Menikah Dini

Menikah Dini
Bujuk Rayu Farel


__ADS_3

Siang itu sebuah mobil sport tiba-tiba melesat menuju parkiran sekolah. Seorang lelaki bertubuh setinggi 180 cm mengenakan jeans hitam dan kaos putih dengan jaket jeans hitam, hidung mancung, penampilan klinis dan kacamata hitam turun dari mobil.


Cewe mana yang tidak akan bergetar melihat ketampanannya. Pasti semua cewe disekolahan waktu itu merembeskan saliva dari bibir mereka melihatnya ditambah lagi laki-laki itu menebarkan senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya. Argh bikin meleleh. Siapa dia? Tanya para ladies dalam hati memperhatikannya.


Lelaki tampan itu menuju ke arah seorang gadis yang baru saja keluar dari kelas. Lalu merangkulnya "hai sayang" Lyora terperanjat dengan tangan yang baru saja merangkul bahunya dan menoleh ke arah suara itu " Fa- Farel??" ucap Lyora. Seakan tubuhnya menjadi kaku melihat penampilan Farel yang rupawan di depan matanya. "Iya aku sayang," jawab Farel sambil membuka kaca matanya. Winda,Cellyn dan Alina yang berada didekat Lyora terpesona menatap Farel "aaaa kak Farel ganteng banget," ucap mereka menggoda bersamaan. Farel hanya tersenyum sambil membusungkan dadanya dengan gaya tengilnya.


"Gue ga salah lihatkan?" Lyora mengusap matanya masih belum percaya itu Farel. "Iya ini aku sayang, cantikku, belahan jiwaku," rayu Farel sambil mencubit gemas pipi Lyora. Gila keren juga si Farel gumam Lyora dalam hatinya. Tapi masih gantengan Vico dong tepis pikirannya kembali teringat pada Vico pujaan hatinya.


"Ayo sayang kita berangkat," ajak Farel sambil menggandeng tangan Lyora. Tanpa berkata apapun Lyora hanya mengikuti Farel.


"Ikuuuttt," sorak para bestie Lyora yang tertinggal di belakang.


"Ssst anak kecil belajar aja yang benar sana," ejek Farel pada mereka sambil menebar pesona. Seketika para remaja itu memanyunkan bibirnya. Farel dan Lyora bergegas meninggalkan mereka sebelum rengekan mereka menjadi-jadi.


***


Farel membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya dan mempersilakan masuk, Lyora tersenyum dan duduk di mobil sport diiringi Farel yang duduk disisinya. Farel memasangkan sabuk pengaman pada Lyora kemudian dia memasangkan sabuknya sendiri dan menyalakan mobilnya.


Dalam perjalanan Lyora melihat Vico membonceng Silvi "apa-apaan mereka?" teriak Lyora.


"Mereka? Siapa? tanya Farel kaget. Lyora hanya diam menggeram sambil meruncingkan bibirnya.


Farel melihat ke kaca spion dan tersenyum miring. Sepertinya dia paham pacarnya lagi cemburu karena gebetannya lagi sama sepupunya Silvi.


"Ga usah dipikirin yank, aku bisa bikin kamu bahagia kok," Farel mengusap rambut Lyora lembut dengan tatapan yang intens pada Lyora.


Lyora menaikkan alisnya sebelah dan menatap Farel dengan pandangan tidak mengerti dengan apa maksud Farel berbicara seperti itu padanya.


***


"Kamu suka ga naik motor?"


Vico membuka pembicaraan sambil mengendarai motornya bersama Silvi diboncengannya.


"Senang dong," jawab Silvi bahagia.


"Apa yang buat kamu senang?"


"Aku bisa liat pemandangan dan merasakan semilir angin. Jarang-jarang aku bisa merasakan selepas ini. Selama ini aku cuma diantar pak Suryo aku ga bisa lihat pemandangan seindah ini," jelas Silvi.


"Sebentar lagi kamu bakalan senang Sil, aku mau bawa kamu kesuatu tempat yang indah."


"Oh ya? Memangnya kamu mau bawa aku kemana?" Silvi menjadi antusias dengan ajakan Vico.


"Tenang bentar lagi kamu bakalan tahu, tapi pegangan yang erat ya," Vico yang melajukan motornya dengan santai tiba-tiba meninggikan kecepatan motornya.


"Vico!!! Pelan-pelan!!!" teriak Silvi sambil memeluknya erat. Vico hanya tersenyum sambil meliuk-liukkan motornya dengan kecepatan tinggi.


" Vico kalau kita jatuh bagaimana?" Silvi mulai panik.

__ADS_1


"Ga bakalan jatuh, kalau kamu sama aku," Vico meyakinkan Silvi.


