Menikah Dini

Menikah Dini
Terluka oleh Maxy


__ADS_3

Maxy tidak bisa menahan emosinya lagi, tangannya mencengkram erat stir mobilnya, dengan kasar dia mengambil handphonenya yang dia letakkan didekat kemudi mobilnya, jarinya segera mencari id caller seseorang kemudian dia menghubungi nomor itu.


"Halo honey, kau dimana?" Tanya pria itu dengan suara yang cukup dibuat tenang olehnya.


"Aku lagi dikantor." Jawab wanita itu, yang memang dirinya saat ini berada dikantornya.


"Baiklah, aku akan menuju kekantormu." Tukas pria itu padanya.


"Ok. Aku tunggu." 


Percakapan mereka berakhir. 


Lelaki itu memacu kecepatan mobilnya. Dia segera menyusuri kota London, memasuki sebuah gedung menuju ke basement untuk memarkirkan mobilnya.


Lelaki itu memasuki pintu masuk dari gedung megah itu. Setiap orang yang mengenalnya memberikan sapaan hormat padanya, namun suasana hati lelaki itu tidak begitu baik dan dia tidak menggubris sapaan para karyawan yang ada digedung itu. Tidak ada senyum yang ramah seperti biasa hanya terlihat wajah yang menegang karena menahan amarah.


Dia melewati orang-orang disana kemudian menekan tombol lift dan menuju ke ruangan Clara.


Clara sedang berada diruangannya sembari membaca hasil rapat yang telah dilaksanakan oleh sekretarisnya tadi.


Tanpa aba-aba, Maxy menerobos masuk ke dalam ruangan gadis itu.


"Max! Apa yang kau lakukan? Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?!" Clara terbelalak melihat Maxy yang masuk begitu saja keruangannya.


"Maafkan saya nyonya. Tadi saya sudah memberitahukan pada tuan Max untuk menunggu sebentar, tetapi dia tidak mendengarkan saya." Ujar sekretaris Clara.


"Aku ini tunangannya jadi aku bisa kapanpum menemuinya!." Ketus Max sambil menatap tajam pada wanita itu.


Sang sekretaris itu hanya menunduk tak ingin berdebat. Dia sadar diri, orang yang dihadapannya itu adalah seorang atasan dan dirinya hanyalah bawahan, oleh sebab itu wanita itu lebih memilih diam.


"Max, kenapa kau begitu kasar pada Maura?" Clara mengernyitkan dahinya melihat sikap Max yang tidak seperti biasanya.


Max memutar bola matanya. Hatinya sangat kesal dan tidak ingin memperpanjang masalah dengan sekretaris itu.


"Ok, aku minta maaf padamu, dan bisakah kau meninggalkanku bersamanya sekarang?"


"Baik tuan." Wanita itu segera pergi dari hadapan mereka dan menutup pintu ruangan itu.


Maxy menghampiri Clara dengan mata yang menajam, tanpa basa basi dia duduk di kursi yang berada dihadapan meja kerja Clara.


"Apa kita bisa bicara sekarang?" Tanyanya sambil menatap mata wanita itu.


"Tentu saja, tapi aku tidak ingin kau bicara dalam keadaan marah. Aku mau kau tenangkan dirimu dulu." Tukas wanita itu yang kini duduk dihadapan Max.

__ADS_1


"Kau lihat saja ini." Ujar Maxy sambil menyodorkan handphonenya pada Clara.


"Apa maksudmu?" Tanya wanita itu padanya.


" Kau lihat saja video itu." Tukas lelaki itu dengan raut wajah yang mulai berubah dingin.


Clara mengambil handphone itu dan melihat rekaman video yang ditunjukkan Maxy padanya. Awalnya Clara terlihat biasa saja sampai diakhir video itu terlihat dirinya memeluk Reynold. Sebenarnya tidak ada yang berlebihan lagi pula itu hanya sebatas pelukan perpisahan.


Clara mengerti, mengapa Maxy menjadi naik pitam padanya pagi ini.


"Jadi kau datang ke sini hanya ingin membahas video ini?" Tangkap gadis itu pada Maxy.


"Iya, apa kau bisa jelaskan siapa mereka dan apa hubunganmu dengan lelaki itu?" Lelaki itu menunjukkan raut wajah tegang dan menatap tajam pada Clara.


"Aku sudah bilang padamu. Mereka itu klienku dari Indonesia dan lelaki yang kau tunjuk itu, dia Reynold pemilik perusahaan Abimana Group." Jelas wanita itu padanya.


"Hanya itu saja? Apa tidak ada yang lain?" Cecar lelaki itu padanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau mencurigaiku?"


"Tentu saja aku mencurigaimu. Tadi pagi kau bilang buru-buru ke kantor karena ada meeting tapi ternyata kau tidak ke kantor. Malah mengantarkan kepergian lelaki itu! Apa kau mulai bermain-main denganku?" Wajah lelaki itu kini didekatkan ke wajah Clara. Dia menatap dengan sangat tajam pada wanita itu.


