
Hans membenarkan posisi tubuh Farel di dalam mobil. Farel yang tidak sadarkan diri hanya bisa pasrah bersandar dijok mobil sambil meracau tidak jelas . Hans mengambil handphonenya dari saku celananya, kemudian menelpon seseorang disana. Tidak perlu menunggu waktu lama suara seseorang menjawab panggilannya.
"Halo Hans, ada apa sich malam-malam gini nelpon? "Suara Riana terdengar serak karena batu saja terjaga dari tidurnya.
"Maaf sayang aku ganggu tidur kamu ya."
"Ga kok, ada apa Hans?"
"Aku sudah mendapatkan orang yang membuat kekacauan dipesta ultah teman kamu yang,"
Mata Riana terbelalak mendengar informasi yang diberikan Hans. Riana mengucek matanya dan menggeleng pelan. "Benarkah? Siapa orang itu? ucap Riana penasaran".
"Aku lagi dikantor polisi sekarang. Kamu buruan datang, ajak Silvi dan Vico juga"
Mengingat kondisi Silvi yang masih belum stabil Riana berkata Iya, "tapi mungkin aku akan pergi sama Vico saja karena Silvi masih belum fit".
"Baiklah, aku tunggu".
Riana segera menelpon Vico. Vico yang sedang berada di bengkel tengah sibuk memperbaiki motor customernya, mendengarkan handphonenya bergetar, segera bangkit dan menekan tombol hijau
"Halo,"
"Vico, kamu sibuk ga?" tanya Riana padanya.
"Ahm, aku baru saja selesai benerin motor customer ni. Besok mau diambil sama yang punya jelas Vico".
"Oh iya dech. Vic aku mau kasih tau orang yang buat masalah antara kamu dan Silvi udah ditangkap polisi,"
"Apa?!? Benarkah itu, siapa dia?" Vico antusias bertanya.
"Tadi, Hans menghubungiku. Dia menyuruhku ke kantor polisi bersamamu sekarang juga untuk melihat pelakunya"
Baiklah, aku jemput kamu sekarang juga
Tanpa pikir panjang Vico langsung mencuci tangannya dan mengganti baju seragam montirnya dengan baju yang bersih dan merapikan dirinya kemudian mengendarai motornya menemui Riana.
Awas saja, sampai aku bertemu dengan orang itu akan kuhajar dia gerutu Vico dihatinya sambil mengendarai motor sportnya menuju rumah Riana. Tidak perlu waktu lama merekapun bertemu dan langsung menuju ke kantor polisi.
Di kantor polisi....
Seorang polisi memberikan air hangat pada Farel, agar bisa diajak berbicara dengan benar, karena akan menyusahkan jika berbicara dengan orang yang dalam kondisi mabuk. Kemudian Hans memwgang tubuh Farel supaya bisa duduk dengan benar lalu membantunya untuk minum, Farel meminum minumannya sampai habis dan mulai terlihat kondisinya lebih baik.
__ADS_1
"Hei anak muda. Siapa namamu?" Seorang polisi mengintrogasi Farel yang mulai sadar.
"Farel, Farel Leonardo".
"Apa benar kamu membeli obat terlarang di club malam satu minggu yang lalu?" Cecar polisi itu padanya.
"Itu tidak benar pak" Farel mencoba mengelak.
"Jangan berbohong!!!" tegas polisi itu padanya.
"Tapi saya tidak melakukan apapun pak" Farel berusaha membela diri.
"Bagaimana ini. Dia belum mau mengaku. Apa kamu punya bukti kuat tentang kejahatan yang diperbuatnya?" tanya polisi itu menatap tajam pada Hans.
"Ya pak. Tentu saja, ini saya bawa buktinya" Hans memberikan handphonenya dan memutar rekaman percakapannya dengan Farel saat di mobil. Polisi itu melihat dan menyimak rekaman yang dikalim sebagai bukti-bukti oleh Hans. Setelah melihat dengan jelas polisi itu lanjut bertanya lagi pada Farel.
"Ini bukti percakapan yang cukup jelas. Bagaimana kamu bisa mendapatkan obat terlarang itu?"
Merasa tersudut dan terdesak akhirnya Farel mengaku.
"Baiklah aku mengaku. Aku yang membawa obat terlarang itu. Aku mendapatkannya dari seorang teman di club malam. Dia menjualnya untuk para tamu di sana yang ingin bersenang-senang ditempat itu"
"Iya, aku hanya membelinya pak," tegas Farel.
"Untuk apa kamu membeli barang haram itu?" Introgasi polisi itu lagi padanya.
