Menikah Dini

Menikah Dini
Ayesha Klarisa


__ADS_3

Victory mempercepat langkahnya untuk chek in, karena jam hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB. Setibanya ditempat itu Victory memperlihatkan tiket dan paspornya. Untung saja belum terlambat, kalau tidak bisa ditendang aku dari perusahaan Abimana gumamnya dalam hati.


Saat akan menuju tempat chek in, tiba-tiba saja Victory berpapasan dengan seorang wanita dan tubuh mereka saling bertabrakan. Semua benda yang ada ditangan keduanya berhamburan.


" Maaf, maafkan saya terburu-buru," ujar wanita berambut ikal dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya dan memakai baju hitam tidak berlengan itu sambil memunguti paspor, boarding pas dan tasnya yang terjatuh.


"Saya juga minta maaf karena tidak sengaja menabrak anda," sahut Victor mengambil barang-barangnya yang berceceran. Kemudian mereka berpisah.


Ketika menunjukkan paspor dan boarding pas, petugas keheranan. Melihat foto dan nama didalamnya berbeda dengan pemiliknya petugas itu bertanya


"Tuan apa anda tidak salah membawa paspor?"


Victory kaget, lalu memperhatikan kembali paspor dan boarding pasnya. 


Ini punya siapa? Pasti wanita yang tadi. Gumamnya bingung.


Victory melihat kesekelilingnya mencoba mencari dimana keberadaan wanita tadi. Dari kejauhan seorang wanita melambaikan tangannya, seperti mendapatkan titik terang Victory langsung menemui wanita itu dan wanita itu juga bergegas menuju padanya.


"Tuan paspor kita tertukar," jelas wanita itu.


"Benar, ini punya anda," Victory langsung memberikan paspor dan boarding pass itu padanya. Wanita itu menukarnya dengan punya Victory.


Saat melihat boarding pass ternyata tujuan mereka sama.


"Hei tuan, anda mau ke Australia juga ya?" tanya wanita itu.


Victory menoleh ke arah wanita itu "iya, saya mau ke australia."


"Wah kalau begitu tujuan kita sama."


Victory menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis pada wanita itu.


Victory memang orang yang introvert dan tidak suka banyak bicara pada orang yang baru dikenalnya. Namun, tidak mengurangi ketampanannya dan kharisma diwajahnya.


Setelah chek ini mereka menunggu ditempat yang sama.


"Tuan, boleh aku tahu siapa namamu?" Wanita itu memulai percakapan.


"Aku Victory," jawab Victory sambil tersenyum.


"Aku Ayesa Klarisa. Panggil saja Yesa," wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Victory menyambut tangannya dan berjabat tangan.


***


Pagi itu Silvi masih mencoba untuk memaksakan dirinya agar berangkat ke sekolah, tapi saat akan jalan menuju keluar rumah, Marinka menyapanya "nak, kamu ga apa-apa sayang?"


"Ga ma aku ga apa-apa," jawabnya dengan suara yang lesu.


"Tapi kamu pucat sekali hari ini. Kamu sakit?" tanya Marinka


"Ga ma, mungkin cape aja karena tadi malam ke pesta ultahnya Silvi?" jawabnya sambil melangkah keluar rumah.


"Ya sudah, nanti kalau kamu ga enak badan pulang aja ya," ucap Marinka.


Silvi menganggukkan kepala dan menuju ke mobil. Silvi ingin menghindari pertanyaan mama yang berikutnya, karena takut kejadian yang baru saja dialaminya menjadi masalah nanti.


Di sekolah, Vico berpapasan dengan Silvi. Tidak seperti biasanya, mereka hanya saling menatap dan hening. Vico ingin menyapanya tapi Silvi melewatinya begitu saja dan memilih duduk di dekat Riana.


"Ri, aku boleh duduk disini?" tanyanya sambil menatap Riana. Riana menganggukkan kepala tanpa bertanya. Riana membaca raut wajah Silvi yang terlihat murung dan tidak ingin banyak bertanya dulu padanya. Vico hanya terdiam memperhatikannya. Silvi juga tidak ingin menyapanya.


Di sebelah kanan, Lyora memperhatikan keadaan mereka. Diapun tersenyum tipis melihat perubahan antara mereka. Lyora merasa menang karena telah membuat jarak diantara mereka.


***


"Hei, ternyata kita duduk bersebelahan," ujar Ayesha padanya.


Victory menganggukkan kepala sambil tersenyum padanya kemudian menatap laptopnya mencoba mengurus proyeknya menjelang pesawat lepas landas. Ayesha ini orangnya sangat lincah,ceria dan suka kepo. Dari tadi dia hanya memperhatikan laptop yang digunakan Victory. Seakan ingin tahu dengan apa yang dikerjakan orang yang berada disisinya.


