Menikah Dini

Menikah Dini
Tuntutan Palsu Marinka


__ADS_3

Lama berpikir Johan memutuskan untuk mengikuti Marinka. Sesampainya di Cafe Farah dan Johan menguntit Marinka dari belakang. "Tuch lihat mas, ngapain dia ke Cafe kalau bukan nemuin selingkuhannya? ujar Farah dengan penuh selidik.


Marinka menuju ke dalam Cafe. Dia segera menelpon Gerald.


"Halo, Gerald kamu dimana?"


Gerald menegakkan tubuhnya yang sedang duduk di bangku depan, karena tubuhnya cukup tinggi dia bisa melihat Marinka yang baru saja masuk ke Cafe.


"Bu, balik ke belakang saya berada tepat dibelakang ibu" ujarnya sambil memperhatikan wanita itu.


Marinka berbalik dan benar saja lelaki muda itu ada dibelakangnya dan memberikan senyuman padanya.


Marinka duduk berhadapan dengan Gerald. Kemudian Gerald memesankan minuman dan makanan untuk Marinka.


Farah dan Johan yang lagi menguntit segera duduk dipojokan belakang, mereka duduk tidak terlalu jauh dari tempat Marinka dan Gerald duduk sambil menguping pembicaraan keduanya.


"Jadi gimana kamu berhasil mendapatkan tanda tangan anak itu?"  tanya Marinka dengan wajah berseri.


"Hm begini nyonya Marinka, tadi setelah menemui Vico dia tidak bersedia menandatangani surat ini. Dia keberatan karena dalam perjanjian tercantum pernikahan mereka hanya satu tahun dan Vico mau pernikahan itu selamanya," jelas pengacara itu pada Marinka.


"Kurang ajar sekali anak itu, beraninya dia melawanku?" kesal Marinka mendengarkan penjelasan Gerald.


Farah dan Johan mendengarkan mereka dengan hati-hati.


"Perjanjian? Emang si Marinka bikin perjanjian apa?" Farah menatap pada suaminya. Johan hanya menaikkan bahunya menandakan dia juga tidak tahu dengan permasalahan Marinka.


"Begini bu Marinka, saya punya ide dan saya rasa ini sangat efektif untuk menekan Vico," ujar Gerald sambil menatap Marinka.


"Apa yang anda pikirkan?" Marinka menatap serius pengacara muda itu.


"Kita buat tuntutan saja. Jika Vico tidak mau tanda tangan surat perjanjian ini kita ancam akan memasukkan dia ke dalam penjara dengan tuntutan pemerkosaan!" pengacara itu memperlihatkan senyum seringainya.


"Apa anda yakin itu efektif? Kita tidak punya bukti dan kalau salah nanti malah dia menuntut balik," Marinka mengernyitkan dahinya.


"Itu perkara mudah tapi mengandung resiko berat nyonya".


"Maksud anda bagaimana?"


"Kita akan minta visum dari dokter di rumah sakit tapi hasilnya kita manipulasikan untuk membuktikan benar adanya tindakan pemerkosaan tersebut,"


Gerald cukup nekat memberikan ide aneh itu, tapi kalau tidak dengan cara memanipulasi data mereka tidak bisa menekan Vico.


Marinka masih berpikir atas ucapan Gerald. "Apa ini tidak berbahaya pak pengacara? Kalau sampai pihak berwajib tahu, kita bisa dipenjara," Wanita itu terlihat panik.


"Iya, itu makanya saya bilang resikonya cukup besar, tapi kalau anda mau mempercayakan semua sama saya. Saya akan lakukan semuanya secara rapi dan hanya kita berdua yang tahu". Tukas pengacara itu pada Marinka.


Marinka masih terpaku mendengarkan penjelasan Gerald padanya.


Disebelah sana Farah terbelalak mendengarkan pembicaraan mereka. "Marinka mau memanipulasi data?"


"Sstt mama itu suaranya dipelanin dikit. Gimana mau nguping kalau mama brisik terus?" Johan memperingatkan istrinya.


"Ups." Farah menutup mulutnya dengan tangannya.


