Menikah Dini

Menikah Dini
Sedikit Titik Terang


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar dari polisi mengenai keberadaan baby twins, Vico dan Denis melanjutkan pencarian mengenai penculik itu.


"Vico, gimana untuk pencarian ini biar gue sama polisi yang melanjutkannya? Lo mendingan menemani istri lo di rumah sakit." Ucap Denis yang merasa iba melihat Vico yang kelelahan.


"Tapi mas, anak-anak gue belum ketemu." Lirihnya pada Denis.


"Lo ga usah khawatir, polisi udah melakukan penyelidikan kembali. Gue juga bakal bantuin lo. Lo serahin pencarian anak-anak lo sama gue. Sekarang lo balik ke rumah sakit buat urusin Silvi." Tukas lelaki tiga puluh lima tahun itu sambil mengusap bahu pria muda itu.


"Ya udah kalau begitu gue mau ke rumah sakit dulu. Makasih ya mas, selalu bantu gue."


Sebenarnya Vico merasa tidak enak hati pada lelaki itu, tapi bagaimana lagi, dirinyapun merasa cukup lelah untuk hari itu.


"Udah lo ga perlu sungkan, anggap gue sodara lo."


"Iya mas. Maaf gue selalu merepotkan."


" Gue ga repot. Ini semua gue lakukan dengan ikhlas."


Setelah membuat kesepakatan akhirnya mereka memisahkan diri untuk melanjutkan urusan mereka masing-masing.


***


Vico baru saja sampai di rumah sakit. Suasana sangat hening, seperti tidak ada siapapun.


"Sayang, kamu sendirian aja? Kemana mama, papa dan yang lainnya?" Tanya Vico memperhatikan sekeliling.


"Mama sama papa lagi mengajak bayi kita jalan-jalan. Tante Davina dan om Hermawan lagi pergi sarapan."


"Tante Davina dan om Hermawan ada disini? Siapa yang memberitahu kamu ada disini?"


Vico sedikit terkejut dengan kehadiran Hermawan dan Vico di rumah sakit.


"Aku juga ga tahu, cuma mama bilang tadi malam,  setelah kamu pergi, mereka datang ke sini." Jelas Silvi pada suaminya.


Vico hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu sendiri gimana keadaannya, udah enakan?"


Hampir saja Vico lupa menanyakan keadaan Silvi.


"Aku udah mendingan kok mas. Maaf ya, aku benar-benar stres mikirin baby twins sampai ngedrop kayak gini."


"Apa kamu bilang? Maksudmu kamu tahu kalau anak kita belum ketemu?" Vico mulai curiga dengan perkataan Silvi.


"Aku sadar mas, anak kita belum ketemu tapi waktu aku melihat bayi perempuan itu aku ga bisa membendung rasa sayangku padanya. Aku benar-benar kangen sama anak-anakku. Jadi biarkan anak itu tetap bersama kita."  Pinta Silvi pada suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu yang kamu mau. Aku akan biarkan anak itu bersama kita." Vico mencoba mengerti akan keadaan istrinya itu.


"Oh iya mas, kamu dari mana kok baru datang pagi-pagi begini?"


"Aku habis dari kantor polisi. Kemarin mas Denis melaporkan ke kantor polisi kalau dia menemukan jejak pelaku penculik anak kita."


"Benarkah mas? Kalau begitu kita harus mencari anak-anak kita sekarang mas."


Mendengar ucapan suaminya, dirinya begitu bersemangat. Bahkan dirinya tidak menyadari kalau saat ini dia sedang sakit.


Vico yang melihat Silvi begitu bersemangat seger mendekatinya untuk segera membantunya.


"Eh... kamu jangan banyak bergerak dulu. Lihat, infus itu masih terpasang ditanganmu sebaiknya pelan-pelan sayang."


"Tapi aku mau ketemu sama anak-anakku mas." Ucapnya penuh antusias.


"Iya sayang aku mengerti. Aku juga pengen banget ketemu sama anak-anak tapi sekarang polisi lagi menyelidiki keberadaan mereka. Sabar ya sayang, nanti kita bakal ketemu sama mereka." Jelas Vico pada Silvi.


"Tapi benarkan mas, anak kita bakal kembali lagi?" tanya Silvi penuh harap pada suaminya.


"Iya sayang. Semoga saja begitu." Jawab Vico sambil memeluk wanitanya.


***


Sementara ditempat lain, para polisi sedang menelusuri taman tempat dimana baby twins  menghilang.


"Bagaimana pak, apa ada petunjuk untuk menemukan pelakunya?" Tanya Denis pada polisi yang sedang menyisir lokasi taman.


"Belum pak, ini kami sedang meneliti."


