
Setelah pertemuan dua keluarga itu berakhir. Pria misterius itu memutar balik mobilnya ke arah kanan. Dirinya segera menuju ke rumah yang tidak terlalu besar. Rumah itu sederhana tapi cukup terasa nyaman.
Lelaki itu membuka pintu kamarnya, dia menghampiri wanita yang berada di kamar berukuran kecil itu.
"Nina bobo, oh nina bobo Kalau tidak bobo, digigit nyamuk." Suara wanita itu terdengar lirih saat menyanyikan lagu nina bobo.
Tak lama kemudian wanita itu menciumi pipi dari bayi yang ada digendongannya.
Ada rasa sakit yang mendalam dibatin pria itu saat mendengar nyanyian lirih dari wanita itu. Terlebih saat dia melihat wanita itu menggendong sebuah boneka bayi, layaknya menggendong seorang bayi.
Ya, wanita muda itu menganggap boneka yang dipegangnya itu adalah bayi mungilnya. Dia begitu menyayangi boneka itu karena didalam pandangannya boneka itu adalah bayinya.
"Mila, hentikan semua ini sayang. Anak kamu sudah tiada, sadarlah sayang, anak kita udah ga ada bersama kita," gumam pria itu sambil menghampiri wanita yang sedang asyik dengan pikirannya.
Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu langsung memeluk wanita yang ada dihadapannya. Air matanya berlinang, melihat keadaan miris wanita yang dicintainya.
"Mas Fredy, kamu udah pulang? Lihat ini mas. Anak kita tidurnya nyenyak banget," ucap wanita itu sambil menunjukkan boneka yang sedang digendongnya.
"Iya sayang, anak kita lagi terlelap. Kamu menjaga anak kita dengan baik," puji lelaki itu padanya.
Wanita itu tersenyum sambil bersandar kepada suaminya.
Dia tidak bisa menerima kepergian bayinya satu tahun lalu, tepat dimana Marinka meminta pada dokter Fredy suaminya itu, untuk membuat hasil visum palsu untuk Vico saat akan menikahi Silvi.
Saat itu pula dokter Fredy yang telah mendapatkan uang dari Marinka segera melakukan operasi untuk bayinya, tapi sayangnya bayi itu tidak terselamatkan dan sebelum operasi selesai bayi itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Semenjak kematian putrinya, wanita itu mengalami depresi. Sudah berbagai cara dilakukan Fredy untuk kesembuhan sang istri, mulai dari menemui psikiater untuk mengobati sakitnya itu, mengunjungi anak-anak dipanti asuhan supaya istrinya bisa menyalurkan kasih sayangnya pada anak-anak, hingga memberikan kegiatan supaya Mila bisa melupakan kepergian sang bayi, tapi tetap saja usaha Fredy tidak berhasil. Kesehatan Mila masih saja tidak mengalami progres berarti. Malahan sakitnya menjadi semakin parah.
Fredy juga pernah berinisiatif untuk melakukan hubungan intim pada istrinya dengan tujuan untuk memliki anak kembali. Namun sayang, Tuhan belum menitipkan mereka seorang bayi untuk menggantikan anaknya yang telah tiada. Malahan Mila terlihat sangat frustasi, sehingga untuk didekatipun sangat sulit. Dia pasti akan melempari Fredy dengan benda apapun didekatnya pada suaminya itu. Namun dengan penuh kesabaran, Fredy tetap memperlakukan istrinya dengan baik dan penuh rasa cinta.
Pernah suatu ketika, ada anak kecil sedang bermain didepan rumahnya, tiba-tiba saja Mila mengajak anak itu kerumahnya. Sebagai seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa jelas saja anak itu mengikutinya. Anak itu merasa nyaman dan senang atas perlakuan Mila padanya, karena Mila menunjukkan rasa kasih sayangnya pada anak itu. Namun, karena obsesinya terhadap anak, dia malah mengira anak itu adalah anaknya.
Mila tidak mau melepaskan anak itu, bahkan dia sengaja mengurung anak itu dikamar agar tetap bersamanya. Hingga anak kecil itu menangis dengan suara yang kencang karena ketakutan.
__ADS_1
Untung saja Fredy dan orang tua anak itu segera mengetahui keberadaan anak kecil itu, kemudian Fredy mengembalikan anak itu kepada orang tuanya. Sempat terjadi sedikit cekcok karena orang tua anak itu marah dan memaki Mila, hampir saja orang tua anak itu menuduh Mila melakukan tindakan kriminal karena telah mengambil anaknya, tapi Fredy yang masih memiliki akal sehat menengahi kegaduhan itu. Hingga semuanya baik-baik saja. Orang tua anak itupun mau berdamai.
Tidak sampai disitu saja, Mila juga mulai kehilangan akal sehatnya, setiap anak kecil yang dilihatnya selalu saja dianggap anaknya. Tak jarang dirinya terlibat pertengkaran dengan tetangga sekitar karena memperebutkan anak yang jelas-jelas bukan anaknya, karena merasa malu dan tidak ingin istrinya menjadi bahan ejekan para tetangga yang menganggap istrinya itu telah gila, untuk mencegah hal buruk terjadi lebih lanjut, Fredy berinisiatif mengurung Mila dirumah dan memberikan boneka bayi untuk membuat Mila lebih tenang.
