
Vico baru saja sampai di kantor polisi. Dirinya sudah tidak sabar untuk menemukan pelaku dari penculik baby twins nya. Dengan penuh semangat Vico segera menemui orang yang mengajaknya bertemu di kantor polisi.
"Selamat malam pak, saya Vico. Tadi ada orang yang menelpon saya untuk datang ke kantor polisi karena ada hal yang akan disampaikan trntang pelaku penculikan anak-anak saya," ujar Vico pada polisi yang sedang berjaga.
"Silahkan pak, sepertinya orang itu ada didalam," jelas polisi itu padanya.
"Baik pak," Vico segera masuk ke dalam ruangan yang ditunjukkan polisi itu. Di dalam ruangan itu ada dua orang yang sedang berbincang.
"Maaf boleh saya masuk?" sapa Vico pada kedua orang itu.
"Pak Vico, untung anda cepat datang, ayo mari bergabung disini pak."
Polisi muda itu dengan ramah menyambut kedatangan Vico.
Namun, ada seseorang yang menyita perhatiannya sedari tadi.
"Mas Denis, kok ada disini?" tanya Vico sambil menatap ke arah orang yang sedang duduk didekat polisi muda itu.
"Ternyata pak anda berdua sudah saling mengenal." Polisi itu tampak sumringah memperhatikan mereka.
"Tentu saja pak, mas Denis ini rekan kerja saya." Jelas Vico padanya.
"Jadi begini pak Vico, pak Denis ini yang memberi tahukan kepada kami mengenai kabar tentang putri anda."
"Gimana ceritanya mas, kok mas Denis bisa kasih petunjuk sama polisi?"
Merasa heran, Vico langsung saja bertanya pada Denis.
"Begini Vico, sebenarnya lo pernah ceritakan tentang bayi lo yang diculik, gue penasaran sama cerita lo, jadi gue coba telusuri lebih lanjut. Sampai gue temukan bukti dari CCTV." Jelas Denis pada Vico.
"Tapi gue masih penasaran, apa hubungannya mas Denis sama kasus hilangnya anak saya?"
"Kemarin setelah lo ceritakan tentang penculikan itu, gue datang ke rumah lo untuk menemui Silvi dan menanyakan tentang kronologis kejadian hilangnya baby twins, tapi sayangnya waktu gue ke rumah lo, Silvi lagi ga ada di rumah. Pas gue nanya ke satpam lo, katanya Silvi lagi ke taman sama baby twins. Ya udah langsung aja gue ke taman, tapi pas gue samperin gue ga menemukan Silvi disana."
"Terus gue balik pulang aja, tapi gue lihat ada orang yang lagi bawa dua bayi dengan stroller, gue curiga dan gue mau membuntuti dia, tapi gue malah kehilangan jejaknya. Jadi gue putuskan buat mencari tahu, melalui rekaman CCTV di jalan itu." Jelas lelaki tiga puluh tahun itu pada Vico.
"Jadi mas Denis sempat lihat pelakunya?" Imbuh Vico pada lelaki itu.
"Gue ga lihat dengan jelas karena dia pake kacamata hitam dan penutup wajah."
"Apa kita cek CCTV saja, mungkin disana ada petunjuk." Ujar polisi muda yang bersama mereka.
"Iya pak, saya benar-benar penasaran siapa orang itu."
__ADS_1
Tanpa berlama-lama polisi itu membuka video rekaman CCTV yang telah diperolehnya. Kemudian memutar kembali rekaman saat Silvi menuju taman bersama bi Sumi dan kedua anaknya.
Pada awalnya terlihat biasa saja, layaknya aktifitas dipagi hari di taman, namun setelah setengah jam berlalu, mereka melihat lelaki mengenakan jas hitam, dengan kacamata hitam dan wajah yang ditutupi dengan masker hitam menghampiri Silvi yang sedang bersama kedua anaknya dan bi Sumi di dekat taman.
Lelaki itu terlihat mengendap-endap, namun karena saat itu masih pagi, tidak banyak orang berada di sekitar taman, sehingga lelaki itu bisa dengan leluasa berada di taman. Sampai di satu waktu dia melihat Silvi yang pergi menuju ke outlet penjual es krim, dengan begitu lelaki itu memiliki kesempatan untuk menemui baby twins yang sedang bersama ART itu.
Melihat sang ART yang lengah orang itu melancarkan aksinya dengan membungkam mulut ART itu dengan sau tangan yang telab diberi obat bius dan dirinya dengan mudah mengambil kedua bayi mungil itu.
"Kurang ajar sekali orang ini, pak polisi apa bapak dan anak buah bapak bisa mencari tahu keberadaan orang itu?" Vico sangat geram melihat rekaman CCTV itu. Rasanya ingin sekali dia menghajar orang yang telah mengambil anak-anaknya.
"Anggota saya sedang melakukan oleh TKP, jadi kami juga sedang mencari tahu siapa dan dimana orang itu berada." Jelas polisi itu.
"Ini ga bisa dibiarin. Saya ga bisa diam sebelum mendapatkan putri saya kembali." Tukas Vico sambil berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.
Vico benar-benar tidak bisa bersabar menunggu, tapi Denis mencegahnya.