"Pak... lihat ada sebuah satu tangan disini." Seru salah seorang anggota polisi yang sedang menyusuri taman.


Polisi yang sedang bicara dengan Denis menoleh ke arah suara itu kemudian melihat benda yang ditunjukkan oleh anggotanya.


"Bawa sapu tangan itu ke kantor sekarang juga, kita akan memeriksa pemilik sidik jari pemiliknya."


"Baik pak." Jawab anggota polisi itu.


Lelaki itu segera menggunakan sarung tangan kemudian memasukkan alat bukti itu ke dalam plastik kecil tanpa bersentuhan langsung dengan sapu tangan yang ditemukannya, supaya sidik jari pelaku tidak bercampur dengan sidik jarinya.


Denis mengedarkan pandangannya untuk melihat masih adakah jejak lain yang bisa ditemukan? Setelah puas menoleh ke seluruh taman, mata lelaki itu tertuju pada sesuatu di sana.


"Pak, coba lihat ini, seperti sebuah botol obat." Jelas Denis pada polisi itu.


Memang benar tak jauh dari tempat itu terlihat bekas botol obat dan juga jejak ban mobil ditempat itu.

__ADS_1


Melalui jejak dan bukti-bukti yang ditemukan itu para polisi segera mencari tahu pelaku penculikan.


"Pak Denis, kami akan menyelidiki bukti-bukti yang ada di kantor kami dahulu pak. Setelah dua puluh empat jam kami akan memberitahukan hasilnya." Tukas polisi itu pada Denis.


"Apa tidak bisa lebih cepat pak?"  Ujar Denis.


Pria itu seakan tidak sabar untuk mendapatkan petunjuk dari pelaku tersebut.


"Sabar ya pak, prosedurnya memang seperti itu, jadi kita harus memastikan terlebih dahulu pemilik sidik jari pada sapu tangan itu." Jelas polisi itu padanya.


"Baiklah, saya harap semua bisa secepatnya diselesaikan." Pinta lelaki itu pada polisi itu.


***


Sementara itu ditempat berbeda Maxy masih berkutat dengan perusahaan yang dipegangnya.


"Sudah lama aku tidak mengurus perusahaan ini. Banyak sekali perubahan pada perusahaan ini selama aku tidak ada."


Maxy memandangi semua tata letak yang ada di perusahaannya.


Benar-benar jauh berbeda, padahal baru satu tahun dia meninggalkan perusahaannya tetapi semua yang ada disana sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


"Yang berubah hanya suasana kantor ini tuan, tapi pemilik dari perusahaan ini tetap saja anda."


"Kau pandai sekali menyenangkan orang lain Grey.  Apa kau telah melakukan semua pekerjaan dengan baik?" Tanya lelaki itu pada orang kepercayaannya.


"Iya tuan, semuanya aman terkendali selama anda tidak ada di perusahaan saya sudah menyelesaikan tugas dengan baik." Jelas lelaki itu padanya.


"Lalu, bagaimana dengan kerja sama kita dengan perusahaan Anderson Corp? Apakah masih berjalan dengan baik?"


"Selama anda berada di tahanan, tuan Anderson telah menghentikan kerja sama dengan kita."


"Apa? Semudah itu mereka menghentikan kerja sama?"


"Iya tuan. Sepertinya mereka sudah tidak mau ada hubungan dengan perusahaan kita."


"Benar-benar keterlaluan. Berani sekali mereka melakukan  itu padaku. Aku tidak akan membiarkan mereka meninggalkanku begitu saja."


"Saya dengar, perusahaan itu sekarang menjalin  kerja sama dengan Abimana Group." Jelas Grey pada atasannya.


"Kurang ajar, berani sekali mereka melakukan itu padaku. Awas kau Clara dan Anderson aku pasti aka menghancurkan kalian." Geramnya sambil memukul meja yang berada dihadapannya.


Hal itu sangat meyakiti egonya, betapa tidak, bisnis yang telah terjalin bertahun-tahun lamanya, kini malah musnah begitu saja. Tentu saja itu merugikan dirinya.


Maxy benar-benar kesal karena Anderson memutuskan kerja sama secara sepihak. Memang benar semenjak terjadi permasalahan antara Maxy dan Clara, pemilik perusahaan Anderson Corp itu sudah tidak ingin berurusan dengan Maxy.

__ADS_1


Meskipun dalam pekerjaan mereka tidak memiliki masalah, namun sikap Maxy yang sudah keterlaluan pada Clara membuat Anderson kehilangan simpatiknya pada lelaki itu dan lebih memilih untuk melepaskan kerja samanya dengan perusahaan yang dipimpin oleh Maxy dan menjalin kerja sama dengan Abimana  Group.


__ADS_2