Menikah Dini

Menikah Dini
Penangkapan Maxy


__ADS_3

Sore hari telah tiba, Vico segera membenahi dirinya. Dia bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang menghampirinya.


"Hai Vic, kamu baru mau pulang?"


Suara Aurel terdengar begitu dekat dari pendengarannya.


"Iya mbak, kenapa ya?" Vico menoleh pada wanita itu sambil menyandang ranselnya.


"Hm, gimana ya ngomongnya, kok aku malu mau bilang ke kamu," ujar wanita itu sambil senyum malu-malu pada Vico.


"Ada apa sich mbak, kalau emang penting langsung ngomong aja, kalau ga aku pulang ni," desak Vico.


Lelaki itu merasa risih karena wanita bernama Aurel itu tanpa tujuan yang jelas tiba-tiba berada dihadapannya. Padahal sebelumnya dia merasa kesal karena seorang customer yang genit padanya. Ya siapa lagi kalau bukan Andin. Kelakuan wanita itu membuatnya kesal. Dan sekarang malah dihadapkan dengan Aurel.


"Gini loh Vic, aku tu mau minta tolong sama kamu. Antarkan aku pulang, soalnya motorku rusak," bohong wanita itu untuk mencari alasan supaya bisa berdekatan dengan Vico.


"Hm, jadi cuma mau pulang bareng mbak? Haddeh, ngomongnya pake lama segala," Vico memutar matanya malas.


"Hehe maaf, aku cuma takut kamu keberatan," wanita itu menyengir karena salah tingkah.


"Ga kok mbak. Ya udah sini, motoran sama aku aja," ajak Vico sambil menyalakan motornya.


Aurel segera naik ke motor Vico kemudian Vico melajukan motornya.


Ada rasa bahagia dihati Aurel saat Vico mau mengantarkannya pulang, entah mengapa sejak pertama kali bertemu dia merasa nyaman dengan Vico. Padahal Vico hanya bersikap biasa saja.


"Mbak, rumahnya yang mana ni?" tanya Vico saat memasuki areal kos-kosan.


"Itu loh Vic, didepan sana," wanita itu menunjuk ke arah depan tepat disebuah rumah kontrakan.


Dia memang tinggal disana bersama putrinya yang berumur empat tahun, tapi Aurel adalah single parrent karena dia telah bercerai dengan suaminya baru dua tahun belakangan ini.


Vico memberhentikan motornya dirumah kontrakan itu, tiba-tiba seorang anak perempuan menghampiri mereka.


"Mama!" teriak anak itu penuh rasa bahagia. Kaki kecil itu berlarian menghamburkan dirinya ke pelukan sang ibu.


"Gaby sayang, anak mama udah pulang,"  Aurel yang menatap putri kecilnya langsung memeluk sang anak  dengan penuh kadih sayang.


Melihat pemandang antara ibu dan anak itu membuat Vico sedikit merasa simpatik. Ya, manusiawi karena Vico juga sangat suka sama anak-anak.


"Mama kok lama pulangnya. Padahal Gaby nungguin loh. Tadi Gaby pulang diantar om Damar papanya Tiara," jelas anak berumur empat tahun itu padanya.


"Maaf sayang, tadi mama ga bisa jemput kamu karena kerjaan mama numpuk dikantor," wanita itu setengah berlutut sambil memegang kedua telinganya memohon maaf pada putri kecilnya.

__ADS_1


Sontak saja gadis kecil itu memeluknya dengan erat.


"Mama jangan begitu. Kata bu guru, orang dewasa ga boleh cengeng dan harus dihormati, kalau mama berlutut gitu nanti aku jadi anak durhaka," tukas anak itu.


Vico dan Aurel tertawa melihat tingkah menggemaskan anak itu. Spontan saja Vico mengusap pelan kepala anak itu sebagai ungkapan rasa sayangnya.


"Pinter banget sich kamu. Kamu sekolah dimana sayang?" tanya Vico sambil menatap netra anak itu.


"Aku masih sekolah nol kecil om," jelasnya sambil membulatkan jarinya.


Vico tersenyum melihat anak itu. Dia sungguh manis dna menggemaskan dengan sikap ramahnya itu.


"Vico, maampir dulu yuk. Biar mbak buatin minum," ujar wanita itu berbasa basi padanya.


"Ga usah repot-repot mbak aku mau pulang dulu, kasian orang rumah udah nungguin," tolak Vico secara halus.


