
Hari menunjukkan pukul 01.00 malam. Ayesha ingin sekali kembali ke kamarnya tapi victory melarangnya karena sudah larut malam, Victory menyuruhnya bermalam saja dikamarnya.
"Ayesha,kamu tidur disini saja, biar aku tidur di sofa," Victory menyuruh Ayesha tidur diranjangnya.
"Tapi, aku kan harus kembali ke kamarku kalau ada yang melihat aku keluar dari kamarmu nanti mereka akan berpikiran yang tidak-tidak tentang aku,"
"Kau tidak perlu khawatir. Akan lebih baik jika kau tetap disini dan aku janji aku tidak akan melakukan apapun padamu,"
Lelaki itu segera mengambil bantal dan menaruhnya disofa tak lupa dengan selimutnya juga.
Ayesha hanya menurut saja. Memang kalau dia keluar ditengah malam seperti ini juga tidak baik hanya saja dia merasa tidak enak kalau harus bermalam dikamar Victory.
"Ayo cepat tidur, besok masih ada pekerjaan yang harus kita selesaikan," tegas Victory padanya.
"Iya, tapi bagaimana dengan Clara?"
"Kau tidak perlu khawatir, dia pasti sedang tidur nyenyak dikamarmu,"
Mau tidak mau Ayesha setuju untuk bermalam di kamar Victory, mereka tidur ditempat masing-masing. Tidak ada sentuhan ataupun cumbuan malam itu. Suasana hening, terlihat lelaki yang berada di sofa, nafasnya sangat teratur pertanda dia menikmati tidurnya, tapi tidak halnya dengan Ayesha, gadis itu malah tidak bisa tidur. Setelah lelah memutarkan badannya ke kiri dan ke kanan, diapun bangun. Dia melihat Victory yang terlelap. Mungkin lelaki itu merasa lelah. Ayesha melihat tubuh lelaki itu tersingkap dia memasangkan selimut lelaki itu hingga ke dadanya. Kemudian dia kembali tidur ke ranjangnya.
Keesokan harinya. Ayesha lebih dulu bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Seperti ada beban yang menimpa tubuhnya, dia segera membuka matanya, melihat tangan besar seseorang yang melingkar kepinggang rampingnya. Iya, itu tangan Victory yang sedang memeluknya. Entah sejak kapan lelaki itu berada diranjangnya dan dia tidak tahu mengapa lelaki itu tiba-tiba ada disitu?
Dengan perlahan Ayesha mengangkat tangan itu. Namun pelukannya sangat erat membuatnya kesulitan untuk mengangkat tangan lelaki itu darinya.
"Victory, bangun. Sayang bangun," wanita itu mengusap pelan wajah lelaki yang berada disampingnya.
"Aaa sayang masih gelap. Kenapa kau membangunkanku secepat ini?" tanya lelaki itu sambil mengusap wajahnya.
"Singkirkan tanganmu aku mau bangun,"
Lelaki itu hanya diam, Ayesha masih berusaha menyingkirkan tangan lelaki itu dari tubuhnya tapi lelaki itu malah memeluknya dan kini badan mereka menyatu tanpa ada jarak sedikitpun.
Ayesha membulatkan matanya, lelaki itu hanya tersenyum padanya sambil mencium pipinya.
"Kenapa kau bangun sepagi ini?"
"Aku ingin kembali ke kamarku. Tidak baik aku berlama-lama disini".
__ADS_1
"Temani aku disini," pinta lelaki itu padanya.
"Untuk apa?"
"Aku ingin makan kamu," ijar lelaki itu dengan seringai nakalnya.
Mendengar ucapannya Ayesha menciut, ingin segera kabur dari hadapannya. Victory terkekeh melihat wajah panik Ayesha.
"Wajahmu tidak perlu tegang seperti itu. Aku hanya bercanda. Sana cuci muka dulu setelah itu kembalilah ke kamarmu," Victory melonggarkan pelukannya. Ayesha segera bangkit kemudian berjalan ke kamar mandi.
***
Ditempat berbeda Vico baru saja terjaga dari tidurnya, tapi dia tidak mendapati sang istri disisinya. Dia segera bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu merapikan dirinya.
"Sayang kamu udah bangun?" Silvi baru saja masuk ke kamar mereka.
"Kamu dari mana kok aku bangun udah ga ada aja?"
"Aku lagi menyiapkan sarapan untuk kita."
"Aku masak nasi goreng. Tadi aku minta diajarka bi Sumi buat masak nasi goreng. Kan kamu paling suka makan nasi goreng." Jelas wanita itu padanya.
Sebenarnya simpel saja, gadis itu hanya berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya, walaupun mereka masih terlalu muda sebagai pasangan suami istri, tapi akan lebih baik jika sebagai istri dia melakukan tugasnya.
