
"Vico, dari tadi gue liat kok lo banyak bengong. Lagi ada masalah sama orang rumah?"
Denis memperhatikan Vico yang sejak pagi tadi terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Ah... ga mas. Gue kepikiran sama anak gue dirumah." Jelas Vico pada lelaki itu.
"Emang anak lo sakit?"
"Ga mas. Anak gue baik-baik aja, tapi..." Vico menghela nafas berat, ucapannya terhenti sesaat.
"Tapi kenapa Vic, cerita sama gue, mungkin gue bisa bantu." Denis terlihat begitu penasaran dengan cerita Vico.
"Kemarin, ada teror dirumah. Istri gue bilang ada yang mengirimkan paket misterius ke rumah." Jelas Vico.
"Teror?"
"Iya mas. Ada yang mengirimkan boneka berdarah yang tertancap pisau didadanya."
"Apa? Siapa yang berani berbuat seperti itu?"
"Itu dia yang gue belum tahu mas. Kasian istri gue sampai ketakutan. Dia takut kalau terjadi sesuatu yang buruk sama baby twins." Jelas Vico sambil memandang jauh ke arah depan.
"Astaga Vic, jangan sampai deh terjadi sama anak-anak lo. Gimana kalo lo lapor polisi aja?" Denis ikut panik mendengar ucapan Vico.
"Gue udah lapor tapi bukti gue ga akurat mas."
"Ga akurat gimana? Kan jelas-jelas dia kirimin paket teror gitu ke rumah lo."
"Polisi ga menemukan sidik jari orang itu. Kayaknya udah direncanain dengan rapi."
"Wah lo mesti hati-hati. Jangan sampai keluarga lo kenapa-napa. Terutama anak lo." Vico menganggukkan kepala, memahami perkataan Denis.
***
Dirumah, Silvi merasa bosan karena sudah beberapa hari dirinya hanya dirumah. Oleh karena itu dia berinisiatif pergi ke taman dekat rumah bersama baby twins.
"Bi Sumi, temani saya ke taman yuk. Bawa anak-anak berjemur." Pintanya pada ART nya .
"Baik non. Mumpung kerjaan bibi udah beres semua ni. Baby twins juga udah mandi ni non, jadi enak dibawa jalan-jalan." Silvi merasa senang karena bi Sumi mau menemaninya.
Tidak perlu menunggu lama, mereka telah sampai di taman.
__ADS_1
Saat itu, kondisi taman tidak terlalu ramai karena masih jam kerja. Jadi mereka bisa leluasa berjalan-jalan ditaman. Cuaca pagi itu sangat mendukung karena tidak terlalu panas, sangat baik untuk menghangatkan tubuh bayi-bayinya, juga bermanfaat untuk meningkatkan asupan vitamin D bagi tubuh baby twins.
Sedang asyik-asyik bermain dengan sang bayi, Silvi melihat ada outlet eskrim di sekitar taman. Silivi yang sudah lama tidak makan es krim mendadak ingin makan es krim.
"Bi, di depan ada yang jual es krim. Aku ke sana dulu ya. Pengen banget makan es krim. "
"Iya non. Biar debaynya bibi yang nemenin. Non beli aja dulu."
Bi Sumi dengan cepat mennggantikan Silvi untuk menjaga para bayi mungil itu. Silvi berlari menuju ke arah penjual es krim untuk membeli es krim favoritnya.
Tapi dibalik pohon ada seseorang sedang memperhatikan mereka, kemudian memastikan keadaan sekitar taman sangat aman. Begitu mendapatkan kesempatan, orang itu segera mendekat ke arah bayi-bayi mungil itu.
Bi Sumi yang tengah asyik mengajak anak-anak itu bermain tidak menyadari kedatangan orang itu. Tanpa membuang waktu orang itu langsung membekap mulut ART itu dengan sapu tangan yang telah diberikan obat bius. Seketika bi Sumi langsung jatuh pingsan.
Setelah memastikan ART itu benar-benar pingsan orang tak dikenal itu langsung menepikan tubuh ART itu dan langsung membawa stroler dan bayi kembar yang berada didalamnya keluar taman.
Silvi yang baru saja selesai membeli es krim kembali untuk menemui bi Sumi dan bayi-bayinya, tapi betapa terkejutnya wanita muda itu ketika dia sampai ditempat dia menitipkan bayi-bayinya pada ART nya yang ada hanya bi Sumi yang sedang terkapar pingsan dan bayi kembarnya sudah tidak ada di sana. Seketika es krim yang baru saja dibawanya terlempar begitu saja. Keinginan Silvi untuk memakan es krim tiba-tiba menghilang karena melihat suasana di taman.
"Bi... bi Sumi, bangun bi." Silvi menepuk-nepuk wajah bi Sumi tapi wanita itu tidak juga sadar." Merasa panik, Silvi segera meminta bantuan pada orang disekitar.
"Pak... bu... tolongin saya. ART saya pingsan." Pinta Silvi pada sepasang suami istri yang dilihatnya didekat bi Sumi pingsan.
