
Silvi telah dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Dirinya benar-benar merasakan sakit luar biasa diperutnya. Pengalaman pertama kali melahirkan, bagi Silvi diumur 18-an. Sangat rentan dan tidak akan terlupakan proses persalinan bayi pertamanya itu.
Benar saja, baru saja sampai dirumah sakit Silvi tidak berhenti menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri karena merasakan sakit yang teramat sangat. Dia merasakan nyeri pada punggung, kram disekitar perutnya dan sakit perut, seperti mulas.
Seakan nafasnya keluar dari raganya saat itu juga. Silvi benar-benar tidak sanggup menahan dirinya, dirinya mulai menangis.
"Mas, sakit banget. Aku ga kuat, udah kayak mau mati rasanya," keluh wanita muda itu.
"Ssst... jangan ngomong kayak gitu sayang, mending kita berdo'a biar anak kita lahir dengan selamat,"
Silvi masih tidak bisa menahan laju air mata yang bergulir begitu saja dipipinya.
Tak berapa lama kemudian Silvi merasakan seperti ingin buang air.
"Mas aku mau ke toilet,"
"Iya bentar aku bantuin kamu," Vico segera membantu Silvi ke kamar mandi.
Saat di toilet Silvi melihat berwarna merah muda keluar melalui air seninya. Merasa cemas Silvi memanggil Vico.
"Mas, ini kenapa aku keluar kok keluar darah?"
Vico melihat apa yang ditunjukkan Silvi dengan bingung.
Tiba-tiba saja Adi dan Marinka datang memasuki ruangan Silvi.
"Nak kamu kenapa?" Marinka begitu mengkhawatirkan keadaan sang anak.
"Perutku sakit banget ma, terus berasa pengen pipis tapi malah keluar kayak darah gitu," ujar Silvi sambil menunjukkan cairan yang baru saja dikeluarkannya disisi kamar mandi.
"Wah itu flek, tandanya sebentar lagi kamu bakal lahiran," tukas Marinka.
"Tapi ini ga apa-apakan ma?"
"Ga apa-apa sayang, yuk kamu balik lagi ke brankar bair bisa istirahat," bujuk Marinka menenangkan anaknya.
Silvi mengikuti ucapan sang mama dan beristirahat.
Tidak berapa lama kemudian, Silvi merasakan ada cairan yang keluar dari **** *************, artinya saat melahirkan tiba, kantung ketuban pecah dan cairannya keluar melalui **** *************.
"Ma ini kenapa lagi?" Silvi mulai panik.
"Udah saatnya kamu lahiran nak,"
"Bentar aku panggilin dokter," ujar Vico.
Dirinya segera memanggil dokter yang sedang berada diruangannya yang tak jauh dari ruang persalinan, kemudian seorang dokter datang menghampiri mereka.
"Maaf bapak dan ibu, mohon keluar sebentar ya, saya akan memeriksa kondisi bu Silvi dulu."
Mendengarkan penjelasan sang dokter, Vico dan mertuanya langsung mengikuti ucapan dokter itu.
Dokter perempuan itu segera memeriksa kandungan Silvi. Saat itu cairan bercampur darah segar mulai keluar dari bagian kewanitaan Silvi.
__ADS_1
"Ini kenapa dok?" tanya Silvi panik melihat keadaannya.
"Sepertinya mbak Silvi udah mau lahiran ni," jelas dokter wanita yang bernama Saras.
"Tapi kenapa cairannya banyak banget keluar dok?"
"Itu hal normal dan wajar mbak, jangan panik saya bersama perawat akan membantu mbak Silvi."
Vico, Marinka dan Adi yang berada diluar mulai panik.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Vico menerobos masuk ke dalam ruangan persalinan merasa tidak sabaran.
"Tenang pak, istri anda akan segera melahirkan. Anda tunggu diluar dulu ya."
"Dok, boleh ga suami saya menemani saya disini?" pinta Silvi dengan wajah menghiba.
Tak tega melihat Silvi yang cemas, dokter itu mengijinkan Vico menemani Silvi.
Vico duduk disamping Silvi dan menggenggam tangan Silvi.
***
Sementara diluar ruangan, Sinta dan Zahra datang menemui mereka.
"Pak Adi, Bu Marinka, gimana keadaan nak Silvi?" tanya Sinta penuh kekhawatiran.
"Silvi lagi diruang persalinan, tadi dia kontraksi dan baru aja ketubannya pecah," jelas Marinka.
"Vico ada didalam menemani Silvi," tukas Adi pada Sinta.
Mendengarkan penjelasan Adi Sinta merasa lega.
