
Victory kembali menemui Reynold dan Ayesha. "Apa yang lo bicarain sama dokter tadi?"
"Ah itu. Gue cuma mau bilang aja sama dokter Arfan kalau berikan pengobatan terbaik untuk ibunya Ayesha,"
Reynold menganggukkan kepala mengerti.
"Oh iya, kita udah selesai mengantarkan Ayesha. Ayo sekarang kita ke clubnya Rain,"
"Ah hampir saja aku lupa," ujar Victory sambil menepuk pelan keningnya.
"Ayesha kami permisi dulu ya,"
"Ah iya pak Reynold, pak Victory terimakasih buat tumpangannya dan terimakasih telah berkenan mengunjungi ibu saya," Ayesha menunduk dalam untuk menghormati atasanya, kemudian mengantarkan mereka pergi keluar rumah sakit.
Saat diperjalanan ke club, Reynold mengajak Victory mengobrol santai.
"Vic, gue lihat kayaknya lo perhatian banget sama sekretaris baru kita itu,"
"Maksud lo Yesha?"
Reynold menganggukkan kepala sambil tetap mengemudikan mobilnya.
"Itu cuma sekedar rasa kemanusiaan aja Rey. Gue cuma mau bantu dia aja," Victory mengalihkan pandangannya ke arah jalan.
"Gue ini cowok, sama kayak lo. Gue tahu mana yang sekedar membantu atau rasa suka," lelaki itu tersenyum ringan melihat temannya.
"Rey, gue emang cuma mau bantu dia aja. Kebetulan kan kita liat dia dijalan terus antar dia. Cuma gitu doang?"
"Itu sich gue ngerti, tapi maksud gue lo tuch suka ga sama dia," Reynold to the point dengan pertanyaannya.
"Jujur gue suka sama dia. Sejak pertama kali gue ketemu gue langsung suka, justru setelah gue antar dia ke rumah sakit makin bikin gue kagum sama dia,"
"Jadi lo udah sering anterin dia ke Rumah Sakit?" selidik lelaki itu lagi.
"Baru dua kali. Pertama pas dia baru masuk kerja dan kedua yang tadi itu,"
"Terus yang bikin lo kagum sama dia apa?"
"Lo mau tahu apa yang bikin gue kagum sama dia? Ya karena dia sayang banget sama mamanya. Gue liat gimana dia berjuang demi kesembuhan mamanya. Satu lagi yang paling bikin gue salut sama dia, dia ga mau nerima semua yang gue berikan begitu aja. Macam kemaren itu pas dia butuh biaya operasi buat mamanya. Dia ga punya biaya, karena gue ga tega gue bayarin. Eh dia malah mau ganti, padahal gue bilang ga perlu diganti," jelasnya lagi.
"Hmm, gue paham. Itu artinya dia tipe cewe yang punya harga diri yang tinggi. Gue doain supaya lo sama dia bisa berlanjut ke hubungan yang lebih serius," Reynold merangkul temannya memberikan dukungan.
"Makasih Rey,"
__ADS_1
Mereka telah sampai di sebuah club yang cukup besar. Lelaki itu memarkirkan camry hybrid itu dengan rapi. Dua orang pria keluar dari mobil itu dan memasuki Dymency Club tempat yang telah diberi tahu oleh temannya itu.
"Hai untung saja kalian datang," sambut pria itu pada keduanya.
"Apa kami tidak terlambat?" tanyanya sambil memeluk sahabatnya itu.
"Untuk kalian pintu akan selalu terbuka apalagi hanya Club ini," Rain memeluk sahabatnya bergantian.
"Wow, Clubmu besar juga Rain," Victory memperhatikan sekeliling Club itu.
"Ini tidak seberapa dibandingkan perusahaan kalian," dia merendahkan hati.
Mereka saling tertawa lepas. Pria itu mengajak kedua sahabatnya duduk dan mereka mengobrol ringan.
***
"Eh, Ly. Sini gue ada kabar bagus buat lo," Winda memanggil Lyora yang sedang asyik mendengarkan musik di headset.
"Kabar apa sich," dia menolehkan kepalanya sambil mendekat pada Winda.
Winda melepaskan headset yang bertengger ditelinga temannya itu. "Ini dilepasin dulu biar lo ga bisa dengerin baik-baik,"
"Ya udah. Buruan mau ngomong apaan?" desaknya dengan ketus.
"Itu si Silvi..." dia mengarahkan tangannya membuat ke depan perutnya memberi kode.
"Silvi..." dia mengulangi gerakan aneh itu lagi.
Lyora memperhatikan gerakan sahabatnya itu dengan saksama. "Maksud lo, dia... hamil?" kemudian dia menebak maksud perkataan sahabatnya itu.
"Ssst... ngomongnya pelan aja," ujarnya sambil merapatkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Yang bener lo?" Lyora masih belum percaya.
