
Lelah mencari sepanjang malam, Vico dan Adi memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesampainya dirumah, Silvi langsung menghampiri mereka.
"Mas, gimana baby Talia dan Talisha udah ketemu?"
"Belum sayang, aku sama papa belum mengetahui keberadaan mereka."
Vico menatap Silvi dengan tatapan sedih. Ada rasa bersalah menyelinap dalam relung hatinya. Sebagai seorang suami sekaligus ayah, dia merasa gagal karena tidak menemukan anak-anaknya.
"Maafin aku ya. Besok aku coba cari lagi, semoga aja besok kita bisa dapatkan kabar baik untuj baby twins." Ujar Vico sambil merangkul Silvi.
"Iya mas. Ini salah aku juga, seharusnya aku ga bawa mereka keluar rumah, kalau aku..."
Belum sempat Silvi melanjutkan ucapannya, Vico merangkup kedua pipi istrinya dan mengangkatnya sejajar ke arah wajahnya.
"Jangan pernah menyalahkan diri kamu. Ini semua ujian dari Tuhan, kamu juga pasti bosankan seharian dirumah aja, jadi jangan pernah bilang ini gara-gara kamu. Sekarang kita istirahat dulu. Udah malam."
Bujuk Vico pada istrinya.
Dirinya benar-benar merasa lelah saat ini, yang dibutuhkannya hanya istirahat dan berharap besok bisa menemukan anak-anaknya.
***
Sementara di tempat lain, Fredy sedang berbahagia bersama istrinya karena telah mendapatkan baby twins. Semua telah berubah, perlahan-lahan kesadaran Mila, mulai membaik, baru dua hari anak-anak itu bersamanya, Mila sudah menunjukkan progres terhadap kesehatannya.
Fredy benar-benar berharap dengan adanya bayi-bayi mungil itu bersamanya, istrinya Mila tidak akan sakit lagi seperti dulu.
"Sayang, gimana kabar kamu hari ini?" Tanya Fredy sambil menghampiri istrinya yang sedang menyibukkan diri dengan bayi kembarnya.
"Baik, hari ini aku sangat bersemangat karena anak-anak kita telah kembali. Kemana selama ini kamu sembunyikan bayi-bayi kita?"
Mila menganggap selama ini anaknya telah dipisahkan darinya, makanya dirinya merasa tertekan. Padahal kenyataannya memang anaknya telah tiada.
"Ga sayang, aku ga pernah menyembunyikan anak-anak kita. Mereka hanya butuh perawatan dari dokter karena kondisi mereka belum stabil." Bohong lelaki itu pada istrinya.
__ADS_1
"Jadi anak kita sakit ya mas, kenapa kok aku ga dikasih tau? Kalau aku tahu pasti aku bakal jagain mereka." Tutur wanita itu dengan polosnya.
"Iya sayang, kamu juga kondisinya kurang sehat jadi kata dokter kamu belum boleh ketemu sama anak-anak kita. Dan sekarang mereka sudah sembuh, kamu boleh bersama mereka kapanpun kamu mau."
Fredy membuat alasan untuk menutupi kebohongannya.
Sebenarnya Fredy tidak ingin berbuat sejauh itu sampai harus menculik baby twins Silvi tapi mengingat kondisi Mila yang sangat tertekan akibat depresi membuatnya sangat terluka.
Mana ada suami yang tega melihat orang yang dicintainya kehilangan kewarasannya. Itu sangat menyakitkan bukan? Terlebih lagi, Marinka pernah membuatnya teseret dalam pemalsuan visum saat itu, makanya Fredy bertekad merebut baby twins Silvi.
Fredy berniat untuk menjadikan kedua bayi tak berdosa itu sebagai anak-anaknya. Meskipun dia tahu itu salah, tapi dia telah bertekad anak-anak itu akan menjadi miliknya.
***
Keesokan harinya, rumah Silvi kedatangan tamu. Beberapa orang berseragam polisi mendatangi mereka.
"Selamat pagi, bisa bicara dengan pak Vico?" Tanya seorang polisi yang berbadan tegap pada Silvi.
Sepertinya orang itu adalah komandan dari para polisi.
Para polisi itu segera masukke rumah dan menunggu kedatangan Vico.
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Vico muncul dihadapan mereka.
"Selamat pagi pak, ada kabar apa bapak-bapak datang ke sini?" Tanya Vico sedikit heran.
"Perkenalkan saya Brigadir Joshep dan ini para anggota saya." Tukasnya sambil mengulurkan tangan pada Vico.
