
Hari yang dinantikan telah tiba,Lyora sangat bahagia karena malam ini dia terlihat seperti ratu sejagat. Gaun berwarna gold yang mewah dengan belahan selutut, make up minimalis berwarna natural menghiasi wajah mungilnya dan kalung mutiara yang menghiasi leher jenjangnya membuatnya jadi primadona malam itu.
Sementara Farel sedang asik bercengkrama bersama teman-temannya di mini bar. Silvi mengenakan gaun berwarna pastel terlihat sangat anggun dengan rambut panjang terurai dan Vico mengenakan jeans hitam, kemeja putih dilapisi dengan jas hitam.
Tiba-tiba seluruh mata tertuju pada sepasang remaja yang baru saja datang. Tak lain dan tak bukan adalah Hans yang mengenakan kaos putih dilapisi jas hitam dengan jeans memperlihatkan penampilan cassual namun tetap ellegan sambil menggandeng Riana yang mengenakan gaun putih yang roknya selutut. Rambutnya dikuncir kuda dengan kalung berwarna putih bertengger dilehernya, yang membuatnya terlihat sangat manis hari itu dia tidak mengenakan kacamatanya yang tebal dan berat. Semua mata terpana melihat kecantikannya yang begitu natural.
"Riana?" panggil Silvi yang sedang bersama Vico.
Riana menoleh padanya dan langsung menghampirinya "Silvi kamu udah datang?"
"Wah, kamu cantik banget hari ini dan ini cowo secret yang pernah kamu ceritain?" Silvi menyapanya sekaligus menebak lelaki yang bersama Riana.
"Hmm dia..." belum sempat Riana menjawab "Hai, aku Hans Hadinata. Panggil saja Hans," ujar Hans memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Aku Silvi dan ini Vico," jawab Silvi sambil mengulurkan tangan sambil mengenalkan Vico.
"Waw, kalian pasangan serasi," puji Hans pada keduanya. Kemudian mereka menikmati pesta bersama-sama.
Farel yqng sedang menikmati pesta merasakan handphonenya bergetar. Ada satu chat masuk di handphone, Farel segera membukanya
Lyora: Kamu udah siapkan semuanyakan?
Farel : Tenang sayang. Aku udah bereskan semuanya. Sebentar lagi kejutan besar akan terjadi di sini.
Farel menjawab sambil mengirimkan foto sebuah obat yang telah dipesan Lyora.
Lyora: okay saat pesta dansa dimulai aku akan menemuimu.
Farel tersenyum menyeringai menatap layar ponselnya.
Pesta dimulai semua yang hadir berada didekat pasangan mereka dan MC mengisyaratkan bahwa pesta dansa akan dimulai, lampu yang tadinya terang benderang mulai meredup para pasangan telah bersiap dengan pasangan mereka masing-masing. Vico berpasangan Silvi, Riana dengan Hans dan Farel dengan Lyora. DJ telah merubah musik yang kencang menjadi sendu.
Saat semua sedang berdansa dengan serius. Lyora membuka percakapan "bagaimana kamu bawa obatnya?"
"Ada sayang, aku udah bawa. Kita tinggal ambil kesempatan supaya bisa mencampurkan obat itu," jelas Farel sambil berbisik.
__ADS_1
Saat berganti pasangan Lyora meminta obat itu pada Farel kemudian pergi ke belakang dan menemui pelayan yang menyajikan minuman. "Hei kamu," panggilnya.
"Non Lyora panggil saya?" tanya pelayan itu menghampirinya.
"Iya, aku mau kamu campurkan obat ini ke minuman itu. Nanti kamu kasih ke orang ini," Lyora menunjukkan foto Silvi dan Vico. Kemudian memberikan uang pada pelayan itu. Pelayan itu hanya menganggukkan kepala dan mengikuti perkataan Lyora.
Pesta dansa telah selesai. Merasa haus dan lelah para tamu duduk di tempat mereka masing-masing. Pelayan segera menyajikan minuman dan seperti yang diperintahkan Lyora pelayan yang menyajikan minuman memberikan minuman yang telah dicampurkan obat kepada Silvi dan Vico.
Lyora dan Farel mengamati mereka dari jauh sambil memastikan mereka meminumnya. Merasa yakin mereka telah meminum minumannya Lyora dan Farel menemui mereka.
"Hai kalian, nikmati ya pestanya," Lyora berbasa basi pada Silvi, Vico, Riana dan Hans.
"Tentu, pestanya sangat menyenangkan," jawab Hans. Silvi,Vico dan riana trrsenyum sambil mengangguk.
"Silakan dinikmati hidangannya. Aku mau menyapa yang lainnya dulu," ujar Lyora kemudian menemui bestie-bestienya.
Tidak perlu waktu lama, Silvi yang telah minum terlebiih dahulu merasakan gerah. Vico yang menatap Silvi berkata "Sayang kamu kenapa?"
"Aku rasa ada yang ga beres denganku," ucap Silvi sambil mulai gelisah.
Merasa cemas Vico merangkul Silvi "kita keluar ruangannya aja ya," ajak Vico. Silvi menganggukkan kepala. Riana dan Hans yang melihat kondisi Silvi menpersilakan mereka meninggalkan pesta.
Ternyata Farel dan Lyora memperhatikan dari kejauhan "waw, rencana kita berhasil sayang," ucap Lyora sambil menatap bahagia pada Farel. "Yeach, aku rasa obat itu sudah mulai bereaksi," jelas Farel sambil minum. Lyora menganggukkan kepalanya.
