Menikah Dini

Menikah Dini
Mama, Kami Menantimu


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusannya dengan Maxy, Clara menghubungi Reynold. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berbicara dengan Reynold. Dirinya merindukan pria itu.


Clara mengambil handphonenya dan menekan tombol yang tertera nama Reynold disana. Tanpa perlu menunggu lama, panggilan itu tersambung.


"Halo."  


"Halo Rey, kau masih ingat denganku?" 


"Kaukah itu Clarisa? Lama sekali kita tidak saling menelpon. Bagaimana kabarmu?" 


Pria itu membuka pembicaraan dengan sangat ramah. Benar, ada rasa rindu yang telah lama terpendam dihatinya. Ingin sekali dia mengungkapkan namun dirinya tak mampu mengungkapkannya.


"Iya Rey, apa kau tidak merindukanku?" Gadis itu bertanya secara langsung.


"Oh, tentu saja aku sangat merindukanmu." Tukas lelaki itu.


"Aku senang mendengarnya Rey. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu saat ini, apa kau mau menjawabnya dengan pasti?"


Ada satu permintaan yang tersirat dari ucapan gadis itu. Membuat yang ditanyapun merasa penasaran.


" Katakan saja Clara. Apa yang ingin kau katakan." 


" Aku hanya ingin tahu, apakah lamaranmu waktu itu masih berlaku hari ini?" Tanya gadis itu tanpa ada keraguan padanya.


"Apa? Kau serius Clara? Ini benar-benar suatu kejutan yang sangat fantastis." 


Tak terbayangkan oleh Rey, wanita pujaannya akan bertanya seperti itu padanya. Ini benar-benar suatu keajaiban.


"Aku serius Rey. Maukah kau menikahi ku?" Ulang wanita itu dengan pasti.


"Tentu sayang. Aku pasti akan menikahimu. Apalagi saat ini kau yang memintanya secara langsung padaku tentu saja aku akan melakukannya." Tukas lelaki itu dengan mantap. 


"Baiklah Rey, kalau begitu kau datanglah segera kesini untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Kita akan bicarakan ini pada mereka." 


"Tentu saja aku akan segera ke sana, tapi bagaimana hubunganmu dengan Maxy? Bukankah kau telah bertunangan dengannya?" 


"Hubunganku dengannya telah berakhir. Lelaki itu sekarang telah mendekam di penjara." 


"Apa? Bagaimana bisa secepat itu?" Rey merasa sedikit heran.


" iya, sesampainya di London aku langsung mengajukan tuntutan ke pengadilan atas perbuatan Maxy dan pengadilan memproses kasusku. Maaf ya, setelah sampai di London aku tidak mengabarimu , karena aku langsung mengurus masalah ini." 


"Hm... baiklah aku mengerti. Aku pikir waktu itu kau benar-benar telah melupakanku, karena setelah kau pergi aku sudah tidak bisa menghubungimu lagi."

__ADS_1


"Iya. Maaf Rey, aku sengaja menghentikan semua kontakku saat itu karena aku merasa tidak nyaman. Maxy selalu meneror dan mengancamku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memberikan pelajaran padanya."  Jelas wanita itu dengan gamblang.


"Baiklah. Aku mengerti dengan keadaanmu. Aku janji, aku akan segera menemui orang tuamu."


Setelah percakapan panjang mereka. Akhirnya telpon itu ditutup.


Reynold sangat bahagia, karena Clara telah menerimanya. Akhirnya dia menemukan tambatan hatinya setelah menunggu sekian lama untuk kepastian dari wanita itu.


***


Di ruang inap Vico masih menunggu Silvi siuman sambil mengurus dua putri kembarnya yang diletakkan tak jauh dari Silvi berada. Sesekali kedua putri mungilnya itu diajak berbicara dengan Silvi agar wanita muda itu dapat merasakan kehadiran buah hatinya dan membuka matanya kembali.


"Bilang sama mama kalian nak, kalian menunggu mama untuk bangun." Ujar lelaki itu sambil mendekatkan bayi mungilnya kepada Silvi secara bergantian.


Agar sang bayi juga merasakan kehadiran ibunya. Meskipun tidak bisa menggendong dan menyapih mereka saat ini.


Bayi-bayi mungil itu merespon dengan sedikit tangisan dan sesekali tangan dua bayi itu menyentuh wajah sang ibu. Ada sedikit respon dari wanita itu. Air mata mengaljr dari sudut matanya seakan menjawab sapaan sang bayi padanya. Namun, dia belum mampu untuk membuka matanya.


"Mama lihat, Silvi menangis?" Tanyanya pada mertuanya yang sedari tadi menunggui Silvi bersamanya.


Marinka menganggukkan kepalanya dan tanpa terasa buliran bening itu kembali membasahi pipinya.


