Menikah Dini

Menikah Dini
Will You Marrie Me?


__ADS_3

Silvi cukup heran dengan sikap Riana yang tiba-tiba berani melawan Lyora. Dia menatap lekat Riana yang dari tadi memegang tangannya untuk pergi bersamanya.


Riana menoleh padanya "kenapa kamu melihatku seperti itu?"


"Bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti tadi pada Lyora," gadis itu menatap dalam padanya. Masih belum percaya adegan yang dilihatnya tadi itu benar-benar Riana. Ya Riana si cupu, yang tiba-tiba jadi seberani itu!!!


"Lyora itu udah keterlaluan dan aku muak sama sikapnya itu!!!" Riana menghembuskan nafas berat sambil menghadapkan wajahnya ke depan.


Silvi hanya terdiam, dia mengerti memang selama ini Lyora sudah sangat keterlaluan terlebih pada dirinya.


"Iya aku ngerti. Cuma dia sampai meringis gitu," ujar Silvi sambil menahan tawanya mengingat wajah Lyora yang kesakitan saat tangannya dipelintir Riana.


Seketika tawa Riana pecah, kala mengingat kembali kejadian tadi. Dia juga merasa tidak percaya bagaimana bisa dia melakukan itu pada Lyora?.


Silvi ikut tertawa melihat Riana yang mengerti dengan maksudnya bertanya seperti itu.


Sebuah mobil sport baru saja tiba dihadapan mereka dan seorang lelaki turun dari mobilnya.


"Riana ayo pulang,"


"Hans kamu udah datang. Iya, ayo. Silvi aku barengan sama Hans. Kamu mau ikut?"


"Ga Ri. Makasih, aku tunggu pak Suryo aja,"


Riana dan Hans segera berpamitan kemudian mereka masuk ke mobil dan meninggalkan Silvi.


Silvi baru saja ingin menelpon pak Suryo, tapi seorang lelaki mengendarai motor sport menghampirinya. Dia menoleh ke arah lelaki itu sambil menutup ponselnya. " Vico?" ujarnya sambil mengernyitkan dahinya.


"Silvi, ayo aku antar kamu pulang," ajaknya pada gadis itu.


Silvi hanya diam memperhatikannya.


"Sampai kapan kamu mau menghindariku?"


Silvi tetap diam mematung tidak ingin menjawabnya.


"Ayolah, jangan seperti itu padaku," Vico turun dari motornya dan mendekati Silvi.

__ADS_1


Gadis itu memundurkan langkahnya ke belakang sambil menundukkan kepala. Ada kesedihan terpancar dari wajah gadis cantik itu. Masih merasa malu dan trauma.


Vico tetap mendekat, lalu memeluknya pelan. "Aku mohon jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu, " bisiknya lembut ditelinga gadis mungil yang tingginya sebahu lelaki itu.


Pelukan itu seakan memberikan kenyamanan pada Silvi. Dia merasakan ada ketenangan saat tangan lelaki itu melingkar ditubuhnya dan usapan kecil dirambutnya itu membuatnya lebih tenang dari sebelumnya. Tanpa dia sadari diapun membalas pelukan itu dan menaruh wajahnya didada lelaki itu. Suasana menghangat.


"Aku tahu Silvi. Kamu ga benci sama aku. Kita akan pecahkan masalah kita bersama-sama," sambungnya lagi.


Hanya anggukan kepala yang diberikan gadis itu menyatakan dia setuju dengan ucapan lelaki itu.


***


Vico mengajak Silvi ke danau yang pernah menjadi saksi cinta mereka. Dimana pertama kali Vico mengungkapkan cintanya pada Silvi dan saat itu juga Silvi menerimanya.


Ditempat itu ada ayunan yang bergantung dibawah pohon, Vico mengajak Riana ke ayunan itu dan menyuruhnya duduk disana. Kemudian dengan perlahan Vico mengayunkan ayunan itu. Silvi terlihat senang dan senyumnya kini merekah diwajah indahnya.


"Kamu senang?" Vico memperhatikan keceriaan diwajah ayu gadis berambut ikal itu.


Silvi mendongakkan kepalanya ke arah Vico dan mengangguk melukiskan rasa senangnya diwajahnya.


"Silvi, apa aku boleh tanya sesuatu?" sambungnya lagi.


Vico menghentikan ayunannya kemudian mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan sambil berlutut membuka kotak kecil yang dikeluarkannya dari saku jaketnya.


