Menikah Dini

Menikah Dini
Putri Kembar yang Terpisah


__ADS_3

Sesampainya di labor, Dokter langsung melakukan tes kesehatan terhadap Adi untuk mengecek kecocokan darah Adi dan Silvi.


Secara tak terduga diagnosa dokter cukup mencengangkan.


"Maaf pak Adi, darah anda berbeda dengan darah anak anda. Disini darah anda A positf sedangkan Silvi memiliki golongan darah O negatif. Golongan darah anda tidak cocok untuk putri anda."


"Apa? Bagaimana bisa seperti itu dok? Pasti ada kesalahan,"


"Saya sudah melakukan diagnosa dan ini hasilnya akurat pak Adi."


Adi sangat sedih mendengarkan ucapan dokter itu. Bagaimana mungkin putri satu-satunya yang dia besarkan dari mulai bayi merah sampai saat ini tidak memiliki darah yang sama dengannya?


"Apa mungkin Marinka berselingkuh? Tidak mungkin. Selama ini dia adalah istri yang setia. Tidak mungkin dia bermain dibelakangku." Gumam lelaki itu dalam hatinya.


Adi berjalan gontai ke arah keluarganya yang menanti dirinya.


"Pa, gimana udah jadi donor darah?" tanya Marinka menghampiri Adi.


"Darahku ga cocok sama Silvi. Golongan darahku A positif. sedangkan silvi darahnya B positif."


Marinka menelan salivanya saat mendengar ucapan Adi. Dia benar-benar kaget dan tidak sanggup berkata apa-apa.


"Darah mama juga bukan A positifkan?" Adi meminta kepastian pada Marinka.


"Darahku B pa." Jawab Marinka singkat.


"Apa? Bagaimana mungkin darah mama dan papa tidak ada yang cocok sama darah dengan Silvi?" Tanya Vico heran.


"Hal itu juga yang ingin aku pertanyakan padamu Marinka?" Cecar Adi pada istrinya.


Marinka menatap wajah Adi yang terlihat curiga padanya.


"Jangan menatapku seperti itu pa. Silvi putri kita."


"Kalau Silvi putri kita kenapa darahnya tidak sama dengan darahku, ataupun dirimu?"


"Maafkan aku pa, aku takut kalau papa mengetahui semua ini, papa akan membenciku," lirih Marinka pada suaminya.


"Apa maksudmu?" Adi semakin merasakan ada keganjilan pada istrinya.


"Silvi memang bukan anak kita, tapi dia anaknya Davina dan Hermawan."

__ADS_1


Seketika Marinka menangis tersedu-sedu.


"Apa maksudmu?" Adi menatap istrinya sambil memegangi kedua lengan wanita itu.


"Iya, aku kehilangan anakku saat melahirkan. Bayiku meninggal, sedangkan diwaktu bersamaan saat aku melahirkan Hermawan mengantarkan Davina yang akan melahirkan. Sèwaktu aku mengetahui mereka memiliki anak kembar aku meminta salah satu dari putri mereka supaya kamu ga kecewa karena kehilangan putrimu."


Jelas Marinka dengan berderaian air mata.


Seketika tubuh Adi merosot mendengar penjelasan dari istrinya. Dia tidak pernah menduga Silvi putri kesayangannya itu adalah anak orang lain.


"Papa?" Vico memegangi tubuh Adi yang melemah.


Adi memegangi dadanya yang terasa sesak. Vico yang memapah tubuh pria paruh baya itu segera mengajak lelaki itu duduk.


"Mama jagain papa sebentar. Biar aku panggilka dokter."


***


Vico menuju ke ruangan dokter, tapi disela-sela dirinya akan menemui dokter. Hermawan, Davina, Riana dan Hans datang menemuinya.


"Vico, kamu mau kemana?"


Vico menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


Mendengar ucapan Vico, Hermawan segera menuju ke tempat dimana sahabatnya itu berada.


Keluarga yang baru saja merayakan pernikahan anaknya itu, menghampiri Marinka yang bersama Adi.


"Marinka, Adi kenapa?"


Tanyanya melihat Adi yang kesulitan bernafas. Bersamaan dengan kedatangan mereka, Vico telah datang bersama dokter, dengan cekatan dokter membawa Adi ke ruangan pemeriksaan kemudian memeriksa keadaan Adi.


"Pak Adi hanya mengalami shock, tapi saya sudah memberikan suntikan penenang. Setelah suntikan itu bereaksi pak Adi akan segera tidur. Mohon pada pihak keluarga jangan membuat pak Adi banyak pikiran dulu ya." Tukas dokter sambil keluar dari ruangan.


Sementara Hermawan sedang berbicara dengan Marinka, dan dirinya baru mengetahui bahwa Silvi mengalami pendarahan.