"Kamu yakin banget," ucap Silvi masih tetap berpegangan erat ke pinggang Vico. "Iya, karena aku sayang sama kamu, jadi aku ga bakalan biarin kamu jatuh apalagi sampai terluka," Vico mengungkapkan perasaannya.


Silvi hanya menunduk malu mendengarkan pernyataan Vico menyembunyikan wajahnya dibahu Vico. Vico yang memperhatikan tingkah Silvi tersenyum bahagia.


***


Di seberang sana ada Riana yang sedang menuju ke perpustakaan umum. Ya dimana lagi tempat Riana menenangkan diri dan mengasingkan dirinya dari keramaian kalau bukan perpustakaan?. Riana mencari buku tentang manajemen, walaupun dia belum kuliah tapi bercita-cita untuk memimpin perusahaan suatu hari nanti. Makanya dia sangat tertarik dengan mata pelajaran Ekonomi.


Ketika mendapatkan buku yang dia inginkan, seseorang juga mengambil buku yang sama. Mereka saling terperanjat dan menatap "eh, kamu mau baca buku ini juga?" tanya lelaki dengan postur tinggi kulit putih yang umurnya sekitar dua puluh tahunan dan terlihat kalem itu padanya.


"Kalau kakak mau baca, ambil saja" Riana mengalah.


"Hm aku memang butuh buku ini, karena aku mau mengerjakan tugas kuliah," jawab lelaki itu sambil memegang buku itu.


"Baiklah ambil saja kak," Riana mempersilakan. Lelaki itu segera mengambil buku itu dan menuju ke arah meja kosong di sekitar perpustakaan, baru saja mau melangkah dia membalikkan tubuhnya.


"Btw, nama kamu siapa?" sapa lelaki itu. "Riana, namaku Riana?" jawab Riana mendongakkan kepalanya.


"Aku Hans Hadinata. Panggil saja Hans" lelaki itu mengulurkan tangannya. Riana menyambut tangan lelaki itu dan tersenyum.


Singkat cerita mereka duduk bersama disatu meja dan saling berkenalan. "Eh iya Riana. Kamu kuliah semester berapa dan dimana?" selidik Hans padanya.


"Aku masih SMA kak," jawab Riana malu-malu.


"Aku pikir kamu kuliah karena mencari buku ini," tunjuknya sambil menggenggam buku manajemen.


"Aku hari ini banyak tugas kuliah dan harus dikumpulkan besok," keluh Hans padanya.


" Apa aku boleh membantu kakak?" Riana menawarkan bantuan.


"Apa kamu bisa?" Hans meragukannya. Hans belum tahu saja Riana itu anak jenius dan juara umum. Semua mata pelajaran sangat dikuasainya apalagi cuma ilmu manajemen.


Riana menganggukkan kepala. Hans mengeluarkan buku tugasnya kemudian membahas tugasnya dengan Riana. Waw... diluar dugaannya ternyata Riana memang jenius dan kemampuannya diatas rara-rata. Hans berdecak kagum melihat kemahiran Riana saat menjelaskan tentang mata kuliah yang sangat membosankan itu bagi Hans.  Pintar juga ni bocil, boleh dong kapan-kapan ketemu lagi sama dia buat ngerjain tugas-tugas gue gumam Hans dalam hati.


***


"Sayang sebenarnya kamu mau mengajakku kemana? Karena sudah satu jam kita hanya berputar-putar dengan mobil ini," keluh Farel pada pacarnya. Lyora baru sadar dari tadi mereka hanya jalan-jalan tanpa arah tujuan, karena sebenarnya dirinya tidak fokus melihat dan membayangkan Vico yang bersama Silvi.


Lyora menggelengkan kepalanya " hmm terserah kamu aja. Aku cuma mau hari ini happy-happy," jawab Lyora sembarangan. "Apa? Happy-happy?" senyum nakal Farel merekah dan terbesit pikiran kotor diotaknya.


"Kalau begini artinya dia ngasih kode ke gue dong," gumamnya sambil senyum licik.


Lyora memandangi Farel dengan sudut mata menajam. Apa yang dipikirkan si omes (otak m*s*m) ini??? "Sayang kita ke club aja gimana?" ajak Farel.


"Boleh,tapi antarkan aku ke rumah dulu. Aku ga mah pergi ke club dengan seragam sekolah ini."


"Baik tuan putri, apapun demi kamu akan kulakukan," goda Farel apda Lyora.

__ADS_1


Tidak sampai lima belas menit mereka sampai ke rumah Lyora dan Lyora segera bersiap-siap mengganti pakaiannya. Tidak lama kemudian menghampiri Farel yang menunggunya di teras.


"Yuk berangkat," ajak Lyora.


Farel benar-benar terpesona melihat Lyora mengenakan baju u can see yang memperlihatkan bahu putih dan sedikit belahan yang menonjol dengan rok selututnya. Memamerkan kaki jenjañgnya. Farel menelan salivanya sambil mengangguk dan mengajak Lyora ke mobilnya.


