
Jonathan merasa keheranan melihat sikap Reynold yang tiba-tiba menjadi bersemangat dan seketika saja Reynold bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan dirinya.
"Eh bro, mau kemana? Buru-buru sekali?" tanya Jhonatan heran.
"Mau menjemput Clara. Dia baru saja tiba di bandara, aku akan segera kesana," jelas Reynold padanya.
Tanpa banyak bicara lagi Reynold segera merapikan dirinya. Hanya lima belas menit Reynold telah selesai.
"Bro aku berangkat dulu ya. Takut nanti Clara kelamaan menunggu." Ujar Reynold sambil merapikan rambutnya.
"Kau tidak sarapan dulu?" tanya Jhonatan yang sedang menikmati makanannya.
"Tidak usah nanti Clara lama menunggu," ujar Reynold sambil mengenakan sepatu kates dan jaket kulitnya.
"Oh iya, ini kunci mobilmu. Tadi malam aku menyuruh anak buahku mengantarkan mobilmu ke basement apartemen," tukas Jhonatan sambil memberikan kunci mobil itu pada Reynold.
A few moments letter
Reynold telah sampai di bandara. Pandangannya menyusuri tiap jengkal sisi Sydney Kingsford Smith Airport (SYD).
Clara yang sedang duduk di loby dan memperhatikan Reynold segera melambaikan tangannya.
"Rey... aku disini," ujar gadis itu memanggilnya.
"Clara!"
Betapa bahagianya Reynold mendapatkan pujaan hatinya ada didepan matanya. Dia segera menghampiri wanita bermata biru dengan rambut blonde sedada itu.
"Clara, kau sudah lama menunggu?"
"Tidak juga Rey, aku hanya menunggumu sekitar tiga puluh menit yang lalu," jelasnya sambil mengulas senyum.
"Maaf aku terlambat," mata lelaki itu menyiratkan rasa bersalah.
"Tidak Rey, kau tidak salah. Harusnya aku yang minta maaf karena merepotkanmu," tukas wanita itu merasa sungkan pada Reynold.
"Tidak, kau tidak pernah merepotkanku. Ayo sekarang kau ikut denganku ke apartemenku," ajak Reynold sambil mengulurkan tangannya pada Clara.
Gadis itu menyambut uluruan tangan Reynold kemudian mengikutinya.
Saat pergi Clara hanya membawa satu koper yang berisi pakaiannya, dia tidak membawa banyak pakaian karena trrburu-buru, dalam perjalanan gadis itu tidak banyak cerita. Dia lebih memilih diam.
__ADS_1
"Clara, sebenaranya apa yang terjadi hingga kau begitu mendadak datang ke sini?"
"Hm, aku... aku..."
Gadis itu bingung harus menjelaskan apa pada Reynold. Dia menautkan bibirnya dan menundukkan kepala.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi?" Reynold menggenggam tangan gadis itu untuk menenangakannya.
Gadis itu menoleh padanya. Dia merasa gugup karena saat ini dia dalam masa pelariannya dari Max. Dia benar-benar sudah tidak sanggup menghadapi lelaki itu.
"Rey, sebenarnya aku..."
***
Flashback on
Malam itu ketika menelpon dengan Jhonatan tiba-tiba saja Maxy menghampirinya dengan wajah yang penuh amarah. Clara yang melihat Maxy ada dihadapannya langsung memutuskam pembicaraannya di telpon dan segera menyimpan handphonenya ke dalam tas.
"Disini kau rupanya. Aku mencarimu kemana-mana ternyata disini kau bersembunyi."
Lelaki itu menarik lengan mungil Clara dan menyeretnya ke dalam rumah besar itu.
"Lepaskan aku Max, biarkan aku pergi." Ujar wanita itu sambil mencoba melepaskan genggaman lelaki itu.
Lelaki itu memperlihatkan sorot mata yang tajam padanya.
"Aku mohon Max, biarkan aku pergi," buliran bening itu mengalir perlahan dipipinya.
"Aku sudah peringatkan kau berkali-kali. Jangan pernah coba-coba untuk pergi dariku, karena sekali kau datang ke dalam hidupku, kau akan menjadi milikku selamanya!!!" tegas lelaki itu sambil tetap menarik lengan Clara.
"Aku sudah lelah denganmu Max, aku tidak ingin terkungkung dalam semua kegilaanmu!!!" tegasnya sambil membuka cengkaraman Max dilengannya yang mulai terasa menyakitkan baginya.
"DIAM!!!" teriak lelaki itu sambil mencengkram kedua lengan Clara dan mendesak tubuh wanita itu ke tembok.
"Awww... sakit, kau menyakitiku Max," teriak wanita itu sambil menangis.
"Kau, kalau kau coba-coba untuk menghubungi lelaki yang bernama Reynold itu, aku pastikan dia tidak akan selamat," ancam Max sambil mendorong tubuh Clara ke dinding dan menatap tajam padanya.
Clara tidak bisa berkata apa-apa karena ancamannya. Dia tahu benar bagaimana watak lelaki yang ada dihadapannya itu. Dia pasti akan melakukan apapun yang telah diucapkannya tanpa rasa ragu. Clara tidak ingin terjadi sesuatu pada Reynold diapun memilih diam tidak melakukan perlawanan lagi pada Maxy.
Melihat Clara ketakutan, bukannya Maxy merasa iba padanya malahan lelaki itu semakin menggila.
