Menikah Dini

Menikah Dini
Berdamai


__ADS_3

Johan dan Farah melangkahkan kakinya ke rumah Adi Leonardo. "Mas Adi, boleh kami masuk?" Tanyanya pada kakaknya.


"Silakan, rumah ini juga rumah kalian. Ayo duduk dulu," Adi berbasa-basi pada saudaranya.


"Ahm, mas saya udah mendengar berita tentang Farel. Aku mau minta maaf atas nama Farel atas kejadian yang menimpa Silvi," Johan berusaha mengatur kata-katanya dengan baik supaya Adi tidak murka padanya.


"Hmm, sebenarnya aku sudah memaafkan kesalahannya, aku cuma ingin memberikan pelajaran padanya agar tidak berbuat sesukanya,"  Adi menghela nafas berusaha tenang.


"Jadi bagaimana mas, apa Farel bisa keluar dari penjara?" tanya Johan padanya.


"Coba tanyakan pada Silvi saja, bagaimana nak?" tanya Adi pada anaknya yang dari tadi hanya tertunduk tak berkata sedikitpun.


"Silvi. Tante mohon, kamu bantu Farel. Walau bagaimanapun juga dia saudara kamu. Setidaknya kamu bisa maafin dia," pinta Farah pada Silvi sambil menggenggam tangan Silvi.


"Iya Silvi. Om mohon bantuan kamu untuk mencabut laporan dikantor polisi," ujar Johan lirih.


Silvi menatap mata Adi dan Marinka yang duduk didekatnya. Adi dan Marinka menganggukkan kepala karena merasa kasihan.


"Baik om. Saya akan mencabut laporan itu," ujar Silvi pelan.


"Terimakasih Silvi. Kamu emang ponakan paling baik," ucap Johan dan Farah bersamaan. Mata mereka berbinar saling memandang. Merasa lega karena permintaan mereka dikabulkan.


Akhirnya dengan berat hati Adi mencabut laporannya di kantor polisi. Farelpun dibebaskan.


"Mama, papa. Akhirnya aku bisa bebas," Farel meloncat kegirangan dan memeluk kedua orang tuanya.


"Dasar anak bodoh, apa yang sudah kamu lakukan?!?" ujar Johan dengan nada menekan sambil memukul kepala anaknya.


"Aduh, sakit pa" keluh Farel.


"Kamu itu bikin malu orang tua aja!!!" timpal Farah sambil menatap tajam pada Farel.


"Iya ma, pa, aku tau aku salah. Maaf," jawab Farel sambil menundukkan kepala.


"Kenapa kamu sampai ngelakuin itu sama Silvi?" cecar Johan pada Farel.


"Aku, aku cuma ngikutin kemauan Lyora," farel jujur tidak bisa memberi alasan lain.


"Siapa itu Lyora?" tanya Farah pada anaknya.


"Pacarku ma. Dia itu ga suka sama Silvi jadinya dia mau ngancurin Silvi dengan cara menjebaknya."


"Ck, menjebak," Johan membuang pandangannya.


"Oh menjebak? Bukankan itu bagus?" Farah seakan mendapat ide cemerlang akan kesalahan anaknya.

__ADS_1


"Kenapa mama malah setuju sama kesalahan yang dilakukan Farel dan pacarnya?"


"Tentu dong pa. Sebenarnya kalau bukan karena anaj bodoh ini, aku males banget buat datang ke rumah mas Adi buat minta maaf," ucap Farah bersungut-sungut.


"Papa juga malas banget berurusan sama dia," timpal Adi.


"Tapi ada bagusnya juga loh pa kalau si Farel bikin masalah kaya gitu," sambung Farah.


"Bagus gimana ma?"


"Iya biar tau rasa tuch si Adi. Selama ini diakan selalu bangga-banggain keluarganya. Sekarang dengan kejadian ini pasti akan mempermalukan dirinya" tukas Farah.


Johan mengangguk-anggukkan kepalanya paham dengan ucapan Farah.


Rencana apalagi ni. Gue ga mau dilibatkan kalo biat rencana busuk mereka gumam Farel mencoba menebak. Farel paham sekali dengan sifat kedua orang tuanya yang selalu ingin memanfaatkan dia untuk ambisi mereka.


"Benar itu ma, papa sekarang malah mikir, kalau sampai berita tentang anaknya pulang mabuk pasti bakalan merusak reputasinya."


"Hei Farel. Apa setelah kejadian itu adalagi kabar buruk lain mengenai Silvi?" Tanya Johan mencari tahu.


"Ga pa, ga ada." Farel cepat-cepat menggelengkan kepalanya untuk mengakhiri pertanyaan orang tuanya.


Sebenarnya Farel mau bicara jujur tapi dia takut akan menambah masalah. Secara diakan baru saja keluar dari penjara. Masa mau dipenjara lagi gara-gara kasus Silvi.


Setelah bicara dengan kedua orangtuanya Farel masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Dia segera mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.


