
Vico masih berkutat dengan motor yang ada dihadapannya. Menikmati hari-hari hukuman dari sekolah selama seminggu dengan bekerja di bengkel. Satu hal yang dia sukai saat dirinya berkubang dengan oli, sambil menyetting motor customer, desingan suara knalpot yang nyaring itu membuatnya merasa puas melepaskan sejenak beban dipundaknya.
"Vico, hari ini yang punya motor mau ambil motornya, apa kamu udah siap setting motornya?" tanya lelaki paruh baya yang sedari tadi memperhatikan dia bekerja.
"Udah pak. Ini baru aja selesai," Vico begitu bersemangat kala melihat motor settingannya yang telah dirapikannya.
"Ya sudah kamu antar dulu ke orangnya, dia lagi nunggu di depan,"
"Baik pak," dia segera melajukan motor itu dan mengantarkannya pada yang punya.
Seorang lelaki muda telah menunggu dengan tidak sabaran hasil settingan motornya. Dia benar-benar ingin mengendarai motor itu secepatnya.
"Motor gue, cakep bener ni," ujarnya ketika mendapati motornya yang telah dimodifikasi.
"Lo... pacarnya Lyora kan?" Vico yang memandangi lelaki pemilik motor itu.
Mampus gue. Mudah-mudahan dia ga ingat kalau gue yang udah jebak dia sama Silvi monolognya dalam hati. Matanya melirik ke kiri dan kanan menutupi kepanikannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Vico, cowo tengil satu ini malah langsung memberikan uang pada Vico kemudian mengendarai motornya dan secepat mungkin dia menutupi wajahnya dengan helm.
"Mas ini uangnya masih ada kembaliannya," teriak Vico memanggil lelaki itu.
"Udah lo ambil aja buat tips lo," diapun langsung tancap gas dan menghilang dari hadapan Vico.
Dasar orang aneh, tapi bener dech itu kayaknya si Farel gumam Vico merasa yakin lelaki yang dilihatnya itu benar-benar Farel sepupunya Silvi.
***
"Wah, ini benar-benar mukjizat. Kondisi bu Indri semakin membaik," dokter Arfan baru saja mengecek kondisi pasiennya.
"Iya, aku senang banget ibu bisa bertahan sampai saat ini. Aku udah ga sabar mau bawa ibu pulang. Biar kita bisa sama-sama lagi," wajah Ayesha begitu berbinar-binar melihat wajah sang ibu yang mulai cerah. Saat ini wanita paruh baya itu sudah terlepas dari kabel-kabel alat pemacu detak jantungnya dan selang infus juga sudah bisa dilepas dari tangannya.
"Syukurlah Ayesha, ibumu sudah bisa pulang hari ini. Kamu pulangnya sama siapa?" Arfan memperhatikan wanita muda yang sedang sibuk menata baju ibunya untuk kepulangannya hari ini.
"Saya yang akan mengantarnya pulang," tiba-tiba saja seorang lelaki muda menghampiri mereka.
"Pak Victory, kok bapak tahu saya disini?" Wajah Ayesha terlihat kaget dan benar-benar kikuk saat melihat atasannya itu ada di pintu ruang inap.
__ADS_1
"Iya tahu dong. Kan saya udah hubungi dokter Arfan," ujarnya sambil tersenyum pada dokter muda itu.
Ayesha tersenyum simpul mendengar ucapan lelaki itu.
"Ayesha maaf ya, gara-gara ibu kamu jadi repot. Kamu mesti jagain ibu kamu yang sakit-sakitan ini, pasti biaya yang kamu keluarkan ga sedikit," sesal wanita paruh baya itu bukan terhadap Ayesha tapi pada dirinya sendiri yang penyakitan.
"Bu Indri ga perlu mikirin biaya, ibu nikmati saja kehidupan ibu saat ini, karena semua biaya telah dibayarkan pak Victory?" jelas dokter Arfan pada wanita paruh baya itu.
"A... apa? Pak Victory membayar semuanya?" Mata gadis itu terbelalak memperhatikan Victory.
"Maaf Ayesha. Saya tidak bermaksud lancang membantumu tanpa izin darimu. Percayalah saya melakukan ini tulus untuk membantumu," jelas Victory agar gadis itu tidak salah paham padanya.
"Itu siapa nak?" Indri merasa bingung pada lelaki yang sedari tadi ada didekat mereka.
"Ahm, itu pak Victory. Wakil Direktur perusahaan tempat Yesha bekerja bu".
"Pak Victory. Terimakasih banyak atas kemurahan hati bapak" Indri menundukkan kepalanya menghargai dan menghormati lelaki muda itu.
"Sudah tidak apa-apa bu. Sudah tanggung jawab saya sebagai atasan kepada karyawannya bu".