__ADS_1
Kini dia menunjukkan wajah menakutkan, dia menatap lekat mata wanita itu hingga membuat Clara ketakutan dan menundukkan kepalanya.
Sebelah tangan lelaki itu masih mencengkram lengan Clara dan tangan sebelahnya lagi memegang pipi wanita itu kemudian mencengkaramnya hingga wajah gadis itu medongak ke atas.
Terasa sakit dan panas disekitar wajah Clara membuatnya meringis kesakitan dan mengeluarkan buliran bening dari kedua sudut matanya.
"Aku akan memberimu pelajaran, karena kau berani menentangku!!!" Tegas lelaki itu sambil tetap mencengkram dagu gadis itu.
Melihat Clara merasa kesakitan, bukannya menghentikan aksinya, malahan Maxy mecium bibir wanita itu dengan kasar. Clara menggelengkan wajahnya menolak ciuman itu tapi Maxy tidak memperdulikannya, dia tetap ******* daging kemerahan berwarna pink muda itu dengan lahapnya. Sehingga si pemilik bibir itu tidak mampu melawannya.
Maxy terus menghujamkan ciumannya secara kasar, wanita itu tetap memberontak dan memukul dada Maxy. Namun, swmua itu tidak ada artinya bagi lelaki itu. Tubuhnya yang kekar jauh lebih kuat dibandingkan pukulan dari tangan mungil Clara. Merasa lelah karena usahanya tidak berhasil, pukulannya semakin melemah dan dia meletakkan tangannya yang tak berdaya didada bidang lelaki itu.
Merasa membutuhkan oksigen, lelaki itu melepaskan ciumannya untuk menghirup oksigen sesaat kemudian dengan ganasnya dia ******* bibir pink muda Clara, bibir Clara yang terlihat terbuka mencoba menggapai oksigen tidak diberi kesempatan sedikitpun, lelaki itu bahkan memasukkan lidahnya dengan paksa ke dalam bibir mungil itu, melesat ke lidah gadis itu membelitnya dan bertukar saliva dengannya.
Wanita itu benar-benar tak berdaya dan hanya mengikuti apapun yang dilakuka Maxy padanya, bahkan lelaki itu memeluk erat tubuh wanitanya agar tidak melakukan perlawanan lagi.
Lelaki itu mengusap pelan punggung Clara, secara refleks Clara menggeliatkan tubuhnya hingga mencondongkan tubuhnya ke tubuh Maxy, dengan sigap lelaki itu mengangkat pinggul wanita itu. Kemudian menggendongnya seperti bayi koala. Wanita itu terkesiap dengan perbuatan lelaki dihadapannya. Diapun menggigit bibir lelaki itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Maxy terkejut dan merasakan bibirnya berdarah tapi dia malah menjilati bibirnya dengan ekspresi nakal yang menyeramkan bagi Clara.
"Max... apa yang kau lakukan? lepaskan aku!" wanita itu mencoba meronta.
Lelaki itu bergeming tanpa suara. Dia tetap menggendong wanita itu dan menghempaskannya ke ranjang.
"Awww," wanita itu berteriak kesakitan.
Maxy mengungkung tubuh wanita itu dan kini tubuhnya berada diatas tubuh Clarisa, membuat Clara semakin panik tapi Maxy menatapnya dengan penuh hasrat, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Dia menghujami ciuman ke daging merah muda milik Clara,menggigitnya dengan ujung giginya dan **********.
Perlahan dia menaikkan baju Clara,tangannya menyusuri perut datar gadis itu, membuatnya melenguh geli, lelaki itu tetap ******* bibir gadis itu dan semakin berhasrat padanya. Lelaki itu mulai mengusap perut Clara hingga dia menggelinjang. Tangan lelaki itu semakin merayap menuju dua gundukan milik Clara. Tangannya bermain disana dan menyelusup masuk kedalam penyangganya. Secara sadar atau tidak wanita itu mendesah dan membuat Maxy semakin liar.
Lelaki itu menyingkap pakaian yang melekat ditubuh Clara dan menciumi tiap inci bagian tubuh itu.
"Maxy, lepaskan aku. Aku mohon," pinta wanita itu sambil menangis.
Maxy tidak menggubris permohonan wanita itu dia malah melepakan kaos yang melekat ditubuhnya dan tetap melancarkan aksinya. Clara mencoba menyingkirkan tubuh lelaki itu dari tubuhnya. Tetap saja dia tak kuasa karena kekuatan Maxy mendominasinya.
Clara melihat vas bunga didekat nakas kemudian memukulkan vas kecil yang terbuat dari keramik itu ke kepala Maxy dan hanya sekali pukulan mampu membuat lelaki itu tak sadarkan diri dan seketika lelaki itu rubuh dihadapannya.
Clara menyingkirkan tubuh lelaki itu dari tubuhnya. Dia tidak tahu apa lelaki itu masih bernafas atau tidak, yang dia tahu saat ini dia harus pergi dari tempat itu secepatnya. Clara beranjak dari tempat tidur dan mengambil bajunya yang dilempar sembarang oleh Maxy dan mengenakannya kembali kemudian pergi dari rumah mewah itu dengan taxy yang baru saja melewati rumah itu.
Tujuannya saat ini adalah hotel terdekat untuk menginap malam ini, karena besok dia harus meninggalkan kota London untuk menuju ke Australia.
__ADS_1
Pada saat pagi tiba dia segera menuju bandara untuk penerbangannya ke Australia untuk menemui Reynold dan meminta pertolongan padanya.