
Silvi benar-benar tidak sabar menantikan acara syukuran. Dia menatap kembali foto USG yang berada digenggamannya. Tersirat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mungil itu. Dia masih belum percaya dirinya akan menjadi seorang ibu. Bahkan mempunyai dua orang anak sekaligus di kehamilan pertama. Benar-benar anugerah yang tak ternilai.
"Sayang, kenapa dari tadi senyum-senyum gitu?" Tanya Vico sambil merapikan jasnya.
"Ga mas, aku masih belum yakin aja kita bakal punya anak kembar. Ga pernah kebayang sama aku mas aku bakal punya dua anak sekaligus " ujar Silvi sambil memperhatikan foto ditangannya.
"Iya sayang, disini aku orang yang paling bahagia. Aku juga kaget pas dokter bilang anak kita kembar, tapi kira-kira anaknya laki-laki ga?" tanyanya sambil berpikir kemudian dia menlanjutkan ucapannya "kamu mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya lelaki itu sambil melingkarkan tangannya ke perut istrinya.
"Kalau aku mau perempuan atau laki-laki sama aja, yang penting anaknya sehat," jawab Silvi sambil tetap menatap foto itu.
"Iya sayang. Yuk kita siap-siap, tamu undangan kayaknya udah pada datang," ajaknya sambil menggeggam tangan Silvi.
"Iya mas, sampai lupa aku. Aku mau taroh ini dikotak kemarin yang udah kita siapin," ujar Silvi sambil mencari kotak kado yang telah dipersiapkannya.
"Sini aku bantu masukin ke kotak, kamu rapiin dandanan kamu aja." tukas Vico sambil mengambil foto USG ditangan Silvi kemudian memasukkannya ke dalam kotak kado.
Akhirnya acara yang dinantikan telah tiba, untuk tema pestanya Silvi dan Vico memilih Garden party dengan gaya bohemian yang didekorasi dengan beberapa pasang lampu kelap-kelip yang digantungkan dikanan kiri pagar dan pohon. Di tengah-tengah terdapat taman bunga yang indah.
Saat para tamu asik menikmati suasana taman, muncul dua orang yang menjadi pusat perhatian semua orang. Siapa lagi kalau bukan Silvi dan Vico? Silvi mengenakan payet dress berwarna coklat keemasan tanpa lengan dengan aksen payet di seluruh gaun yang padu padankan dengan sepatu yang mempunyai warna senada dengan gaun yang dikenakannya membuat penampilannya menjadi semakin on point sedang Vico mengenakan setelan jas dengan warna earthy dengan sneakers berwarna putih sehingga penampilannya terlihat lebih keren dan elegan. Semua mata tertuju pada mereka, Silvi dan Vico menjadi pusat perhatian para tamu yang datang.
Disana ada Sinta ibu mertua Silvi,
"Ibu... udah datang." Silvi dan Vico menyalami tangan Sinta dan tak lupa menyapa sikecil Zahwa yang sangat senang berada ditempat itu.
Adi yang melihat kedatangan mereka, langsung mengajak Marinka ke arah Sinta.
"Ma, itu ada bu Sinta, yuk samperin."
"Ich, papa mama males. Papa aja yang ke sana". Tolak Marinka.
Jelas saja Marinka berkata seperti itu, karena baginya Sinta itu hanya orang sederhana yang tidak sekelas dengannya dia lebih memilih bersama Vina dan Hermawan yang sudah datang dari tadi, sedangkan Riana dan Hans yang melihat Sinta dan mengenalinya langsung menghampirinya.
"Eh... ibu udah lama datang bu?" Sapa gadis itu bersama Hans kemudian menyalaminya.
"Tu lihat ma, Riana dan Hans aja nyamperin bu Sinta. Masa kita yang besannya ga mau menyapa dia. Ga enak sama bu Sinta." Tukas Adi pada Marinka.
"Pa, ga usah bahas-bahas itu ya, kalau bukan karena si Vico itu, kita juga ga bakal punya hubungan sama orang yang ga selevel sama kita." Sinis Marinka dengan wajah angkuhnya.