"Loh, ini kenapa mbak kok bisa pingsan begini?"
Melihat Silvi mulai panik, istri orang itu segera mengusapkan aroma therapy yang dibawanya didalam tasnya kemudian mengoleskannya pada hidung bi Sumi.
Mendapatkan aroma yang menyengat, bi Sumi sadar dari pingsannya.
Silvi yang tidak melihat keberadaan putri-putri mungilnya segera mencari bayi-bayinya. Dengan frustasi dan kebingungan dirinya bertanya pada orang-orang sekita mengenai keberadaan sang bayi. Namun, tak satupun orang yang mengetahui ataupun melihat keberadaan bayinya.
Silvi yang merasa putus asa, hanya bisa menangisi kepergian bayinya. Baru saja dia keluar rumah untuk menghilangkan rasa bosannya, namun yang terjadi malah dia harus kehilangan anak-anaknya.
Melihat keadaan yang tidak kondusif pasangan suami istri itu mengajak Silvi ke warung yang berada di dekat taman untuk menenangkan diri. Tak lupa meminta bantuan pada pemilik warung untuk membawa bi Sumi ke warung supaya mendapat pertolongan.
"Mbak, mbak udah sadar?" Tanya seorang wanita pemilik warung sambil membawakan teh hangat untuk wanita yang baru saja sadar dari pingaannya.
"Ini dimana non? Kok kepala bibi pusing sekali."
"Bibi lagi di warung dekat taman. Tadi bibi pingsan."
Bi Sumi yang baru saja sadar dari pingsannya merasa bingung. Dia mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Non, maaf ya bibi benar-benar ga tau tadi kejadiannya bakal begini." Bi Sumi menatap ke arah Silvi yang sedang menangis.
"Tadi aku beli es krim sebentar tapi pas aku nyamperin bi sumi, bibi udah pingsang dan anak-anakku hilang." Jelas Silvi padanya.
"Maafin bibi ya non, tadikan bibi sama baby twins tapi kok tiba-tiba kepala bibi pusing banget dan bibi ga tau apa-apa lagi." Jelasnya pada Silvi.
"Iya bi, ini salah aku. Harusnya kita ga bawa Talia dan Talisha keluar rumah. Sekarang mereka menghilang bi." Silvi merasa bingung dan frustasi.
Melihat keadaan Silvi dan ART nya yang kebingungan, pasangan suami itu berinisiatif.
"Mbak dan bibinya kita antar pulang dulu ya. Nanti kalau udah enakan baru cari anak-anaknya."
Silvi dan bi Sumi yang kebingungan hanya mengikut pada apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Kemudian mereka diantarkan oleh orang itu ke rumah.
"Silvi, kamu dari mana? Mama nyariin kamu dari tadi."
Silvi yang masih dalam keadaan bingung dan frustasi langsung memeluk sang mama. Seketika tangisannya pecah.
"Bayiku ma, bayiku hilang." Ujar Silvi sambil menangis tersedu-sedu.
"Apa? Hilang? Gimana ceritanya cucu-cucu mama menghilang?"
Marinka sangat kaget dengan ucapan Silvi. Padahal tadi dia melihat anak-anak itu begitu ceria bersama Silvi, tapi mengapa tiba-tiba menghilang begitu saja.
Pasangan suami istri yang membantu Silvi tadi menceritakan semua yang telah menimpa Silvi saat ini pada Marinka.
Marinka sangat terkejut saat mengetahui cucu kembarnya menghilang. Suasana rumah menjadi geger dengan kabar menghilangnya baby twins.
Marinka yang merasa bingung dan takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada cucu-cucunya, dia segera menghubungi Adi suaminya.
***
Ditempat berbeda, seorang lelaki sedang mendorong stroler berisikan dua bayi kembar ke hadapan seorang wanita.
"Sayang, lihat aku sudah membawakan anak kita." Ujar lelaki itu pada istrinya.
Wanita itu menoleh ke arah suaminya berada, dan saat dia melihat dua bayi mungil berada didekat suaminya, wanita itu langsung mendekat dan memeluk serta menciumi anak-anak itu.
Wanita itu menangis tersedu-sedu dihadapan dua bayi mungil itu. Seakan melepaskan kerinduannya pada bayi-bayi itu. Benar saja setelah bertemu dengan dua bayi itu wanita itu langsung menunjukkan rasa keibuannya pada bayi-bayi mungil itu.
"Anakku, anak kita udah kembali mas." Tukas wanita itu sambil meluapkan kerinduan pada bayi-bayi mungil yang berada di stroler.
__ADS_1
"Iya sayang,itu anak-anak kita." Ujarnya pada sang istri.
Ya, lelaki yang di taman tadi adalah Fredy. Dia sengaja membuntuti Silvi, karena memang berencana untuk mengambil anak-anak Silvi, karena Silvi lengah dan tidak menyadari keberadaannya saat itu diapun mengambil kesempatan untuk mengambil anak-anak itu.