Clara terhenyak dia mengalihkan pandangannya dari pria itu.


Kali ini berbalik wanita itu yang menatapnya dengan penuh selidik.


Maxy memilih tidak menjawab tentang orang suruhannya. Dia malah berbalik marah pada Clara.


"Aku tidak suka dibohongi Clara dan kau tahu pasti aku paling tidak suka ada satu lelakipun mendekatimu!!!


Kau milikku!!! Dan selamanya akan seperti itu !!!" Lelaki iti berujar dengan menggeram dan tangannya mengcengkram lengan wanita itu. Dia benar-benar tidak ingin satu orangpun mendekati wanitanya. Walaupun hanya sekedar untuk berbicara ringan dengan wanita itu.


"Aww... sakit Max!! Kau menyakitiku" Clara terperanjat oleh perbuatan Max dan dia segera menepis tangan lelaki itu dari lengannya.


Terlihat kulit putihnya memerah akibat cengkraman lelaki itu. Dia tidak habis pikir, kenapa Maxy selalu berbuat seperti itu setiap kali merasa cemburu? Apakah dia tidak bisa bersikap sedikit lembut pada Clara?.


Wanita itu meringis kesakitan, tapi Maxy masih tidak memperdulikan hal itu.


" Aku tidak suka menyakitimu, tapi satu hal yang harus kau tahu jangan pernah berbohong padaku, karena aku akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan siapapun yang mencoba mendekatimu!!! " Ancam lelaki itu padanya.


Kemudian lelaki itu pergi dari hadapannya. Meninggalkannya begitu saja.


Clara hanya terdiam mendengarkan ucapan kekasihnya, dia tidak menyangka Maxy yang selalu bersikap romantis padanya sekarang memperlihatkan sikap kasar padanya. Tanpa terasa buliran air matanya meneteskan membasahi pipinya.

__ADS_1


***


Vico dan Silvi telah sampai di rumah ibu.


Ratna sedang asyik membereskan dagangannya, membersihkan gerobak dan juga peralatan dagangnya. Dia tidak memperhatikan ada Vico dan Silvi yang telah berada dibelakangnya.


"Bu?". Sapa Vico padanya.


Ratna membalikkan badan mengedarkan padangan pada suara yang baru saja didengarnya.


"Vico! nak Silvi?" Wajahnya terlihat sumringah saat melihat kedua orang itu dihadapannya.


Silvi menyalami dan mencium punggung tangan wanita itu, dibalas dengan pelukan hangat dari sang mertua padanya. Begitu juga Vico melakukan hal yang sama.


Ratna memeluk kedua anak itu dengan penuh kasih sayang.


"Cucu ibu sehatkan?" Tanyanya sambil mengusap perut Silvi.


"Alhamdulillah, sehat bu" jawab Silvi sambil tersenyum.


"Bu, Zahwa mana?" Vico memanjangkan lehernya melihat keberadaan adiknya.


"Itu, di dalam lagi makan kayaknya." Ujar Ratna pada anaknya.


"Oh iya deh bu aku samperin Zahwa dulu. Ini aku ada bawain makanan buat ibu." Vico memberikan bungkusan yang berisikan makanan kepada ibunya.


Ratna menerima bungkusan itu dan dia membuka bungkusan itu. Ternyata isinya martabak manis.


"Wah, kamu tahu aja orang dirumah ini suka martabak."


"Ya tahu dong buk. Siapa dulu dong Vico." Ujarnya sambil memegang kerah bajunya.


Vico memang paling pandai membuat ibunya tersenyum. Setiap pulang kalau ada rejeki lebih pasti dia akan belikan dua macam martabak manis, yang satu rasa coklat keju kesukaan Zahwa dan yang satu lagi rasa pisang coklat kesukaan ibunya.


Ratna langsung mengambilkan piring untuk menyajikan martabak manis yang dibelikan Vico kemudian meletakkannya ke atas meja makan.


Vico menghampiri Zahwa yang sedang asyik menonton film kartun kesayangannya dengan sengaja Vico menutupi mata adiknya dengan kedua telapak tangannya.


"Hayo tebak siapa yang datang?"  Goda Vico pada adik kesayangannya.


Zahwa memegang kedua tangan Vico yang menutupi matanya kemudian melepaskan perlahan tangan itu agar tidak menutupi padangannya. Dia segera membalikkan badannya.


"KAK VICO!!!" Teriak gadis kecil itu penuh kebahagiaan. Dia langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Vico. Vico memeluk erat adik kecilnya itu dan memberikan hadiah kecupan dikeningnya.

__ADS_1


Silvi yang memperhatikannya hanya tersenyum mengusap kepala anak itu. Zahwa bergantian memeluk Silvi. Anak ini memang selalu ramah pada siapapun yang dia sukai. Apalagi Silvi. Dia sangat menyukai gadis itu dan akan selalu bermanja-manja padanya.


__ADS_2