
Flash Back Off
Hati Reynold sangat sakit mendengarkan penjelasan Clara. Maxy benar-benar keterlaluan! Berani sekali lelaki itu menyentuh Clara.
"Clara, apa dia sering meyakitimu seperti ini?" Tanya Reynold sambil menatap pada Clara.
"I... iya, dia selalu mengancamku setiap kali merasa cemburu," jelas Clara sambil menyeka buliran bening yang mengaliri dipipinya.
Clara tidak ingin dikasihani, oleh karena itu dia tidak ingin menangis dihadapan Reynold.
Reynold memperhatikan Clara dari kaca yang berada didepan mobilnya, dia melihat wanita itu sedang melawan getir dihatinya. Jadi inilah Clara yang sebenarnya, dibalik kesuksesannya sebagai partner bisnis Reynold dan semua keceriaannya, wanita itu memendam rasa sakitnya seorang diri.
Dipersimpangan jalan menuju ke apartemennya, Reynold menghentikan laju mobilnya.
"Rey, kenapa kita berhenti disini? Bukankah kita belum sampai di apartemenmu?" tanya Clara yang sedikit heran melihat keadaan disekelilingnya.
"Kita akan segera menuju ke apartemenku, tapi sebelumnya aku mau bertanya satu hal padamu," tukas Reynold sambil menghadapkan wajahnya pada Clara.
"Kau ingin menanyakan apa Rey?" tanyanya sambil menoleh ke arah Reynold.
"Maukah kau menikah denganku?" tanya Reynold dengan terus terang.
"Apa?, kau tidak sedang bercandakan Rey?" Clara tiba-tiba saja mendadak gugup. Tubuhnya terasa kaku seakan mati rasa mendengarkan pertanyaan Reynold.
"Aku serius Clara, maukah kau menikah denganku?" tanya lelaki itu kembali sambil menggenggam tangan Clara.
"Kenapa tiba-tiba begini Rey? Kita belum saling mengenalkan keluarga kita, tapi..."
Belum sempat Clara menyambung ucapannya. Reynold langsung memeluk gadis itu.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan mempertemukanmu dengan kedua orang tuaku, jika kau mau menikah denganku," jelas lelaki itu kembali padanya.
Clara hanya diam dan menunuduk ke bahu Reynold. Bukannya dia menolak permintaan Reynold, hanya saja dia belum siap. Dia masih butuh waktu untuk menata hatinya.
"Aku mengerti Clara. Kau pasti merasa ini semua sangat dadakan sekali, tapi percayalah jika kau mau aku akan membahagiakanmu,"
"Tapi kau tahukan Rey, aku ini tunangannya Maxy dan untuk melepaskan semua jeratannya itu tidaklah mudah," jelas wanita itu sambil tetap menundukkan kepalanya.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku janji aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu dengan Maxy secepatnya dan aku pastikan dia tidak akan mengganggumu lagi," Reynold mencoba meyakinkan wanita itu.
Clara tidak tahu harus menjawab apa pada Reynold. Dirinya hanya menangis terharu dengan ucapan Reynold.
__ADS_1
"Kau percaya padaku kan?" Reynold masih menunggu jawaban darinya.
"Aku percaya, bahkan sangat percaya padamu, tapi kau lihat sendiri keadaanku saat ini. Aku belum bisa memastikan apa aku bisa memulai kehidupan baru bersama lelaki lain atau tidak," ujar wanita itu penuh keputusasaan.
"Ssttt... jangan bicara seperti itu," Lelaki itu meletakkan jari telunjuknya dibibir mungil Clara. Kemudian dia melanjutkan ucapannya.
"Aku mengerti Clara. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, tapi jika kau telah siap katakan saja padaku."
Clara hanya mengangguk pelan. Kemudian Reynold mengusap kepala gadis itu dan melanjutkan kembali laju mobilnya.
***
Maxy baru saja membuka matanya, dia merasakan sakit dikepalanya akibat pukulan benda keras dari Clara saat dia mencoba memaksa Clara. Dia merasakan berat dikepalanya. Perlahan dia bangkit dari ranjang dengan rasa sakit yang masih bergelayut dikepalanya.
"Clara... Clara.... dimana kau?"
Mata lelaki itu mencoba menyusuri tiap sisi kamarnya namun dia tidak melihat Clara. Diapun mencoba melihat ke kamar mandi, masih juga belum menemukan Clara.
Dirinya kini mengitari setiap sisi dari apartemennya, tapi tidak juga terdengar suara gadis itu, suasana apartemennya sepi, sepertinya dia telah dibiarkan sendiri.
"Aaarrgghh sial!!! Clara!!! Kau pikir bisa pergi dariku begitu saja? Hah?! Kau boleh pergi dari apartemen ini tapi kau takkan pernah bisa pergi dariku!!!"
