
Johan mulai muak dengan kelakuan putranya. Sudah hampir satu bulan, anak itu tidak pulang ke rumah dan lebih memilih tinggal di apartemennya. Siapa lagi, kalau bukan Farel. Anak itu memang selalu saja membuat masalah.
"Farel!!! Farel!!! Buka pintunya ini papa!" teriak seorang laki-laki dari luar sana.
"Siapa sich pagi-pagi begini ganggu tidur gue aja!" Farel yang sedang berada dialam mimpi membuka matanya dengan kesal. Kemudian menuju pintu apartemennya. Dia melihat dari intercom siapa yang berada diluar sana.
Papa?? Mau apa dia kesini? gumamnya melihat pria diluar.
"Farel, papa tahu kamu ada didalam. Cepat keluar!" pria itu masih saja berteriak.
Farel membuka pintu apartemen itu dengan malas, "ada apa sich pa, pagi-pagi teriak-teriak ga jelas gitu?" dia menunjukkan wajah malas pada ayahnya.
"Anak kurang ajar. Begini caramu berbicara pada orang tuamu?" mata Johan menatap tajam pada putranya sambil menarik kaos lelaki muda itu.
"Pa, biasa aja dong ngomongnya, mau apa papa ke sini?" Dia menepis tangan Johan yang menarik bajunya itu sambil menurunkan nada suaranya dan mengajak Johan masuk ke apartmennya agar tidak terjadi keributan.
"Kamu itu ya, maunya apa? Udah satu bulan ga pulang malah tinggal disini," Johan masih tetap berdiri dihadapan lelaki muda itu.
Farel menghembuskan nafas pelan "aku capek pa, dirumah aku selalu dimarahi dan ga dianggap," keluhnya dengan suara lirih.
"Apa maksud kamu?" Johan mulai menurunkan suaranya.
"Iya pa aku cape sama tuntutan papa dan mama yang selalu meminta aku untuk segera menyelesaikan kuliah dan mengurus perusahaan. Padahal akukan punya cita-cita sendiri,"
"Papa nyuruh kamu urus perusahaan juga buat kamu. Kamu anak lelaki papa dan papa mau kamu jadi penerus papa!" tegasnya kembali.
"Penerus yang mana pa? Papa cuma mau menghancurkan om Adi kan? Kemudian mengambil alih perusahaannya?" sindir Farel dengan jelas. Farel tahu betul papanya ini sangat berambisi untuk merebut aset kakaknya itu, ya Loenardo Group. Perusahaan itu adalah milik keluarga mereka tapi karena Adi anak tertua dialah yang memimpin perusahaan sedangkan Johan hanya menjadi wakil pimpinan perusahaan. Makanya dia sangat berambisi untuk merebut itu semua dari Adi Leonardo.
"Pokoknya papa ga mau tahu. Kamu harus pulang hari ini juga bersama papa atau pintu rumah papa ga akan terbuka selamanya buat kamu. Dan mengenai perusahaan nanti akan kita bicarakan kembali yang penting kamu selesaikan kuliahmu dengan benar lalu kamu bekerja di Perusahaan keluarga kita!!!" lelaki itu tetap memaksa dan mengancam putranya.
Farel memutar matanya, dengan wajah malas dia "ok pa! Aku pulang sama papa!"tidak ingin mendebat lagi, Farel
mengikuti keinginan papanya, hanya untuk pulang ke rumah. Soal bekerja di perusahaan dia tidak ingin membahasnya dulu.
"Nah begitu dong. Itu baru jagoannya papa," pujinya pada putra satu-satunya itu
__ADS_1
***
Saat ini Marinka memenuhi panggilan dari sekolah untuk menyelesaikan masalah Silvi. Begitu juga halnya dengan Sinta. Wanita sederhana itu datang dengan penampilan yang sangat simple namun tetap terlihat anggun.
Mereka saling berhadapan diruangan kepala sekolah untuk menerima keputusan mengenai anak mereka.
"Jadi, seperti yang sudah dijelaskan dalam surat yang telah disampaikan oleh anak-anak ibu berdua. Kami dari pihak sekolah sudah tidak bisa mentolerir kejadian memalukan tersebut!" kepala sekolah itu berujar sambil duduk dikursinya dan menatap kedua orangtua siswa itu.
Sinta yang hanya orang biasa merasa malu dan tertunduk.
Berbeda dengan Marinka yang merasa bisa membuat segalanya menjadi lebih baik dengan uangnya.
"Begini saja pak kepala sekolah. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan saja?" Marinka membuat penawaran.
"Saya rasa sekokah ini masih butuh suntikan dana untuk pembangunan sekolah, bagaimana kalau saya menjasi donatur untuk aekolah ini? dan kita lupakan saja mengenai DO untuk Silvi dan Vico. Anak-anak itu masih harus sekolah. Paling tidak ada dispensasi bagi mereka," dia mencoba mengeluarkan taringnya dengan menunjukkan wajah angkuhnya.
Sejenak kepala sekolah itu menatap pada wanita berbaju blezer itu, dia mengerti wanita ini mencoba menyuapnya dengan iming-iming menjadi donatur untuk pembangunan sekolah, kemudian dia berucap "kami akan sangat berterimakasih jika anda berkenan memberikan bantuan pada sekolah ini tapi peraturan tetap mesti dijalankan."