Benar saja, semenjak Fredy memberikan boneka bayi itu pada istrinya, wanita itu mulai tenang dan menganggap boneka itu selayaknya anak sendiri. Mila juga sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik, tapi tetap dengan boneka bayi yang tak boleh terlepas dari gendongannya.
"Lihat saja Marinka, kau sudah menghancurkan kehidupan istriku. Akan kupastikan kau akan kehilangan cucu kembarmu itu dan aku akan merebutnya dari kalian," lelaki itu menggeram dalam hatinya.
Itulah sebabnya mengapa semenjak Fredy mengetahui kehamilan Silvi, lelaki itu selalu membuntutinya dalam berbagai kesempatan. Lelaki itu benar-benar ingin mengambil bayi-bayi itu untuk dirawat oleh dirinya dan istrinya.
"Sayang, anaknya udah bobo ni. Kita taroh ditempat tidur dulu ya," tukas lelaki itu pada istrinya sambil mengambil boneka itu dari gendongan sang istri perlahan.
Baru saja Fredy menyentuh boneka itu, Mila langsung memeluk boneka itu dengan erat. Dirinya merasa ketakutan seakan Fredy akan mengambil anaknya dari sisinya.
"Jangan ambil anakku. Dia masih hidup, jangan biarkan dia sendirian."
Wanita itu teringat saat hari dimana anaknya dimakamkan. Dia merasa semua orang akan meninggalkan anaknya sendirian didalam sana.
"Iya sayang, kita ga akan meninggalkan anak kita, tapi kita akan segera menjemput anak kita." Jelas lelaki itu pada istrinya lagi.
"Anak kita? Anak kita ada disini mas. Dia lagi tidur ni."
Wanita itu mencoba memberikan penjelasan pada suamiya.
Fredy tidak menggubris ucapan istrinya, dia mengeluarkan handphonenya dari saku celananya, kemudian menunjukkan foto bayi kembar Silvi pada sang istri.
"Lihat sayang. Ini anak kita, kamu akan segera bertemu dengan mereka secepatnya."
Wanita itu menatap foto bayi kembar yang terdapat dilayar handphone suaminya. Seketika boneka yang dipelukkan dengan erat, dilepasnya begitu saja. Matanya kini tertuju pada foto bayi yang terdapat dilayar handphone, wanita itu mengusap wajah kedua bayi itu tanpa terasa buliran bening jatuh membasahi pipinya
.
"Anakku..." ujar wanita itu lirih.
__ADS_1
Fredy merasa terenyuh dengan sikap istrinya, ada luka yang seakan menganga kembali saat melihat air mata sang istri, Fredy memeluk erat istrinya yang masih tetap menatap foto bayi mungil itu, tapi dia telah bertekad untuk merebut bayi-bayi mungil itu dari tangan kedua orang tuanya. Apapun caranya pasti akan dilakukannya asal sang istri bisa kembali normal seperti dulu lagi dan terlepas dari semua penderitaan batinnya.
***
Saat dirumah, Hermawan dan Davina baru saja selesai makan malam. Davina membereskan piring makan mereka.
"Mas, aku mau ngomong sebentar boleh?" Tanya Davina sambil duduk didekat suaminya.
"Iya, silahkan. Kamu mau membicarakan apa?"
"Aku kok kangen sama Silvi, ya mas?"
Hermawan menoleh ke arah sang istri dan matanya beradu pandang dengan mata Davina.
"Loh, kenapa kok tiba-tiba kamu bicara seperti itu?"
"Gimana ya mas? Semenjak aku tahu Silvi adalah putri kita, aku semakin sayang sama dia. Aku pengen kita berkumpul jadi satu sebagai keluarga. Aku, kamu, Riana dan Silvi." Jelas wanita itu dengan penuh keseriusan.
"Hm... aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Aku juga menginginkan hal yang sama, tapi kamu tahu sendirikan keadaannya. Silvi baru saja pulih dari sakitnya dan dia harus banyak beristirahat."
Hermawan memberikan pengertian pada istrinya.
"Tapi aku ini ibunya mas. Aku yang berhak bersama dia. Bukannya Marinka." Davina membuang wajahnya, merasa tidak terima dengan alasan suaminya.
"Sabar ya sayang, nanti kalau Silvi udah lebih baik kita akan jelasin semuanya kepada Silvi." Bujuk Hermawan sambil mengusap kepala sang istri.
Davina menghembuskan nafas kasar, dia hanya diam tak menjawab perkataan suaminya.
Jelas dia tidak bisa menerima, mulai dari anaknya lahir dia tidak bisa menyentuh anaknya, bahkan setelah terpisah sekian tahun dengan anaknya, kemudian dipertemukan kembalipun dia masih saja tidak bisa bersama anaknya.
Ibu mana yang tidak merasa sedih saat bertemu dengan anaknya, dia tidak bisa menjadi ibu yang sesungguhnya.
"Sayang, please sabar ya. Aku janji suatu saat nanti kita akan jelaskan kebenarannya sama Silvi. Aku akan kasih tahu dia kalau kamu adalah ibunya kandungnya dan akulah ayah kandungnya." Bujuk Adi kembali pada istrinya.
__ADS_1
Davina hanya menganggukkan kepala. Meskipum belum bisa menerima dia tetap berusaha untuk bersabar dengan keadaannya saat ini.