Lelaki itu kini tersulut emosinya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Halo bos. Apakah ada pekerjaan baru untukku?"
"Jack, aku ingin kau mencari tahu keberadaan Clara. Kau harus mencari tahu kemanapun dia pergi!!!" Titahnya pada lelaki ditelpon.
"Baik bos. Aku dan teman-temanku akan mencari tahu keberadaan nona Clara."
Setelah selesai memberikan perintah pada Jack, lelaki itu segera memutuskan pembicaraan.
***
Silvi dan Vico baru saja pulang dari sekolah. Mereka tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira mereka kepada orang tua mereka.
"Ma... pa... aku sama mas Vico udah pulang ni," ujar Silvi sambil mencari-cari keberadaan mama dan papanya.
"Eh, kalian sudah pulang. Tumben cepat pulangnya?"
tanya Marinka menyambut kedatangan mereka.
"Iya ma. Tadi cuma lihat hasil ujian dan alhamdulillah kami jadi lulusan terbaik." jelas Vico pada mertuanya.
__ADS_1
"Oh bagus dong kalau begitu. Oh iya, Silvi kandungan kamu baik-baik ajakan?" Tanya Marinka.
"Baik kok ma. Tadi juga si debay malah kasih respon gitu pas kita lagi pada kesenangan pas lulus." Jelas Silvi sambil mengusap pelan perutnya yang mulai nampak membesar.
"Mana coba papa mau lihat nilai kalian." Tukas Adi pada kedua remaja itu.
"Ini pa." Ujar keduanya sambil memberikan rapor dan nilai ujian mereka.
Adi melihat nilai mereka dengan saksama dan setelah melihat nilai mereka Adi menyiratkan rasa bahagianya.
Disela-sela kebahagiaan mereka Marinka malah teringat akan surat perjanjian mereka.
"Eh iya Vico, mama mau tanya sama kamu, nanti abis ini kamu mau lanjutin kuliah?"
"Rencananya gitu ma. Cuma aku mau kerja dulu. Soalnya kemaren itu aku udah janji sama papanya Hans buat kerja diperusahaannya." Jelas Vico pada mertuanya itu.
"Oh ya? Memang kamu kerja dibagian apa Vic?" Tanya Adi antusias.
"Pak Arya mau jadikan aku sebagai kepala bengkel pa." Jawab Vico sambil memperhatikan kedua mertuanya.
"Wow, bagus itu. Papa ikut senang mendengarnya."
"Terus Silvi gimana ini?" Tanya Marinka.
"Maksudnya ma?" Tanya Silvi bingung.
"Kalian masih ingatkan sama surat perjanjian pra nikah kalian? Ini udah bulan ke tiga kalian menikah dan ingat pernikahan kalian hanya untuk satu tahun." Jelas Marinka pada keduanya.
Vico dan Silvi hanya saling menatap. Saat ini mereka sangat bahagia dengan keluarga kecil yang telah mereka bina. Ditambah lagi, mereka akan mempunyai anak kembar makin lengkap kebahagiaan yang mereka miliki, tapi kenapa Marinka begitu tega melontarkan perkataan seperti itu? Rasanya terlalu menyakitkan jika seorang mama menginginkan pernikahan anaknya berakhir karena alasan ingin melanjutkan masa depan anaknya.
"Ma, kok mama ngomongnya begitu sich?" Sela Adi yang merasa terusik dengan sikap Marinka.
"Kenapa pa? Mama cuma mau ingetin Vico sama Silvi aja biar mereka ga lupa sama perjanjian mereka." Ujar Marinka dengan sikap tak perdulinya.
Marinka memang orang yang paling menginginkan hubungan mereka secepatyna berakhir, karena Marinka masih menganggap Vico tidak pantas bersama dengan Silvi. Marinka memang sangat terobsesi agar Silvi tetap melanjutkan kuliahnya dan menjadi wanita karir.
"Sudahlah ma. Jangan terlalu menekan mereka. Harusnya mama senang karena mereka jadi lulusan terbaik." Bela Adi pada kedua anak itu.
"Iya, mama senang kok pa, tapi mama bakal lebih senang lagi kalau Silvi bisa kuliah. Coba kalau Silvi ga kayak sekarang pasti dia bisa ambil beasiswa keluar negri." Sesal Marinka.
"Papa ga habis pikir sama mama, dalam keadaan seperti ini harusnya mama mendukung mereka dan biarkan mereka melakukan yang terbaik untuk kehidupan mereka, tapi mama malah menekan mereka.
"Aaahh sudahlah pa. Papa emang ga pernah mengerti sama kemauan mama. Papa selalu saja membela mereka!." Ujar Marinka.
__ADS_1
Kemudian dia beranjak dari hadapan ketiga orang itu dan langsung pergi ke kamarnya.