
Perlahan pintu ruang IGD dibuka, Vico dan Riana masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Silvi sudah membuka matanya tapi mata itu terlihat sendu seakan menahan sesuatu didalamnya.
Vico mencoba mendekatinya, wanita itu terlihat tidak suka dan membuang mukanya tak ingin bicara pada lelaki yang menghampirinya.
"Silvi, aku minta maaf. Aku sudah berbuat kesalahan besar untuk kehidupan kamu," Vico menatap dalam wajah wanita itu, dengan mengumpulkan segenap keberanian dia mencoba membujuk gadis itu.
"Udah kamu ga perlu mikirin aku. Aku baik-baik aja,"
Dia masih memalingkan wajahnya tak ingin menatap lelaki yang tengah merasa bersalah padanya..
"Silvi,aku akan bertanggung jawab untuk semua ini," Vico mendekatinya sambil menggenggam pelan tangan Silvi.
"Aku ga butuh itu. Aku masih mau melanjutkan sekolah dan masih mau mewujudkan mimpiku. Kamu ga perlu mempertanggung jawabkan apapun padaku," Dia menatap tajam pada lelaki itu berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Vico mengeratkan genggaman tangannya. "Aku tahu, kamu punya impian besar dalam hidup kamu, tapi setidaknya ijinkan aku mempertanggung jawabkan perbuatanku," suaranya sedikit tercekat.
"Aku ga mau hamil. Aku belum siap," tangisnya pecah. Buliran air mata itu membasahi pipinya.
"Tapi semuanya udah terjadi. Kita harus menjalaninya. Kita harus menikah secepatnya,"
"Aku belum bisa kasih jawaban sama kamu, yang pasti sekarang ini aku ga mau mama dan papa tahu tentang kehamilanku," pinta Silvi.
Vico dan Riana mengangguk, memahami ucapan Silvi.
Sebenarnya mereka juga belum berani mengatakan tentang kehamilan Silvi. Takut kalau orang tua Silvi akan marah besar. Mereka masih mengingat bagaimana Adi yang begitu terluka saat mengetahui putrinya dijebak oleh saudaranya sendiri. Tatapan dan kemarahannya penuh kebencian, apalagi sampai dia tahu tentang kehamilan Silvi. Habislah Vico olehnya.
***
"Rey, sebenarnya lo mau ngapain ajakin gue ke club?"
tanya Victory yang berada disamping Reynold yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Udah tenang aja, lo ga usah khawatir gue ga bakal macam-macam kok. Gue cuma mau ketemu Rain aja. Kemarin dia ngundang gue buat peresmian club barunya,"
"Oh gitu, tapi lo mesti janji sama gue ga bakal aneh-aneh. Ga bawa-bawa cewe, gue males banget berurusan sama cewe,"
"Kenapa, lo takut kalau kebiasaan lama gue bakal kambuh gitu?"
"Hm,"
"Tenang Vic, gue lagi ga bakalan begitu. Gue cuma mau ketemuan sama Rain aja".
" Bentar Rey, itu kayaknya si Ayesha dech," tunjuk Vico keluar jendela mobil melihat seorang wanita yang sedang berdiri di halte.
"Mana?" ujar Reynold.
"Itu," tunjuknya sambil mengarahkan badan Reynold ke samping kiri.
"Eh iya. Ngapain dia disitu?"
"Entahlah, ayo kita samperin aja,"
__ADS_1
Reynold menepikan mobilnya kemudian memberhentikannya didepan Ayesha. Merekapun turun dari mobil itu.
"Ayesha," sapa Victory
Wanita itu menoleh ke arah suara yang menyapanya
"Pak Victory, pak Reynold"
"Sedang apa kamu malam-malam disini?"
"Saya lagi nunggu bis pak. Mobil saya mogok dan lagi diperbaiki dibengkel jadinya saya harus naik bis,"
"Kamu mau kemana? Barengan sama kita aja," ajak Reynold.
"Ga usah pak. Nanti merepotkan," tolaknya secara halus.
"Kamu mau ke rumah sakitkan? Ayo kami antarkan," timpal Victory.
"Tapi pak..."
"Tidak baik wanita seorang diri malam-malam di jalanan sepi seperti ini. Ayo ikutlah, kami akan mengantarkanmu," Reynold mengajaknya kembali.
Merasa segan untuk menolak kedua kali, Ayesha ikut naik ke mobil itu. Mobil itu melaju dalam keheningan malam menuju rumah sakit.
Diperjalanan Reynold sempat menanyakan mengapa Ayesha malam-malam ke rumah sakit. Ayesha menjelaskan tentang kondisi ibunya.
Dirumah Sakit dokter Arfan baru saja mengecek kondisi Indri, "bagaimana keadaan ibu saya dok?" Ayesha mendekat kepada ibunya yang sedang terbaring di brankar rumah sakit.
"Sampai saat ini, kondisinya sudah mulai membaik, hanya tinggal menunggu luka dan bekas jahitan dari operasinya membaik".
"Setidaknya untuk masa pemulihan. Mama kamu harus tetap dirawat dulu,"
Ayesha mulai cemas. Bukannya dia tidak ingin memberikan yang terbaik demi kesehatan ibunya, tapi jujur saja saat ini dia tidak punya cukup uang untuk biaya penginapan dan pengobatan ibunya selama di rumah sakit.