Vico menyambut uluran tangan orang itu dengan ramah.
"Begini pak Vico, beberapa hari yang lalu anda telah melaporkan kasus kehilangan bayi. Kami sudah menyelidiki kasus itu." Sambung Polisi itu lagi.
"Benarkah? Lantas bagaimana pak, apa ada titik terang dari penyelidikan tersebut?" Tanya Vico penasaran.
__ADS_1
"Berdasarkan hasil pencarian kami, melihat ciri-ciri fisik dan kondisi terakhir bayi anda yang anda jelaskan. Sepertinya kami mendapatkan kesamaan tersebut tak jauh dari lokasi hilangnya bayi anda."
Mendengarkan ucapan polisi itu Vico dan Silvi seakan mendapat angin segar. Mereka sangat antusias untuk segera bertemu bayi mereka.
"Benarkah itu pak? Kalau begitu pertemukan kami dengan anak-anak kami sekarang juga." Pinta Vico dan Silvi penuh antusias.
"Baiklah kalau begitu anda ikut bersama kami ke rumah sakit untuk mendapatkan kejelasannya." Tukas polisi itu pada Vico dan Silvi.
"Apa? Anak-anakku dirumah sakit? Apa yang terjadi pada mereka?" Monolog Vico dengan batinnya.
Apa yang sebenarnya telah dilakukan penculik itu pada bayi-bayinya, mengapa mereka bisa sampai dirumah sakit? Beribu pertanyaan kini muncul dalam pikiran Vico dan Silvi. Namun, mereka harus memastikan terlebih dahulu, benarkah yang dimaksud para polisi itu adalah bayi mereka atau bukan.
Akhirnya Silvi dan Vico mengikuti para polisi itu. Sempat ada harapan yang muncul saat itu. Silvi yang tadinya seperti orang yang kehilangan harapan akhirnya merasa bersemangat kembali.
Saat dirumah sakit.
Baru saja sampai dipintu ruang perawatan bayi, Silvi yang tidak sabaran bertemu dengan bayinya langsung menghampiri bayi yang ditunjuk dokter diruangan itu.
Benar, memang itu bayi yang sama seperti bayi mereka bahkan stroler dan bajunya juga sama tapi ada keanehan.
"Pak, ini memang bayi saya, tapi kenapa kok satu aja pak? Bayi sayakan kembar? Mana bayi yang satunya lagi?" Cecar Silvi pada polisi itu.
"Kami mendapatkan informasi tentang bayi anda dari orang yang telah menyelamatkan bayi anda. Mungkin ibu bisa menjelaskannya pada bu Silvi?" Tanya polisi itu pada perempa muda didekat sang bayi.
"Begini mbak, saya menemukan bayi ini didalam stroler dan menangis sangat kencang sekali. Bayi ini diletakkan begitu saja dibelakang rumah saya, karena merasa iba saya dan suami saya langsung membawanya ke rumah. Tapi kami juga tidak ingin terjadi masalah. Makanya kami melaporkan pada pihak polisi." Jelas wanita itu pada Silvi dan Vico.
Mendengar penjelasan yang sangat masuk akal dari wanita itu, Silvi sangat percaya, tapi tidak begitu dengan Vico. Dirinya meragukan apa benar itu anaknya atau bukan? Jika dilihat dari ciri fisiknya memang sama. Tapi ada satu perbedaan yang sulit diungkapkan oleh Vico saat menatap anak itu.
"Sayang, aku kok ga yakin itu anak kita? Coba perhatikan kembali. Itu beda dengan baby twins."
"Tapi mas ini sama loh bajunya yang dipake terakhir kali aku sama anak-anak."
"Ya kita ga bisa percaya gitu aja. Kalau cuma baju kan pasti banyak baju yang mirip dipasaran. Lagian kenapa kalau memang anak kita ditemukan, kenapa cuma satu? Dimana coba bayi yang lainnya? Ga masuk akal kan kalau cuma satu aja yang ketemu. Secara mereka itu masih bayi dan belum bisa apa-apa." Jelas Vico pada Silvi.
__ADS_1
"Saya juga ga tau pak. Yang pasti anak itu cuma satu saat kami menemukannya. Kami juga ga tau kalau bayi anda kembar." Tukas wanita itu pada Silvi dan Vico.
Benar juga yang dikatakannya, tapi sangat aneh kalau bayi yang ditemukan cuma satu. Apa mungkin mereka salah orang?