Menikah Dini

Menikah Dini
Sang Penggoda


__ADS_3

Farel baru saja selesai merapikan dirinya. Johan yang melihat anaknya baru saja keluar dari kamarnya, dia segera menghampiri anaknya.


"Farel, sini bentar."


Iya pa. Ada apa?"


"Hari ini kamu ikut sama papa ke kantor."


"Mau ngapain aku ikut sama papa?"


"Mulai sekarang kamu kerja di perusahaan Leonardo. Papa bakal minta om Adi buat masukin kamu ke perusahaan."


"Tapi pa... aku punya impian sendiri, aku mau kerja sesuai dengan keinginan aku pa."


"Pokoknya kamu harus ikut. Jangan membantah,"


Farel hanya terdiam melihat papanya yang begitu ngotot memaksanya tetap bekerja di perusahaan keluarga, dengan berat hati Farel mengikuti kemauan papanya.


Sebenarnya tanpa di rekomendasikan oleh Johan, Farel pasti akan diterima di perusahaan manapun. Mengingat Farel adalah lulusan terbaik dengan IPK Cumlaudenya.


Hanya saja Johan terlalu berambisi untuk mengendalikan perusahaan keluarga dengan cara apapupun termasuk melalui Farel anaknya.


Sikap Johan ini yang selalu memaksakan keinginannya itu membuat Farel selalu berontak tapi untuk kali ini dia mencoba mengikuti kemauan sang papa.


Sesampainya di kantor. Johan mengajak Farel menemuin Adi Leonardo.


Tok.. tok... tok


"Ya silakan masuk," Adi masih sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Mas Adi, bisa kita bicara sebentar?" Johan memasuki ruangan Adi.


Adi menatap ke arah Johan dan Farel sambil membuka kaca matanya.


"Iya, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Gini mas, si Farel udah lulus kuliah dan dia juga dapat nilai cumlaude. Gimana kalau Farel kerja di perusahaan ini?" tanya Johan sambil duduk menghadap ke arah Adi.


Adi sedikit terkejut mendengarnya, tapi Adi tetap merasa senang karena walau bagaimanapun juga Farel itu keponakannya. Meskipun sedikit tengil dan pernah menyakiti Silvi, tidak ada salahnya juga untuk memberi kesempatan padanya untuk bekerja di perusahaan itu.


"Benarkah?. Sini coba saya lihat surat lamaran kamu," pinta Adi.


"Iya. Ini om," Farel memberikan surat lamaran beserta dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan apda Adi.


Adi mematut isi surat lamaran dan dokumen pendukung yang diberikan Farel. Adi terlihat kagum dengan prestasi yang dimiliki Farel. Tanpa banyak basa basi Adi langsung  memberikan jawaban.


"Setelah mempertimbangkan semua, saya rasa ada baiknya jika kamu bekerja disini. Perusahaan ini butuh super visor, bagaimana kalau kamu memegang jabatan itu?"  Adi menunjukkan wajah seriusnya pada Farel.


"Apa? Super visor? Mas Adi yang benar saja. Anak saya itu pendidikannya tinggi dan nilainya juga tertinggi. Masa mas Adi cuma kasih jabatan super visor buat Farel?"


Sela Johan, tidak terima anaknya diangkat sebagai super visor.


"Tapikan memang cuma itu jabatan yang kosong, karena pegawai sebelumnya udah pensiun," helas Adi.


"Ah mas Adi, jangan pilih kasih gitu. Saya udah bersedia jadi wakil direktur, masa mas Adi ga bisa kasih jabatan yang lebih bagus buat anak saya," Johan memberikan pandangan kurang menyenangkan pada Adi.

__ADS_1


"Maksud kamu gimana Johan?"


"Mas kasihlah dia jabatan menejer gitu. Masa sama keluarga sendiri ga ada toleransinya," sulut Johan memancing emosi Adi.


Farel yang melihat kelakuan sang papa, merasa tidak enak. Ditambah lagi Adi mulai risih dengan sikap Johan yang sok berkuasa. Farel langsung saja menerima jabatan itu.


"Om Adi, saya ga apa-apa kok kalau mesti kerja dibagian super visor. Buat saya itu udah lebih dari cukup."


"Farel! Kamu itu, papa mau buat kamu menempati posisi yang semestinya. Bukan jabatan rendahan kayak gitu," ujar Johan dengan melirik tajam pada anaknya.


"Udah pa,cukup. Aku ga mau berdebat lagi. Om Adi udah kasih kesempatan buat aku supaya bisa bekerja disini. Jadi ga perlu banyak milihlah pa," tegas Farel pada papanya.


Johan berdecih sambil mengalihkan pandangannya. Dia sedikit kesal karena Farel menerima pekerjaannya itu, tapi walau bagaimanapun juga, Johan harus bisa terima. Dia tidak mungkin memaksa.


"Baiklah, kalau begitu. Selamat bergabung di perusahaan kami." Tukas Adi sambil mengulurkan tangan dan tersenyum pada Farel.


Farel segera menyambut tangan pamannya itu dan mengucapkan terimakasih.


***


Hari ini adalah hari pertama Vico bekerja diperusahaan Hadinata setelah liburan tahun baru. Vico sangat bersemangat untuk memulai pekerjaannya. Dia bersama timnya melakukan pekerjaan mereka dengan sangat rapi.


Saat mengecek pekerjaan timnya, seseorang menghampiri Vico.


"Mas ini mobil saya bisa bantu dicek?" seorang wanita meminta bantuan pada Vico.


"Kenapa mobilnya mbak?" Vico memperhatikan mobil wanita itu.


"Ini loh mas, mobil saya suaranya ga enak banget didengar saat menginjak gas udah gitu suka ngadat tiba-tiba," keluh wanita itu.