"Sayang hari ini kamu cantik banget,"godanya pada Lyora.


"Cantikan mana sama Silvi?" Lyora balik menggoda.


"Jelas kamulah kamu seksi dan menarik," goda Farel sambil mengeringkan matanya. Lyora senang pujian Farel karena memang pengakuan itulah yang sangat dia inginkan dari setiap lelaki yang memandangnya.


"Sudah sampai," Farel langsung mengajaknya keluar mobil menuju club. Jam menunjukkan pukul 18.00 artinya sebentar lagi akan malam dan pengunjung akan semakin ramai. Saat sedang duduk menikmati makanan dan minumannya "sayang aku bete banget sama Vico. Makin hari makin dekat aja sama sepupumu itu," keluh Lyora.


"Biarin aja yank, kan kamu ada aku sekarang," Farel mencoba menenangkan sambil merangkulnya.


Sebenarnya ucapan yang keluar dari mulut Lyora itu cukup membuat panas dadanya. Rasanya sesak sekali saat seorang yang dicintainya malah memikirkan orang lain.


"Tapi aku ga suka sayang. Aku mau mereka ga pernah bersama," rengek Lyora.


"Kamu masih suka sama Vico?" selidik Farel pada Lyora yang sedang meminum wine.


"Bukan begitu. Aku cuma ga suka Silvi selalu merebut milikku," Lyora mulai jujur karena pengaruh alkohol.


"Terus kamu mau aku lakukan apa?" tanya Farel sambil memeluk Lyora yang mulai tidak karuan karena minuman itu.


Maniknya memandangi Lyora yang mulai tidak sadarkan diri.


"Aku mau Silvi menjauh dari Vico dan buat mereka berdua saling membenci," ucap Lyora mencoba membuka mata memandangi Farel yang sedari tadi bertanya sambil mengusap-usap lengnanya.


"Okay sayang, kita bisa bicarakan itu nanti saja. Sekarang kita bersenang-sennag dulu," ucap Farel sambil mengusap pipi Lyora yang memerah akibat mabuk.


Farel sengaja mengajak Lyora ke Club dan memberikannya wine karena memang telah merencanakan sesuatu pada Lyora. Dalam keadaannya yang tidak sadar itu Farel segera membawanya ke mobil. Lyora masi menceracau tak jelas karena minuman tadi. Tanpa pikir panjang Farel langsung tancap gas dan membawa tubuh Lyora yang tak berdaya ke hotel.


Di dalam kamar hotel, Farel langsung menggendong tubuh Lyora yang lemas akibat mabuk ala bridal style ke atas ranjang tanpa basa basi langsung mendaratkan bibirbya pada bibir tipis Lyora. Lyora sempat menepis wajah Farel dengan tangannya tapi Farel mendekap hingga membuat gadis itu tak sanggup menolaknya dan mengusap pipinya dengan lembut membuat Lyora merasakan sentuhan itu membuatnya nyaman. Farel mendaratkan bibirnya lagi pada bibir Lyora, menumpahkan segala hasrat dihatinya pada wanita yang dicintainya. Tanpa perlawanan Lyora membalasnya kemudian menghentikan aktifitas itu sesaat untuk menghirup oksigen. Farel tidak bisa membendung perasaannya yang benar-benar membara.


"Aaah" Lyora mendesah keras. Membuat Farel tersenyum smirk merasa menang.


"Sialan kamu Farel, mau apa kamu?" Lyora mencoba menolak kegilaan Farel yang tidak terkendali.


"Tenang sayang kita happy-happy " ucap Farel sambil tetap menggerayangi Lyora.


"Jangan kurang ajar Farel," rintih Lyora sambil tetap meronta, tapi karena Farel lebih kuat darinya Lyora tidak mampu menyingkirkan tubuh Farel darinya.


Farel mulai tidak sabaran untuk melakukan lebih lagi pada gadis itu. Mata Farel terbelalak menyaksikan pemandangan di depan matanya.


Tanpa ragu Farel yang sudah tidak mampu mengendalikan dirinya karena telah diliputi oleh api yang membara langsung menyalurkan hasratnya pada Lyora. Susah,karena masih sempit , tapi Farel suka.


Ada kenikmatan tersendiri jika ia melakukannya dengan wanita yang belum tersentuh ditambah masih belia pula lagi. Farel semakin menggila karena hasratnya, Lyora berteriak kesakitan dan benar saja, ada bercak darah diranjang itu.

__ADS_1


Habislah Lyora, malam itu juga hilang kesucian yang dijaganya selama ini. Farel sangat puas dan sampai pada puncaknya. Tubuhnya rubuh disisi Lyora sambil memeluk Lyora dan menempelkan bibirnya pada pipi Lyora, kemudian tertidur hingga pagi menyapa mereka


__ADS_2