
Vico menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar, masih mengingat yang baru saja terjadi antara dirinya dan Silvi. Vico benar-benar menyesal kenapa semua itu terjadi begitu.
Vico menjambak rambutnya sambil berteriak "aaarrgggghhh!!! harusnya gue bisa ngendaliin diri gue. Gue udah menghamcurkan orang yang paling gue sayangi!!!" sesalnya disudut ruangan yang terlihat redup. Rasanya ingin sekali dia memaki dan memukuli dirinya sendiri akibat kelalaiannya.
Tok... tok.. tok...
Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk
"Vico kamu udah pulang nak?" tanya Sinta dari balik pintu kamar Vico.
Tersentak mendengar suara sang ibu "iya bu, aku baru pulang," jawabnya lirih dari balik pintu kamarnya.
"Kamu baik-baik ajakan?" Sinta khawatir karena baru saja dia mendengarkan teriakan Vico.
"Iya bu,aku baik-baik aja," jawab Vico singkat, lalu segera membukakan pintu kamarnya, menghampiri sang ibu.
Sinta memperhatikan wajah anaknya, terlihat ada kecemasan dimata itu. "Nak, kamu kenapa? Kok pucat sekali?" sambil memegang dahi anaknya. Sinta khawatir kalau anaknya lagi sakit.
"Aku ga apa-apa bu. Cuma cape aja tadi abis dari pesta ultahnya Lyora," jelasnya pada sang ibu.
"Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat ya."
"Iya bu, oh iya bu. Aku mau kasih ini buat ibu," Vico memberikan sebuah amplop putih pada Sinta.
"Apa ini nak?"
"Kemarin aku dapat bonus di bengkel bu. Jadi aku sengaja sisihkan sedikit buat bantu ibu," ucapnya sambil memberikan amplop putih kepada ibunya.
Sinta merasa terharu dan memeluk sang anak. "Makasih nak, kamu anak yang baik Vico. Ibu sayang banget sama kamu," dengan suara yang bergetar Sinta memeluk hangat sang anak.
Vico menerima pelukan sang ibu, tapi hatinya berkecamuk. Apakah harus bahagia atau kembali larut dengan rasa frustasi yang menekan batinnya.
***
Pertemuan rapat di GH Universal Hotel masih berlangsung. Terlihat para CEO masih duduk mengelilingi meja rapat. Hadir di acara itu CEO dan perwakilan perusahaan yaitu Adi Leonardo dan Samuel Leonardo Company. Hermawan Bagaskara dan Hadinata mewakili Bagaskara Group, Reynold Bastian dan Victory Aghata juga selaku perwakilan Abimana Group menghadiri merting karena acaranya memang meliputi seluruh pengusaha se Asia Tenggara.
"Setelah mempertimbangkan secara saksama proyek yang telah direncanakan oleh para pemilik perusahaan yang hadir diruangan rapat, hasil keputusan eksekusi akhir untuk tender kali ini akan dipercayakan pada Leonardo Company," ucap seseorang yang berada di depan ruang rapat mengumumkan keputusan.
__ADS_1
Seorang kepercayaan dari Mr. Clarksorn menyetujui proyek baru Adi Bagaskara.
Investor asing itu bersedia menanamkan sahamnya di Proyek Bagaskara Company. Reynold dan Victory sangat kecewa, karena menurut yang mereka pikirkan proyek yang akan diadakan di Australia pasti akan diminati oleh MR. Clarkson. Ternyata dia memilih proyek pembangunan di Indonesia.
Sebagai kolega bisnis yang baik Reynold dna Victory tetap bersikap profesional pada rivalnya itu.
"Selamat pak Adi Bagaskara. Atas kemenangan anda," ujar Reynold menyalami Adi yang tengah berbincang dengan MR. Clarkson.
"Kamu Reynold Bastian kan, anak Abimana Bagaskara?" Adi memperhatikan wajah pria muda yang berada didepannya.
"Benar pak," Reynold dan Victory mengangguk bersamaan.
"Wah, hebat kamu anak muda. Tidak disangka Abimana mempunyai putra secerdas dirimu," pujinya pada Reynold.
Karena memang saat meeting tadi Reynold menunjukkan kecerdasannya dalam membahas proyek mereka.
Reynold hanya tersenyum kecil.
"Oh iya, itu siapa?" tukas Adi memperhatikan Victory yang berada disampingnya.
"Ini Victory manajer perusahaanku," jawab Reynold sambil memperkenalkan Victory pada Adi. Abi memperhatikan wajah Victory dengan sangat lama. Mengingatkannya pada seseorang.