Matanya mulai menyendu. Terlihat kesedihan diraut wajahnya. Victory yang memperhatikannya paham dengan keadaan Ayesha. Diapun segera menemui Arfan.
"Dokter, boleh saya bicara sebentar?" Victory mengajak Arfan sedikit menjauh dari ruang perawatan Indri.
"Ada apa pak Victory?"
"Begini, saya cuma mau anda menjelaskan total yang harus dikeluarkan untuk biaya perawatan dan pengobatan nyonya Indri. Biar saya yang menanggungnya, tapi jangan diberi tahu padanya dok," pinta Victory pada dokter muda itu.
Arfan berpikir sejenak, setelah mempertimbangkan dengan baik diapun menyetujui permintaan Victory.
***
Vico mengantarkan Silvi kerumahnya setelah kondisinya mulai membaik. Baru saja masuk ke rumah Silvi terlihat Adi dan Marinka yang telah menunggu kedatangan mereka
"Silvi, mama dan papa mau bicara," ujar Marinka sambil melirik pada mereka.
"Iya ma, ada apa?"
__ADS_1
"Ini apa?" Marinka menperlihatkan alat tes kehamilan pada Silvi.
Silvi terkejut dengan apa yang baru saja ditunjukkan Marinka padanya. Seketika Silvi merasa ketakutan. Ketegangan terlihat di wajah Silvi dan Vico. Hal yang ditakutkan terjadi.
"Jawab Silvi, ini punya siapa?" desak Marinka.
"A... aku ma,"ujarnya terbata sambil menundukkan kepala.
"Jadi kamu hamil?!!!" Adi menatap tajam pada anaknya.
"Maafkan aku pa," Silvi merasa takut Adi takkan mungkin mengampuni kesalahannya.
Raut wajah Adi berubah, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat menampakkan buku-buku dijarinya. Bagaikan petir disiang bolong yang menyambar dirinya, Adi benar-benar tidak sanggup mempercayai apa yang baru saja didengarnya dari mulut Silvi.
Vico yang tidak ingin melihat Silvi dimarahi oleh kedua orang tuanya langsung mengakui perbuatannya. "Maafkan kami om. Ini semua kesalahan saya. Saya akan mempertanggung jawabkan semuanya,"
"Tanggung jawab? Kamu itu masih ingusan. Mau kamu kasih makan apa anak saya?!" nada Adi meremehkannya.
"Saya tahu om, saya belum bisa mencukupi kebutuhan Silvi tapi saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan saya. Saya mohon om, ijinkan saya menikahi Silvi," pintanya sambil berlutut memohon.
Mata Adi tertuju pada Vico. Dia sempat memikirkan ucapan Vico.
"Tidak!!! Tidak ada pernikahan!!! Silvi akan menggugurkan kandungannya. Daripada menikah dengan pemuda seperti kamu!!!" nada tinggi dan ketus dilontarkan Marinka membuat semua orang terperanjat.
"Apa maksud mama berbicara seperti itu? " tanya Adi
"Silvi masih muda, masa depannya ga boleh berhenti hanya karena hamil dan menikah muda," Marinka benar-benar tidak bisa menerima keadaan anaknya.
"Tante saya mohon. Jangan lakukan itu," pinta Vico.
"Aku ga mau anakku menikah dengan orang sepertimu," ucap Marinka dingin padanya.
Silvi hanya terdiam. Bingung tidak tahu harus bagaimana.
"Papa rasa anak itu ada benarnya. Bagaimana kita nikahkan saja mereka?" ucap Adi lirih.
"Tapi pa, anak itu masih sekolah. Papa lihat kan mereka masih sama-sama sekolah," sela Marinka masih teguh pada pendiriannya.
"Papa mengerti ma tapi kalau kita menggugurkan bayi yang ada dikandungan Silvi. Sama saja kita menambah dosa ma," jelas Adi.
Marinka hanya diam tidak menyetujui suaminya.
"Percaya sama papa. Silvi bisa hidup bahagia dengannya," Adi mencoba meyakinkan Marinka.
"Terserah papa lah. Mama ga bisa menyanggah lagi kalau itu yang papa mau," Marinka menghembuskan nafas berat sambil memijat kepalanya yang terasa berat.
Sebenarnya Adi tidak menginginkan pernikahan itu terjadi, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur. Mau tidak mau Silvi dan Vico harus segera dinikahkan.
***
Silvi merenungi nasibnya saat ini, dirinya benar-benar tidak sanggup menghadapi masalah yang mederanya saat ini. Di usia belia seperti ini harusnya dia bisa menikmati masa remajanya, tapi spertinya Tuhan sedang mengujinya dengan kehidupannya yang pelik.
__ADS_1
Silvi hanya bisa menangisi keadaannya. Dirinya juga bingung untuk memutuskan harus bagaimana? Apa dia akan menggugurkan kandungannya seperti yang diinginkan mamanya atau dia akan mengambil keputusan untuk menjadi seorang ibu dalam usia muda?
Tuhan, aku mohon berikan aku petunjukmu untuk menghadapi semua ini. Aku benar-benar tidak sanggup menghadapi semua ini sendirian. Munajatnya dalam hati memohon pada Tuhan.