
Belum sempat Ayesha melanjutkan ucapannya, Victory menyelanya. "Ayesha, apakah diotakmu itu hanya ada pekerjaan saja?" lelaki itu terkekeh memperhatikan wajah Ayesha yang kikuk.
__ADS_1
"Kalau bukan kerjaan terus untuk apa pak?" tanya Ayesha tanpa berani menatap mata Victory dan hanya menundukkan kepalanya.
Victory mengulum senyumnya memperhatikan Ayesha, kemudian dia mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya.
"Sebenarnya aku mau memberikan ini untukmu," ujar Victory sambil memberikan kotak itu ke tangan Ayesha.
"Ini apa pak?" tanya Ayesha merasa kebingungan.
"Buka saja," titah Victory sambil memandangi gadis itu.
Ayesha mengikuti perkataan lelaki itu. Dia membuka kotak kecil itu dan tiba-tiba matanya membulat sempurna saat dia melihat isi kotak itu adalah sebuah gelang berlian.
"Apa ini pak?" Ayesha terlihat gelagapan.
"Bagaimana? Gelang itu bagus tidak?" tanya Victory pada wanita itu.
"Bagus pak. Ini cantik sekali. Gelang ini pasti mahal." Ujarnya dengan sangat polos.
"Kalau begitu kamu pakai saja," pinta Victory padanya.
"Ini... ini buat saya pak?" mata wanita itu terlihat berbinar menatap Victory.
"Iya itu untuk kamu."
Victory langsung mengambil kotak itu kemudian memakaikan gelang itu ke tangan Ayesha.
"Cantik, seperti yang memakainya," ucap Victory.
Wajah Ayesha seketika memerah mendengar ucapan Victory. Memang gombalan lelaki itu terkesan receh tapi cukup membuatnya meleleh karena bahagia.
"Terimakasih pak, tapi apa ini ga terlalu mahal?" tanya Ayesha meyakinkan Victory.
"Untuk orang cantik seperti kamu. Meskipun mahal pasti saya belikan," goda Voctory padanya.
Wanita itu semakin gugup dan gelisah. Dia tidak mampu menatap mata Victory hanya menundukkan kepala.
Victory mendekatkan kursinya ke arah Ayesha. Kini kedua orang itu telah berhadapan tanpa jarak. Mata lelaki itu menatap wanita itu dengan intens. Dia merangkup wajah mungil wanita itu. Ayesha memejamkan mata tidak sanggup menatap Victory.
"Ayesha," panggil lelaki itu padanya.
Perlahan Ayesha menatap mata lelaki itu. Wajahnya terlihat tampan kalau dilihat dengan sedekat ini. Bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya itu terlihat menggoda untuk disentuh.
"Iya pak," Mata gadis itu mengerjap mencoba menghilangkan lamunannya.
"Jangan panggil aku bapak. Panggil aku Victory saja.,"pinta lelaki itu.
"Pak, vic... victory," ucapnya terbata-bata.
"Begitu lebih baik. Ayesha maukah kamu menerimaku sebagai kekasihmu?"
Pertanyaan itu tiba-tiba sekali. Ayesha belum siap menjawabnya. Dia panik tubuhnya jadi panas dingin karena Victory begitu berterus terang mengutarakan isi hatinya.
Wanita itu menatap mata Victory dengan saksama untuk meyakinkan dirinya. Dan... dia menganggukkan kepalanya.
Victory senang sekali dengan anggukan itu. Tandanya wanita itu telah menerimanya. Spontan dia menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Ayesha sangat terkejut namun dia tidak menolak. Dia memberanikan diri untuk menyentuh lengan Victory dan membalas pelukan lelaki itu.
__ADS_1
Iya lelaki yang didambakannya ketika pertama kali bertemu di bandara saat akan pergi ke Australia dan lelaki itu pula yang telah banyak berjasa untuk hidupnya dan ibunya.