Vico merasa sangat senang dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari bibir Silvi. Dia menundukkan kepalanya ke arah wajah sillvi dan mendaratkan satu hadiah ciuman dikening wanita itu.
"Makasih ya sayang. Kamu perhatian banget sama aku,"
Tanpa perlu menunggu waktu lama mereka segera menuju ruang makan, disana ada Adi dan Marinka.
"Selamat pagi ma... pa..." sapa Vico pada keduanya.
"Iya, duduk sini Vic. Ni Silvi tadi katanya belajar bikin nasi goreng. Yuk kita cobain," ajak Adi pada menantunya.
"Iya, tadi pagi-pagi banget Silvi udah mendarat di dapur dan bikin dapur mama berantakan," lelakar sang mama sambil menatap sayang pada putrinya.
Wajah Silvi memerah karena mamanya meledeknya, "Aaa mama kan aku lagi belajar buatin nasi goreng buat suami aku," ujarnya dengan polos.
__ADS_1
Sontak saja semua yang ada diruang makan jadi tertawa mendengar ucapan Silvi.
***
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Vico segera berangkat untuk bekerja karena hari ini adalah dua hari terakhir skorsing sekolah mereka. Daripada hanya di rumah saja Vico memutuskan untuk ke bengkel tapi diperjalanan dia teringat pada kartu nama papanya Hans yang diberikan Hans padanya. Vico memutuskan untuk mendatangi perusahaan itu dan mencoba menanyakan tentang pekerjaan untuknya. Ya, mungkin saja disana ada peruntungan untuk dia.
Vico baru saja sampai ke perusahaan yang dimaksud, baru saja dia sampai di depan pagar perusahaan itu, tiba-tiba ada dua orang pria bermasker dan bertopi masuk ke dalam kantor itu. Mereka terlihat mencurigakan, mereka mondar-mandir keluar masuk pekarangan kantor. Awalnya Vico tidak memperdulikan mereka, hingga akhirnya. Salah seorang dari mereka menuju ke koperasi perusahaan itu kemudian menodongkan senjata pada seorang wanita penjaga koperasi kantor itu.
"Cepat serahkan uang dilaci itu, atau kalau tidak nyawamu akan melayang," ujar seorang lelaki bertubuh jangkung sambil menodongkan pisaunya ke arah wanita itu.
Wanita itu terkejut dan berusaha berteriak.
"Jangan berteriak atau kau akan mati!!! Cepat berikan uang yang ada dilaci itu sekarang!!!" bentak lelaki jangkung itu. Sementara temannya mengawasi dari luar diatas sepeda motornya.
Wanita itu segera membuka laci meja koperasi, tapi Vico melihat keadaan itu dengan sigap segera menerjang lelaki itu dari samping. Lelaki itu tersungkur, namun karena dia memegang pisau ditangannya dia memberanikan diri untuk bangkit dan menyerang Vico. Dia segera menangkis tangan pria itu, mencengkram kuat tangan pria yang memegang pisau itu kemudian memelintirnya. Merasa kesakitan pisau itu terlepas dari tangannya.
Vico tidak memberikan pergerakan pada pria itu. Diapun menghantamkan tubuh pria itu hingga terjungkal ke lantai. Kemudian menekan punggung pria itu dengan kedua kakinya.
"Cepat telpon polisi," titah Vico pada wanita penjaga koperasi itu. Wanita itu segera mengikuti perkataannya.
Teman lelaki itu berusaha kabur, Vico berteriak pada satpam yang berdiri di depan pintu pagar.
"Pak, tutup pintu pagarnya. Orang itu mau kabur," dia mengarahkan wajahnya pada pria bersepeda motor. Satpam itu segera menutup pintu pagar dan menangkap pria bersepeda motor itu. Suasana terlihat kacau dan orang-orang disekitar tempat itu panik berhamburan.
Seorang pria paruh baya, datang menghampiri kerumunan. " Ada apa ini? Kenapa ada ribut-ribut dikantor saya?"
"Pak tadi koperasi kita hampir di rampok tapi untung ada mas ini yang membantu menghajar mereka," tutur anita penjaga koperasi itu pada lelaki paruh baya itu.
Melihat dari perawakannya, sepertinya lelaki itu adalah atasan wanita itu.
Pria paruh baya itu menatap heran pada Vico, karena dia tidak mengenal Vico sama sekali. Dia menatap heran pada anak muda itu.
Tidak butuh waktu lama polisipun tiba dan menangkap kedua pria yang merupakan begal itu.
Pria paruh baya itu menghampiri Vico, "terimakasih dek udah membantu kami. Tapi adek ini siapa? Dan ada keperluan apa ke sini?" tanyanya sambil menatap lekat pada Vico.
"Saya mau bertemu pak Arya Hadinata pemilik perusahaan ini," ujar Vico pada lelaki itu.
__ADS_1