Menikah Dini

Menikah Dini
Keegoisan Marinka


__ADS_3

Melihat kejadian yang baru saja diperhatikannya di depan matanya, Riana paham, bahwa Marinka ingin sekali Daren bersama Silvi. Tentunya hal itu tidak boleh terjadi, karena Silvi telah menikah dan pernikahannya tidak boleh hancur begitu saja.


"Silvi, aku mau bicara sama kamu sebentar," ucap Riana pada Silvi yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Ada apa Ri?" Silvi duduk di dekat Riana.


"Cowo tadi itu siapa? sepertinya kamu akrab banget sama dia,"


"Itu Daren, teman sekolah aku dulu anaknya tante Rebeca," jelas Silvi dengan santainya.


"Oh teman sekolah kamu ya,"


"Hm, memang kenapa Ri?" Silvi menatap ke arah Riana. Sepertinya ada yang sedang dipikirkan wanita itu.


"Ga kok Sil, ga apa-apa," jawab Riana sekenanya. Ada hal yang ingin dia sampaikan tapi dia tidak ingin Silvi tersinggung.


"Katakan saja Ri, jika kamu memang ingin mengatakan sesuatu," Silvi menghadap kepada Riana sambil menggenggam tangan saudara kembarnya.


"Ahm, begini Silvi aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu hanya saja aku merasa pria tadi itu sepertinya menyukaimu," jelas Riana padanya penuh dengan keyakinan.


"Apa? maksudmu Daren menyukaiku? hehe yang benar saja Riana, mana mungkin dia menyukaiku. Kami hanya sahabat Ri, seperti kamu, aku dan Vico dulu," Silvi merasa Riana terlalu parno berpikir sejauh itu.


"Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku yakin sekali pria itu menyukaimu. Apa kamu ga bisa merasakan dari tatapannya, cara dia berbicara dan memperlakukan kamu, seperti seseorang yang sedang menyukai lawan jenisnya," imbuh wanita muda itu lagi memberikan pengertian pada Silvi.


Silvi berpikir sejenak atas ucapan Riana, benar juga yang dikatakan Riana, kemungkinan itu pasti ada tapi Silvi tidak mau mengambil pusing semuanya.


"Silvia, aku beri tahu padamu sebelum semuanya terlambat kamu jangan terlalu dekat dengannya," Riana menyambung perkataannya lagi.


"Kenapa Silvi tidak boleh dekat dengan Daren? toh Daren itu baik, sopan, perhatian dan juga mapan. Apa salahnya jika mereka saling mengenal satu sama lain?" Marinka datang menghampiri mereka.

__ADS_1


Marinka merasa sikap Riana sedikit memprovokasi sang anak untuk menjauhi Daren, padahal Marinka sedang mencoba mendekatkan mereka.


"Mama, sejak kapan mama ada disini?" Silvi dan Riana merasa terkejut dengan kehadiran Marinka yang tiba-tiba.


"Silvi, dengerin mama ya nak. Kamu ga perlu menjauhi Daren, kamu harus tetap dekat sama dia kalau perlu kamu tinggalkan saja Vico dan kamu dapatkan Daren," Marinka menghasut putrinya dengan sangat blak-blakan.


"Mama, apa yang mama bicarakan? ini semua salah ma. Silvi sudah menikah dan mempunyai anak," Riana mencoba mengingatkan kembali.


"Memangnya kenapa kalau sudah menikah? Silvi tidak selingkuh, malah Daren yang mengejarnya. Lantas dimana kesalahannya?" Marinka ngotot dan ingin sekali berdebat saat ini.


"Ma, yang dikatakan Riana itu benar. Aku sudah menikah dan ada Anindya sekarang, aku juga sudah menikah lima tahun ma," Silvi membenarkan perkataan Riana.


"Mama ga mau kamu tetap bersama pria seperti dia. Lima tahun cuma menghabiskan waktu dengan pria ga berguna seperti itu. Dia bukan suami kamu, dia hanya lelaki yang sudah menghancurkan masa depan kamu dan jika dia perduli padamu dia tidak akan membiarkan kedua putrimu menghilang. Malah mengurusi anak yang bukan darah dagingnya," Marinka mengorek kembali masa lalu yang telah ditutup oleh putrinya.


Dia sengaja melakukan hal itu untuk memainkan emosi Silvi.


"Ma, jangan bicara seperti itu. Hatiku sakit mendengarnya ma, mas Vico udah berusaha sejauh ini dan aku bahagia bersamanya. Mas Vico juga udah berusaha keras mencari keberadaan anak-anakku, tapi dia belum bisa menemukannya. Mama harusnya mengerti," Silvi sedikit meninggikan suaranya.