"Will You Marrie Me?" Lelaki itu berlutut di kaki silvi sambil menunjukkan isi kotak kecil itu padanya.


Silvi terkejut melihat isi kotak itu sepasang cincin emas putih. Matanya membola tak mampu berucap sepatah katapun.


Dia benar-benar terkejut dan melongo. Bukan karena cincin itu tapi ucapan yang baru saja didengarnya dari mulut Vico.


"Silvi, Will You Marrie Me?" Vico mengulangi ucapannya lagi.


Silvi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sungguh Vico merasa bahagia luar biasa saat gadis itu menganggukkan kepalanya. Diapun segera memasangkan cincin itu di jari manis Silvi dan sebaliknya Silvi menyematkan cincin itu dijari manis Vico.


Begitu hangat membuat Vico secara spontan memeluknya dengan erat. Wanita itu terharu dan buliran air matanya menetes dipipinya yang terlihat kemerahan.


"Makasih Vico," ujar Silvi.

__ADS_1


Mendengarkan Silvi yang sudah mau berbicara dengannya membuat Vico sangat senang. Sudah lama dia menunggu Silvi membuka suara padanya, karena semenjak accident dipesta ulang tahun Lyora waktu itu Silvi banyak menghindarinya dan tidak mau bicara dengannya.


Vico menatap dalam wajah sendu itu, dia menggenggam erat tangan wanita itu "Silvi, aku janji akan secepatnya melamar kamu, tapi kasih aku waktu buat siapin semuanya dulu. Aku janji secepatnya kita akan menikah,"


Vico berjanji dengan sungguh padanya.


"Aku percaya sama kamu Vico. Tapi..." Silvi menghentikan ucapannya.


"Tapi apa Silvi?".


Silvi terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya "Tapi aku bingung, kita kan masih sekolah,gimana kita akan menikah?"


"Iya aku paham. Sebentar lagi ujian kelulusan sekolah, semoga aja ga ada yang nyebarin gosip tentang kita. Jadi kita bisa selesaikan dulu ujian akhir setelah itu kita menikah."


Silvi menganggukkan kepala setuju, tapi sejujurnya baik Silvi maupun Vico juga sebenarnya sepakat supaya berita kehamilannya dirahasiakan saja dulu. Biar mereka bisa menyelesaikan ujian akhir, baru menikah.


***


"Brengsek!!! Sialan Riana!!! Udah berani dia ngelawan gue!!!" teriak Lyora sambil memaki-maki dan menendang kursi di Cafe tempat dirinya n the genk sedang berkumpul.


"Udah Ly. Duduk sini dech. Mending dinginin otak lo dulu," Winda menarik pelan lengan Lyora, mengajaknya duduk didekatnya.


"Gue harus buat perhitungan sama mereka!!!" suaranya masih saja meninggi meskipun telah duduk didekat Winda.


"Hmm gue heran aja sama tuch si cupu. Sejak kapan dia berani gitu. Biasanya digertak langsung nunduk aja?" ujar Cecyl sambil mengusap dagunya.


Alisha hanya mencibirkan bibirnya sambil menaikkan bahunya malas menjawab takut disemprot sama Lyora.


"Gue mau tuch cewe di DO dari sekolah," ujar Lyora dengan tatapan penuh benci melihat ke arah depan.


"Emang lo mau merencanakan apa Ly?" selidik Winda.


Jiwa keponya seketika meronta, ingin tahu apa yang ingin diperbuat oleh sahabatnya itu.


"Buat urusan yang satu ini biar gue yang urus. Lo pada tinggal tunggu aja waktunya," geram Lyora dengan mata memicing dan senyuman liciknya.


Para sahabatnya hanya saling menatap bergantian tidak mengerti dengan apa yang akan direncanakan perempuan itu pada Silvi dan Vico.

__ADS_1


Sepertinya dia memang niat sekali untuk membuat Silvi di Drop  Out dari sekolah. Seakan pembullyannya tidak pernah ada akhirnya untuk gadis malang itu.


Winda hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Lyora. Sebenarnya dia tidak suka dengan kelakuan Lyora tapi mau bagaimana lagi? Kalau udah jadi teman satu genk mau ga mau harus ikutin gaya hidup mereka yang terkadang sering bertentangan dengan hati nurani, kalau tidak begitu mana mungkin bisa tetap bertahan sama makhluk egois semacam Lyora.


__ADS_2