
Pagi itu seluruh keluarga telah berkumpul bersama, Davina yang mengkhawatirkan Silvi langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang nak, apakah sudah lebih baik?"
"Iya ma, aku udah lebih baik kok."
"Mama Davina sama papa Hermawan, nungguin Silvi dari kemarin ga cape? Mama sama papa istirahat dulu biar enakan."
"Ga apa-apa sayang, mama sama papa udah istirahat kok. Yang terpenting sekarang itu kamu sembuh dulu."
"Iya ma, makasih ya ma, pa, udah nungguin aku selama aku sakit."
Davina dan Hermawan hanya tersenyum mendengar ucapan Silvi.
Sesaat rasa antara anak dan orang tua itu terjalin. Meskipun Silvi masih belum mengetahui keadaan yang sebenarnya bahwa dirinya adalah anak kandung Hermawan dan Davina, namun ikatan batin memang tidak bisa dibohongi.
Marinka dan Adi yang melihat apa yang terjadi diantara mereka ikut merasakan kebahagiaan yang sama.
Vico yang masih kepikiran dengan anak-anaknya, menghubungi polisi yang telah melacak keberadaan si penculik. Melalui handphonenya dia menghubungi polisi yang melakukan pencarian.
"Halo pak, bagaimana perkembangan mengenai kasus penculikan anak-anak saya? Apakah sudah mendapatkan titik terang?"
"Maafkan kami pak Vico. Kami sudah berusaha dengan sebaik mungkin tetapi kami kalah cepat dengan penculik itu. Orang itu benar-benar telah merencanakan semuanya secara matang." Jelas Polisi tersebut.
"Lalu bagaimana, apakah anak-anak saya bisa ditemukan? Dan apakah anda sudah mengetahui identitas penculiknya?"
"Untuk saat ini kami belum bisa memastikan pelakunya tapi kami sedang mencocokkan data yang kami terima dengan orang yang namanya sama dengan pelaku."
"Siapa orangnya pak?"
"Dari hasil penyelidikan yang kami temukan berupa kwitansi transaksi mobil yang dirental pelaku, diketahui namanya Fredy, tapi kami belum bisa memastikan Fredy yang dimaksud yang mana. Karena masih dalam tahap pencarian."
Deg!!!
Mendengar nama Fredy, seketika hati Vico tersentak.
"Fredy? Nama yang sama dengan dokter yang pernah dikenalnya. Apa mungkin itu orang yang sama." Monolog Vico dihatinya.
"Halo pak Vico, anda masih mendengarkan saya?" Tanya Polisi itu pada Vico.
"Ah... iya pak, selain itu masih ada lagi bukti lainnya pak?" Selidiknya lagi.
"Kami sedang mencocokkan sidik jari pelaku yang trrdapat pada mobil yang digunakan penculik dengan sidik jari pada sapu tangan, secepatnya akan kami mengabarkan pada anda jika terdapat kecocokan dan hasilnya."
Setelah memberikan penjelasan tersebut percakapan merekapun berakhir.
Vico benar-benar dibuat penasaran dengan nama orang itu, dirinya mencurigai salah seorang dokter rumah sakit yang pernah memeriksa hasil visumnya saat dia diserang oleh para preman di tempat dia bekerja. Hanya saja dia masih meragukannya karena untuk apa seorang dokter melakukan penculikan? Bukankah itu melanggar kode etik pekerjaannya? Itu tidak mungkin dilakukan oleh dokter itu. Vico menepiskan kecurigaannya itu.
***
Di tempat berbeda, Fredy bersama istri dan anak-anak yang kini berada ditangannya telah bersiap-siap untuk pergi meniggalkan Indonesia. Laki-laki itu tidak main-main dia sungguh-sungguh akan memisahkan anak-anak itu dari orang tua kandungnya untuk selamanya.
Fredy bersama ketiga orang yang kini bersamanya telah sampai di bandara dan sedang menunggu pesawat yang akan membawa mereka menuju Singapura.
Saat Fredy sedang menikmati kebersamaannya bersama keluargnya, seseorang menghubunginya.
__ADS_1
"Halo pak Fredy. Anda dimana sekarang? Ada satu hal yang ingin saya tanyakan." Tanya orang itu padanya.
"Iya pak Naufal ada apa?"
