
Setibanya dirumah sakit, Daren segera menggendong wanita yang baru ditemuinya ke dalam ruang IGD rumah sakit.
"Dokter, tolong bantu gadis ini tadi saya tidak sengaja menabraknya," jelas lelaki itu.
"Maaf pak, tolong isi data administrasi dulu," salah seorang perawat memberikan penjelasan.
"Hm baiklah akan saya isi. Hei nona siapa namamu?" lelaki muda itu segera mengambil formulir yang diberikan oleh perawat dan bersiap menuliskan nama wanita yang baru saja diselamatkannya.
"Zahra. Namaku Zahra Darmawan," pungkas wanita itu. Segera Daren menuliskan nama gadis itu diformulir pendaftaran kemudian memberikan formulir itu pada perawat. Kemudian pengobatan untuk wanita muda itu segera dilakukan.
Selama tiga puluh menit telah dilakukan pemeriksaan pada cidera kaki Zahra, untungnya tidak ada luka yang sangat serius sehingga Zahra tidak harus mwnunda interviewnya. Meskipun kakinya terkilir dan tidak bisa berjalan dengan baik tapi semangat gadis muda itu tetap membara.
"Baiklah mbak Zahra, kaki anda sudah kami obati dan untuk saat ini anda sangat dianjurkan untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu, supaya kaki anda tidak semakin parah," jelas sang dokter pada Zahra.
Gadis muda itu tampak sedih saat mendengar perkataan sang dokter. Harapan yang selama ini ingin dicapai olehnya seakan menghilang. Zahra sangat berharap bisa mengikuti interview itu. Gadis muda itu menatap jam dinding di ruang UGD, masih ada waktu dua puluh menit lagi tapi bagaimana dia bisa mengikuti interview itu dalam keadaan seperti sekarang?
"Kamu ga perlu khawatir, aku akan membantumu. Kamu tinggal bilang dimana ruang interviewnya dan aku akan mengantarkanmu dengan kursi roda ke sana," jelas Daren dengan sikap dinginnya. Meskipun stay cool tapi pria muda itu baik hati.
"Tapi, apa tidak akan merepotkanmu? Bapak juga harus ke kantor kan?" Zahra merasa sungkan pada pria itu.
"Kamu ga perlu mikirin saya, yang terpenting saat ini urusan kamu. Interview itu sangat berharga untukmu bukan?" Daren cukup pengertian padanya. Zahra hanya mengangguk pelan.
"Ya sudah kalau begitu, ayo aku antar kamu," pungkas lelaki itu lagi sambil menggendong Zahra.
"Hei! Kau mau apa?" wanita muda itu masih terlihat shock dan sedikit berteriak marah.
__ADS_1
"Aku hanya ingin membantumu nona Zahra. Kau pikir aku akan melakukan apa?" sungut Daren sedikit kesal. Membuat Zahra terdiam kemudian Daren menggendong tubuh mungil gadis sembilan belas tahun itu dan meletakkannya perlahan ke kursi roda. Sekilas Daren dapat menatap lekat wajah gadis muda itu. Begitupun Zahra bisa memandangi wajah tampan sang CEO rendah hati itu dengan sangat jelas.
Ternyata dia cantik juga. Meskipun terkesan sederhana tapi dia cukup natural dan cantik. Kagum lelaki muda itu pada Zahra.
Meskipun cuek dia ganteng juga. Emang sich rada nyebelin tapi harus diakui dia pria yang baik, gadis muda itu juga merasa kagum padanya.
Tanpa disadari keduanya saling mengagumi satu sama lain, sehingga para perawat dan dokter yang memperhatikan mereka tersenyum sambil saling memandangi.
Namun keduanya cepat menepis rasa kagum yang mereka rasakan. Daren mendorong kursi roda milik Zahra, gadis itupun mengikut begitu saja. Tiada pembicaraan diantara keduanya hingga mereka sampai ke suatu ruangan HRD. Mereka harus menunggu sebentar untuk mendapatkan giliran dipanggil.
"Pak, apa bapak akan menunggu disini bersama saya?" tanya wanita itu padanya.
"Saya akan menunggu sampai kamu selesaikan interview kamu," pungkas lelaki itu. Masih dengan sikap dinginnya.