Pramugari telah mengumumkan pesawat akan segera lepas landas dan Victory mematikan laptopnya.


"Victory, kamu kerja atau kuliah di Australia?" tanyanya ingin tahu.


"Saya bekerja di sebuah perusahaan. Kamu sendiri bagaimana Ayesha?"


"Ahmm aku, aku baru saja menyelesaikan kuliah. Tadinya aku ingin bekerja di Jakarta saja, tapi karena orang tuaku sedang sakit aku diminta berangkat ke Australia. Sambil mengurus orang tuaku aku ingin mencoba mencari pekerjaan."


"Oh itu bagus, kalau boleh tahu kamu kuliah dimana dan jurusan apa?" Victory mulai tertarik bicara dengannya.


"Sebenarnya aku lulusan University of Sydney jurusan sekretaris."


Victory mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengingat sesuatu "Oh ya, bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaanku saja? di kantor sekretarisnya baru saja melahirkan dan mengambil cuti dalam waktu tiga bulan ini, apa kamu tertarik?"

__ADS_1


"Ah benarkah, kalau boleh tahu perusahaanmu bergerak dibidang apa?" mata gadis itu berbinar mendengar tawaran Victory


"Ahmm perusahaan itu sebenarnya punya teman ayahku. Aku bekerja sebagai staff disana. Nama perusahaannya Abimana Group bergerak dibidang propert.i"


"Sepertinya aku pernah dengar. Perusahaan itu sangat terkenal, punya anak perusahaan di Indonesia hingga Asia tenggara," Ayesha berbicara sangat antusias sekali.


"Iya, aku rasa kalau kamu bergabung di perusahaan itu pasti kamu akan tertarik," ajak Victory pada wanita itu.


"Baik aku setuju, kapan aku bisa mengantarkan lamaranku?"


"Hari ini aku akan langsung ke kantor. Kamu ikut saja bersamaku dan akan kuperkenalkan dengan CEO perusahaan itu nanti"  ajak Victory padanya.


"Okay, aku mau," jawab Ayesha penuh semangat.


***


Merasa tidak nyaman dengan saling bersikap dingin, Vico berinisiatif menemui Silvi yang sedari tadi tidak ikut bersama mereka di kantin seperti biasa.


"Silvi," panggil Vico menatap Silvi yang hanya mematung didalam kelas.


Silvi terkejut dari lamunannya dan menatap ke arah pintu. Kemudian menundukkan kepalanya.


"Silvi, kenapa kamu diam? Aku tahu apa yang telah terjadi diantara kita adalah kesalahanku. Maafkan aku Silvi,"  Vico mrnghampirinya.


"Berhenti, jangan mendekat."


Vico menghentikan langkahnya.


"Ini bukan hanya kesalahanmu, tapi kesalahanku juga. Aku salah karena aku telah berbuat tidak sopan padamu sehingga..."


Belum sempat Silvi melanjutkan ucapannya, Vico menjawabnya "ini kesalahan kita berdua. Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Jika sesuatu terjadi padamu akan bertanggung jawab."


"Sudahlah Vico aku tidak ingin berdebat. Tinggalkan aku sendiri," Silvi bingung dan merasa takut kalau yang dikatakan Vico itu benar, kalau sampai dia hamil akibat perbuatannya itu bagaimana dia menjalani kehidupannya ke depan? Silvi belum siap menikah dini dan menjadi seorang ibu.


Silvi masih punya cita-cita untuk melanjutkan kuliahnya ke Amerika dan melanjutkan cita-citanya menjadi pebisnis handal seperti papanya.


Semuanya berkecamuk dalam pikiran Silvi saat ini. Dia tidak ingin melepaskan mimpinya begitu saja.


Sesaat langkah Vico terhenti dan mematung menatap Silvi, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah Silvi.


"Aku akan tetap mempertanggung jawabkan semuanya jika memang sesuatu terjadi nanti Silvi," ucapnya lirih dan penuh kecemasan.

__ADS_1


"Sudahlah Vico. Pergilah aku tidak ingin membahas ini lagi," suara Silvi terrdengar bergetar menahan tangisnya yang terpendam.


Vico memahaminya, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi menjauhinya. Vico sengaja pergi untuk memberi waktu pada Silvi untuk berpikir. Memang saat ini Silvi sedang shock dengan yang baru saja dialaminya, oleh sebab itu Vico mencoba membuatnya merasa tenang dan akan membahas hal ini jika Silvi benar-benar telah merasa nyaman.


__ADS_2