"Ayolah pak kepala sekolah. Ini sangat simple anda tinggal menyetujui permintaan saya kemudian anda berikan dispensasi pada mereka. Mudahkan? kenapa anda membesar-besarkan masalah?" desaknya lagi.
Marinka menghembuskan nafas berat. Sedangkan Sinta masih menatap kedua orang itu dengan penuh harap.
"Bapak kepala sekolah. Anda jangan terlalu kaku. Sebaiknya pikirkan dulu yang saya tawarkan setelah itu anda boleh menimbang kembali keputusan anda," Marinka masih berusaha membujuknya.
Kepala sekolah itu berpikir panjang dan akhirnya dia mengambil keputusan "hmm... baiklah bu. Setelah mempertimbangkan semuanya saya akan memberikan dispensasi pada kedua anak itu tapi untuk satu minggu ini mereka harus diskors dulu,"
"Ok tidak masalah. Terimakasih pak kepala sekolah atas pertimbangannya," wanita itu menyetujuinya.
Sinta bernafas lega dan tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih lalu berpamitan pulang.
Diluar dirinya menemui Marinka. "Bu Marinka. Apa ibu punya waktu?" Sinta memberanikan diri untuk berbicara dengannya.
"Ada apa ya bu? Saya lagi buru-buru mau ke kantor," jelasnya pada wanita itu.
"Iya bu maaf mengganggu waktu ibu sebentar. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih ataa bantuan ibu tadi. Saya juga..."
__ADS_1
Banyak omong sekali wanita ini, pikir hati Marinka.
"Itu saya lakukan demi kebaikan anak-anak. Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan saya mau pergi dulu,"
tukas wanita itu memotong pembicaraan Sinta.
"Maaf bu. Satu lagi mengenai Silvi dan Vico, bagaimana kalau mereka dinikahkan saja?" ujarnya berterus terang. Perkataannya terhenti sejenak kemudian dia berpikir melanjutkan perkataannya "jika mengingat kejadian ini sudah berlarut-larut nanti akan lebih memperburuk keadaan jika kandungan Silvi sudah membesar".
"Anda mau menikahkan putra anda dengan anak saya? Apa dia sudah mempunyai pekerjaan tetap?" tanyanya dengan senyum meremehkan.
Untuk pertanyaan yang satu ini benar-benar menohok sekali. Memang anaknya mempunyai pekerjaan sebagai montir dan bertanggung jawab membantu ibu dan adiknya dan untuk gadis seperti Silvi itu semua sangatlah jauh dari kata-kata layak.
"Saya paham bu. Tapi untuk menebus kesalahan mereka bukankah lebih baik.."
"Silvi masih muda dia belum siap jadi ibu dan jalan terbaik untuk mereka adalah menggugurkan kandungan silvi. Untuk kelanjutan sekolah anak ibu. Tidak perlu khawatir. Dia tetap bisa ikut ujian akhir. Bukankah kepala sekolah sudah memberikan keputusan tadi?"
"Tapi bu ini ga benar. Anak-anak itu sudah berbuat kesalahan akan lebih baik jika anak yang tidak berdosa itu tetap hidup. Silvi dan Vico dinikahkan saja. Saya mohon bu, berikan kesempatan pada putra saya memperbaiki kesalahannya," Wanita itu kini memegang tangan Marinka dengan tatapan memohon.
Marinka merasa jengah, tapi dia tetap berusaha menekan wanita sederhana yang ada dihadapannya.
"Ok saya setuju! Tapi dengan syarat yang saya berikan," tegasnya lagi dengan tatapan mata mengintimidasi.
"Syarat... syarat apa bu?" Sinta terlihat sangat frustasi saat ini.
"Mereka akan menikah, tapi saya mau ada perjanjian pra nikah diantara mereka," ujarnya penuh tekanan.
"Perjanjian pra nikah?" tanya wanita itu tidak mengerti maksud Marinka.
"Ya. Saya akan suruh pengacara saya membuat draf perjanjian yang menyatakan mereka akan menikah dalam jangka satu tahun. Dimana dalam tiga bulan pertama akan menjadi masa percobaan. Vico harus memenuhi tanggung jawabnya secara lahir dan batin sebagai suaminya. Dalam waktu satu tahun pernikahan hingga anak itu lahir Vico harus menjaga anak saya dan jika sebelum satu tahun terjadi cekcok atau Silvi mengalami keguguran karena kandungannya lemah, Vico harus bersedia membebaskannya dari ikatan pernikahan!!" tekan wanita itu dalam setiap ucapannya.
Sinta bingung harus menjawab apa tapi hal itu benar-benar membuatnya dilema. Bagaimana mungkin pernikahan seperti itu akan dilakukan? Pasti akan ada yang terluka diantara kedua remaja itu nantinya.
"Bagaimana bu? Anda setuju?" Marinka semakin mengintimidasinya.
Dengan berat hati akhirnya Sinta menyetujui permintaan Marinka. Dia hanya orang biasa yang ingin berbuat baik kepada anaknya tapi orang yang dihadapinya ini seakan tidak perduli dengan nasib dua remaja itu. Malah membuat persayaratan yang absurd.
__ADS_1