Menikah Dini

Menikah Dini
Perkara Resleting Susah di buka


__ADS_3

Saat ini Vico sedang bersama Silvi. Mereka tengah menikmati kebersamaan di rumah Adi Leonardo. Sedikit canggung karena pertama kalinya berada ditempat lain. Vico gugup saat masuk ke rumah itu.


"Ada apa Vic? Kok kamu malah bingung gitu?" tanya Adi memandangi Vico.


"Ga om. Aku cuma grogi aja," nawabnya merasa masih belum percaya saat ini dirinya telah menjadi seorang menantu keluarga Leonardo sekaligus suami bagi Silvi.


"Loh kok panggil om sich, panggil papa. Sekarang itu kamu menantu saya jadi jangan panggil om lagi," tukas Adi pada menantunya.


"Eh iya pa, maaf," ujar Vico sambil mengusap kepalanya.


"Sekarang istirahat dulu, kalian pasti cape kan seharian diacara nikahan," ujar Marinka sambil menaruh tasnya di kamar.


Silvi dan Vico mengikuti perkataan Marinka. Merekapun segera masuk ke kamar.


Saat berdua di dalam kamar, Silvi duduk ditepi ranjangnya, gadis itu meluruskan kakinya untuk merilexkan tubuhnya. Vico menatap ke arah Silvi yang terlihat lelah.


"Kenapa? Kaki kamu cape ya?" tanyanya sambil mendekat ke arah Silvi.


Gadis itu hanya tersenyum. Dia tidak menjawab tapi Vico sangat pengertian dia segera duduk mensejajarkan tubuhnya ke arah kaki Silvi, Vico membukakan sepatu yang melekat dikaki Silvi kemudian memijat pelan kaki Silvi.


Silvi menikmati setiap sentuhan jari jemari Vico dikakinya. Terasa nyaman dan benar-benar membuatnya rileks. Tanpa terasa matanya kini telah terpejam menikmati pijatan itu. Vico yang melihat Silvi yang tertidur sambil duduk itu merasa gemas dia mengusap pipi perempuan itu dengan lembut. Vico menata bantal diatas ranjang mereka kemudian menggendong Silvi yang sedang  terlelap itu ke ranjang dan membaringkan kepala Silvu ke bantal.


"Vico," Silvi membuka matanya.


"Iya sayang, kok bangun sich tidur aja kamu kan cape."


"Iya tapi aku belum ganti baju,"


"Ya sudah kamu ganti baju terus mandi dan tidur,"


Silvi menganggukkan kepalanya.


Dia segera bangun, kemudian berdiri untuk melepaskan gaun yang dipakainya, Silvi menyibakkan rambutnya yang panjang kedepan kemudian mebuka resleting gaun itu tapi tangannya tertahan karena resleting gaunnya tersangkut, dengan susah payah dia mencoba membuka resleting itu tapi tetap saja tidak bisa.


Vico yang memperhatikan Silvi yang kebingungan kemudian membantunya membuka resleting itu. Sekarang punggung mulus Silvi terekspos dengan senpurna didepan matanya. Mata Vico terpaku pada pemandangan yang baru saja dilihatnya, secara refleks dia mencium bahu Silvi.


Tidak ada penolakan Silvi juga menikmatinya saat bibir lelaki itu menyentuh bahunya. Dia memejamkan matanya. Gaun itu dibiarkan terlepas begitu saja, hingga lelaki yang berada dibelakang Silvi itu bisa melihat tiap jengkal bagian tubuh Silvi dari cermin yang tepat berada dihadapan mereka.


Vico menelan Salivanya tak bisa menyembunyikan hasratnya dan dia membalikkan tubuh perempuan itu dengan perlahan kemudian mencium bibir gadis itu secara perlahan. Tidak mau kalah dia membalas ciuman itu dengan ******* bibir lelaki itu sembari tangannya dilingkarkan ke pundak lelakinya, menyeibangkan pergerakan lelaki itu memeluk pinggang perempuan itu dan merapatkan tubuh mereka. Kedua insan itu kini saling ******* dan mendesah. Vico mempererat pelukannya.


"Vico, perutku sakit," Silvi mengerang tatkala perutnya sedikit tertekan. Sangking menikmati ciuman dan pelukan itu dia lupa bahwa dirinya sedang hamil.

__ADS_1


Sontak saja Vico menjadi kaget, diapun segera melepaskan ciumannya melonggarkan pelukannya.


"Maaf sayang, aku lupa, ada baby diperut kamu " lelaki itu mengusap pelan perut Silvi, "maaf ya nak, papa kamu lupa. Pasti kamu sakit ya kejepit tadi?"


Silvi hanya tersenyum melihat tingkah Vico. Kemudian mengusap pelan kepala Vico.


"Udah ya aku mandi dulu," dia segera mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.


Baru saja melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Vico menarik lengannya dan mendaratkan satu kecupan dikening perempuan itu.


"Jangan lama-lama mandinya." Tukas lelaki itu padanya.


***


Pagi itu Adi telah sampai dikantornya. Sudah dua minggu dia meninggalkan perusahaannya karena sakit yang hampir saja merenggut nyawanya. Untung saja Tuhan masih memberikannya kesempatan kedua untuk hidup.


Adi memasuki ruangan kerjanya dan dia terperanjat saat seseorang yang tengah duduk dikursi kerjanya.


"Johan!!! Beraninya kau menduduki kursiku!!!" suara Adi menggema diruangan itu.


