
Tepat pukul sepuluh pagi Reynold dan kedua orang tuanya telah sampai di London. Dirinya sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan pujaan hatinya.
"Bagaimana Rey, apa kamu udah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Clara?"
Abimana ingin memastikan putranya benar-benar tidak akan merasa ragu untuk memulai langkahnya.
"Tentu pa, aku siap banget. Rasanya aku udah ga sabar mau ketemu Clara," jelasnya penuh semangat.
Safira yang memperhatikan kelakuan putranya hanya tersenyum.
Baru saja mereka selesai bicara, tiba-tiba muncul seseorang dengan mobil mewah menghampiri mereka.
"Dengan tuan Reynold?" seorang supir keluar dari mobil itu menghampiri mereka.
"Iya, saya sendiri," sahut Reynold pada lelaki itu.
"Ayo tuan, silakan masuk. Saya akan mengantarkan anda dan kedua orang tua anda ke rumah nona Clara."
Tanpa banyak bertanya Reynold dan kedua orang tuanya segera mengikuti ucapan supir itu.
Mereka segera bersiap untuk menuju ke rumah Clara.
Sekitar tiga puluh menit, mereka sampai dirumah Clara.
Sang supir membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Reynold beserta kedua orang tuanya turun dari mobil.
Dari dalam rumah itu telah menanti Clara dan keluarganya. Baru saja sampai di depan rumah, begitu melihat orang yang dikenalnya Clara langsung mendatangi orang itu.
"Reynold," panggil wanita itu dengan wajah bahagianya.
Merasa terpanggil Reynold menoleh ke arah suara itu.
"Clara," sahutnya dengan senyuman yang terlukis diwajah tampan lelaki muda itu.
__ADS_1
Clara yang begitu bahagia dengan kedatangan Reynold langsung memeluk lelaki itu, dia tidak menyadari saat ini sedang bersama orang tua mereka.
Reynold terkejut dengan sikap Clara, sebenarnya dia senang dengan sambutan Clara hanya saja dirinya mendadak gugup karena Clara tiba-tiba memeluknya didepan semua orang terutama kedua orang tua mereka.
Reynold hanya membalas dengan mengusap kepala Clara, sambil berbisik pada Clara.
"Pelukannya kita lanjutkan nanti saja, ga enak dilihat mama papa."
Clara tersentak dengan ucapan Reynold dia baru menyadari saat ini bukan hanya ada mereka berdua tapi juga ada yang lainnya.
"Ups, maaf. Aku terlalu bahagia hingga terbawa suasana," jelas wanita muda itu.
"Hm... Clara ayo ajak tamunya masuk dulu," suara berat Mr. Anderson menyapa sang anak.
"I... iya pa," jawab wanita itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada perasaan malu, karena sikapnya tadi. Kemudian Clara mengajak Reynold dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
***
Saat didalam rumah, Mr. Anderson menyambut tamunya dengan ramah.
"Iya tuan, kami juga baru tahu kedekatan antara Reynold dan Clara, karena sebelumnya putra kami ini setiap kali ditanya tentang menikah tidak pernah memberikan jawaban yang jelas. Jawaban yang diberikannya selalu saja klise, dengan alasan belum mendapatkan yang cocok," tukas Abimana pada Mr. Anderson.
Sebagai rekan bisnis, tentunya akan menjadi satu keuntungan bagi mereka. Ibarat kata pepatah sambil menyelam minum air. Siapa yang akan menduga bahwa pertemuan Clara dan Reynold nantinya secara tidak langsung akan melebarkan bisnis antara Abimana Group dan Anderson Coorporation.
"Haha, itu bisa dimaklumi tuan. Clara juga seperti itu, mengingat dirinya telah semakin dewasa, saya juga berinisiatif untuk mencarikan jodoh untuknya, namun sayang seperti yang anda ketahui ada insiden yang tidak menyenangkan terjadi pada putri saya," tukas pria paruh baya itu pada calon besannya.
Clara menggenggam jari sang ayah untuk menguatkan. Clara sangat memahami, papanya cukup kecewa dengan hubungannya dengan Maxy yang berakhir dengan cara yang buruk, tapi apa mau dikata? Meskipun itu tidak seharusnya terjadi, mungkin juga Tuhan yang telah menentukan jalan terbaik untuk Clara, dengan cara mempertemukannya dengan sosok lelaki yang saat ini berada dihadapannya.