***
"Gosip apaan ya Deb" wanita yang bernama Risma itu kini mendekatkan kepalanya ke arah kaca pembatas ruang kerja mereka.
"Itu loh. Soal anak bos kita yang..." gadis yang bernama Debi menjeda perkataannya sambil matanya diarahkan ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang mengawasinya.
"Eh, iya. Gue tau. Pasti lo udah pada tahu rumor yang beredar diinternet beberapa waktu lalu" seorang wanita yang sedang memfotocopy file ikutan nimbrung bersama mereka.
"Airin lo sempat liat video itu juga?" Debi kini menghadapkan kursinya ke arah Airin.
"Iya. Kan video panas itu tiba-tiba beredar tapi dengar-dengar itu video udah diretas setelah satu hari beredar," timpalnya lagi.
Pergosipan mereka semakin seru, namun terhenti saat seseorang muncul dihadapan mereka.
"Hmmm, kalian ini tidak punya kerjaan ya? Pagi-pagi sudah bergosip," Lelaki paruh baya itu mendekat memperhatikan ketiga orang tersebut. Dirinya merasa terpanggil.
"Eh... pak Adi selamat pagi pak," sapa Debi padanya untuk menghentikan persogipan mereka.
__ADS_1
"Ayo bekerja kembali!" titah pria itu pada mereka bertiga.
Merekapun kebali melakukan pekerjaan mereka dan saling mengode dengan pandangan mereka masing-masing.
"Lo sich Deb, pagi-pagi ngegosip aja," Airin menyalahkan Debi karena wanita itu yang memulai pembicaraan mereka.
Adi benar-benar kesal dengan para karyawannya yang baru saja ditemuinya saat dia hendak masuk ke ruang kerjanya. Sekilas dia mendengarkan pembicaraan mereka. Membuat Adi marah dan cukup tercengang. Secepat itu berita tentang video syur dankehamilan Silvi tersebar hingga karyawan perusahaannya juga ikut mengetahui hal ini.
Membuatnya merasa pusing.
Diapun mengusapkan tangannya ke kepalanya yang terasa berat, saat ini dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Tubuhnya terasa tak berdaya saat mendengarkan sindiran dan ejekan dari para karyawannya itu. Matanya mulai berkunang-kunang dan seketika wajahnya memucat. Nafasnya terasa sesak,jantungnya terasa sakit dan tubuhnya kini rubuh di sekitar meja kerjanya.
BRAK!!!
Para karyawan yang berada di sekitar ruangannya mendengarkan suara hempasan yan begitu keras.
"Rin, lo dengar suara barusan?" tanya Debi yang terperanjat dengan suara yang cukup keras itu.
"Iya gue dengar kok. Kayaknya dari ruangan pak Adi,"
"Pak Adi kenapa tuch?" Risma kini ikutan penasaran dengan wajah keponya menegakkan tubuhnya ke arah ruangan Adi.
"Ga tau. Kita lihat aja yuk," ajak Airin penasaran.
"Takut gue. Ga lihat lo tadi. Pak Adi bete banget sama gue?" Debi menciut takut. Masih teringat ekspresi wajah Adi saat menegur mereka tadi.
"Ah, gue ada ide. Ini gue ada laporan yang mesti ditandatangani pak bos. Gue samperin aja dulu,"Risma mendapatkan ide cemerlang.
"Nah. Iya tuch, coba lo samperin sono". Airin mengangguk setuju.
Risma segera menyiapkan laporan yang telah difotocopynya kemudian mengetuk pintu ruangan Adi. Tidak ada jawaban. Sampai tiga kalj dia mengetuk pintu ruangan itu masih tidak ada jawaban. Dia membalikkan tubuhnya sambil menaikkan bahunya menatap kepada kedua temannya.
"Samperin aja Ris. Kali aja si bos kenapa-napa," ujar Debi penasaran.
Risma mengikuti perkataan Debi. Dia segera masuk dan saat baru saja menghampiri meja Adi dia melihat Adi telah terkapar didekat meja kerjanya.
"Tolong!!!" Risma histeris. Membuat semua orang di sekitar ruangan itu menghampirinya.
__ADS_1
"Bantuin dong. Malah melongo aja," pinta Debi yang berlari menuju ke arah Adi.
Karyawan lelaki bersegera menghampiri Adi yang sedang tak berdaya dan memapah tubuh Adi. Airin menghubungi ambulance untuk meminta bantuan. Tidak butuh waktu lama ambulance telah sampai menjemput Adi. Tubuhnya kini dibawa diatas tandu dan terpasang selang oksigen dihidung dia. Kemudian dimasukkan tubuh lemah itu ke mobil ambulance menuju rumah sakit.