Tepat dini hari Pembukaan sudah tiga hingfa sepuluh yang berlangsung sekitar tujuh jam. Silvi merasakan kram perut. Dokter yang berada di dekat Silvi membantu Silvi dengan perlahan.
"Ayo bu, tarik nafas, dorong yang kenceng biar bayinya keluar,"
Silvi menarik nafas panjang sambil mendorong keluar bayinya. Tangannya menggenggam erat tangan Vico.
Diiringi dengan peningkatan pembukaan leher rahim. Pada saat leher rahim telah terbuka 10 sentimeter dan bayi kembar itupun terlahir ke dunia.
Betapa bahagianya Silvi dan Vico saat mendengarkan suara tangisan dua bayi mungilnya. Tersirat senyum kebahagiaan dimata Silvi yang masih mengeluarkan air mata.
Para orang tua yang sedari tadi menunggu diluar, begitu mendengar suara tangisan bayi itu segera masuk, begitu besar keinginan mereka melihat bayi mungil itu.
Ketika di ruang persalinan, mereka melihat dua orang bayi mungil yang baru saja merasakan dunia.
Perawat yang menyambut kedatangan bayi mungil itu langsung membersihkan plasenta beserta darah dari tubuh mungil itu.
Dokter mengambil suntikan, kemudian melanjutkan mengeluarkan plasenta yang berlangsung selama lima belas menit. Proses ini diikuti kontraksi lagi, tapi tidak sehebat saat menjelang persalinan.
Dokter itu memeriksa apakah seluruh plasenta sudah terlepas dari dinding rahim atau belum, dengan menekan perut Silvu dan menarik perlahan-lahan tali pusar agar plasenta bisa keluar. Setelah seluruh plasenta beserta tali pusar keluar, barulah tubuh Silvi dibersihkan.
Selanjutnya dokter meletakkan si Kecil di atas tubuh Silvi sambil mencoba menghangatkannya. Silvi memeluk kedua buah hatinya dengan penuh kasih sayang dan rasa haru. Dia masih belum percaya dirinya telah menjadi ibu.
__ADS_1
"Mas, ini anak kita?"
"Iya sayang. Anak kita." Ujar Vico sambil membantu Silvi memeluk bayi satunya lagi.
"Ayo nak, bayinya diazani dan di iqamahkan dulu." Pinta Sinta pada Vico.
Vico mengikuti ucapan sang ibu dia segera mengazankan telinga kanan sang anak kemudian mengiqamahkan telinga kiri anaknya secara bergantian.
Suaranya bergertar saat melafazkan azan dan iqamah pada kedua putrinya. Rasa bahagia bercampur haru menjadi satu didalam hati dan pikiran Vico.
"Sayang aku jadi papa sekarang," ucapnya penuh rasa bahagia pada Silvi.
Silvi tersenyum penuh rasa bahagia melihat suaminya yang kegirangan memeluk buah hatinya. Pandangannya mulai melemah dan Silvi memejamkan matanya.
"Silvi, nak kamu kenapa?" Marinka langsung menghampiri Silvi yang terbaring lemah.
Silvi hanya diam dan tidak memberikan respon apapun.
Marinka merasa cemas dan khawatir. Dirinya mengguncang tubuh anaknya.
"Silvi bangun sayang. Kenapa kamu diam aja?"
Vico melihat darah mengalir diantara kaki Silvi.
"Ma... itu darahnya ngalir lagi. Ujar Vico sambil menunjuk kearah kaki Silvi.
Vico segera memberikan anaknya kepada Sinta untuk dipegangi. Kemudian menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Langsung saja dokter datang menemui Silvi untuk mengecek kondisi Silvi. Dan ternyata Silvi mengalami pendarahan pasca melahirkan.
"Suster tolong bayinya bu Silvi dibawa ke inkubator dulu."
Dokter segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa Silvi.
"Spertinya bu Silvi mengalami otot rahim lemas pasca melahirkan."
Dokter muda dan cantik itu meminta meninggalkan dirinya dan Silvi untuk proses pengobatan.
Dia memberikan obat oksitosin untuk memicu kontraksi rahim dengan menyuntikkan langsung ke Silvi.
Lalu dokter memberikan cairan infus pada Silvi.
Selang berapa lama kemudian, Marinka yang merasa khawatir langsung menghampiri dokter.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"
"Anak anda butuh transfusi darah untuk mengganti darah yang hilang." Tukas dokter itu.
"Ambil saja darah saya dok. Saya papanya." Ujar Adi.
"Baiklah, bapak ikut saya ke labor untuk melakukan tes."
Adi mengikuti dokter itu untuk melakukan transfusi darah.
__ADS_1