Menikah Dini

Menikah Dini
(S2) Teman Lama


__ADS_3

Hans telah memulai pekerjaan barunya. Hari ini dirinya telah bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Sayang, jangan lupa bawa bekalnya. Tadi aku udah masakin makanan kesukaan kamu," ujar Riana yang telah menyibukkan dirinya di dapur.


Semenjak hamil, memasak dan membuat kuliner baru menjadi kegemarannya. Hampir setiap waktunya dihabiskan untuk membuat masakan baru yang didapatnya dari internet maupun buku bacaan. Mungkin begitulah cara yang dapat dilakukan Riana untuk mengisi waktu luangnya dan sudah tentu Hans yang akan disuruh menghabiskan makanan uji cobanya. Untungnya Hans tipe suami yang pengertian. Apapun yang dibuat Riana pasti akan dimakan hingga habis dan tak lupa pujian yang membuat wanita itu merasa senang bersamanya.


"Wah, sayang kamu kok repot-repot sich? Tiap pagi kamu jadi sibuk bikinin aku makanan. Padahal aku kan bisa beli di kantin nanti. Kasian ni baby kita nanti mereka kecapean," tukas lelaki itu sambil mengusap perut sang istri yang semakin membesar.


"Anggap aja latihan mas. Biar nanti persalinanku lancar. Kata orang kalau mau lahirannya lancar mesti banyak gerak," jelas wanita muda itu sambil memasukkan makanan ke dalam ransel sang suami tak lupa beberapa cemilan enak untuk kudapannya. Si pria hanya tersenyum memperhatikan tingkah sang istri.


"Ini kopi susu kesukaan kamu jangan lupa diminum," pungkas wanita itu lagi sambil memberikan minuman pada suaminya.


"Makasih sayang. Aku beruntung punya istri sebaik kamu," Hans sangat bahagia dengan sikap Riana.


"Ayo buruan berangkat jangan sampai terlambat dihari pertama kerja," Riana memberikan kunci mobil dan memberikannya pada sang suami. Lelaki itu menerimanya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri dan memberikan ciuman singkat dibibir mungil wanita berkacamata tebal itu. Sepertinya telah menjadi ciri khas dirinya mengenakan kaca mata tebal, meskipun sang suami telah memberikannya softlense tapi dia terbiasa dengan kaca mata yang bertengger dihidungnya.


Setelah berpamitan, Hans mulai mengemudikan mobilnya menuju kantor.


***


Pagi ini Silvi sedang menyibukkan diri untuk pergi ke super market karena stock kebutuhan dapurnya mulai habis, begitu juga dengan kebutuhan bayinya mulai menipis. Sebagai seorang ibu sekaligus ostri yang baik dirinya segera menuju ke super market kemudian memilih barang-barang yang dibutuhkannya.


Ketika dirinya sedang memilih barang belanjaannya tangannya bersentuhan dengan seorang pria yang memilih salah satu produk makanan yang sama.


"Maaf, bolehkah aku mengambilnya lebih dulu?" pinta Silvi pada pria itu. Dirinya sedang terburu-buru karena teringat akan Anindya yang ditinggal bersama sang ART dirumah. Silvi merasa kasihan pada anak itu jika terlalu lama menunggunya.


"Silahkan ladys first," ujar lelaki itu sambil memberikan makanan siap saji itu pada Silvi.


"Terimakasih," ujar Silvi sambil melontarkan senyuman padanya.

__ADS_1


Pria itu menganggukkan kepalanya sambil menatap pada Silvi, dirinya seakan dejavu pada wanita yang berada didekatnya.


"Silvi?" sapa pria itu pada wanita yang tengah memunggungi dirinya.


"Iya, apa anda memanggilku?" tanya Silvi memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


"Kamu Silvi kan, anaknya tante Marinka?" pungkas pria itu menghampirinya..


"Maaf anda siapa? apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Silvi mengingat kembali memorynya. Kapan dan dimana dia pernah bertemu pria muda itu. Bagaimana pria itu bisa mengenal dirinya dan keluarganya?


"Masa ga ingat sama aku?" pria itu menatap Silvi lekat. Sedangkan Silvi hanya mengernyitkan kepala menatap heran padanya.


"Aku Daren, si gendut yang dulu sering kamu bela setiap kali aku dibully kamu lagi yang selalu membelaku, ingat ga?" lelaki itu mencoba mengingatkannya kembali pada memory masa kecilnya.


"Ka ... kamu anaknya tante Rebeca yang gendut dan cengeng itu?" tanya Silvi keheranan. Sungguh dia sangat terkejut dengan perubahan pria muda itu.


