Menikah Dini

Menikah Dini
Teror Misterius


__ADS_3

Saat ini, hari-hari Silvi telah memiliki rutinitas yang cukup banyak. Menghabiskan waktu bersama si kembar membuatnya tidak punya waktu untuk berleha-leha. Baru saja selesai dengan bayi yang satu, bayi lainnya malah merengek ingin mendapatkan perhatian ibunya. Namanya juga anak kembar mereka ga cuma punya wajah yang mirip tapi juga punya perasaan yang sama, seperti yang sering orang bilang ikatan batin anak kembar itu sangat kuat.


Namun itu bukanlah suatu beban untuk seorang ibu, malahan itulah tantangan sekaligus perjuangan yang menyenangkan bagi seorang wanita saat dia bisa menjaga dan merawat anak-anaknya dengan baik.


"Aduh, susah juga ni ngurusi Talia dan Talisha sendirian. Mana mama belum pulang lagi,"  gumam Silvi dalam hatinya. Hari ini dia benar-benar sedikit kuwalahan mengurus bayi kembarnya sendirian, karena biasanya ada orang-orang dirumah yang akan siap siaga untuk membantunya.


Tok... tok... tok...


Tiba-tiba Silvi mendengar suara pintu rumahnya diketuk.


"Siapa ya, pagi-pagi begini datang bertamu?"  gumam Silvi dalam hatinya.


Sebenarnya Silvi ingin meminta bantuan Bi Sumi ART nya untuk membukakan pintu rumah, karena dia sedang sibuk mengurusi putri kembarnya, tapi bi Sumi lagi sibuk berbelanja ke pasar. Sebab stock kebutuhan rumah tangga lagi habis, maka dari itu pagi-pagi sekali bi Sumi harus pergi ke pasar supaya tidak kehabisan persediaan, sedangkan pak Jono lagi pergi menservice mobil, jadinya tersisalah Silvi dan dua bayi kembarnya yang menunggu dirumah.


Dengan susah payah Silvi bangkit dari duduknya, karena masih belum fit pasca melahirkan Silvi berjalan menuju pintu rumah dengan pelan-pelan.


Ketika sampai di depan pintu, Silvi membukakan pintu rumah, tapi saat pintu dibuka tidak ada siapa-siapa. Silvi merasa heran, kemana perginya orang itu. Silvi yang merasa penasaran, mencoba keluar dari rumah untuk melihat apakah tamunya itu sudah jauh atau belum?, tapi tidak ada jejak sama sekali, orang itu hilang bagai lenyap ditelan bumi.


"Aneh, kok tiba-tiba orangnya ga ada? Padahal dari tadi mencet bel rumah kayak ada sesuatu yang penting banget." Gerutu Silvi yang merasa sedikit jengkel karena merasa di prank.


Silvi yang merasa kesal langsung masuk ke rumah, tapi saat di depan pintu rumah, kaki Silvi tidak sengaja menendang sesuatu. Silvi segera melihat ke bawah dan ternyata ada sebuah kotak di depan pintu rumahnya.


Merasa penasaran, Silvi langsung mengambil kotak itu,


"Kotak apa ini? Kiriman dari siapa ya? " Silvi bertanya-tanya didalam hatinya.


Tidak ingin membuang waktu, Silvi mengguncangkan kotak itu, tapi terasa sangat ringan, karena rasa ingin tahu tingkat dewanya begitu besar, Silvi membuka kotak misterius itu.


"Aaargh..." teriak Silvi sambil membuang kotak misterius itu.


"Non Silvi. Kenapa non kok teriak begitu." Tanya bi Sumi yang baru saja sampai dirumah.


Wanita paruh baya itu langsung menaruh belanjaannya di dekat dia berdiri kemudian menghampiri Silvi.


Silvi masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya, wanita muda itu tidak menjawab pertanyaan ART nya.

__ADS_1


"Non Silvi... non... non baik-baik aja?" Bi Sumi mengguncang-guncang tubuh Silvi untuk menyadarkannya.


"Lepasin!" Teriak Silvi, dia mengira yang menyentuhnya barusan adalah orang yang mengirimi kotak misterius itu.


Ketika dia melihat itu adalah bi Sumi, Silvi langsung memeluk erat ART nya.


"Bi Sumi, untung bibi udah pulang."


"Non kenapa? Kok ketakutan begitu?" Tanya ART itu sambil mengusap pelan punggung Silvi.


"I... itu bi." Tutur Silvi terbata-bata.


Bi Sumi memperhatikan wajah Silvi dengan intens.


"Non Silvi apa ada yang mengganggu non?" Tanya ART itu lagi."


"Itu bi, kotak itu." Tunjuk Silvi pada kotak yang baru saja dibuangnya.


Kotak itu berisi sepasang boneka yang berlumuran darah, yang mana pada dada boneka itu ada pisau yang menancap.