Adi yang melihat sang istri, merasa hatinya teriris. Sungguh, hal itu benar-benar menyakitkan. Saat orang yang dikasihi tebaring tak berdaya, ingin sekali rasanya dirinya menggantikan posisi putrinya itu.


Namun, semua memang telah digariskan oleh Sang Pencipta, setiap yang telah digariskannya akan menjadi sebuah pelajaran bagi hamba Nya.


"Pak Hans, anda ada di rumah sakit juga? Siapa yang sakit pak?" Tanya lelaki itu saat melihat anak bosnya berada dihadapannya.


"Eh, pak Denis. Itu loh istrinya Vico baru aja lahiran, tapi dia mengalami pendarahan dan sekarang lagi dirawat," jelasnya pada Denis.


"Apa? Silvi udah lahiran? Penadarahan?" Pertanyaan itu masih berputar-putar dikepalanya.


Denis merasa bingung dan sulit mempercayai semuanya.


"Iya, pas diacara pernikahan saya dan Riana, Silvi datang tapi mungkin udah waktunya lahiran, dia minta langsung diantar ke rumah sakit. Pak Denis sendiri ada keluarga yang lagi sakit?" tanya Hans yang celingukan melihat ke sekitaran Denis.


"Ahm, ini saya cuma menemani Aurel. Kemaren anaknya sakit dan sekarang lagi dirawat." Jelas lelaki itu pada Hans.


"Emangnya anak mbak Aurel sakit apa?"


"Sakit ginjal bawaan dari lahir."


"Waduh, gimana mungkin anaknya kan masih kecil sakitnya separah itu?" Hans terkejut dan merasa prihatin.

__ADS_1


"Iya pak. Anaknya Aurel udah sakit seperti itu dari lahir."


Hans manggut-mangut memahami ucapan Denis.


"Eh iya, pak Denis boleh saya lihat anaknya mbak Aurel?"  Pinta Hans pada lelaki itu.


"Oh boleh pak. Silahkan." Lelaki itu mempersilahkan Hans untuk masuk ke ruang perawatan anaknya Aurel.


Saat masuk ke dalam ruangan itu, terlihat tubuh mungil yang ringkih sedang terbaring diatas brankar drngan selang oksigen terpasang dihidungnya. Sedangkan tangan anak itu terpasang infus.


"Om Denis." Sapa anak itu dengan riang ketika melihat Denis masuk ke ruangannya.


"Gaby, udah bangun?" Tanya Denis menghampiri anak itu.


Sementara Aurel yang melihat kedatangan mereka langsung menghampiri.


"Pak Hans, bagaimana bisa bapak tahu anak saya ada di rumah sakit?" Sapa Aurel yang sedikit kaget dengan kedatangan Hans.


"Tadi, aku ga sengaja ketemu pak Hans diluar terus kami cerita dan beliau minta untuk bertemu dengan Gaby.l," jelas Hans pada Aurel.


"Terimakasih pak Hans, sudah mau menjenguk anak saya."


"Iya mbak Aurel. Kebetulan saya juga lagi disini jadi sekalian jenguk anaknya mbak aurel. Ngomong-ngomong panggil saya Hans aja ya biar lebih santai." Aurel dan Denis terkekeh mendengar ucapan Hans.


"Hai anak manis, gimana keadaan kamu?" Sapa Hans pada gadis kecil yang terbaring di brankar.


"Om ini siapa?" Tanyanya merasa bingung karena memang ini kali pertama mereka bertemu.


"Kenalin, nama om Hans. Nama kamu siapa?"


"Gaby." Anak itu tersenyum saat melihat Hans yang mendekatinya.


Hans mengusap kepala gadis kecil itu, sambil menatap Aurel.


"Mbak Aurel. Apa tadi dokter udah memeriksa Gaby?"


"Udah mas Hans. Tadi udah dicek semuanya normal." Ujar Aurel padanya.


"Syukurlah kalau begitu. Saya suka sedih kalau liat anak seumuran Gaby harus melawan sakit seperti ini."


Wajah lelaki itu nampak menyendu saat menatap gadis kecil itu, tetapi gadis kecil itu sibuk dengan mainan ditangannya.


Dirinya tidak memahami betapa sulit hari-hari yang harus dilaluinya untuk bertahan dengan sakitnya itu.

__ADS_1


"Iya mas. Saya sendiri juga selalu was-was kalau sampai Gaby kenapa-napa. Kemaren pas gurunya ngasih tahu chika pingsan perasaan saya jadi ga karuan." Jelas wanita  itu dengan wajah sedih.


Hans memahami perasaan wanita muda itu. Menjadi single parents diusia muda dan merawat anak yang sedang dalam keadaan sakit pasti menjadi beban mental tersendiri bagi seorang Aurel.


__ADS_2