Menikah Dini

Menikah Dini
Hamil !!!


__ADS_3

Reynold baru saja masuk ke ruang kerjanya yang telah seminggu tidak dihuninya, karena dirinya baru saja menghabiskan liburannya di Indonesia. Dia masih berkutat dengan layar laptopnya. Memandangi siklus dana masuk dan keluar perusahaan. Seorang wanita menghampirinya "pak ini dokumen-dokumen yang akan ditanda tangani," ucap wanita itu sambil meletakkan dokumen ke atas meja kerja Reynold.


Reynold mendongakkan kepalanya "kamu? Siapa kamu?" Dia heran memperhatikan gadis itu.


"Sekretaris baru pak. Perkenalkan nama saya Ayesha Clarisa. Panggil saya Ayesha," jelasnya sambil mengulurkan tangannya.


"Oh iya. Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" Reynold menganggukkan kepala sambil menyalami wanita itu.


"Ayesha baru seminggu bekerja disini," Victory menimbrung sambil masuk menuju ke arah Reynold.


"Victory. Udah datang lo? Lo kenal sama Ayesha?"


"Iya, gue ketemu sama dia pas di Bandara mau balik ke sini, terus cerita-cerita sama Ayesha, katanya dia mau cari kerjaan ya udah gue tawarin aja kerja di perusahaan ini. Mumpung si Rizka lagi cuti lahiran kan mending diganti sama Ayesha aja," jelas Victory sambil duduk di hadapan Reynold.


"Baguslah kalau begitu. Ayesha selamat bergabung di Abimana Group," ujar Reynold dengan senyum ramahnya.


"Terimakasih pak. Saya permisi dulu," Ayesha mengundurkan diri untuk kembali keruangannya.


"Vic, gimana perkembangan proyek apartemen kita di Sidney?" tanya Reynold sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.


"Udah ada kemajuan kok. Kemaren gue baru aja ngurusin buat persiapan pembangunan. Gue udah minta Frans buat mencari kontraktor yang handal supaya proyek yang bakal kita buat nanti bisa bagus hasilnya,"


"Ga pake kontraktor yang biasa aja?"


"Om Abi pengen konstruksi bangunannya lebih bagus dari yang sudah-sudah sedikit ada kesan elegan dan unik designnya, jadi gue disuruh cari kontraktor yang baru.Terutama yang ahli buat mendesign,"


"Ok dech kalau gitu maunya gue ikut. Eh iya Vic, nanti temenin gue ke club ya."


Victory tersenyum dan mengacungkan jempolnya menandakan setuju pada Reynold.


***


Flashback on


Saat Silvi berada di apotek secara tidak sengaja, Winda yang baru saja selesai belanja di Supermarket melihat Silvi. Dia memperhatikan Silvi yang kelihatan gugup dan tidak ingin diketahui saat sedang berada di apotek.

__ADS_1


"Itukan Silvi. Mau ngapain ya dia ke apotek? Mending gue ikutin aja dech,"  gumamnya sambil celingukan memperhatikan Silvi, diapun mengendap-endap membuntutinya.


Winda memperhatikan dan menguping pembicaraan Silvi dan apoteker itu dengan saksama. Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik Silvi. Dan betapa kagetnya dia, ketika mendengarkan Silvi membeli alat tes kehamilan alias tespek.


Awalnya Winda tidak begitu percaya tapi setelah Silvi pergi dari apotek itu, Winda yang kepo langsung menemui apoteker tersebut dan mba, maaf saya saudara perempuan tadi. Saya mau nanya cewe tadi itu beli apa ya? ujarnya sedikit berbohong.


"Oh mba yang tadi. Dia beli tespek," jelas petugas itu.


Tespek? Silvi hamil? Tanyanya dalam hati merasa penasaran.


Winda langsung berpamitan dengan apoteker itu dan mengucapkan terimakasih padanya. Masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya tadi Winda seperti orang bingung mencoba menerka dan menduga-duga apa yang sedang terjadi pada Silvi.


Flashback Off


"Eh, ngelamun aja lo. Mikirin apa?" Tiba-tiba Lyora n the genk mengagetkan lamunannya.


"Ah, lo pada ngagetin aja,"  ucapnya sambil menatap teman-temannya yang baru sjaa duduk dihadapannya.


"Lo mikirin apa dari tadi serius banget?" Alisha menimpali.