Bi Sumi yang melihat pemandangan menyeramkan itu ikut bergidik ngeri. Dirinya merasa takut melihat boneka menyeramkan yang berhamburan di depan pintu rumah, karena Silvi yang ketakutan membuang begitu saja boneka itu.


"Entahlah bi. Tadi ada orang yang mencet bel rumah, pas aku samperin orangnya udah ga ada. Terus aku lihat ada kotak di depan pintu dan aku buka, ternyata isinya seperti itu." Jelas Silvi pada ARTnya itu.


"Bentar non, bibi panggil pak Jono dulu buat bersihin ini. Bibi juga takut mau megang non."


Bi Sumi yang panik langsung mencari keberadaan pak Jono, saat dia sedang dalam kepanikan dan dalam pencariannya, secara tidak sengaja dirinya menabarak seseorang yang tak lain adalah pak Jono.


Kedua orang itu terkejut dan saling latah.


" Eh pocong... pocong..." Ujar bi Sumi yang latah.


" Pocong? Mana pocong... mana? Biar gua sambit." Gertak pak Jono yang ikutan latah sambil menggerakkan tangan dan kakinya ala-ala pemain silat.


"Pak Jono! Bi Sumi! Sini buruan, malah main pocong-pocongan." Teriak Silvi yang krtakutan.

__ADS_1


" Eh iya non. Maaf, abisnya saya kaget, ni bi Sumi malah nyebut pocong." Jelas pak Jono yang malu hati karena tingkah kocaknya tadi.


"Pak sini, tolongin saya beresin ini." Tukas Silvi menunjuk pada kotak yang berserakan dilantai.


"Waduh, apaan ni non? Kok banyak darah begini. Ini bonekanya juga ketancep sama piso." Ujar pak Jono dengan logat betawinya, sambil melihat kearah boneka yang berdarah itu.


"Nanyanya nanti aja pak, saya takut. Pak Jono bantuin saya beresin ini dulu ya. Saya mau ke dalam takut baby twins nangis."  Pinta Silvi pada lelaki paruh baya itu. Kemudian dirinya pergi meninggalkan pak Jono dan bi Sumi yang masih berada di depan teras rumah.


Sebenarnya pak Jono juga takut untuk menyentuh bomeka itu, tapi karena itu permintaan dari majikannya, mau tak mau dia harus bersedia membereskan kekacauan akibat kotak misterius itu.


"Bi Sumi, tolongin ambilkan serokan, saya mau angkat ni boneka, biar dibuang." Pinta pak Jono sambil mendekat ke arah boneka itu.


Dengan sigap bi Sumi langsung mencarikan serokan dan sapu, kemudian memberikannya pada pak Jono.


"Ini mas Jono, hati-hati ngambilnya." Ujar wanita paruh baya itu mengingatkan.


"Kerjaan siapa sich ni bi? Kok bisa-bisanya ada yang beginian di depan rumah?" Gerutu pak Jono.


"Lah, saya juga ga tau. Tadi abis dari pasar, saya denger non Silvi teriak-teriak, terus saya samperin dan ternyata non Silvi dapat paket seperti ini." Jelas Bi Sumi yang merasa ngeri melihat pak Jono yang sedang membersihkan kotak dan boneka yang berserakan dilantai.


"Hm... ada-ada aja hari gini yang ngasih kayak gini. Kalo mau ngasih yang bagus dikit napa? Ini malah boneka nyeremin begini." Omel pak Jono sambil menaruh sepasang boneka dan kotak yang berlumuran darah itu ke dalam kantong kresek.


"Ich, benaran aneh, tapi apa tujuannya ngasih paket kayak gitu ya?" Bi Sumi berpikir keras.


"Mending kamu samperin non Silvi gih mungki dia butuh bantuan kamu. Biar ini saya bersihin."


"Oh iya, sampe lupa aku di dalam ada non Silvi. Yo wes, tak tinggal dulu ya." Ucap bi Silvi sambil menepuk pelan jidatnya.


Bi Sumi bergegas ke dalam rumah untuk menghampiri Silvi.


"Non Silvi, non baik-baik ajakan?" Tanya bi Sumi sambil membawa belanjaannya dan menatanya di dapur.


"Aku baik-baik aja bi. Cuma ni babynya pada nangis mungkin mereka kaget karena aku teriak tadi." Jelas Silvi yang kebingungan menghentikan tangisan dua bayi kembarnya.


"Waduh, pada nangis kejer gini bayinya non. Bibi bantu ya."

__ADS_1


Bi sumi langsung menggendong salah satu bayi Silvi dan memberikan ASI yang telah dimasukkan kedalam dot untuk diberikan pada bayi Silvi, karena bayi Silvi kembar, meskipun dalam masa menyusui, dirumah harus ada stok ASI supaya jika kedua bayinya menangis Silvi tidak susah untuk menyusui mereka. Sementara bayi yang satunya langsung disusui oleh Silvi.


Entah siapa yang melakukan teror pada Silvi. Maksud dan tujuan orang itu juga belum diketahui karena hanya terdapat paket misterius itu saja.


__ADS_2