"Sabar Vic, kita serahkan semua ke polisi, biar mereka yang mencari orang itu."
"Tapi mas, itu anak saya. Nanti kalau mereka kenapa-napa gimana? Kalau penculik itu melukai mereka bagaimana?" Ujar Vico sambil mengusap wajahnya kasar.
"Tenang Vic, kita bakal cari orang itu, tapi nanti kalau udah pagi. Ini udah larut malam. Sebaiknya lo istirahat aja." Tukas Denis sambil merangkul bahu Vico.
Awalnya Vico tidak mau, namun dengan kesabaran Denis membujuknya hingga Vico mau mengkuti perkataannya.
***
"Silvi, bangun nak. Mama ada di sini." Lirih Davina melihat keadaan putrinya yang sedang terbaring lemah tak berdaya dibrankar.
Marinka yang melihat keadaan Davina juga tak kalah sedihnya. Dirinya menangis sambil menggenggam tangan putrinya.
Adi yang melihat keadaan sang istri hanya merangkul wanita itu untuk menenangkannya.
Lama menunggu, akhirnya Silvi bangun dari tidur panjangnya.
"Anakku Talia, Talisha. Jangan tinggalin mama. Anakku... jangan ambil anak-anakku." Lirih wanita muda itu mengerjabkan memanggil anak-anaknya dalam igauannya.
"Silvi, kamu udah sadar nak." Davina yang berada di dekat Silvi langsung memanggil Silvi.
Silvi menoleh ke arah orang-orang yang kini berada didekatnya.
Baru saja melihat bayi yang sedang di gendong Marinka,Silvi langsung meminta bayi itu.
"Kembalikan anakku, jangan ambil dia."
__ADS_1
Silvi masih tidak ingin jauh dari bayi itu. Marinka yang melihat Silvi dengan tatapan penuh harap langsung memberikan bayi itu pada Silvi.
Silvi memeluk dan menciumi bayi itu, seakan bayinya telah kembali bersamanya. Dia meluapkan semua emosi didirinya dengan mendekap bayi mungil itu.
"Bayi siapa itu?" Tanya Davina sambil menoleh pada Marinka.
Marinka menatap kepada wanita itu dan dirinya langsung menggenggan tangan wanita itu kemudian mengajaknya bicara diluar.
"Vin, aku mohon kamu jangan mempertanyakan dulu tentang bayi itu pada Silvi. Dia baru saja melewati masa sulitnya, biarkan dia istirahat dulu."
"Aku mengerti, tapi mengapa bayi lain yang kamu kasih ke Silvi?"
Davina benar-benar bingung dengan apa yang diperbuat Marinka.
"Itu adalah bayi yang ditemukan saat pencarian oleh pihak polisi. Untuk sementara bayi itu akan bersama Silvi sampai kita temukan bayi Silvi yang sebenarnya." Jelas Marinka pada sahabatnya.
"Ini benar-benar aneh, kalau Silvi tahu dia pasti akan kecewa." Ucap Davina lagi.
"Ini hanya sementara. Kamu lihat bagaimana Silvi tidak ingin jauh dari anak itu. Aku tidak mau dia semakin tertekan jika kita memisahkannya dengan anak itu."
"Hm... baiklah jika itu memang terbaik untuk Silvi,lakukan saja, aku hanya berharap kita bisa menemukan baby twins kembali."
Akhirnya kedua ibu itu saling bersepakat untuk memberikan bayi itu pada Silvi untuk sementara waktu demi menjaga perasaan Silvi hingga dia pulih kembali.
***
Sementara itu, Fredy yang tengah berada dirumah bersama istrinya memiliki suatu ide.
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke luar negri?"
"Memangnya mas mau ajak aku dan anak-anak kemana?"
"Bagaimana kalau kita ke Singapura saja? Kita akan berdomisili disana juga." Ajak Fredy pada sang istri.
"Kenapa dadakan begitu mas? Bayi-bayi kita gimana kalau pergi jauh, kasian mereka masih terlalu kecil."
"Ga apa-apa sayang, aku cuma pengen ajak kamu ke sana. Kebetulan keluarga papa ada disana. Kita akan membesarkan mereka dengan penuh rasa nyaman dan masa depan mereka akan lebih baik di sana." Jelas Fredy pada istrinya.
"Hm, aku setuju aja mas. Tapi jangan dadakan juga nanti kasian sama anak-anak." Tutur wanita itu sambil mengusap pelan wajah bayinya.
"Bagus deh kalau begitu. Aku akan segera mengurus untuk keberangkatan kita secepatnya." Tukas lelaki itu pada istrinya.
Bukan tanpa alasan Fredy mengajak istrinya pergi ke luar negeri secara terburu-buru. Dia Hanya ingin terlepas dari masalah yang akan muncul dikemudian hari. Fredy telah merencanakan setelah mendapatkan baby twins dirinya akan segera meninggalkan Indonesia untuk menetap di singapura, karena menurutnya dia akan aman disana untuk membesarkan kedua bayi itu bersama istrinya. Dengan kata lain dia tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu polisi datang, dia telah bersembunyi dari mereka ditempat yang tidak seorangpun tahu keberadaan mereka.
__ADS_1