Ketika Lyora n the genk sedang asyik berkumpul, mereka melihat Silvi yang baru saja duduk di bangku kelas itu. Saat ini perasaan Silvi sedang tidak menentu. Dia merasa terpukul dengan apa yang baru menimpa dirinya. Meskipun keadaannya belum begitu fit tetap saja dia memaksakan diri untuk masuk sekolah.


Lyora memperhatikan Silvi, tapi dia tidak mengucapkan apa-apa hanya tatapan sinis dan sedikit merendahkan pada perempuan yang ada dihadapannya.


Bel pertanda jam pelajaran dimulai berbunyi para siswa yang duduk sembarangan sekarang telah berhamburan ke tempat duduk mereka masing-masing kemudian dudul dengan rapi. Pelajaran segera dimulai.


Vico yang sedari tadi memperhatikan Silvi membuka percakapan. "Sil, kamu ga apa-apa?"


Silvi hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara sedikitpun. Sepertinya dia benar-benar malas untuk berbicara.


Vico masih memperhatikan Silvi, dia melihat wajah gadis itu begitu pucat dan terlihat sangat lemah, tapi Vico tidak bisa berbicara banyak, tidak ingin membuat Silvi menjadi tidak nyaman.


Sampai jam pelajaran selesai tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Silvi dan tiba-tiba. Silvi ingin keluar kelas sebentar dan tiba-tiba...


"Aduh, sakit," Silvi meringis kesakitan.

__ADS_1


"Silvi, kamu kenapa?" Vico mencoba mendekatinya.


"Perutku... perutku sakit banget," dia meringis kesakitan memegangi perutnya.


Winda yang tidak sengaja memperhatikannya, teringat akan kejadian di apotek "apa benar dia hamil ?!?" Gumamnya dalam hati.


Vico masih menyibukkan diri dengan memperhatikan Silvi yang kesakitan. Tiba-tiba Silvi berjongkok dan merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya, kemudian tubuhnya melemah dan pingsan. Vico merasa iba dan tidak tega akhirnya menggendong Silvi kemudian berniat membawanya ke rumah sakit.


Riana memperhatikan Vico kemudian megikutinya.


"Vic, pake mobil aku aja. Itu supir aku udah ada di luar."


Tanpa bicara apapun Vico mengikuti Riana dan memasukkan Silvi ke dalam mobil Riana.


Saat di rumah sakit, mereka langsung mengantarkan silvi ke IGD untuk diperiksa keadaannya. Ada dokter dan dua orang suster yang kebetulan sedang bertugas. Mereka langsung membantu Silvi supaya bisa berbaring.


"Mohon adik-adik tunggu diluar dulu ya," ujar seorang suster yang bernama Afika. Terlihat dari name tag yang terapsang dibaju seragamnya.


Mengerti dengan keadaan, Riana dan Vico langsung mengikuti perkataan suster itu untuk menunggu diluar.


Dokter yang sedang bertugas memasangkan stetoskop ditelingannya kemudian mengecek keadaan Silvi.


Tak lama kemudian dokter itu keluar dari ruang periksa "adik-adik, apakah ada yang bisa menghubungi orang tua anak itu?" tanya dokter itu sambil memperhatikan Riana dan Sivi.


"Teman kami gimana kondisinya pak?" Vico balik bertanya karena penasaran.


"Begini, dek Silvi itu lagi hamil," ujar dokter itu.


Sontak saja Vico dan Riana saling menatap kaget.


"Baik dok, biar saya yang bicara sama orang tua Silvi nanti," ujar Riana mengakhiri pembicaraan. Dokter itupun meninggalkan ruang periksa.


Vico mengusap wajahnya kasar dan akhirnya apa yang ditakutinya jadi kenyataan. Matanya memerah tangannya mengepal memperlihatkan buku-bukunya yang memutih. Secara refleks Vico meninju tembok rumah sakit. Vico merasa frustasi dengan apa yang baru saja diucapkan dokter itu. Dia benar-benar bingung dan panik. Harus bagaimana menghadapi Silvi.


HAMIL!!!  Teriak Winda dalam hatinya. Ternyata saat mengantarkan Silvi tadi, diam-diam Winda membuntuti mereka. Dia bersembunyi dibalik tembok sambil mengintip dan menguping.

__ADS_1


Ternyata benar dugaannya. Silvi Hamil. Winda benar-benar kaget tak percaya, tapi itulah kebenarannya SILVI HAMIL.


__ADS_2