Dia tidak tahu kalau Vico adalah kepala bengkel disitu, dia mengira Vico juga montir seperti yang lainnya. Salah seorang temannya langsung mencoba memberikan bantuan.


"Ga usah mas Adit, biar saya aja. Lagian saya juga udah lama ga jadi montir. Kapan lagi terjun ke lapangan langsung?" ujar Vico sambil tersenyum dan menaikkan lengan kemejanya. Lalu membantu wanita itu memperbaiki mobilnya.


Adit tersenyum menganggukkan kepala. Sebagai bawahan dia hanya bisa membantu atasannya tapi jika atasannya ingin melakukan pekerjaannya sendiri, diapun tidak bisa memaksa.


"Coba saya cek dulu ya mbak."


Vico langsung membuka cup mobil dan mengecek kondisi mesin mobil dengan peralatan yang ada ditangannya. Wanita itu memperhatikan dengan saksama cara kerja Vico.


Sedikit banyaknya wanita itu mengaguminya. Bagaimana tidak? Vico masih muda, tampan dan juga menarik. Saat seorang pria memperbaiki mobil, terlihat sisi maskulinnya yang terpancar dari dalam dirinya. Begitu juga dengan Vico. Dirinya terlihat sangat menly ketika melakukan pekerjaan itu dengan serius.


"Ini sich namanya mesin ngelitik mbak," jelas Vico pada wanita itu.


Wanita itu mengerutkan dahinya merasa tidak mengerti dengan ucapan Vico.


Vico cukup tanggap dengan ketidak mengertian wanita itu. Diapun menjelaskannya secara detail.


"Mesin ngelitik itu terjadinya knocking yang menimbulkan suara ketukan pada saat mesin berputar pada kondisi tertentu. Kayak gini mbak. Pas mesin dihidupkan seperti ini kedengaran dengan jelaskan seperti ada sesuatu didalam bagian mobil yang bunyinya mengganggu. Itu disebut mesin ngelitik mbak."


Wanita itu terkekeh mendengarkan penjelasan Vico. Lucu saja dengan istilah mesin ngelitik.


"Ternyata bukan manusia saja yang mengelitik tapi mesin juga bisa." Gumamnya sembari tersenyum kecil.


"Oh begitu mas. Kira-kira bisa diperbaiki secepatnya ga mas?" Pinta wanita itu padanya.

__ADS_1


"Ya kalau ini butuh waktu lama mbak. Emangnya mbak buru-buru ya?" Tanya Vico memperhatikan wanita itu.


"Iya ni mas. Saya buru-buru, mana jadwal deadline saya tinggal setengah jam lagi. Mobil belum bisa saya pake . Aduh gimana ini ya?"  Keluh wanita itu.


Dia terlihat panik karena takut pekerjaannya bisa tertunda karena terlambat.


Ķĺ


"Hm, begini saja mbak. Kalau mbak ga keberatan saya antar pakai motor saya aja gimana?"


Tanpa berpikir lama, wanita itu langsung menyetujuinya.


"Hm... boleh mas, tapi ga merepitkan ni mas?" tanya wanita itu sambil menautkan bibirnya.


"Ga kok mbak. Tadi mbak bilang buru-buru jadi saya cuma menawarkan saja kalau mbak ga keberatan," tukas Vico.


"Iya udah mas. Anterin saya ya," pinta wanita itu.


Vico memanggil salah satu montir dibengkel itu.


"Adit kamu bantu benerin mobil mbak ini dulu. Saya mau anterin mbak ini bentar."


"Iya mas." Lelaki bernama Adit itu segera mengambil alih pekerjaan Vico.


Vico segera mengantarkan wanita itu dengan motornya, benar-benar tidak disangka, mimpi apa wanita itu bisa diantar cowo ganteng dan imut kayak Vico?


Dia merasa sangat senang bisa berdekatan dengan Vico, bahkan diperjalanan dia sengaja mengeratkan pelukannya ke tubuh Vico yang sedang mengendarai motor. Membuat Vico sedikit risih tapi mau bagaimana lagi dia harus mengantarkan wanita itu.


"Mbak ini kantornya dimana?"


"Eh iya mas, sampai lupa saya. Itu udah dekat kok. Lurus ke depan terus berenti di sebelah kanan." Jelas wanita itu pada Vico.


Vico segera melajukan motornya supaya cepat sampai ke kantor wanita itu, agar bisa melepaskan diri dari wanita ini.


Akhirnya mereka sampai di kantor wanita itu.


"Mbak udah nyampe ni," tukas  Vico padanya.


"Eh, iya mas. Makasih ya."


Wanita itu turun dari motor Vico sambil melontarkan senyum genit pada Vico.


Vico tak menghiraukannya, cuma mengambil helm yang dipakai wanita itu, kemudian menyalakan motornya.


Tiba-tiba wanita itu membalikkan tubuhnya.


"Eh mas. Tunggu dulu, dari tadi aku belum tahu nama mas siapa?" sorak wanita itu pada Vico.


"Nama saya Vico," ujar Vico.


"Iya mas Vico. Aku Andin," Wanita itu mengulurkan tangannya.


Vico hanya tersenyum dan berpamitan padanya.


"Iya mbak. Saya mesti kembali ke kantor mau ngecek pekerjaan anak-anak bengkel dulu."

__ADS_1


"Ok mas. Makasih ya udah kasih tumpangan untuk saya," ujar wanita itu dengan gaya sedikit centil.


Vico hanya menganggukkan kepala dan berlau dari hadapan wanita itu. Malas sekali dia menanggapi wanita itu. Wanita itu benar-benar membuatnya risih.


__ADS_2