
Hampir satu jam Hermawan berada diruang pemeriksaan untuk melakukan transfusi darah pada anak kandungnya Silvi. Akhirnya dirinya telah selesai melakukan tugasnya.
Dokterpun keluar dari ruangan tersebut.
Para keluarga yang menunggu menghampiri sang dokter.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Marinka dan Davina secara bersamaan.
Semua saling menatap melihat dua orang ibu yang mengkhawatirkan putri mereka. Bisa dibayangkan betapa beratnya rasa yang ada dihati mereka saat ini.
Dokter terlihat sedikit bingung melihat keduanya, namun dokter itu segera menjawab pertanyaan mereka.
" Begini, pak Hermawan sudah selesai mendonorkan darahnya untuk bu Silvi, hanya saja bu Silvi masih belum bangun."
"Apa istri saya baik-baik saja dok?" Tanya Vico merasa khawatir.
"Kita belum bisa memastikan pak Vico. Kita cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk bu Silvi." Jawab dokter itu.
Marinka dan Davina sangat cemas. Sementara pengantin baru Hans dan Riana berusaha menenangkan kedua ibu itu.
"Apa kita sudah bisa melihat Silvi, dok?" Tanya Vico kembali.
"Untuk saat ini belum, karena pasien baru saja beristirahat. Jadi demi menjaga kesehatan pasien sebaiknya nanti saja dijenguk." Jelas dokter pada Vico.
Vico menganggukkan kepalanya, saat ini banyak tanggung jawab yang sedang diembannya karena yang sedang sakit bukan saja Silvi tapi juga papa mertuanya.
"Bu aku mau liat papa Adi dulu ya. Ibu mau disini aja sama yang lainnya atau mau ikut aku." Tanya Vico pada Sinta.
"Ibu ikut, mau liat juga keadaan pak Adi." Pinta Sinta pada sang anak.
"Mama ikut juga, mama mau liat papa." Ujar Marinka dengan wajah yang masih dibasahi oleh buliran bening.
"Ayo ma, ibu." Ajak Vico pada kedua orang itu.
Mereka memasuki ruang perawatan. Terlihat Adi yang sedang terbaring dengan infus yang terpasang dilengannya.
"Pa, maafin mama. Gara-gara mama papa jadi sakit begini."
__ADS_1
Marinka menangis dan menyesali perbuatannya pada Adi.
Adi yang sedang terbaring memperhatikan sang istri dengan mata sayu.
" Jangan menyalahkan dirimu atas kejadian ini. Aku mengerti kamu melakukan ini karena kamu tidak ingin mengecewakanku, tapi aku merasa ada yang sakit disini." Tunjuknya ke dada kirinya.
Vico dan Sinta yang melihat Adi, merasa sedih dan terharu namun apa boleh buat semua telah terjadi.
"Maaf mas, aku benar-benar frustasi waktu itu. Aku sendiri ga bisa menerima kenyataan kalau putriku telah tiada. Tapi waktu itu mas Hermawan datang. Dia menanyakan keadaanku dan ketika dia tahu aku kehilangan putriku dan hampir saja kehilangan kewarasanku diapun berinisiatif memberikan putrinya untukku." Jelas Marinka penuh deraian air mata sambil menaruh kepalanya disisi tubuh Adi yang sedang terbaring lemah.
Adi menghela nafas. Dia merasa ingin marah dan berteriak sekuatnya, tapi namun melihat kesedihan Marinka dia juga tidak tega. Perlahan tangannya mengusap lembut kepala wanita yang dicintainya itu dan berujar
"Sudah ya, jangan menangis lagi. Aku mungkin terluka saat mengetahui kebenaran ini tapi melihatmu seperti saat ini justru membuatku lebih hancur."
Marinka mengusap air matanya tapi semakin dia mencoba air matanya tetap saja mengalir dengan deras.
Sinta yang berada jauh dari mereka segera mendekat. Hatinya tidak sanggup melihat kesedihan Marinka.
"Bu Marinka, sabar ya. Semua pasti ada hikmahnya." Tukas wanita itu pada Marinka.
Marinka tetap menangia sesengukan dan kini dirinya memeluk Sinta dengan erat. Merasa butuh sandran.
***
Diluar ruangan, Riana dan Hans sedang menemani Davina yang sedang down.
"Ma. Mama jangan nangis lagi. Kita akan selesaikan masalah ini dengan tante Marinka."