Dulu dia sangat gendut, sering dibully oleh teman-temannya hingga terjatuh dan tidak bisa berdiri karena tubuhnya yang terlalu gempal. Sering kali dia menangis karena tidak bisa turun dari pohon besar setiap kali temannya mengerjainya dengan menyuruhnya memanjat ke pohon tapi dia tidak mungkin bisa turun lagi karena takut ketinggian. Atau mungkin dia akan di palak oleh teman-temannya karena dia anak orang berada.


Dengan cepat Silvi masuk kedalam pelukannya. " Wah gendut, ahm maksudku Daren, kau sangat berbeda. Kau tampan sekali dan tubuh gendutmu sudah menjadi se seksi ini?" Silvi benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Seorang pria tampan dengan tubuh sixpack dan tinggi sekitar seratus delapan puluh centi meter. Siapa yang menduga pria tampan itu adalah si gendut yang sering dibully dulu.


"Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Itukan sudah berlalu, sekarang katakan padaku apa kegiatanmu?" tanya pria itu antusias.


"Aku? hanya seperti ini. Berbelanja dan menghabiskan waktu dirumah," jawab Silvi sekenanya.


"Bagaimana kalau untuk pertemuan kita hari ini, kita rayakan dengan meminum coklat panas? kamu masih suka coklat kan?" ajak pria itu padanya.


"Dengan senang hati," Silvi mengikut karena dia sangat senang bertemu dengan teman masa kecilnya.

__ADS_1


Daren membawakan barang belanjaan Silvi ke dalam mobilnya, dan lebih memilih cafe terdekat untuk memesan coklat paanas untuk Silvi. Lima belas menit mereka sampai di Cafe dan saling bercerita tentang diri mereka satu sama lain. Silvi cukup merasa senang bertemu dengan pria itu terlihat dari wanjahnya yang sumringah dan antusiasnya saat mendengarkan Daren bicara.


"Oh ya, bagaomana kabar tante Rebeca apa dia baik-baik saja?" Silvi memulai pertanyaannya.


"Mama baik kok dan sekarang lagi sibuk dengan proyek barunya," jelqas Daren sambil menyesap minumannya.


"Oh baguslah. Papa kamu apa juga disini?" Silvi masih ingat teman kecilnya ini pernah tinggal di Amerika karena papanya seorang pengusaha berkebangsaan Amerika dan mereka menetap disana.


"Papa dan mama sudah berpisah. Makanya mama kembali ke Indonesia untuk bekerja dan menetap disini. Untuk itulah aku disini, supaya mama tidak sendirian," pungkas pria itu sambil tersenyum tipis.


"Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur masalah keluargamu. Aku benar-benar tidak tahu tentang hal itu," sesal Silvi atas pertanyaannya.


Ah mengapa mulutku ini tidak bisa direm, pertanyaan bodoh apa yang kutanyakan tadi? gerutunya dalam hati.


"Apa? kamu bilang apa?" lelaki itu seakan mendengar ucapan Silvi.


"Ah... tidak. Aku tidak bilang apa-apa," Silvi gugup ketika pria itu seolah-olah mengetahui bisikannya.


Lama sudah mereka bercerita di cafe sambil menikmati coklat panas. Merekapun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Kamu masih tinggal di komplek yang dulu?" tanya Daren pada Silvi sambil mengemudikan mobilnya.


"Hm, masih. Kamu sendiri tinggal dimana sekarang?" tanya wanita muda itu sambil menoleh ke arahnya.


"Aku tinggal di apartemen, ga jauh kok dari sini. Kapan-kapan aku ajak kamu mampir ke sana," Pria itu masih asyik dengan kemudinya.


"Tentu, eh ini aku udah sampai loh. Kamu mau turun mampir dulu?" ajak Silvi padanya.


" Lain kali aja Sil. Aku masih harus urusin kerjaan di kantor dulu," ujar lelaki itu sambil membawakan barang belanjaan Silvi ke rumah yang dsambut oleh bi Sumi.

__ADS_1


"Eh non Silvi ada tamunya. Yuk masuk dulu mas," ucap bi Sumi ramah.


"Makasih bi. Lain kali aja," tolak lelaki itu dengan halus. Kemudian dirinya segera kembali ke mobilnya untuk menuju kantor. Tak lupa satu lambaian tangan pada wanita muda yang masih menatapnya dari pintu depan rumahnya. Wanita itu membalas lambaian tangan itu dan tersenyum padanya.


__ADS_2