"Begini,tadi pagi ada beberapa anggota polisi datang ke rumah saya dan menanyakan tentang mobil yang anda rental kemarin pada saya." Jelas orang itu padanya.
Mendengar ucapan dari lelaki itu dirinya cukup terkejit. Namun Fredy tidak hilang akal. Dia berpura-pura tidak mengerti.
"Apa? Polisi? Mengapa bisa seperti itu?"
"Entahlah pak. Sebenarnya hal itu juga yang ingin saya pertanyakan. Polisi bilang mereka sedang melacak kasus penculikan anak. Dan mereka mencurigai anda penculiknya menggunakan mobil yang saya rentalkan pada anda." Jelas Naufal pada Fredy.
"Lantas anda bilang apa pada mereka?" Selidik Fredy merasa penasaran.
"Saya jawab tidak tahu. Hanya saja polisi meminta bukti transaksi pada kwitansi perjanjian kita." Jelas orang itu padanya.
"Sial mengapa orang itu memberikan bukti transaksi? Bagaimana kalau polisi menyelidikinya? Benar-benar bodoh" gerutunya dalam hati.
"Pak Fredy, apa anda terlibat dalam kasus penculikan itu?" Cecar lelaki itu lagi.
"Maaf pak Naufal. Saya bukan penculik mungkin mereka salah orang."
Setelah berucap seperti itu Fredy mematikan ponselnya. Dia tidak ingin berlama-lama berdebat,karena semakin banyak yang ditanyakan tentunya akan membuatnya terjebak.
"Mas, siapa yang barusan menelpon? Kok tiba-tiba muka mas fredy jadi pucat gitu?" Tanya mila yang sedari tadi memperhatikan suaminya.
"Ah... bukan siapa-siapa kok. Itu hanya sales yang lagi menawarkan mobil padaku." Kilahnya mengelabui sang istri.
"Benar mas? Mas ga lagi nutupin sesuatu dari akukan?" Selidik Mila padanya.
Mila memang tidak mengetahui kelakuan suaminya. Murni semua tindakan yang diperbuat Fredy adalah dia sendiri dan atas inisiatifnya sendiri. Sedangkan Mila hanya mengetahui bahwa anaknya telah kembali.
Andai saja mila mengetahui kejahatan suaminya, pasti dia tidak akan pernah setuju.
Lama menunggu, akhirnya pesawat yang akan membawa mereka menuju Singapura telah tiba.
"Sayang itu sepertinya pesawatnya udah datang. Kita sudah dipanggil." Ucap Fredy mengalihkan pembicaraan.
Mila yang juga mendengarkan panggilan itu segera bergegas mengikuti Fredy. Tak lupa dirinya membawa bayi kembarnya. Fredy membantu Mila agar cepat menuju ke pesawat.
Akhirnya niat Fredy untuk membalas dendam pada Marinka tercapai. Kini baby twins telah pergi bersamanya dan entah kapan akan kembali lagi. Benar-benar dokter gila Fredy ini. Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Tega sekali dia memisahkan anak dan orang tuanya.
***
Sementara itu, ditempat berbeda Victory sedang mengajak Ayesha makan siang bersama Ayesha. Setelah menyibukkan diri dengan pekerjaan, Victory ingin meluangkan waktu untuk bersama Ayesha.
Victory memilih restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari kantor tempat mereka bekerja. Restorannya tidak seperti restoran pada umumnya, yang menunjukkan kesan mewah, malahan restoran yang mereka kunjungi saat ini lebih mirip dengan angkringan, tapi pengunjungnya sangat ramai. Restoran itu buka mulai jam satu siang hingga dini hari. Dengan menyajikan berbagai masakan Indonesia yang menggugah selera.
"Sayang, udah lama banget ya kita ga makan bareng kayak hari ini." Ujar Victory pada Ayesha membuka percakapan diantara mereka.
"Benar juga ya, kalau di ingat-ingat terakhir kita makan bersama saat di London, sisanya kita hanya mencuri-curi waktu untuk sekedar mengobrol bersama." Tukas Ayesha sambil mengulas senyum di bibir berwarna apel miliknya.
Memang benar yang dikatakan Victory, hampir seluruh waktu mereka telah dihabiskan untuk bekerja lebih kurang delapan jam sehari. Pastinya mereka sangat lelah dan membuat waktu bersama mereka juga berkurang.