Abimana dan Safira menganggukkan kepala memaklumi ucapan Mr. Anderson. Sebelum menemui mereka, Reynold sempat menceritakan tentang pertemuannya dengan Clara, mulai dari kerjasama bisnis mereka hingga akhirnya mereka menjalin hubungan.
"Tidak apa-apa tuan Anderson. Hidup ini berproses, jadi kadang ada suka ada duka yang harus kita lewati. Dan bagi saya selaku orang tuanya Reynold tidak mempermasalahkan hal itu. Bukankah begitu ma?" imbuh lelaki itu sambil meminta pendapat pada istrinya.
"Iya, Mr. Anderson, sekarang ini kita buka lembaran baru saja. Mungkin ini akan jadi jalan terbaik untuk anak-anak kita kelak," tutur Safira dengan penuh rasa hormat.
__ADS_1
Mr. Clarkson cukup merasa tenang saat ucapan-ucapan positif itu keluar dari Abimana dan Safira. Artinya secara tidak langsung mereka siap menerima keadaan Clara.
"Baiklah tuan dan nyonya Abimana, saya sangat senang mendengarkannya, terimakasih atas pengertiannya." Tukas pria paruh baya itu.
"Maaf, pa... ma... Mr. Clarkson, karena saat ini kita telah berkumpul bersama bagaimana kalau saya langsung saja pada tujuan kita datang ke sini?"
Rey merasa tidak sabar untuk menyampaikan keinginannya. Lelaki itu snagat berterus terang pada Mr. Clarkson.
"Wah... sepertinya kamu udah ga sabar ya untuk segera melamar calon istri kamu." Goda Abimana pada anaknya.
Clara yang mendengarkan candaan calon mertuanya pada putranya itu, tersenyum malu. Wajah gadis itu menjadi merona karena ucapan calon mertuanya.
"Bukan begitu pa, mumpung kita ada disini kenapa ga langsung aja kita pada pokok permasalahannya. Bukankah niat baik itu harus disegerakan?" ucap Reynold dengan penuh percaya diri.
Mr. Anderson yang memperhatikan Reynold terkekeh dengan kejujuran lelaki muda itu. Ada rasa senang melihat sikap Reynold yang cukup gentle dihadapan kedua orang tuanya, namun disisi lain Mr. Anderson masih ada sedikit ketakutan untuk segera menikahkan putrinya.
Mengingat kejadian yang lalu cukup memberikan beban mental yang harus diperhatikan lagi.
Merasa penasaran, belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Reynold memberanikan diri untuk bicara.
"Bagaimana Mr. Anderson, apakah saya boleh meminta putri tuan untuk menjadi pendamping hidup saya dan juga menjadi ibu dari anak-anak saya kelak?"
Sontak saja Abimana dan Safira terkejut dengan ucapan sang anak. Bagaimana putranya itu mempunyai keberanian untuk mengucapkan itu pada orang tua Clara?
Clara sendiri juga sangat kaget mendengar ucapan Reynold.
Tanpa basa basi, Mr. Anderson langsung memberikan jawaban.
"Aku sangat senang dengan anak muda seperti dirimu. Sangat lugas dan berterus terang. Tentunya orang yang bisa menjadikanmu sebagai menantunya akan merasa bahagia. Apalagi saya sebagai orang tua Clara, tentunya saya sangat senang sekali." Tukas lelaki paruh baya itu menyiratkan pernyataan setujunya secara tak langsung.
"Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Tolong jaga putri saya satu-satunya ini. Jangan sia-siakan dia," sambung Mr. Clarkson dengan penuh pengharapan pada Reynold.
"Tentu tuan. Saya sangat mencintai putri tuan, saya janji saya akan menjaganya sampai maut memisahkan kami," ujar Reynold dengan penuh keseriusan.
__ADS_1
Lama berbincang ternyata tidak membuat mereka bosan dengan pertemuan itu. Singkat cerita Mr. Anderson menyetujui hubungan mereka dan sebagai simbol untuk mempererat hubungan mereka, Reynold telah membelikan sepasang cinci untuk melamar Clara, merekapu saling bertukar cincin.
Benar-benar ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi krdua belah pihak.