"Hmmm,untuk... untuk menjebak seseorang," Farel menundukkan kepalanya.
"Jadi kamu pelakunya hah?!?" Suara berat itu muncul dari depan pintu kantor polisi dan orang itu menarik kerah jaket Farel dengan kasar. Sontak semua mata tertuju pada lelaki yang berteriak disana.
"Om... Om Adi?" Mata Farel terbelalak melihat pria yang didepannya ternyata Adi Leonardo, tak lain dan tak bukan adalah pamannya sendiri.
Farel melihat orang-orang disekelilingnya.
Di sana ada Adi Leonardo bersama istrinya Marinka, juga Riana dan Vico yang baru saja melangkahkan kakinya diruangan itu. Cukup mengagetkan bagi Riana dan Vico mendengar bahwa Farel adalah ponakan Adi Leonardo. Ada rasa takut dan malu yang muncul dihati Farel dengan keadaannya saat ini, tapi dia masih berusaha menenangkan diri.
PLAK!!!
Satu tamparan keras menghujam ke wajah anak muda itu. Farel mengusap bekas tamparan dipipinya. Sakit itu yang dirasakan Farel tapi dia hanya bisa menundukkan kepala atas kesalahannya. Dia menyadari percuma saja memberontak karena hanya akan memperkeruh keadaan.
"Keterlaluan kamu Farel!!! Tega sekali kamu menyakiti sepupumu sendiri!!!" geram Adi padanya, sambil mengepalkan tinjunya hendak memukul wajah Farel.
__ADS_1
"Pak, mohon sabar. Kita lagi mengusut kasusnya. Saat ini kami sedang mengintrogasinya," seorang polisi menengahi mereka.
Adi melepaskan kerah jaket Farel dari cengkramannya, tubuh Farel sedikit terhempas karenanya tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Riana yang datang bersama Vico langsung mengode Hans dengan maksud bertanya.
"Apa Farel yang melakukannya Hans?" bisik Riana pada Hans.
Hans menganggukkan kepala "nanti aku jelaskan semuanya," bisik Hans kembali.
"Tangkap penjahat ini pak, masukkan saja dia ke jeruji besi itu" Adi bersungut-sungut sambil menujuk wajah Farel menatap tajam padanya seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Jangan om, aku mohon maafkan aku?" Farel berlutut dan memohon dikaki Adi.
"Tutup mulutmu!!! Jangan panggil aku om !!! saya ga sudi punya ponakan sepertimu!!! Adi masih dengan memakinya dengan sangat menohok.
"Pa, sudah ya, masalah ini.jangan doperpanjang lagi," Marinka menggenggam tangan suaninya mencoba menenangkannya.
"Tapi ma. Masa depan anak gadis kita sudah hancur. Siapa yang akan bertanggung jawab untuk ini?" ujar Adi menatap istrinya sambil menjambak rambutnya merasa frustasi.
Marinka tak mampu menjawabnya dan menunduk sedih ada buliran air mata yang mengalir diwajhnya yang sendu.
Vico dan Riana yang memperhatikan kejadian itu hanya terpaku tak bersuara sama sekali. Vico ingin bersuara tapi masih belum berani. Takut keadaan bertambah rumit. Dia memilih bungkam.
"Begini saja om. Kita putuskan saja Farel mau ditahan atau buat perjanjian tertulis dengannya," Hans angkat bicara.
"Aku ingin dia dipenjara!!!" Adi masih berkeras dengan keputusannya.
"Baiklah, untuk hari ini kami akan menahan anda. Kami akan menunggu sampai 24 jam kedepan untuk proses kasus ini selanjutnya," ujar polisi yang berada di dekat mereka.
"Om.... Om Adi. Aku ga mau dipenjara om. Tolong aku,". Lirih Farel sambil berusaha memberontak, tapi Adi segera meninggalkan tempat itu sambil menggenggam tangan istrinya.
"Hans tolongin gue!!! Gue ga mau mendekam dibalik jeruji besi, Hans!!! teriak Farel menatap Hans, Vico dan Riana yang meninggalkan Farel di kantor polisi.
Akhirnya polisi memenjarakan Farel.
"Nak Hans terimakasih ya. Sudah membantu Silvi," ucap Adi pada Hans saat hendak meninggalkan kantor polisi.
"Iya om. Saya cuma membantu," ucap Hans menatap Adi.
Adi dan Marinka berpamitan pulang dan menyisakan ketiga orang itu di halaman kantor polisi.
__ADS_1