
Drrt... drrt... drrt...
Sebuah panggilan masuk tertera pada handphone Reynold, tapi dirinya belum bisa menerima panggilan masuk itu, karena tubuhnya belum fit. Victory yang melihat gawai itu terus bergetar, akhinya menekan tombol hijau.
"Halo"
"Apa ini dengan pak Reynold?" Tanya seseorang di sebrang sana."
"Iya ini dengan saya Victory temannya."
"Tuan, ini ada nona Clara di kantor kedutaan, sepertinya dia butuh bantuan dari orang terdekatnya. Apakah anda bisa menemuinya?"
"Baiklah saya akan segera ke sana."
Pembicaraan mereka terhenti setelah seseorang memutuskan panggilan.
Reynold menatap ke arah Victory. "Siapa yang menelpon?"
"Itu tadi orang dari kantor kedutaan memberi kabar kalau kita harus menemui Clara."
Mendengar ucapan Victory, Reynold yang tadinya tidak berdaya langsung bersemangat dia segera mencabut infus yang melekat ditangannya.
"Rey, apa yang lo lakukan? Lihat tangan lo jadi berdarah."
Victory panik dan menghampiri Reynold kemudian memanggil suster untuk memasangkan selang infusnya kembali.
"Vic, gue itu udah ga apa-apa. Sekarang biarin gue ketemu Clara. Gue pengen tahu tentang keadaannya." Dia terlihat panik.
"Lo mesti istirahat Rey. Biar gue yang nemuin Clara. Nanti gue bakal pertemukan kalian kok"
"Tapi..."
Ucapan Reynold terhenti saat seorang suster menghampiri mereka dan mengecek kondisi Reynold.
"Tuan, ini infusnya jangan dicabut paksa seperti ini. Berbahaya untuk kesehatan anda. Jika anda tidak berhati-hati bisa kena ke urat nadi and." Jelas suster muda itu padanya.
Reynold hanya diam. Kepalanya masih terasa pusing dan sakit saat dia mencoba berdiri dari brankar. Reynold memejamkan matanya sambil berpegangan pada Victory untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Victory memegangi tubuh Reynold kemudian mendudukkannya ke atas brankar kembali.
"Rey, lo nurut ya. Mending lo istirahat dulu nanti biar gue yang ngurus Clara."
Mau tidak mau Reynold mengikuti perkataan Victory. Sebenarnya dia sangat ingin bertemu Clara tapi mengingat kondisinya yang belum stabil, dia mengikuti perkataan sahabatnya itu.
Tidak lama setelah menenangkan Reynold Victory menuju ke kantor kedutaan.
"Ayesha, aku titip Reynold ya. Tunggu sampai aku kembali. Kamu tetap disini jangan kemana-mana". Titah Victory pada Ayesha.
Victory tidak ingin terjadi sesuatu pada Ayesha oleh sebab itu dia menyuruh Ayesha menjaga Reynold hingga dia kembali. Cukup berbahaya bagi Ayesha jika dia keluar dari rumah sakit tanpa ditemani seseorang, bisa saja anak buah Maxy yang masih berkeliaran akan menganggunya.
__ADS_1
***
Di kantor kedutaan, Victory telah memasuki kantor tersebut.
" Selamat siang, bisakah saya bertemu dengan nyonya Stevany?"
"Ya dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita paruh baya yang menghampiri Victory.
"Perkenalkan saya Victory Aghata, tadi saya diminta ke sini untuk menjemput Clara."
"Ah, iya tuan Victory. Akhirnya kita bertemu juga, ayo ikuti saya. Nona Clara ada diruang istirahat. Sepertinya dia sangat tertekan karena dipaksa untuk pergi bersama orang suruhan Maxy."
Wanita itu kini mengantarkan Victory ke ruangan yang dia bicarakan tadi. Stevany merupakan wakil kedutaan London yang berdomisili di Australia. Victory mengenalnya dari salah seorang sahabatnya yang bekerja di kedutaan. Makanya untuk kasus Clara bisa dengan mudah Victory selesaikan.
Victory memasuki ruangan itu dan terlihat Clara yang sedang duduk dalam keadaan panik.
"Clara" panggil Victory padanya.
"Victory..." Lirih wanita itu, dia segera mendekat pada Victory dan memelukanya meminta perlindungan.
"Clara, jangan takut semuanya sudah diatasi. Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku sudah meminta bantuan pihak berwajib untukmu."
Victory mengusap pelan kepala gadis itu untuk menenagkannya.
"Bagaimana keadaan Rey?"
"Apakah dia terluka?" Air muka gadis itu sedikit menyendu.
Victroy menganggukkan kepalanya. "Hm, sedikit tapi dokter sudah menanganinya."