***
Vico membawa Silvi ke mobil dan mengipas tubuh Lyora dengan kertas yang ada dimobil. "Aku ga tahan lag,i" Silvi yang mulai tidak sadarkan diri tiba-tiba melepaskan tali gaunnya.
"Silvi apa yang kamu lakukan?" Vico bingung dengan kelakuan Silvi. Silvi langsung merangkul pundak Vico dan menyentuh pipi Vico dengan jari jemarinya yang mungil. Sesaat Vico merasakan ada getaran yang menjalar ditubuhnya. Silvi menatapnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Vico lalu mencium ujung bibirnya.
Vico berusah menahan diri dan memperbaiki pakaian Silvi lalu mengajaknya pulang. "Sayang kita pulang aja ya. Sepertinya kamu kurang sehat," ajak Vico sambil menutup pintu mobil dan membawa Silvi pulang.
Lyora dan Farel membuntuti mereka dari tadi. Mereka ingin memastikan apakah Silvi dan Vico akan melakukannya. Diperjalanan Silvi terus saja meracau tidak jelas dan memeluk Vico. Vico menepis tangan Silvi pelan, ketika tangan Silvi meraba tubuhnya.
Vico masih waras dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Silvi, sementara hatinya meronta ada sensualitas yang dilihatnya dari gerakan tubuh Silvi. Silvi terlihat agresif dan merayunya. Vico curiga sepertinya Silvi meminum alkohol, tapi Vico tetap mengendarai mobil dengan tenang.
__ADS_1
Tiba-tiba petir menggelegar sangat kencang. Silvi kaget dan mendekap tubuh Vico dengan erat. Vico sudha tidak bisa menahan hasratnya sedari tadi melihat keagresifan Silvi yang selalu ingin mendekatinya. Vico menghentikan laju mobilnya dan menepikan mobil.
Dia menatap wajah Silvi yang begitu polos tapi sangat menggodanya. Tanpa banyak berpikir Vico menghadapkan tubuhnya ke tubuh Silvi dan ******* bibir mungil Silvi. Tanpa perlawanan Silvi membalasnya dengan penuh gairah, Silvi memeluknya dengan erat.
Vico tidak bisa mengontrol dirinya, memeluk tubuh mungil itu dan mengusap punggungnya, kemudian melepas gaun yang dikenakan Silvi secara perlahan. Vico memperhatikan pemandangan yang menggodanya dan untuk pertama kalinya dia melihat langsung didepan matanya. Vico yang tergoda langsung menjamahnya dan membuat Silvi mengerang dan tidak bisa menahan gairahnya.
Diluar Farel dan Lyora yang melihat pergerakan aneh di mobil Silvi memahami sesuatu telah terjadi. Mereka segera turun dan mengendap-endap melihat apa yang terjadi di mobil itu. Dan benar saja mereka mendapati dua anak manusia tengah dimabuk kepayang menyalurkan hasrat mereka dengan penuh gairah didalam sana.
Farel jadi panas dingin melihat visualisasi yang dilihatnya. Tangannya mulai meraba tubuh Lyora yang sedari tadi merunduk mengintip aktifitas Silvi dan Vico. Merasa ada sesuatu yang menjalar ditubuhnya Lyora langsung menepis tangan Farel "hei, apa yang kamu lakukan?
" Maaf sayang aku ga tahan lihat mereka," ujar Farel dengan tatapan nakal pada Lyora.
"Aaah sudahlah. Ayo pulang," Lyora kesal dengan sikap Farel yang mencari kesempatan padanya.
"Sayang tunggu," Farel mengejar Lyora yang masuk ke mobil lalu mebgikutinya.
Sementara Vico tersadar dengan apa yang baru saja terjadi.
"Silvi, apa yang telah kita lakukan?" Vico panik dan mencari pakaiannya. Silvi yang masih belum sadar tetap menceracau tidak jelas. Vico mengambil gaun Silvi yang terletak di jok belakang lalu memasangkannya pada tubuh Silvi.
Silvi hanya tertawa seolah menikmati semuanya. Vico melihat ada bercak darah dijok tempat Silvi duduk. Artinya Silvi sudah memberikan sesuatu yang berharga didirinya pada Vico. Vico panik dan langsung mengambil tissue dan mengelap noda itu. Vico merasa takut dan sangat bersalah, tapi dia tidak mungkin membiarkan Silvi bersamanya saat ini. Akhirnya Vico mengantarkan Silvi pulang.
Sesampainya di rumah. Vico menggendong Silvi kekamarnya. Sepertinya Silvi kelelahan sehabis menghabiskan malam bersamanya. Di kamar Silvi, Vico membaringkan Silvi dan memasangkan selimut ke tubuh Silvi. Ketika Vico akan pergi Silvi melingkarkan tangannya di pundak Vico.
"Aku sayang banget sama kamu Vico," kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir mungil Silvi.
"Aku juga sayang banget sama kamu Silvi," balas Vico lalu mencium kening Silvi dan beranjak dari kamar Silvi.
***
Lyora kembali bersama Farel ke acara pesta yang ditinggalkan. "Hahaha, akhirnya gue bisa menghancurkan mereka," tawa Lyora memenuhi ruangan.
"Hei, pelankan suaramu sayang," ujar Farel sambil meletakkan jarinya dibibir Lyora.
"Ups, maaf sayang aku terlalu bahagia," ucap Lyora sambil mengecilkan suaranya.
__ADS_1
Farel tersenyum bahagia melihat tawa Lyora yang begitu lepas. Lyora begitu puas dengan apa yang telah menimpa Silvi dan Vico. Tanpa basa basi Lyora memeluk Farel dan mencium bibirnya. Farel terkejut tapi membalasnya.