"Bukan begitu ma. Aku ga bermaksud kasar sama mama, hanya saja mama sudah bersikap berlebihan. Padahal mama tahu gimana mas Vico sangat menyayangi aku dan keluarga ini," Silvi menurunkan suaranya. Suaranya sedikit bergetar saat bicara menahan laju air matanya.


"Mama cukup mengerti Silvi, mama ga akan ikut campur masalah kamu lagi. Maaf kalau mama sedikit memaksamu," pungkas Marinka sambil berlalu dari hadapan Silvi begitu saja.


Silvi merasa sedikit menyesal. Dia tidak ingin membuat sang ibu terluka tapi baru saja sikapnya membuat wanita itu menangis dihadapannya.


"Sabar Sil, mama Marinka mungkin butuh waktu untuk menerima semua ini," ujar Riana sambil mengusap punggung saudara kembarnya.


"Sampai kapan Ri, sudah lima tahun tapi mama masih saja ga bisa menerima mas Vico dan selalu saja mencari kesalahan mas Vico," lirih Silvi sambil menangis dan memeluk Riana erat.


Saat ini dia benar-benar butuh dukungan seseorang untuk tetap kuat menjalani semuanya.

__ADS_1


"Sabar ya Sil, mungkin ini ujian dari Tuhan buat cinta kamu dan Vico. Kalian harus saling percaya satu sama lain," jelas Riana pada Silvi.


Silvi hanya menundukkan kepala merasa bingung.


"Oh ya Sil, kalau boleh tahu Daren itu sebenarnya tahu ga kalau kamu udah menimah dan punya anak?" Riana mencoba menyelidiki lebih jauh lagi.


"Kalau soal itu aku belum kasih tahu Daren, karena waktu itu aku cuma ketemu sekali dan aku pikir dia ga akan berbuat sekonyol tadi," sesal Silvi yang melupakan pembicaraan penting dengan Daren tentang statusnya.


"Nah, itu dia masalahnya. Andai saja kamu terus terang dari awal pertemuan lelaki itu ga akan berbuat seperti tadi ke kamu," jelas Riana lagi.


Silvi mengangguk pelan. Benar yang dikatakan Riana, harusnya dia bilang dari awal pada Daren tentang status pernikahannya. Pasti pria itu mengira Silvi masih belum terikat pernikahan makanya dia terus mengejar Silvi.


Sementara itu di tempat berbeda, Daren sedang duduk dikursi kerjanya, dia terlihat begitu bahagia dengan pertemuannya dengan Silvi. Bahkan dirinya memandangi foto selfinya bersama Silvi di layar ponselnya.


"Daren, dari tadi kamu kelihatan bahagia banget. Apa kamu lagi dapat rejeki nomplok?" canda Rebeca pada sang anak. Wanita itu sejak tadi memperhatikan wajah anak lelakinya yang begitu sumringah.


Semenjak Rebeca memutuskan bercerai dengan Fabio, Daren tidak pernah lagi menampakkan senyumnya dan anak lelakinya itu selalu terkesan dingin dan angkuh. Baru kali ini dia terlihat tersenyum kembali. Apa dan siapa yang kira-kira membuatnya bisa sebahagia ini?


"Ga ma. Aku ga dapat rejeki nomplok ma, tapi ini jauh lebih besar dari rejeki ma," jelas pemuda itu dengan wajah berbinar.


"Kayaknya ada yang spesial ni. Coba cerita sama mama gadis mana yang lagi dekat sama kamu," tebak Rebeca pada sang anak.


"Ah, mama padahal aku mau kasih kejutan buat mama tapi mama udah keburu tahu," Daren mencoba menutupi rasa malunya ketika sang mama mengetahui isi hatinya.


"Siapa nama gadis itu?" desak Rebeca pada sang putra.


"Aku belum bisa kasih tahu mama dulu. Soalnya aku belum mengutarakan isi hatiku sama dia ma. Nanti kalau aku udah ungkapin semua kepada gadis itu aku pasti akan bilang sama mama tentang gadis itu," jelas Daren masih ingin merahasiakan gadis pujaan hatinya.


"Okay mama tunggu kejelasannya dari kamu. Mama berharap kamu bisa bahagia bersamanya nanti," Rebeca hanya bisa memberi dukungan pada sang anak.

__ADS_1


Daren juga merasa senang dan berharap cintanya akan terbalas


__ADS_2