
Daren baru saja memejamkan matanya namun berkali-kali dia mwncoba memicingkan matanya tapi bayangan wajah Silvi selalu saja berputar-putar dipelupuk matanya. Wanita itu benar-benar telah membuatnya tak bisa tenang. Daren mengambil ponselnya, melihat jam dilayar ponselnya telah menunjukkan pukul dua dini hari.
Daren cukup sadar itu bukan waktu yang tepat untuk menghubungi seorang wanita, tapi dia tak bisa mengendalikan perasaannya. Dia sungguh merindukan wanita itu. Setelah berpikir cukup lama akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Silvi.
"Halo siapa ini? jawab seorang wanita dengan suara beratnya.
"Hai apa aku mengganggumu?" tanya pria itu dengan suara pelan.
"Ini siapa mengapa menggangguku malam-malam seperti ini?" Silvi masih enggan membuka matanya.
Sayang, siapa yang menelponmu semalam ini? Sayup-sayup terdengar suara seorang pria di dekat wanita itu.
Degg!!!
Hati Daren tersentil oleh ucapan pria yang baru saja didengarnya. Sayang? siapa pria itu, beraninya dia memanggil sayang pada wanita yang dicintainya.
Ap benar Silvi dengan seorang pria, tapi siapa pria itu? Ah sudahlah mungkin dia salah dengar.
"Halo ini siapa? ada perlu apa sama istri saya malam-malam seperti ini?" tanya seorang pria yang kini beralih menjawab panggilan telponnya.
Jadi benar yang aku dengar tadi? tapi dia bilang Silvi istrinya? apa gadis itu sudah menikah? berbagai macam pertanyaan muncul dibenaknya. Merasa kesal dia mematikan panggilan telponnya. Daren tidak percaya kalau wanita yang dicintainya itu telah menikah. Dia harus mendapatkan jawaban pasti dari pertanyaannya itu.
"Dasar orang aneh, mengganggu saja," gerutu Vico meletakkan ponsel itu dwngan kesal diatas nakasnya.
***
__ADS_1
Pagi harinya, Silvi baru saja menyelesaikan semua aktifitas rumahan yang selalu dilakukannya. Vico mengamati wanita itu semenjak bangun sampai saat ini, dirinya masih penasaran dengan penelpon tadi malam, siapa orang itu? Padahal rencananya hari ini dia ingin berlama-lama dengan sang istri karena telah satu minggu berada jauh dari wanita kesayangannya, tapi gara-gara penelpon misterius itu membuatnya merasa kehilangan moodnya pagi ini.
"Sayang, ayo sarapan dulu. Aku udah siapkan roti bakar sama susu coklat kesukaan km," ajak Silvi pada sang suami.
Vico hanya mengikut tanpa menjawab apapun. Dirinya segera bangkit dari kursi santainya dan menuju ke ruang makan. Seperti biasa mereka makan bersama, disana ada Marinka dan juga Adi.
"Pa, hari ini ada pertemuan antar perusahaan di hotel, papa akan hadirkan nanti?" Marinka mencoba membuka pembicaraan.
Dia sengaja mengajukan pertanyaan itu karena ada satu maksud yang ingin diutarakannya saat ini.
"Iya, acaranya bakal diadakan nanti malam dan acara itu juga ikut mengundang pasangan dari para pemilik perusahaan," pungkas Adi pada sang istri.
"Oh ya Vick perusahaan mas Arya juga diundangkan? apa Hans dan Riana juga akan hadir?" Marinka mencoba memancing, bukan tanpa alasan dia bertanya seperti itu jika memang yang diundang para pemilik perusahaan sudah pasti yang akan hadir para CEO dan Marinka ingin memastikan Vico tidak akan ke acara itu dan pastinya juga ada Daren disana, dia berencana jika memang begitu adanya dia akan mencari alasan supaya yang datang bersama suaminya itu adalah Silvi
"Iya ma, mereka diundang tapi sayangnya Hans tidak bisa hadir karena Riana sebentar lagi akan melahirkan dia harus menjaga istri dsn calon anaknya. Dia memintaku menggantikannya disana untuk itu mewakili perusahaan dan aku akan membawa Silvi bersamaku," pernyataan gamblangnya cukup membuat Marinka terkejut.
