
Setelah hari kejadian pemukulan pada Vico, akhirnya rekaman cctv di periksa, dari hasil rekaman cctv dapat dibuktikan bahwa para preman itu sengaja datang ke kantor untuk menyerang Vico. Tanpa ragu Vico meminta bukti rekaman CCTV untuk syarat laporan ke polisi. Tak lupa pula menjemput hasil visum ke dokter.
Saat di rumah sakit Vico yang ditemani Silvi mengambil hasil visum di ruangan dokter Fredy.
"Selamat siang dok, saya Vico mau mengambil hasil visum saya kemarin dok," tukas Vico pada dokter yang sedang duduk dikursi kerjanya.
"Oh iya pak Vico. Hasil visumnya baru saja keluar,"dokter itu segera memberikan dokumen yang berisikan hasil visum pada Vico.
Namun, yang menjadi perhatiannya saat ini adalah Silvi. Dokter Fredy baru tahu bahwa Vico adalah suami Silvy. Sebelumnya dia tidak pernah tahu hal itu. Meskipun saat pernikahan mereka dokter Fredy sempat datang tapi dia tidak terlalu ingat dengan wajah Vico.
"Dokter... dokter bukannya yang waktu itu ketemu sama kita di kantin rumah sakit?" Silvi masih mengingat jelas wajah dokter itu begitu juga dengan tatapan misteriusnya.
Dokter Fredy menelan salivanya mendengar ucapan Silvi. Dia tidak menyangka Silvi masih mengingatnya.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Vico sedikit heran.
"Iya. Dokter ini loh yang aku bilang waktu itu ngeliatin kita terus," tegas Silvi kembali.
"Maaf nyonya, mungkin anda salah orang. Di rumah sakit ini ada banyak dokter. Mungkin saja dokter lain yang waktu itu bertemu dengan anda," Dokter itu mengelak untuk mengalihkan pembicaraan.
Silvi hanya mengernyitkan alisnya. Dia sangat yakin orang itu adalah dokter Fredy, tapi dokter itu malah membantah dan mengatakan itu adalah orang lain.
Entahlah, apa tujuan dari orang itu pada saat itu, tapi yajg pasti Silvi sangat yakin dengan ucapannya.
Vico yang merasa aneh dengan Silvi memutuskan tidak terlalu menggubris karena Silvi juga sudah diam. Akhirnya Vico berpamitan dengan dokter Fredy kemudian menuju kantor polisi.
Dikantor polisi, Vico memberikan laporan pada polisi tentang pemukulan yang dilakukan preman padanya. Polisi langsung menerima berkas dan bukti-bukti yang diberikan Vico kemudian membuat berita acara untuk menyelidiki kasus lebih lanjut.
***
Ditempat lain, kondisi Reynold semakin membaik. Sementara Clara tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke Inggris, karena telah terlalu lama di Australia dan dia juga harus menyelesaikan urusannya dengan Maxy.
Pagi-pagi sekali Clara datang ke apartemen Reynold. Seseorang dari dalam apartemen itu segera membukakan pintu.
"Clara? Kenapa pagi-pagi sekali kau datang ke sini?"
Reynold terperanjat saat melihat Clara yang ada didepannya.
"Iya Rey, beberapa hari ini aku telah banyak menyusahkanmu. Ayesha juga sudah banyak membantuku karena selama aku disini, aku tinggal di apartemennya,"
"Tidak Clara, kau tidak pernah menyusahkanmu. Aku melakukan semuanya juga karena tidak ingin terjadi apa-apa padamu,"
"Iya Rey. Aku mengerti tapi aku memang harus pergi karena urusanku dengan Maxy belum selesai,"
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku antarkan kamu ke bandara,"
Reynold segera bersiap-siap. Sementara Clara duduk di sofa, Lyora datang menghampirinya.
"Hai Miss Clara, apa kabar? Tumben pagi-pagi sekali ke sini?"
"Iya, aku ingin berpamitan dengan Rey, karena aku akan kembali ke Inggris,"
"Kenapa cepat sekali?" Gadis itu duduk didekat Clara.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan. Oh iya aku juga sekalian pamit sama kamu, mom and dady," jelas Clara sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang tua Rey.
Saat melihat kedua orang tua Reynold baru saja keluar dari kamar, Clara menghampiri mereka.
"Hello mom, dad. Maaf pagi-pagi sekali saya datang ke sini. Saya mau pamit pulang ke London," jelas wanita itu.
"Kenapa buru-buru sekali. Kita baru saja bertemu satu hari yang lalu," ucap Safira dengan ramah.