Tidak ingin membuang waktu dan mempepanjang perdebatan, Zahra memutuskan untuk mengikuti perkataan Daren. Pria muda itu mengantarkan Zahra ke loby untuk menunggu panggilan Zahra dan setelah menunggu beberapa lama akhirnya Zahra terpanggil untuk interview. Bergegas Daren membawanya masuk ke dalam ruangan interview dan menunggu Zahra diluar hingga wanita itu selesai interview.
Dirumah, Silvi sedang bersama dengan Vico untuk mendaftarkan beasiswa yang dicarinya.
"Sayang, aku kayaknya sudah mendapatkan formulir beasiswanya, kamu maukan memberikan izin untukku?" tanya Silvi sambil menatap sang suami.
Silvi hanya sedikit ragu jika sang suami tidak memberikan izin padanya.
"Kenapa tidak sayang? aku pasti akan mengizinkanmu, bukankah dari dulu aku selalu mendukung apapun yang kamu inginkan?"ujar Vico sambil mengusap kepala sang istri.
"Makasih mas, kamu memang paling mengerti dengan keadaanku," Silvi memeluk sang suami dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Sama-sama sayang," balasnya sambil memeluk balik sang istri.
Silvi tahu pasti Vico tidak pernah menghalanginya untuk meraih cita-citanya bahkan pria itu selalu memberikannya peluang untuk meriah kesempatan meraih cita-citanya yang sempat tertunda.
"Tapi mas, kamu ga ikut ambil beasiswa?" tanya Silvi kembali pada sang suami. Dia sangat berharap suaminya bisa kuliah bersamanya seperti saat mereka sekolah dulu.
"Kayaknya aku ga bisa sayang. Soalnya kerjaan aku lagi banyak banget sekarang. Jadi aku ga bisa lanjutin kuliah dulu. Kamu aja yang kuliah sayang, biar kamu bisa mengejar impian kamu yang tertunda," jelas Vico pada sang istri.
"Hm, baiklah. Oh ya Anindya bagaimana mas?" Silvi teringat akan anak mereka yang bertambah besar. Sebagai seorang ibu dia tidak ingin sang anak kehilangan kasih sayang darinya.
"Kamu ga perlu khawatir, nanti biar aku yang merawat anak kita. Ada ibu dan Zahra juga yang bisa merawatnya kalau mama dan papa sibuk sama pekerjaan mereka," ujar Vico menenangkan hati sang istri.
"Aku bakalan kangen sama Aya. Dia itu semakin hari semakin dekat sama aku, aku jadi ga tega buat meninggalkan dia walaupun sedetik aja. Rasanya anak itu benar-benar selalu ada dihatiku mas," ungkap Silvi memgingat tentang sang anak.
Memang benar, Anindya sangat istimewa. Meskipun bukan anak kandung Vico dan Silvi tapi anak itu selalu membuat kedua orang yang telah menjadi orang tuanya itu sangat menyayanginya. Terlebih lagi anak itu semakin pintar dan mulai memahami sekitarnya.
"Pokoknya kamu ga perlu khawatir Anindya bakal aman kok selama kamu tinggal. Dia akan selalu bahagia dan aku pasti akan selalu hubungi kamu sama dia pake VC supaya Aya bisa selalu melihat wajah kamu," bujuk Vico pada snag istri.
"Harus mas. Kamu harus menghubungi aku terus biar Anindya bisa merasakan kalau aku selalu bersamanya," pinta Silvi padanya.
Air mata itu mulai mengalir dipipinya. Silvi belum sanggup berpisah dari buah hati satu-satunya yang dimilikinya.
"Mama ... papa ... Aya pengen bobo, tapi ditemenin cama mama cama papa," tiba-tiba saja Aya datang menghampiri mereka.
Sikecil itu, mungkin dia merasakan akan berpisah jauh dari sang ibu. Dia tiba-tiba saja menjadi sangat manja dan rewel malam itu.
__ADS_1
"Oh anak kesayangan papa mama, sini sayang. Kamu kangen ya," Silvi memeluk putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.
Tidak bisa dia bayangkan jika harus terpisah jauh dari sang putri. Jangankan membayangkannya, memikirkannya saja tidak pernah terlintas sedikitpun dipikirannya. Anindya memang telah menjadi prioritas utama bagi Vico dan Silvi saat ini.