Usai sarapan, Vico segera menuju keluar rumah untuk bersegera mengendarai mobilnya ke kantor.
"Sayang kamu lupa sesuatu?" Silvi sedikit berlari kecil menghampirinya.
"Lupa?" Vico mengernyitkan dahinya berpikir dia sedang melupakan apa? sesekali dia mencari sesuatu didalam tasnya. Mungkin ada sesuatu yang terlupakan olehnya.
Silvi memegang tangan sang suami kemudian menghadapkan tubuh suaminya kehadapannya. "Kamu lupakan ini mas," pungkasnya sambil menundukkan kepalanya dan mendekatkannya pada Vico.
Astaga! Vico lupa dengan ritual yang sering dilakukannya saat akan keluar rumah. Ya, dia lupa untuk mengecup puncak kepala sang istri. Vico dengan cepat mengecup kepala sang istri tak lupa memberikan ciuman singkat dibibir merah apel itu. Disana telah berdiri si kecil Anindya yang baru saja mengejarnya. Vico menyambut putri kecilnya dengan pelukan dan menggendongnya ke udara. Ada tawa bahagia terukir dari wajah polos tak berdosa itu. Lalu mendekap tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang dan menciumi seluruh wajahnya.
__ADS_1
"Papa berangkat kerja dulu ya sayang," jelasnya pada gadi kecilnya. "Jaga rumah dan mama kamu baik-baik," ujarnya pada anak itu.
"Hu'um Aya bakal jaga mama biar ga diculik olang," pungkas bocah itu yang membuat Vico dan Silvi terkekeh akan tingkahnya. Sementara itu, Marinka hanya menatap sinis dari kejauhan. Harusnya kamu saja yang diculik, dasar anak pungut! Kesalnya dalam hati. Entah mengapa Marinka masih saja belum menerima Anindya sebagai putri Vico dan Silvi. Padahal anak itu sangat menyayanginya dengan tulus. Bagaimana mungkin Marinka bisa bersikap sebenci itu pada seorang anak kecil?
***
Siang itu pertemuan telah dimulai para CEO dan kolega-kolega telah berada di ballroom hotel, para tamu dengan gaun mewah dan assesoris ellegan telah hadir disana. Daren cukup terkesima saat melihat sosok wanita cantik dengan tinggi semampai masuk kedalam acara itu.
Dia ada disini, sungguh-sungguh cantik. Aku tidak akan membuang waktuku malam ini aku akan mengungkapkan isi hatiku padanya. Tekad pria itu saat melihat Silvi masuk kedalam ruangan itu.
"Silvi," sapa Daren pada Silvi saat wanita muda itu melangkahkan kakinya ke ruangan itu.
"Da ... Daren, kamu ada disini?" Silvi cukup terkejut melihat sahabat kecilnya itu berada di acara itu.
"Silvi, kamu kenal sama pak Daren?" tanya Vico yang berada didekatnya. Vico mengulurkan tangannya untuk menyalami Daren.
"Kamu mewakili Hans hadir disini?" lelaki itu meminta penjelasan tapi matanya masih tak bisa luput dari Silvi. Sungguh dia semakin tergila-gila pada sahabatnya ini.
Dirinya bertanya-tanya, apa mungkin pria ini yang menelpon sang istri dimalam hari waktu itu? tapi mana mungkin seorang CEO menghubungi istrinya ditengah malam, seperti kurang kerjaan saja. Dia segera menepis pikiran buruk itu.
"Eh iya mas, Daren ini sahabat aku waktu sekolah dulu," Silvi memberikan penjelasan pada sang suami.
"Kalian ... "
"Mas Vico suamiku Dar," jelas Silvi pada lelaki itu. Dia sangat ingin menjelaskannya pada Daren dan dia rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan pada Daren.
__ADS_1
Daren tertegun oleh penjelasan wanita itu. Dia tidak menduga wanita yang sangat diidamkannya itu telah menikah. Secepat itu dia menikah padahal usia mereka sangat muda.
"Baiklah," ucap Daren datar. Dia masih shock pada perkataan wanita itu padanya. Sementara itu Marinka yang datang bersama Adi merasa sedikit kesal karena Silvi terlalu cepat memberitahukan lelaki itu.