Disela-sela pembicaraan mereka handphone Victory berdering. Tidak perlu waktu lama Victory mengangkat telponnya.
"Halo."
"Selamat siang, bisa bicara dengan tuan Victory?"
"Ya saya sendiri."
"Tuan, saya Bryan dari pusat perlindungan, kami sudah menemukan tuan Maxy dan saat kami telah mengamankannya."
"Baiklah. Anda bisa menahannya terlebih dahulu. Saya akan mengamankan Clara. Setelah dia benar-benar tenang secepatnya saya akan membawanya ke London untuk menyelesaikan kasusnya."
Percakapan mereka berakhir setelah orang itu memutuskan panggilannya.
"Apa itu dari Maxy?" Tanya Clara penasaran.
"Iya. Itu dari pusat perlindungan wanita di Inggris. Mereka memberitahukan kalau Maxy telah ditangkap."
Clara hanya terdiam. Bukannya dia tidak senang mendengar berita itu, hanya saja dia takut akan ada bahaya baru yang akan muncul setelah ini.
__ADS_1
"Nyonya Stevany terimakasih atas bantuan anda. Mengenai orang-orang suruhan Maxy saya serahkan pada pihak kedutaan untuk menyelesaikannya." Pinta lelaki itu pada Stevany.
"Anda tidak perlu khawatir kami akan mendeportasi mereka dan memberlakukan hukuman pidana terhadap mereka karena telah melakukan kejahatan diwilayah teritorial negara asing." Jelas wanita itu.
Clara dan Victory merasa lega dengan penjelasan wanita itu dan mereka segera menuju ke rumah sakit untuk menemui Reynold.
***
Lima bulan sudah usia kandungan Silvi, rasanya Silvi dan Vico sudah tidak sabar untuk melihat kelahiran buah hati mereka.
"Mas, hari ini kamu sibuk ga?" Silvi menghampiri Vico yang sedang merapikan dirinya.
"Ga kok. Aku hari ini dapat jatah libur." Jelas Vico padanya.
Ya, memang dalam pejerjaannya Vico ada shift pagi, siang dan malam. Setiap tiga hari bekerja dia akan mendapatkan jatah libur.
"Kalau begitu bisakan mas anterin aku cek kandungan?" Pinta wanita itu.
"Oh pasti dong. Apa sich yang ga buat kamu?" Goda Vico pada istrinya.
Silvi merasa gemas dengan gombalan suaminya diapun mencubit pelan lengan lelaki itu.
Tak lama kemudian, mereka sampai di dokter kandungan.
berjalan semakin optimal. Vico dan Silvi sudah tidak sabaran melihat calon bayi mereka.
Kini mereka tengah menunggu diruang tunggu untuk panggilan atas Silvi. Setelah seorang ibu hamil dari ruangan dokter itu, seorang suster muncul di depan pintu.
"Ibu Silviana Anastasya Darmawan, silakan masuk."
Mendengar namanya dipanggil, Silvi dan Vico segera bangkit dari tempat duduk mereka kemudian masuk ke ruangan dokter.
Diruangan itu, Silvi disuruh membaringkan tubuhnya, kemudian seorang dokter perempuan mengoleskan gel khusus pada kulit di bagian perut yang akan dilakukan pemeriksaan.
Transducer ditempelkan dan digerakkan di area tersebut.
Terlihat ada pergerakan pada janin dalam kandungannya. Silvi merasakan sensasi bahagia yang teramat sangat saat melihat pergerakan pada janinnya. Tak luput juga Vico yang begitu bahagia hingga meneteskan air mata.
"Sebentar lagi aku bakal jadi ayah" lirihnya sambil menggenggam tangan istri kecilnya, Silvi menganggukkan kepala tersenyum melihat reaksi Vico.
"Lihat itu, janinnya merespon ada pergerakan." Ujar Silvi memperhatikan pergerakan bayinya dimonitor.
"Iya bu, secara fisik, alis mata dan rambut halus yang sifatnya sementara mulai tumbuh di kepala mereka dan sepertinya anak anda perempuan." Dokter itu memberikan penjelasan tentang fisik bayi mereka.
Silvi dan Vico sangat bahagia mendengar penjelasan dari dokter itu. Ternyata janin kembar yang berada dalam kandungan Silvi adalah perempuan.
Sekarang gelombang dari transducer direkam oleh sang dokter, kemudian diubah menjadi gambar pada monitor. Setelah tes selesai, dokter itu membersihkan gel dari tubuh Silvi. Setelah menunggu sekitar 30 hingga 60 menit hasil USG buah hati merekapun telah jadi.
Silvi dan Vico sangat senang. Tidak bisa terlukiskan bagaimana rasa bahagia yang sedang menyelimuti hati mereka. Pasangan muda itu benar-benar akan menjadi orang tua dalam usia muda.
__ADS_1