
Daren terjaga dari tidurnya. Dia mendapati dirinya masih berada di club dalam keadaan polos. Dia mengingat kembali apa yang terjadi malam itu. Tidak ada yang bisa diingat olehnya, hany saja terakhir kali dia mengingat Silvi yang tampak ketakutan karena sikapnya. Rasanya ingin sekali dia memaki dirinya sendiri karena membuat wanita yang dicintainya ketakutan. Bergegas dia membersihkan dirinya dan merapikan dirinya untuk menemui Silvi. Apapun yang akan dihadapinya nanti, dia hanya ingin menemui Silvi dan meminta maaf padanya.
Secepat kilat pemuda itu menuju rumah Silvi. Sekitar pukul sepuluh pagi dia telah sampai di depan gerbang rumah itu, suasana rumah tampak lengang hanya ada seorang satpam berjaga disana.
"Pak, Silvinya ada?" sapanya pada satpam yang berjaga disana.
"Ada mas. Mas ini siapa dan ada perlu apa?" tanya satpam itu memperhatikan sosok pria dihadapannya.
"Saya temannya Silvi pak. Bisa ketemu sama Silvi?" tanya pria itu lagi.
"Oh baik mas. Silahkan masuk ke dalam mas," pungkas satpam yang berjaga. Kemudian Daren masuk ke dalam gerbang dan menuju pintu depan rumah.
Daren mengetuk pintu rumah itu dan Silvi yang baru saja menyuapi Anindya sambil menggendong putrinya untuk menuju ke ruang depan, dia segera membuka pintu rumah itu.
"Kamu, ma ... mau apa kamu ke sini?" Silvi tampak terkejut dengan kedatangan Daren.
Sedikit tertegun, dirinya melihat Silvi menggendong anak kecil dihadapnnya. Lelaki itu memperhatikan anak itu. "Ini siapa Sil?" tanyanya kebingungan
"Ini anakku, kamu ada perlu apa ke sini?" Silvi terlihat mulai terusik dengan kedatangan Daren. Dia masih teringat perlakuan Daren malam itu. Sungguh membuatnya sangat kesal.
Daren cukup terkejut atas pengakuan Silvi. Tidak bisa dipercaya. Jadi benar dia sudah menikah dan punya anak? Batin lelaki itu kemudian dia mengerjapkan matanya.
"Maaf Silvi, aku ke sini cuma ingin minta maaf atas kejadian tadi malam. Aku benar-benar khilaf. Kamu maukan maafin aku," ucap lelaki itu dengan tatapan sendu. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya pada Silvi. Itu hal sangat memalukan yang dia perbuat.
"Jadi kami ke sini cuma mau minta maaf aja? kalau cuma itu kenapa ga melalui telpon saja? kamu ga perlu repot-repot kesini," cerocos wanita muda itu. Dia masih belum bisa memaafkan perbuatan Daren.
__ADS_1
"Aku tahu aku salah maka dari itu aku mau bertemu langsung sama kamu Sil. Aku ga mau kamu membenciku karena kejadian itu," pungkasnya penuh penyesalan. Lelaki itu tampak sedih karena image buruk yang dia berikan. Tidak pernah dia senekat itu sebelumnya. Apa mungkin rasa cintanya telah mengalahkan akal sehatnya saat itu?
"Mama, om itu ciapa? Kok minta maaf cama mama. Om ada calah apa?" putri kecilnya memberikan komentar dengan suara cadelnya. Putri kecilnya itu sudah mulai sering bercerita dia bahkan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi saat ini.
Silvi menghela nafas berat sambil mengusap kepala sang anak dan tersenyum padanya. "Om ini teman mama. Aya masuk ke dalam dulu ya mama mau ngomong sama om sebentar," ujarnya pada sang putri. Anak itu mengangguk mengikuti perkataan Silvi dan segera masuk ke kamarnya untuk bermain.
"Anak kamu manis sekali," puji lelaki itu padanya sambil melihat langkah kecil itu berlarian ke kamarnya.
Silvi hanya tersenyum kecil. "Sebaiknya kamu pulang saja, aku udah maafin kamu. Kita ga perlu memperpanjang masalah semalam," Silvi merasa risih dengan kehadiran Daren.
"Okay terimakasih Silvi kalau kamu mau memaafkan aku tapi kamu ga akan benci sama akukan? kita masih sahabatkan?" lelaki itu memastikan kembali.
"Ya kita sahabat," ucap Silvi pelan tanpa mau menatap wajah Daren.
"Terimakasih Silvi, ucapnya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Silvi, wanita itu memundurkan langkahnya merasa takut.
Silvi hanya mengangguk dan masih tak mau menatapnya. Sungguh kejadian tadi malam membuatnya sangat malu. Untung saja suaminya tidak melihat kejadian itu jika sampai Vico melihat apa yang terjadi disana entah apa yang akan dilakukan pria itu pada Daren.