Hermawan dan Vina hanya menggelengkan kepala mendengarkan ucapan Marinka.
"Sombong sekali dia, bisa-bisanya dia menghina besannya seperti itu." Gumam Hermawan dihatinya.
Orang tua Hans, Arya dan Shila yang baru saja datang menghampiri mereka. Mereka juga diundang kemudian ikut bergabung.
Silvi dan Vico melihat Riana dan Hans yang menghampiri mereka kemudian ikut bergabung dengan para orang tua. Tak lupa mengajak Ratna kehadapan mereka.
Baru saja berada dihadapan mereka, si kecil Zahwa lamgsung menyalami mereka dan menyapa dengan ramah. Secara tidak langsung dirinya menjadi pusat perhatian dan orang-orang yang disalami oleh anak ini menjadi tersenyum dan mengusap kepalanya merasa senang dengan sikap si kecil Zahwa. Otomatis mau tidak mau, Marinka harus menyambut uluran tangan kecil itu dan membiarkannya mencium punggung tangan dia.
Adi yang merasa tidak enak dengan sikap istrinya langsung mengajak mereka makan.
__ADS_1
"Bu Ratna , Zahwa dan yang lainnya ayo makan dulu. Itu hidangannya udah nungguin dari tadi." Ujar Adi mencairkan suasana.
Bu Sinta dan yang lainya mengikuti Adi ke tempat makanan yang telah terhidang.
Vico dan Silvi menyalami para tamu undangan yang hadir dan mempersilakan para tamu undangan duduk di meja kopi lesehan dan tikar yang terbuat dari kain bermotif etnik, serta tatanan meja antik, dibagian depan terdapat berbagai pilihan makanan.
Dibagian pertama terdapat makanan pembuka berupa pizza berukuran kecil, bitter ballen, macaroon, puff pastry, eclairs, pudding, panna cotta.
Ada juga menu utama ayam panggang, daging panggang, sosis, dan hidangan BBQ lainnya yang langsung tersaji dengan alat bakarannya. Pilihan lain untuk yang tidak suka makan daging atau lagi diet tersedia salad dan buah, untuk minuman ada beberapa jus buah dan sup buah.
Dan terakhir untuk makanan penutup tersedia es krim, tiramisu dingin.
Suasana malam juga terasa menjadi lebih syahdu dan romantis karena para tamu dihibur dengan playlist lagu beat yang diputarkan dengan volume yang cukup pada soundspeaker outdoor mini, lagunya tidak terlalu melow tapi cukup menenangkan pikiran.
Setelah menikmati makanan dan minuman yang tersedia. Puncak acarapun tiba, Silvi dan Vico saling menatap satu sama lain, saatnya untuk memberitahukan pengumuman penting!
"Mas, kita umumkan sekarang aja ya, mumpung semua udah pada selesai makan." Ucap Silvi pada Vico. Dirinya sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar gembira itu pada orang-orang yang hadir malam ini.
"Oh iya, hampir lupa. Ini kotaknya." Tukas Vico sambil mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya.
"Apa itu?" Tanya Riana padanya.
"Nanti kamu bakalan tahu kok." Tukas Silvi sambil mengulas senyum dibibirnya.
"Kotak apaan ya kira-kira itu?" Tanya Hans sambil mengusap dagunya. Dia ikut penasaran.
"Perhatian semuanya, malam ini, Vico dan Silvi akan mengumumkan sesuatu!."
Sontak saja para pengunjung yang sedang asyik dengan makan malam dan obrolan mereka, tiba-tiba berhenti dan perhatian mereka langsung tertuju pada Silvi dan Vico yang berada diatas panggung.
"Silakan" ujar MC itu sambil memberikan tempat untuk mereka.
"Selamat malam semua... mohon perhatiannya sebentar. Malam ini saya bersama istri saya ingin memberitahukan kabar gembira kepada para tamu yang hadir." Jelas Vico dengan menggunakan mikrofon.
Para tamu dan orang tua yang hadir saling menatap dan saling bertanya apa kira-kira kabar gembira yang ingin mereka katakan?