"Ho'oh. Masa gue bohong," tegasnya lagi.
"Emang lo punya bukti?" dia meremehkan ucapan gadis itu.
"Gue sendiri yang liat dia beli tespek dan lo tahu pas dia pingsan kemarin gue ikutin dia ke Rumah Sakit dan lo tahu dokter yang meriksa dia bilang kalau dia... Hamil !" dia menjelaskan secara detail pada gadis yang ada dihadapannya.
"Kabar bagus tuch. Sekarang gue makin yakin buat ngedepak dia dari sekolah ini," Lyora mengacungkan jari jempolnya pada Winda.
"Maksud lo, lo mau laporin ini ke kepala sekolah?" Winda mencoba menebak apa yang sebenarnya rencana Lyora selanjutnya.
__ADS_1
Lyora menggelengkan kepala " ga, gue ga perlu laporin ke kepsek atau guru. Gue cuma pengen mempermalukannya dan akhirnya dia sendiri yang bakal mundur dan keluar dari sekolah ini," ujarnya dengan nada penuh kebencian.
"Hah, tapikan dia ngelakuinnya sama Vico. Apa lo bakal depak Vico juga?" gadis itu menaikkan sebelah alisnya.
"Untuk Vico gue bisa kasih pertimbangan, tapi yang pasti gue bakal buat Silvi tersingkir dari sekolah ini," tegasnya lagi dengan senyum dingin dan mata yang penuh dendam.
Winda hanya heran melihat tingkah Lyora. Sebenarnya dia hanya ingin sedikit bergosip dengan Lyora untuk kabar tentang kehamilan Silvi, tapi dia tidak menyangka sahabatnya ini punya dendam yang sangat besar pada Silvi.
Winda sedikit menyesal dengan berita yang diberikannya pada Lyora, tapi apa boleh buat mulut embernya udah terlanjur bicara. Ya sudah, kalaupun terjadi sesuatu pada Silvi bukan jadi urusannya. Biar saja Lyora yang berurusan dengannya.
***
Silvi baru saja masuk ke ruang kelas. Lyora telah mempersiapkan rencana jahatnya, dia menatap Silvi dengan tatapan sinis dan senyuman meremehkan. Silvi hanya diam dan menunduk karena tidak ingin bermasalah dengannya. Dia merasa tidak mengerti dengan tingkah Lyora. Jadi dia memilih diam.
Vico yang melihat kejadian itu hanya mencoba menenangkan Silvi, meskipun Silvi masih belum terima dengan apa yang telah terjadi dan terkesan menjauhi Vico. Jam pelajaran telah dimulai guru mata pelajaran segera memulai pembelajaran hingga selesai.
Saat pulang sekolah Lyora menghampiri Silvi " hai Silvi, dari tadi lo masuk sampe pulang sekolah gue lihat muka lo pucat banget. Lo baik-baik aja?" ejeknya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Silvi
"Aku ga apa-apa kok," jawab Silvi singkat.
"Yakin lo. Atau jangan-jangan lo..."
"Lyora cukup kenapa kamu sich kamu selalu mengganggu Silvi," Riana yang berada didekat Silvi langsung memotong pembicaraan Lyora dan membentaknya.
"Eh... berani lo ya bentak-bentak gue. Ni rasain!!!" tangannya mencoba menampar wajar Riana.
Dengan sigap Riana menyambut tangan gadis itu dan memelintirnya ke belakang, "jangan macam-macam denganku dan jangan pernah mencoba menghancurkan mental Silvi," sambil berbisik dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Lyora dan semakin mengunci tangan gadis itu. Membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Lepasin!!! Lepasin tangan gue!!! Sakit!!!" Keluhnya sambil berteriak menarik perhatian orang disekitarnya.
"Hei ada apa ini?"
Tiba-tiba seorang guru lelaki menghampiri mereka.
Riana menghempaskan tangan Lyora dengan kasar. "Awww" gadis itu meringis mengusap tangannya yang memerah.
"Tidak pak, tidak ada apa-apa. Saya dan Lyora hanya bercanda saja,!" Riana menutupi permasalahan mereka agar tidak diketahui guru itu.
Lyora baru saja mau mengadukan perbuatan Riana, tapi Riana langsung menatapnya tajam. Membuat nyali Lyora menciut dan terdiam tak mampu berkata.
"Ya sudah kalau begitu. Bapak mau ke kantor dulu," guru itu langsung masuk ke ruang guru.
"Itu peringatan pertama untukmu". Ancam Riana pada Lyora.
__ADS_1
"Ayo Silvi kita pulang," Ajak Riana sambil menarik pelan tangan Silvi kemudia menginggalkan Lyora begitu saja.
Winda n the genk yang memperhatikan kejadian itu merasa takjub dan heran sambil menatapa satu sama lain. Sejak kapan gadis cupu itu menjadi berani seperti itu???