***
Setelah meminta maaf Daren segera pergi dari kediaman Silvi. Dalam perjalanan dia tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri bayangan wajah Silvi yang ketakutan berhadapan dengannya tadi, sikap dingin Silvi dan cara wanita itu menghindarinya membuat dirinya merasa sangat bersalah. Sampai, di suatu tempat dirinya hampir saja menabrak seseorang.
Astaga, apa dia baik-baik saja? pria itu tersentak dari lamunannya. Daren bergegas turun dari mobilnya melihat seorang gadis yang sedang terduduk di depan cup mobilnya merintih kesakitan. Buku dan tasnya berserakan dijalanan.
"Nona apa anda terluka?" tanyanya menghampiri wanita yang berusaha bangkit hanya saja dia tidak bisa berdiri dengan benar karena kakinya terkilir.
__ADS_1
"Anda ini bagaimana? kalau menyetir itu jangan sambil mengkhayal. Lihatlah apa yang telah anda lakukan padaku? Padahal aku sudah mengangkat tanganku agar kau menepikan mobilmu tapi kau malah membuatku cidera! " sungut wanita muda itu padanya sambil menahan rasa sakit dikakinya.
Wanita itu terlihat sangat marah padanya. Daren menyadari kesalahannya dia segera membantu wanita itu mengemasi barang-barangnya yang bertebaran dijalanan dan membawanya ke mobil.
"Hei, apa yang kau lakukan tuan? setelah menabrakku kau sekarang ingin merampokku juga? kembalikan barang-barangku!!!" wanita cantij itu semakin kesal padanya dan diapun meneriaki pria itu.
Dasar pria aneh. Keterlaluan sekali !!! Gerutunya dalam hati.
"Nona, jangan marah dulu. Aku ini bukan seorang perampok seperti yang kau duga. Aku hanya ingin membantumu. Ayo aku antar kau ke rumah sakit," jelas pria itu sambil mendekatinya kemudian berusaha menggendong gadis muda itu.
"Eh, apa yang kau lakukan?!" wanita itu menepis tangan sang pria yang sedang merangkulnya. Dia berpikir pria itu akan melecehkannya.
"Hei nona, apa kau tidak bisa berhenti meneriakiku hah? sudah bagus aku mau bertanggung jawab padamu tapi kau hanya bisa marah saja!" Daren mulai kesal dengan wanita cerewet itu. Sungguh menyebalkan.
"Bagaimana aku tidak kesal, kau sudah membuatku kehilangan kesempatan untuk wawancara. Hari ini aku harus menghadiri interview pertamaku di sebuah rumah sakit, tapi kau ... kau menghancurkan impianku dalam waktu beberapa detik saja," sesal wanita muda itu padanya.
Matanya mulai berkaca-kaca meratapi nasibnya. Dia sangat berharap interviewnya itu akan membawanya menjadi seorang dokter muda di rumah sakit ternama yang diidamkannya, tapi pria arogan yang ada didepannya malah membuat masa depannya jadi suram. Sungguh menyebalkan !!!
"Okay nona, aku minta maaf padamu. Ini semua memang kesalahanku. Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk mengobati kakimu yang memar dan setelah itu akan ku antar kau ke tempat interview," lelaki itu mencoba mengalah dan membantu wanita itu.
"Ya sudah, kalau begitu kau antarkan aku ke rumah sakit tempatku akan diinterview, biar aku tidak terlambat masih ada waktu setengah jam lagi. Ku mohon bantulah aku," rengek wanita itu sambil memperlihatkan pupy eyes pada lelaki yang berada dihadapannya.
Lelaki itu setuju dan segera menggendong wanita itu ke mobilnya. "Eh mengapa kau menggendongku? Aku bisa jalan sendiri," pungkas wanita itu. Wajahnya memerah karena untuk pertama kalinya dia digendong oleh seorang pria. Apalagi pria high clas dan tampan setara Daren. Dirinya bagai cinderella saja.
"Diamlah kau tidak perlu takut aku hanya membantumu. Percaya padaku kau bukan tipeku," olok lelaki itu padanya dengan wajah datar.
__ADS_1
Gadis muda itu menatapnya dengan kesal. Baru saja dia meninggikannya tapi dengan cepat dia menghempaskannya begitu saja. Dasar pria menyebalkan. Kalau bukan karena membutuhkanmu akan kucakar wajahmu. Tatap wanita itu dengan tajam padanya sambil mengalungkan tangannya dipundak pria itu supaya tidak terjatuh.
Daren menggendongnya dan memasukannya ke mobil dengan perlahan. Sesaat mereka saling menatap ada rasa saling mengagumi, tapi dengan cepat Daren mengalihkan pandangannya lalu menuju ke depan untuk mengemudikan mobilnya.