"Tapi masalahnya, Silvi hanya mengenal Marinka sebagai ibunya bukan mama, dan pastinya Silvi ga akan bisa menerima kalau dia tahu keadaan yang sebenarnya." Ujar Davina penuh kesedihan.
"Sebaiknya kita jangan menceritakan semua dulu ke Silvi." Ujar Hermawan yang baru saja keluar dari ruangan donor.
"Papa, papa udah siuman?" Tanya Hans pada mertuanya.
"Iya, ini tadi abis transfusi darah, kepala papa agak pusing jadi papa tiduran dulu." Jelasnya pada menantunya dan kemudian menghampiri sang istri.
"Iya pa. Syukurlah. Oh iya aku tadi beli susu sama makanan. Papa makan dulu biar ada energinya." Pinta Hans pada mertuanya.
__ADS_1
"Makasih nak Hans. Nanti papa makan ya. Papa mau bicara dulu sama mama."
Hans menganggukkan kepala. Dirinya dan Riana memberikan ruang untuk kedua orang tuanya itu berbicara. Oleh sebab itu mereka beralasan keluar untuk memberi kesempatan pada kedua orang itu.
***
Hermawan duduk didekat Davina yang terlihat sedih. Dirinya menyeka air mata diwajah sendu istrinya.
"Maaf ya ma. Selama ini papa udah menutupi rahasia besar tentang putri kita."
"Kenapa mas, kenapa mas ga pernah kasih tahu aku kalau kita punya dua orang anak?"
"Aku takut Vin. Aku takut kalau kamu tahu semua ini kamu akan mengambil anak itu dari Marinka. "
"Tapi aku berhak atas putriku."
"Kamu ga tahu gimana keadaan Marinka saat itu, kalau kamu lihat keadaannya yang sangat memprihatinkan pasti kamu ga tega untuk mengambil anak itu darinya." Jelas Hermawan pada sang istri.
"Lalu aku harus bagaimana mas? Aku merindukan putriku. Delapan belas tahun mas, itu bukan waktu yang singkat." Tukasnya pada sang suami.
Davina masih belum mau mengerti dengan situasi saat ini. Jiwa keibuannya yang muncul begitu saja membuat dirinya menjadi terobsesi akan anaknya. Meskipun benar Silvi adalah putri kandungnya dan dirinyalah yang berhak atas anak perempuan itu tapi disisi lain ada hati yang akan terluka jika dirinya tetap memaksakan diri.
"Sabar ya sayang. Mas pasti akan menyelesaikan urusan ini. Mas janji kita akan bersama lagi dengan putri kita, tapi mas mohon untuk kali ini aja, tolong pahami keadaan saat ini."
Lelaki itu mengusap wajah istrinya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Wanita itu memeluknya dengan erat, karena memang support dari suaminya itulah yang dibutuhkannya saat ini.
"Mas, gimana Silvi? Apa dia masih belum sadar?" Tanyanya ketika teringat pada putrinya.
"Belum. Dia masih terpengaruh dengan obat bius, jadi belum sadar, tapi mas juga ga tahu persis keadaannya, karena Silvi kehilangan banyak darah pasca melahirkan. Kita doakan saja semoga dia baik-baik saja." Jelas lelaki itu pada istrinya.
"Iya mas. Aku juga berharap begitu. Aku udah ga sabar ingin memeluk putriku. Aku benar-benar merindukannya." Tukas Davina.
Saat itu Marinka dan Sinta juga Vico baru saja keluar dari ruangan Adi, mereka mendengarkan ucapan Davina bersamaan. Marinka cukup terpojok oleh perkataan Davina.
"Putriku? Dia bilang anakku putrinya? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Silvi adalah putriku dan aku adalah satu-satunya ibu untuknya." Batin Marinka meronta.
Ingin sekali dia marah pada Davina atas ucapannya yang baru saja didengar Marinka itu. Namun, Marinka cukup menyadari posisisnya saat ini. Sekuat apapun dia mengatakan Silvi adalah putrinya tetap saja Davinalah ibu kandungnya, karena wanita itulah yang telah melahirkan Silvi.
__ADS_1
Sakit, memang sangat menyakitkan tapi itulah kehidupan. Tidak selalu yang kita miliki akan bersama kita selamanya. Pada akhirnya Marinka harus merelakan jika Silvi harus bersama orang tua kandungnya.