Setelah lama memikirkan usul Gerald, Marinka angkat bicara "baiklah saya setuju, tapi tolong jangan sampai semua ini malah menyulitkan saya. Saya ga mau reputasi keluarga saya hancur karena permasalahan dengan anak ingusan begitu,"


"Baik. Saya akan usahakan secepatnya. Saya janji hasil visumnya akan dikeluarkan secepatnya dan pihak rumah sakit mau bekerjasama,"

__ADS_1


"Iya pak pengacara. Kamu urus saja, berapapun biayanya saya akan bayar yang penting anak itu bisa kita kendalikan," ucap Marinka penuh ambisi.


Pengacara itu menganggukkan kepalanya. Dia paham apa yang harus dilakukannya. Meskipun beresiko dia tetap nekat melakukan ide gilanya itu.


Setelah pertemuan itu mereka berpisah. Farah dan Johan juga segera kembali ke rumah mereka.


"Ini gila pa, marinka mau buat surat visum palsu," ujarnya pada Johan saat diperjalanan.


"Udahlah ma, biarin aja. Ga usah diurus. Tadi ini juga kalau bukan keponya mama yang tingkat dewa itu papa males banget ngikutin Marinka. Kaya orang kurang kerjaan aja," Johan benar-benar kesal karena ulah Farah. Yang benar saja seorang wakil direktur sepagi itu menguntit seseorang untuk hal yang tidak perlu diurusnya. Benar-benar membuatnya kehilangan pamor.


***


Farel baru saja mengantarkan Winda pulang kerumahnya. Sepagi itu mereka baru pulang. Apa yang mereka lakukan?!


*Flashback On*


"Lo mau bawa gue kemana Farel?" tanya Winda yang baru saja pergi bersama Farel.


"Lo ikut aja ga usah banyak nanya." Lelaki itu menarik tangan Winda ke motornya kemudian membawanya ke suatu tempat.


Diperjalanan, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya hening, Winda bingung dan sedikit takut Farel mengajaknya entah kemana, tapi dia ikuti saja.


Sampailah pada suatu tempat yang cukup indah, tapi syarat dengan pemandangan alam. Farel mematikan motornya. "Ayo turun" ujarnya pada Winda.


Winda hanya mengikutinya kemudian Farel mengajaknya duduk di suatu tempat yang agak jauh dari keramaian. "Duduk sini." Ucap lelaki itu sambil menepukkan tangannya ke tanah.


"Sebenarnya lo mau ngapain sich?" Winda sedikit takut dengan Farel.


"Sini duduk, gue ga bakal apa-apain lo. Gue cuma cerita,"


Winda duduk didekatnya dengan sedikit canggung. Apalagi saat ini dia mengenakan atasan yang sedikit terbuka dan roknya yang diatas lutut. Membuatnya sedikit susah jika duduk didekat Farel.


"Makanya lo kalo pake rok jangan yang kekecilan begini. Jadi susah sendiri lo kan?" Farel menertawakan gadis itu.


"Ya ga usah ngeledek gitu juga kali," Winda mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Sebenarnya gue tahu lo itu temannya Lyora dari pertama kali gue liat lo sama Tom. Makanya gue minta lo buat jadi tarohannya dan lo tahu kenapa?" jelas Farel pada gadis itu.


Winda hanya menggelengkan kepalanya.


Farel melanjutkan perkataannya "Karena gue ga mau sampai terjadi sesuatu yang ga baik sama diri lo. Lo tau siapa Tom?"


Winda menggelengkan kepalanya lagi.


"Dia itu anak geng motor dan lo bisa-bisanya ikut sama dia. Dia pacar lo?" cecarnya pada Winda.


Winda mengangguk pelan.


"Haddeh Winda... winda... lo tu emang ABG labil ya. Ga liat gimana penampilan tu cowok? Bisa-bisanya lo pacaran sama dia. Emang lo ga sayang sama diri lo?" Farel menatap lekat ke arah gadis itu.


"Gimana lagi, cuma dia yang bisa bikin gue nyaman. Selama ini dia yang ngertiin gue. Tapi..."


"Tapi dia malah jadiin lo tarohannya kan?"  sambung Farel.