Wanita itu hanya tersenyum simpul, tapi ada raut wajahnya mengisyaratkan kebahagiaan. Diam-diam dirinya menyimpan rasa pada Vico tanpa menanyakan status lelaki itu. Mungkin karena Vico masih muda dan siapa yang akan menyangka lelaki seumuran Vico bakal jadi calon ayah?


Setelah berpamitan Vico langsung kembali kerumahnya


.


***


Reynold baru saja membuka matanya. Dia merasakan nyeri dikepalanya.


Ada rasa nyeri disekitar kepalanya.


"Pelan-pelan Rey, kamu baru aja melewati masa kritis," Victory langsung memegangi sahabatnya, dia takut terjadi sesuatu pada Reynold.


"Kenapa gue ada disini?" tanya Reynold melihat ke arah Victory dan Ayesha.


"Lo inget ga kemarin anak buah Maxy menyerang kita dan membawa Clara?"


Reynold memicingkan matanya sejenak mengingat kembali yang pernah terjadi. Perlahan dia membuka kembali matanya.


"Ah... iya, gue ingat. Bodyguardnya Maxy... Clara, Clara gimana keadaannya? Lo biarin dia pergi?"


Lelaki itu menunjukkan mimik wajah khawatirnya.


"Lo tenang aja soal Clarisa udah ditangani sama pihak berwajib. Gue udah minta bantuan sama teman gue yang kerja dikedutaan London."


"Apa? Kedutaan London?"

__ADS_1


"Iya Rey, gue minta bantuan perlindungan hukum buat Clara. Dia ga bakal bisa bawa Clara keluar dari Australia." Ucap Victory dengan santai.


"Apa yang lo lakukan Victory?"


Reynold benar-benar tidak mengerti,apa yang dilakukan Victory pada Maxy dan anak buahnya Jack.


"Gue udah laporkan dia ke kedutaan inggris atas tuduhan penculikan dan peganiayaan. Gue pastiin dia bakal mendekam di penjara."  Ucap Victory dengan kesal.


"Terus bagaimana dengan Clara?"


"Untuk Clara juga udah gue mintakan perlindungan biar dia ga diganggu sama Maxy lagi."


"Apa lo yakin semua bisa terkendali?"


"Lo percayain semua sama gue Rey. Gue bukan anak kemaren sore yang bisa dikalahkan begitu aja. Lagian siapa yang ga kenal sama CEO seperti lo? Lo bisa memanfaatkan itu untuk membuat seorang Maxy jadi jera."


"Baiklah tapi gue mau Clara benar-benar terlepas dari orang itu. Dia udah kayak psikopat."


Reynold mencengkram selimut dibrankarnya. Dia benar-benar geram dengan Maxy. Sudah sering kali orang itu menyakiti Clara.


***


Di kantor kedutaan, Clara sedang duduk di dekat seorang wanita.


"Halo nona Clara, perkenalkan nama saya Stevany, saya adalah wakil di kedutaan ini mewakili negara anda. Bagaimana keadaan anda saat ini?"


Clara masih terlihat panik, dirinya masih terpukul dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Maxy benar-benar membuatnya trauma.


"Nona, tenangkan diri anda, jangan panik. Saya disini untuk memberikan perlindungan pada anda," jelas wanita itu sambil menghampiri Clara.


Clara masih menangis dan tidak memberikan respon apapun. Hanya rasa gugup dan ketakutan yang mengelilinginya saat ini.


"Nona, apakah ada seseorang yang ingin anda hubungi saat ini?" tanya wanita itu lagi padanya.


"Rey... Reynold." Hanya itu saja yang diucapkan Clara padanya.


"Apa anda punya kontak yang bisa kami hubungi?" Tanya wanita itu padanya.


Clara mengangguk kemudian menunjukkan nomor ponsel Reynold pada wanita itu.


"Coba hubungi orang yang bernama Reynold." Tukas wanita itu pada asistennya.


Sementara Jack dan anak buahnya dengan tangan terborgol berada diruangan berbeda mereka sedang diintrogasi atas kasus penculikan dan penganiayaan. Mereka terancam dideportasikan dari Australia dan bisa dihukum penjara selama empat tahun karena perbuatan mereka.

__ADS_1


Orang-orang itu tidak beekutik dan hanya bisa menundukkan kepala.


Maxy sendiri sedang dalam pencarian karena dia sebagai otak utama dari kasus tersebut. Misi utama dari Maxy hanya untuk menjemput paksa Clara agar kembali padanya, tapi semua malah berbalik padanya dan dia pasti akan terlibat kasus pidana karena ulahnya.


__ADS_2