"Silvi ayo bilang sekarang." Ujar Vico sambil mengajak Silvi yang disisinya untuk mendekat ke mikrofon.
Dengan gugup dan mempersiapkan keberanian Silvi mencoba menenangkan hatinya untuk mengungkapkan kabar gembira yang akan dia sampaikan. Silvi memberikan foto USG bayinya pada MC, memberikan kode pada MC dan kini telah terpampang di infocus.
"Baiklah, semuanya yang hadir disini kami ingin memberitahukan bahwa diacara syukuran ini... kami akan memiliki anak anak kembar."
Sontak saja semua orang terkejut dan heran. Anak "Kembar? Kok bisa?"
Para tamu bertanya-tanya keheranan. Marinka, Adi dan Ratna yang baru tahu akan hal itu segera menghampiri merek ke atas panggung dan memeluk kedua pasang insan itu.
"Ibu bakal punya cucu kembar?" Ujar Ratna sambil memeluk mereka.
Serentak keduanya menganggukkan kepala dan memeluk Ratna.
__ADS_1
"Kalian ga pernah bilang papa bakal punya cucu kembar." Ujar Adi sambil mengajak Marinka.
"Kan mau ngasih kejutan pa." Tutur Silvi.
Suasana berubah riuh gembira dan semua orang memberikan selamat pada Silvi dan Vico.
***
Ditempat lain, Reynold merasa sangat kecewa karena wanita yang dicintainya ternyata telab bertunangan. Mengapa Clara tidak pernah memberitahu padanya tentang hal itu? Reynold benar-benar belum bisa menerima semua itu. Diapun mengambil kunci mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat. Pikirannya sangat kalut, dia benar-benar kecewa pada Clara.
Sampailah di first club milik Jonathan. Reynold langsung memesan wine pada bartender yang sedang menyediakan minuman. Dia meminum wine itu dengan sekali teguk dan tak terasa satu botol telah melesak habis tak tersisa.
"Berikan aku winenya lagi." Titahnya pada bartender itu.
"Tapi tuan anda sudah menghabiskan satu botol."
"Kenapa memangnya? Aku membayar berapapun wine yang aku habiskan!!!."
Seseorang yang memperhatikannya sedari tadi memberi kode pada bartender itu agar dirinya yang akan memberikan wine itu padanya.
"Biar aku yang memberikannya."
"Baik tuan." Merasa yakin bahwa lelaki itu adalah pemilik bar, bartender itu memberikan botol wine itu padanya.
"Hei... mana minumanku? Lama sekali!!!" Bentak Reynold pada bartender itu.
"Hei sobat, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau begitu itu ingin minum saat ini?" Ujar lelaki itu padanya.
Reynold yang masih belum terlalu mabuk melihat ke arah suara itu.
"Jhon... Jhonatan itu kau?"
"Iya ini aku,apa yang terjadi padamu. Kenapa kau seperti ini?" Tanya lelaki itu padanya sambil memegangi bahu Reynold.
"Berikan minumannya." Reynold mengambil botol minuman itu dan meminumnya.
"Apa kau akan bercerita padaku?" Tanyanya kembali pada Reynold.
"Apa kau tahu rasanya patah hati?" Tanya Reynold pada lelaki itu.
"Apa? Jangan katakan kau sedang patah hati." Ujar Jhonatan sambil menatap lekat pada sahabatnya itu.
"Itulah yang kurasakan. Kau tahu saat kau menyukai seseorang dan orang itu telah dimiliki orang lain, itu sangat menyakitkan." Jelasnya sambil menghadap pada Jhonatan.
"Hah?! Siapa yang kau maksud?" Tanya lelaki itu merasa heran.
Reynold tertawa lepas kemuadian dia menunjukkan wajah dingin. Dia tak ingin menjawab apapun saat ini, yang dia tahu hatinya sangat terluka karena orang yang dia cintai.
Jhonatan sangat paham dengan kondisi Reynold, dia tidak lanjut bertanya hanya merangkul dan menepuk pelan pundak Reynold untuk menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1