"Kita belum pernah bertemu, ini pertama kalinya saya ke Indonesia. Mungkin pak Adi mengenali ayah saya," jelas Victory padanya.
"Ah, aku ingat kamu pasti anaknya Abraham Aghata," Adi mengingat kembali pertemuan sepuluh tahun lalu.
"Anda mengenal papa saya?" tanya Victory.
"Siapa yang tidak mengenal Abraham Aghata CEO dari Aghata group yang bisnisnya sangat melebar luas di seluruh Asia Tenggara."
"Iya itu dulu sebelum papa meninggal,"
"Ya, kecelakaan maut itu penyebabnya."
"Sekarang Aghata Group telah bergabung dengan Abimana group," Reynold menyambung pembicaraan mereka. Adi mengerti dengan ucapan anak muda itu, tapi yang membuatnya heran kenapa perusahan besar seperti Aghata Group bisa semudah itu beralih tangan pada Abimana Group, tapi sudahlah tidak usah dipikirkan yang penting dia telah memenangkan tender itu hari ini.
***
__ADS_1
Reynold dan Victory baru saja melepas lelah ke hotel.
Pinsel Reynold berdering dan Reynold mengangkat panggilan masuk. "Halo pa,"
"Reynold papa sudah mengetahui hasil rapat tadi. Bahwa MR. Clarkson telah menanamkan sahamnya dan bekerjasama Leonardo Company. Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Abimana mendesak putranya.
"Aku udah berusaha pa. Tadinya mereka sudah menyetujui proyek kita tapi akhirnya malah lebih memilih proyek Adi Leonardo, karena dia ingin menginvestaikan sahamnya untuk Indonesia".
Abimana menghembuskan nafas berat mendengar jawaban putranya. Ini benar-benar diluar prediksinya. Sebelumnya MR. Clarkson ingin mengadakan kerja sama dengannya tapi kenapa tiba-tiba berubah pikiran.
"Pa? Papa masih disana?" panggil Reynold.
"Iya. Kalau begitu besok kamu kembali ke Australia. Papa mau bicarakan ini denganmu".
"Baik pa" jawab Reynold pelan.
Ternyata Victory memperhatikan Reynold sedaritadi.
"Hei, bro. Tidak perlu seperti itu. Bersantailah, tiap pekerjaan itu ada untung rugi. Jadi jangan terlalu khawatir dengan proyek ini," Victory mencoba menenangkannya.
"Hmmm, sebenarnya aku hanya lelah. Papa terlalu berambisi untuk jadi pengusaha terbesar di negeri ini. Padahal sebelumnya papa sudah mendapatkannya satu tahun yang lalu."
"Ya, aku tahu betul bagaimana watak papamu. Dia hanya mementingkan egonya, bukan karena kalah tender yang jadi permasalahannya tapi Adi Leonardo rivalnya yang ia takuti."
"Ini hanya kompetisi, tidak perlu dipikirkan. Proyek itu masih bisa berjalan tanpa investasi MR. Clarkson," ujarnya sambil menepuk bahu Reynold.
Reynold menganggukkan kepalanya.
***
Silvi membuka mata, terasa sangat silau karena pantulan cahaya mentari dibalik gorden. Silvi menggeliatkan tubuhnya. Matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Silvi belum menyadari apa yang telah terjadi padanya. Saat mencoba bangun ia merasakan nyeri dan sakit dibagian kewanitaannya.
Silvi mencoba mengingat kembali tadi malam dia hanya menghadiri pesta ulang tahun Lyora, kemudian ikut berdansa dan meminum minuman dari pelayan ditempat itu, tapi setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi. Lama memikirkannya akhirnya Silvi tersadar malam itu Vico mengantarnya pulang karena dia merasa pusing, tapi diperjalanan hujan lebat dan Vico memberhentikan laju mobilnya. Lalu... aaargh!!! Aku baru ingat aku dan Vico telah... telah melakukannya. Tidak, kenapa ini bisa terjadi?"
"Aku tidak mau masa depanku hancur karena kejadian tadi malam, hiks, hiks,"
"Huaaa... huaaa,"
__ADS_1
Silvi bingung dan tidak tahu harus apa dan bagaimana. Dia merasa frustasi karena telah berbuat diluar batas. Airmatanya berderai dan tangisnya pecah. Silvi merasa jijik dengan dirinya, melempari barang-barang yang ada dikamarnya.