Para karyawan yang mendengarkan suaranya diluar langsung kicep tersentak. Suasana yang tadinya heboh dengan kegiatan seketika menjadi hening. Mereka tidak berani menghampiri si pemilik suara untuk bertanya, hanya berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka.


"Apa kau pikir kakakmu ini sudah mati? Hah? Sehingga seenaknya saja kau mengambil kendali perusahaanku?!"


Lelaki paruh baya itu terlihat bersungut-sungut. Seperti hendak menelan Johan hidup-hidup.


"Bukan begitu mas, kan kemarin mas Adi lagi sakit ya mau ga mau saya yang harus gantiin mas Adi selaku Manajer perusahaan," tukas lelaki itu sambil menutupi rasa gugupnya.


"Iya aku tahu itu, tapi bukan berarti kamu bisa masuk dan duduk diruanganku seenaknya!" lelaki paruh baya ini tidak terima dengan sikap lancang adiknya.


"Maaf mas. Saya cuma mencoba bekerja seperti yang seharusnya." Lelaki itu menundukkan kepalanya. Memohon maaf.


"Sekarang juga kau keluar dari ruanganku dan jangan pernah berani lagi duduk dikursiku itu!" titah lelaki itu padanya.


Johan hanya mengangguk pelan dan keluar dari ruangan itu. "Awas lo Di, tunggu saat semua aset perusahaan ini jadi milik gue. Gue bakal ambil semuanya yang seharusnya jadi milik gue?" gerutu lelaki itu dalam hati sambil membuka pintu ruangan. Dia menoleh pada Adi dengan tatapan kebencian tapi Adi tidak bergeming ataupun melihat ke arahnya sedikitpun. Kemudian Johan meninggalkan ruangan itu. Para karyawan yang melihat kejadian itu hanya diam menunduk tidak ingin ikut campur.


Itu semua salahnya Johan juga,sudah tahu perusahaan itu masih milik Adi, kenapa dia berani sekali mengambil alih perusahaan itu dari Adi. Walaupun masih perusahaan keluarga seharusnya dia tahu batasan.


Kini Adi duduk dikursi kerjanya sembari menyandarkan kepalanya dikursi itu. Dia membuka laptop yang ada didepannya dan mulai memeriksa laporan perusahaannya dengan perlahan. Matanya kini sampai pada laporan keuangan perusahaannya, dia mengernyitkan dahinya saat melihat laporan keuangan bulan ini. Sangat menurun! Apa yang terjadi? Baru dua minggu dia tidak masuk dan selama itu pula keuangan anjlok? Ini benar-benar keterlaluan!!!


"Debi," panggilnya pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Iya pak," sekretaris itu segera menghampiri dia ke ruangannya.


"Apa perusahaan kita punya pengeluaran yang sangat besar saat saya tidak mengurus kantor?"


"Tidak pak," Debi menjawabnya dengan tatapan yang sedikit meragukan.


"Kalau perusahaan kita tidak banyak pengeluaran lantas kenapa keuangan kita menurun dari sebelumnya?"  lelaki itu masih mengamati laptopnya dengan saksama.


Debi hanya menundukkan kepala. Dia takut menjawab yang sebenarnya.


"Apa kamu bisa panggilkan Risma?"


"Baik pak, saya akan panggilkan Risma."


Dengan cepat Deby keluar dari ruangan itu kemudian dia menemui Risma.


"Risma, pak Adi manggil tuch. Kayaknya pak Adi mau bahas tentang anggaran perusahaan kita."


Risma paham dengan apa yang dikatakan Deby. Sebagai seorang akuntan di perusahaan itu dia bertugas untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran perusahaan, dia menyiapkan laporan keuangan perusahaan yang selama ini dikelolanya.


"Permisi pak. Saya boleh masuk?" tanya Risma sambil membawakan laporan keuangan perusahaan.


"Iya, masuklah,"


Wanita itu kini berdiri dihadapan Adi dan memberikan rincian laporan keuangan. Adi membuka lembaran laporan keuangan itu kemudian membacanya perlahan. Banyak keganjilan yang dia lihat disana. Jumlah tiap pengeluaran kantor yang seharusnya normal malah dimanipulasi menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Hingga terjad pembengkakan.


"Ini kenapa pengeluaran kita jadi banyak seperti ini?" tanya Adi pada accountingnya itu.


"Maaf pak, sebenarnya sewaktu bapak di rumah sakit dan pak Johan menggantikan posisi bapak untuk sementara waktu, saya sudah sering memperingatkan kepada beliau agar tidak terlalu banyak menggunakan uang perusahaan untuk keperluan yang tidak terlalu penting, tapi..."


ucapan gadis itu terhenti saat melihat wajah Adi yang terlihat tegang.


"Tapi apa Risma? Aku butuh jawabanmu," Adi kini menatap wanita itu dengan serius.


"Maaf pak, saya ga bermaksud berburuk sangka atau mencari-cari kesalahan siapapun, tapi semenjak bapak tidak ada di kantor pak Johan selalu menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Terlebih lagi istrinya, sering datang ke kantor dan meminta uang dengan jumlah yang banyak."


"Apa? Keterlaluan sekali mereka. Bagaimana bisa mereka berbuat seperti itu?"


"Maaf pak, saya sudah menjelaskan tapi bu Farah selalu mengancam kalau tidak diberikan dia akan menyuruh pak Johan buat memecat kami,"


Lelaki itu benar-benar geram dengan jawaban yang diucapkan sekretarisnya. Johan dan Farah benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya mereka menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi mereka.

__ADS_1


__ADS_2