"Baiklah, saya akan ke dokter dulu, untuk mendonorkan darah pada Silvi." Tukasnya pada Marinka.


Ratna yang baru keluar dari ruangan periksa Adi, merasa heran dengan pertemuan Marinka dan Hermawan.


Marinka dan Hermawan menjadi gugup. Mereka takut kalau Ratna telah mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Silvi kenapa pa?" Tanya wanita itu lirih.


"Silvi butuh transfusi darah ma, tapi darah Marinka dan Adi ga cocok. Papa mau mengecek darah papa, mungkin cocok." Ujar Hermawan.


Vico yang baru saja keluar dari ruangan Adi melihat pada Marinka  dan Hermawan. Untung saja Riana dan Hans belum melihat kejadian tadi. Jika mereka mengetahuinya pasti mereka akan shock.


***


Setelah dari ruang laboratorium akhirnya mereka mendapatkan titik terang untuk kesembuhan Silvi.


Darah Hermawan cocok untuk Silvi, karena memang benar Hermawan adalah ayah kandung Silvi.


Hermawan kini berada diruangan perawatan bersama Silvi. Ternyata takdir mempertemukan mereka kembali. Hermawan menatap wajah putri kembarnya itu dengan saksama. Benar, Silvi dan Riana ada kembar fraternal. Mereka lahir dalam waktu yang sama dan memiliki gen yang sama namun wajah mereka tidak mirip.


Riana dan Shinta yang sedang menunggu, benar-benar bingung mengapa bisa darah Hermawan cocok untuk Silvi?


"Tante, apa yang terjadi?"  Riana benar-benar bingung dengan keadaan Silvi.


"Maafkan tante, tante memang egois. Tante udah ambil saudara kamu dari kehidupan kamu." Sesal Marinka dengan isak tangis yang tak tertahankan.


"Apa maksud tante?"


Riana dan Ratna merasa bingung dengan ucapan Marinka.


"Iya, Riana, Silvi adalah saudara kembar kamu. Dulu waktu mama kamu melahirkan kamu dan Silvi, dalam waktu yang bersamaan tante juga melahirkan. Tapi anak tante meninggal setelah dilahirkan. Tante ga mau om Adi sedih atas kematian putrinya. Makanya tante meminta pada papa kamu untuk memberikan salah satu putrinya pada tante." Jelas Marinka pada Riana.


"Apa? Jadi benar kecurigaanku selama ini?" Sela Ratna yang mendengarkan pembicaraan Riana dan Marinka.


"Mama ga tau kalau mama punya putri kembar?" Riana menatap mata Ratna intens.


"Mama ga pernah tahu. Selama ini papa kamu merahasiakannya dari mama, tapi mama selalu merasakan ada kedekatan batin pada Silvi. Selama ini mama selalu bilang pada kalian tapi kalian menepis ucapan mama."  Ucap Davina merasa kecewa.


"Maafkan saya Vina. Saya memang egois tapi saya ga bermaksud memisahkan kamu dan anakmu. Saya cuma ingin memiliki seorang putri." Jelas Marinka tak mampu menatap mata Davina.


Shinta bisa memahami perasaan Marinka, sebagai seorang ibu di sangat mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang anak, tapj yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah apa mungkin Silvi menerima kenyataan jika nanti dia mengetahui bahwa Adi dan Marinka bukan orang tua kandungnya?


Apa Silvi bisa menerima dirinya dan Hermawan sebagai orang tua kandungnya?


Shinta terpaku, semua kata-kata yang ingin diucapkannya tiba-tiba hilang begitu saja, yang dia rasakan saat ini hanyalah badannya terasa lemah san tak berdaya mengetahui kebenaran tentang putrinya.


Shinta hampir saja pingsan namun Hans dan Riana segera mengajaknya duduk supaya lebih tenang.

__ADS_1


Sementara Marinka benar-benar bingung. Dia takut jika Silvi mengetahui kebenaran ini. Silvi akan memilih hidup bersama orang tua kandungnya. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam ingatannya dia akan kehilangan putri yang begitu dicintainya itu. Rasanya berat jika hal itu benar-benar terjadi.


Vico dan Sinta yang melihat dua keluarga itu hanya bisa mematung. Mereka saling menyatu memperhatikan satu sama lain, merasa iba dengan keadaan keluarga itu. Disatu sisi ada rasa bahagia karena kebenaran telah terungkap. Namun disisi lain, ini pasti akan menyakitkan bagi Silvi ataupun Marinka dan Adi, yang bisa dilakukannya saat ini adalah memasrahkan diri pada Tuhan. Berharap semua akan baik-baik saja.


__ADS_2