Gadis itu menunduk malu, karena Farel tidak seperti yang dia bayangkan. Dia pikir kalaupun bersama Farel malam ini pasti juga akan dimanfaatkan, sama seperti kelakuan Tom ataupun lelaki lainnya.


Ternyata Farel ga sejelek itu.

__ADS_1


"Maaf kak Farel, aku tadi ga mikir sejauh itu."


"Lo ga perlu minta maaf ke gue. Lo minta maaf sama diri lo sendiri, mestinya lo tau gimana Tom." Farel mencoba menasehati gadis remaja itu.


Diapun hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya. Dia menangis, menyesal. Itu yang dirasakannya saat ini. Kenapa dia begitu bodoh pergi bersama lelaki seperti Tom. Untung saja bertemu dengan Farel, kalau tidak habislah dia.


"Eh... dia mewek lagi." Farel jadi bingung sendiri melihat Winda yang tiba-tiba menangis.


Lah ni anak bener-bener dah,  kalau sampe ada yang liat ntar dikira gue ngapa-ngapain dia lagi gumam Farel dihatinya.


Farel celingukan melihat kanan kiri. Merasa tidak tega diapun merapat kepada Winda. Farel merangkulnya untuk menenangkan gadis itu.


"Jangan mewek," pintanya pada gadis itu.


"Kak Farel, makasih ya udah ingetin aku" Winda menyandarkan kepalanya dibahu bidang milik Farel.


"Iya. Lo itu kan masih adekan gue jadi gue ingetin lo."


Tumben hari ini Farel bijak. Sepertinya angin sepoi-sepoi dimalam itu membuat hatinya tenang.


"Iya kak," jawab Winda pelan.


"Ya udah sekarang gue anterin lo pulang," ajaknya pada gadis remaja itu.


"Ga mau. Aku mau disini aja. Temenin aku kak. Please" pintanya sambil memohon pada Farel.


"Ini udah malam gimana mungkin gue berduaan doang sama lo? Kalo gue kesambet terus ngelakuin sesuatu sama lo gimana?" Farel mencoba menakuti Winda.


"Ga kak, aku percaya sama kakak. Kakak itu orang baik." Winda tersenyum menatap Farel.


"Please ya kak. Temenin aku". Pintanya lagi sambil merengek.


Farel merasa keberatan tapi mau tidak mau dia tetap mengikuti kemauan gadis itu. Alhasil mereka hanya duduk diatas bukit sambil bercengkrama sampai pagi.


*Flash Back Of*


"Winda, win... winda bangun. Lah ni anak malah molor," ucap Farel yang menoleh ke belakang. Melihat Winda yang kini tertidur dipunggungnya. Mungkin terlalu lelah cerita sampai pagi jadinya dia tertidur di motor saat Farel mengantarnya.


Farel membalikkan tubuhnya merangkup wajah gadis itu. Dia memperhatikan dengan saksama wajah Winda. Manis juga ni cewe gumamnya dalam hati. Farel segera menyingkirkan rasa kagumnya pada Winda dia menepuk pelan wajah gadis itu.


"Winda bangun! Rumah lo yang mana?" sentaknya agak meninggikan suaranya.


"Aaa kak Farel aku ngantuk," gadis itu menggeliat seperti cacing.


"Eh, lo bangun ga. Ato gue tinggalin disini," tegasnya pada Winda.


"Kita dimana kak?"


" Dikomplek Perumahan Asri. Kan lo bilang rumah lo deket sini. Nah, sekarang lo kasih tau rumah lo yang mana? Biar gue anterin".


"Itu kak jalan dikit lagi terus belok kanan," jelas Winda masih dengan matanya yang mengantuk.


Farel segera melajukan motornya dan akhirnya sampai dirumah Winda.


"Winda, ni udah nyampe. Turun gih".


Winda turun dari motor Farel dengan malas. "Iya... iya. Sabar dikit. Galak amat daritadi."

__ADS_1


"Gue pulang dulu."


"Hm, iya. Makasih udah anterin aku pulang," ucap gadis itu sambil melongos. Farel segera tancap gas dan berlalu dari hadapan gadis itu. Bahkan dia lupa kalau jaketnya masih dipakai Winda dan belum dikembalikan padanya.


__ADS_2