"Maaf mom, ada urusan yang harus saya selesaikan jika ada waktu luang saya akan berkunjung kembali,"
Gadis itu menyalami tangan Abimana dan Shafira , juga Lyora, kemudian pergi bersama Reynold menuju bandara.
Sembari mengantarkan Clara, Reynold menghubungi Victory.
Reynold: Halo, Victory. Hari ini gue akan mengantarkan Clara ke bandara., kalau nanti ada rapat lo handle aja.
Victory: Ok, titip salam sama Clara ya.
***
Sementara itu dirumah, dua orang paruh baya datang menghampiri mereka.
Tok... tok...tok...
Terdengar suara pintu diketuk. Silvi yang mendengar dari dalam rumah langsung membukakan pintu.
"Ada apa ya pak, bu? Cari siapa?" tanya Silvi sambil memperhatikan mereka karena merasa tidak mengenali mereka.
"Apa benar ini rumahnya mas Vico?" kedua orang itu terlihat cemas dan khawatir.
"Iya benar. Bapak dan ibu ada perlu apa sama suami saya?"
Vico yang melihat dari dalam segera menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sayang, ada tamu ya? Kok ga diajak masuk aja?"
"Ini mas, bapak sama ibu ini nyariin kamu," ujar Silvi.
"Masuk pak bu, ayo ngobrolnya di dalam aja," ajak Vico pada mereka.
Kedua orang itu segera masuk ke dalam rumah itu.
"Silakan duduk pak, bu."
Mereka duduk, tapi bukan dikursi. Mereka bersimpuh dihadapan Vico menghiba.
"Mas Vico, kami orang tuanya Randy. Orang yang melakukan pemukulan terhadap mas Vico."
Vico terhenyak mendengar perkataan mereka. Tiba-tiba saja dirinya membeku dan tidak bisa berkata apa-apa. Sementara Silvi yang mendengar ucapan mereka bereaksi.
"Apa? Jadi bapak dan ibu ini orang tua salah satu preman yang udah bikin suami saya celaka?"
Wajah Silvi langsung berubah. Dia sekarang malah terlihat menggeram. Vico yang melihat ekspresi wajah istrinya yang mulai marah langsung menggenggam tangan Silvi untuk menenangkan wanita itu.
"Sudah, biar aku yang bicara sama mereka. Kamu istirahat aja didalam ya sayang," bujuk Vico pada istrinya.
"Ga! Aku ga mau! Aku mau disini aja nemenin kamu,"
Seketika itu juga Silvi langsung mengalungkan tangannya ke lengan suaminya.
Vico sangat mengerti, Silvi khawatir tapi dirinya tetap berusaha tenang.
Vico merasa tidak enak melihat dua orang tua yang sedang berlutut dihadapannya. Dia segera mengajak kedua orang itu untuk berdiri.
"Pak, bu, jangan begini. Saya ga enak sama bapak dan ibu. Saya lebih muda harusnya bapak dan ibu jangan berlutut dihadapan saya," pinta Vico sambil memperhatikan raut wajah tua itu. Melihat kedua orang tua itu dia merasa tidak tega.
"Nak Vico, bapak dan ibu minta maaf atas perbuatan anak saya sama nak Vico. Saya tau anak saya salah tapi saya mohon jangan penjarakan anak saya," ujar sang ibu sambil menautkan kedua tangannya memohon.
Air mata bergulir begitu saja. Sebagai seorang ibu tentu saja dia tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. Apalagi berurusan dengan pihak berwajib.
"Ahm, begini bu. Saya ga kenal sama anak ibu, tapi anak ibu sudah buat keributan dikantor dan juga melakukan penyerangan pada saya. Jadi mau tidak mau dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," jelas Vico.
"Apa ga bisa dengan jalan kekeluargaan saja mas?" tanya pria paruh baya yang merupakan suami wanita itu.
"Mohon maaf pak, saya ga bermaksud untuk memperpanjang masalah tapi saya cuma mau anak bapak bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Kalau untuk memaafkan, saya pasti maafkan pak. Hanya saja anak bapak dan teman-temannya sudah keterlaluan. Jadi mereka harus bertanggung jawab atas kesalahan mereka."
__ADS_1
Vico memberikan penjelasan pada kedua orang tua itu. Mereka bisa mengerti tapi tetap saja ada perasaan khawatir dan takut pada hati mereka.
Setelah memberikan penjelasan Vico menenangkan mereka kemudian menyuruh mereka untuk pulang dan beristirahat dirumah. Agar mereka tidak kepikiran masalah anaknya terus.