"Oh ya sayang, ini restoran favoritku. Tempat ini satu-satunya restoran yang menyajikan masakan indonesia, karena pemiliknya adalah orang indonesia."
__ADS_1
"Benarkah? Wah, itu bagus sekali. Aku sudah lama tidak memakan makanan Indonesia selama di sini. Rasanya aku rindu untuk mencicipi makanan Indonesia." Tutur Ayesha dengan penuh antusias.
"Aku juga begitu sayang. Kita pesan makanan sekarang yuk. Disini menu yang paling laris dan favorit adalah sate kambing. Kamu suka ga sate kambing?"
"Hm... sate kambing? Aku suka banget."
"Ya sudah aku pesankan dulu."
Victory segera memanggil waiters yang ada di restoran itu kemudian memesan sate kambing dan tongseng kambing yang menjadi andalan restoran itu.
Tidak butuh waktu lama, makanan yang mereka pesan telah tersaji.
"Wah... ini menggiurkan sekali." Ucap Ayesha yang sudah tidak sabar ingin mencicipi makanannya.
"Ayo sayang. Dicoba, kamu pasti bakal ketagihan." Tukas Victory.
Ayesha yang sangat antusias untuk segera mengeksekusi makanan dihadapannya pun segera menyantap makanan tersebut. Benar yang dikatakan Victory makanan yang disajikan sangat enak dan menggugah selera. Mereka makan dengan sangat lahap dan dengan porsi yang cukup banyak.
"Ah... kenyang sekali. Kita makan banyak hari ini." Ucap Ayesha sambil mengusap perutnya.
"Apa kau suka? Kita belikan juga buat ibu ya?" Tawar Victory padanya.
Ayesha hanya menganggukkan kepala menandakan dirinya setuju.
Langsung saja Victory memesankan beberapa bungkus makanan untuk mereka bawa pulang.
Namun, ada satu hal yang ingin ditanyakannya. Mumpung Victory bersamanya, dia ingin meminta penjelasan.
"Sayang, aku mau nanya sesuatu sama kamu." Ucap Ayesha disela-sela kebahagiaan yang dirasakan Victory.
"Kamu mau menanyakan apa sayang?" Victory menatap mata indah Ayesha dengan serius.
"Hm begini. Beberapa hari yang lalu kamu ke ruangannya Reynold. Aku ga sengaja melihat kamu membuka file dari laptop Rey. Apa yang kamu lakukan?" Victory terhenyak dengan ucapan Ayesha. Dia benar-benar tidak ingin Ayesha mengetahui perbuatannya waktu itu.
"Hm... apa kau melihat semua yang kulakukan?"
"Aku hanya melihat kau membuka suatu file. Aku pikir kau membutuhkan file itu untuk pekerjaan kita."
"Apa? Bagaimana kau tahu aku membuka file perusahaan?"
Victory keceplosan bicara padahal Ayesha belum menanyakan sedetail itu padanya.
"Aku tidak tahu file apa yang sedang kau cari, tapi aku rasa kau melupakan sesuatu." Tukas Ayesha padanya.
"Lupa? Maksudmu?"
"Kau lupa untuk merapikan pekerjaanmu, kau tidak mematikan laptop itu, untung saja aku yang melihat file itu. Coba kalau orang lain yang menemukannya, bisa bocor rahasia perusahaan kita." Jelas Ayesha dengan santai.
Ayesha masih belum paham kalau Victory sengaja mengambil data perusahaan untuk mendapatkan kejelasan atas kasus kematian ayahnya. Wanita itu masih menganggap Victory hanya membuka file itu untuk pekerjaan.
"Oh itu. Aku memang lupa, karena terlalu sibuk aku lupa menutup file itu." Ucap Victory beralibi.
"Lain kali hati-hati jangan ceroboh lagi. Atau Reynold akan menghabisimu." Canda wanita itu padanya.
Sedikit menohok candaan Ayesha barusan, tapi yang dikatakannya benar. Kalau orang lain tahu rahasia perusahaan pasti akan kacau nantinya.
__ADS_1
Victory tidak terlalu memikirkan ucapan Ayesha. Selagi gadis itu tidak mencurigainya, tidak masalah jika Ayesha mengetahui apa yang diperbuatnya, dan dari situ pula Victory harus lebih waspada dan tidak berlaku ceroboh agar misinya bisa tercapai.