 "Halo,"


"Halo Lyora. Ini aku Farel,"


"Farel, kamu dimana? Aku dengar kamu di penjara gara-gara kasus obat terlarang dan itu semua menyangkut tentang Silvi," cecar Lyora bertubi-tubi padanya.


"Aku baru keluar dari penjara. Gara-gara kamu ni aku harus dipenjara dua puluh empat jam,"  keluhnya sambil menggerutu.


"Itukan ide gila darimu Farel. Aku cuma mengikuti apa yang kamu mau" Lyora balik menyalahkan Farel.


Sesaat Farel terdiam dan merasa apa yang dikatakan Lyora itu benar.


"Farel," panggil Lyora 


"Hmm"  jawabnya kesal.


"Di kantor polisi kamu ga nyebutin namaku kan?" Lyora sedikit panik.


"Tidak. Sudah dulu ya. Aku mau istirahat,?" tanpa menunggu jawaban dari Lyora Farel menutup pembicaraan mereka di handphone.

__ADS_1


Iich maen matiin aja. Kurang ajar banget ni si Farel gerutu Lyora sambil menatap layar handponenya.


Tapi untung juga dia ga nyebutin nama gue. Jadi gue ga perlu berurusan sama polisi. Ucap lyora dihatinya merasa senang sambil tersenyum.


"Hayo... senyum-senyum sendiri. Kenapa kamu?" Tiba-tiba Reynold muncul dan mengagetkannya.


"Aaa kakak. Kaget tau" Lyora terlonjak dan menepuk lengan Reynold.


"Abisnya senyum-senyum sendiri gitu. Lagi senang atau lagi jatuh cinta?" godanya pada Lyora.


"Aku kagi senang aja kok kak," Lyora tersenyum menatapnya.


"Senang kenapa? coba cerita"


"Senang aja karena ada kakak disini," goda Lyora pada kakaknya.


Reynold tersenyum sambil mengusap kepala adiknya. Merasa gemas dengan tingkah adiknya itu.


Sialan si Lyora. Bisa-bisanya dia lepas tangan gitu aja. Ga mama, ga papa, ga cewe gue. Semuanya sama aja cuma mau manfaatin gue doang. Farel menggerutu sambil memukul tembok. Meluapkan kekesalannya.


***


Pagi-pagi sekali Ayesha bergegas menuju rumah sakit. Saat dirumah sakit Ayesha menemui dokter yang menangani ibunya, "dokter Arfan, bagaimana keadaan ibu saya?"


"Akhirnya kamu datang juga, ayo ikut ke ruanganku," ajak dokter Arfan padanya.


Diruangannya, Arfan mempersilakan Ayesha duduk, "sebenarnya radang paru-paru ibumu sudah cukup parah, kalau tidak segera di operasi bisa membahayakan kesehatannya," jelas Arfan padanya.


"Iya dokter. Aku jauh-jauh datang dari Indonesia ke sini untuk ibu. Aku ingin operasi dan pengobatan ibu sesegera mungkin," jelasnya pada Arfan.


"Aku hanya ingin menyarankan bagaimana kalau ibumu di operasi sekarang juga?" tanya Arfan padanya.


Ayesha terhenyak mendengarkan ucapan dokter muda itu, dia ingin sekali operasi ibunya berlangsung secepatnya. Hanya saja dia belum mendapatkan biaya untuk operasi sang ibu. Terlebih lagi dia baru saja akan memulai bekerja di perusahaan yang akan diantarkan lamarannya nanti.


"Ahmm, dokter aku mohon tolong jaga ibuku. Hari ini aku ada panggilan pekerjaan. Akan aku usahakan untuk mendaftarkan operasi ibu secepatnya," Ayesha meminta kepada Arfan dengan suara lirih.


Ada kesedihan diraut wajahnya.


Arfan sangat memahami itu, tapi Arfan juga khawatir kalau operasi tidak segera dilakukan ibu Irene pasien yang sedang terbaring lemah diruang ICU itu akan semakin memburuk.


"Baiklah, begini saja. Kamu pergi saja ke perusahaan itu dan segeralah interview. Semoga saja perusahaan itu menerimamu."


Ada ucapan penyemangat yang terucap dari perkataan  Arfan. Membuatnya sedikit lega.


"Tapi dok, bagaimana dengan operasi ibu saya?" Ayesha kembali bertanya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir aku akan menanggulangi ibumu. Saat ini keadaan ibumu masih baik-baik saja. Kau pergilah ke perusahaan itu. Jika ada yang mendesak akan aku kabarkan padamu mengenai ibumu" Arfan mencoba menenangkannya.


Ayesha menganggukkan kepalanya merasa tenang dengan ucapan Arfan, Ayesha melihat jam ditangannya telah menunjukkan pukul tujuh, dia masih ingat janjinya pada Victory, kemudian segera menuju ke Abimana Group untuk memberikan lamarannya ke perusahaan itu.


__ADS_2