
Vico baru saja sampai dirumah, dirinya masih berlumuran oli sehabis bekerja di bengkel. Vico segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian mengenakan baju kaos hitam dan celana selutut. Dimeja makan sederhana telah terhidang makanan sederhana, nasi putih, ikan goreng dan sayur bening. Vico sumringah melihat sajian yang tersedia, "buk, makanannya enak ni"
"Iya nak, ibu sengaja masakin buat kamu. Pasti kamu cape banget abis dari bengkel dan lapar. Jadinya ibu masakin makanan kesukaan kamu,"
"Makasih buk" Vico menyantap makanannya dengan lahap.
Ditengah-tengah makan malam tersebut, Vico memperhatikan ibunya yang terlihat gelisah dari tadi.
"Ibu ga makan?" tanyanya sambil memperhatikan wajah ibunya.
"Ibu masih kenyang, kamu aja yang makan dulu," enyum tipis terukir diwajahnya.
Vico melanjutkan makannya, karena memang perutnya sudah keroncongan dari tadi.
"Ibu lagi ada masalah? Kok dari tadi Vico lihat ibu gelisah banget," selidiknya pada Sinta.
"Ahm... ga kok. Ibu ga apa-apa nak," Sinta mengelak sambil mengalihkan pandangannya.
Vico segera menyelesaikan makannya kemudian membersihkan piring makannya dan kembali menghampiri ibunya.
"Bu, bener ni ibu ga ada masalah? Jangan bohong sama aku buk. Aku bisa lihat dari mata ibu, kalau ibu lagi nutupin sesuatu dari aku," desak Vico sambil menggenggam pelan tangan ibunya. Dia tetap menatap lekat ke dalam mata itu.
Sinta tidak bisa mengelak, dia benar-benar tidak bisa berbohong pada putranya.
"Hm, kalau ibu jujur kamu janji ga akan marah?" tatapannya menyendu pada putranya.
"Vico janji ga akan marah, asalkan ibu jujur sama aku".
"Begini, kemarin waktu ibu ke sekolah kamu untuk memenuhi panggilan pihak sekolah, ibu ketemu sama bu Marinka,"
"Terus dia bilang sesuatu sama ibu?"
Sinta mengangguk pelan, terlihat raut wajahnya sedikit panik menutupi sesuatu dari putranya. Tangannya kini meremas pelan ujung bajunya.
Vico mengernyitkan dahinya memperhatikan ibunya.
"Bu, coba jelasin tante Marinka ngomong apa ke ibu?" desaknya pada Ratna.
Ratna menghela nafas pelan sambil mencoba bercerita.
"Sebenarnya bu Marinka ingin membuat kesepakatan sama ibu tentang pernikahan kamu dan Silvi,"
"Kesepakatan?, kesepakatan apa bu?" Vico menyipitkan matanya mencari tahu maksud ibunya.
"Dia mau kamu buat perjanjian pra nikah sama Silvi,"
"Perjanjian pra nikah?"
Sinta menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan dokumen yang berisikan surat perjanjian pra nikah seperti yang telah dijelaskan Marinka saat mereka bertemu.
"Tadi pengacaranya bu Marinka datang ke sini, dia datang menyerahkan dokumen ini sama ibu, katanya kamu disuruh menandatangani dokumen ini dan besok pagi pengacara itu akan datang untuk mengambil dokumen ini dan meminta tanda tangan Silvi,"
__ADS_1
Vico mengambil dokumen tersebut dengan hati-hati. Sesaat wajahnya terlihat tenang membaca dokumen itu, tiba-tiba matanya terfokus pada satu kalimat.
"Apa-apaan ini bu, tante Marinka minta aku menikah sama Silvi dalam jangka waktu satu tahun, dengan tiga bulan percobaan. Kemudian dia juga membuat kesepakatan kalau anak yang dikandung Silvi tiada atau Silvi mengalami keguguran, aku harus meninggalkan Silvi?! Ini ga benar bu. Ini sama aja tante Marinka meminta aku buat kontrak pernikahan. Aku ga mau bu!!" tegasnya dengan wajah memerah tangannya mengepal kuat menahan marah.
"Ibu tahu nak, itu salah, tapi bu Marinka bilang kalau kamu ga mau menyetujui perjanjian ini dia bakal DO kamu dari sekolah dan akan menuntut kamu," wanita paruh baya itu kini terlihat meneteskan air mata diwajahnya. Jelas dia merasa takut dan bergetar.
Apalah dayanya dia hanya orang sederhana dan tidak bisa berbuat lebih untuk melawan seorang Marinka yang notabene seorang istri pengusaha besar dan mempunyai pengaruh dalam aspek kehidupan.
"Ini keterlaluan bu, aku ga mau. Aku bakal robek surat-surat ini," ujar Vico sambil mengambil dokumen-dokumen itu untuk menghancurkannya.
"Jangan nak, ibu mohon jangan lakukan itu. Ibu ga mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu," Sinta meneteskan air mata suaranya melemah karena merasa berat dan sesak.
"Aku akan bicarakan ini sama tante Marinka bu" tukas Vico pada ibunya.
Sinta hanya diam membisu. Dia hanya termenung melihat Vico yang begitu marah dengan perjanjian yang dibuat Marinka secara sepihak.
***
Farel masih saja terjaga. Malam ini matanya tidak bisa diajak kompromi, sudah berkali-kali dia memejamkan matanya dan membolak-balikkan tubuh sixpacknya dikasur empuk yang menjadi alas tidurnya itu. Masih saja tidak bisa memejamkan matanya. Diapun membuang selimut yang menutupi tubuhnya duduk sambil mengusap kepalanya kasar.
Sial, kenapa sich ni mata dari tadi ga mau tidur. Mana badan gue cape semua lagi. Malah ga bisa tidur! gerutunya sambil menyalakan lampu kamarnya. Matanya tertuju pada jam dinding dikamarnya. Jam menunjukkan pukul 12.00 malam. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur nyenyak.
Farel menoleh ke nakas melihat kotak segi empat itu terbaring disana. Dia segera mengambil kotak itu kemudian menghubungi seseorang.
"Bro, gue lagi borring ni. Lo bisa bantu gue buat ilangin kebosenan gue?"
"Kenapa bos? Lo lagi ada masalah sama bokap nyokap lo lagi? ejek lelaki yang bertato dilengan kanannya dan percing ditelinganya.
"Lo ke sini aja, kita lagi mau ngetrack ni, kalo bos mau ke sini aja."
"Ya udah, gue samperin lo."
Dia segera memakai kaos abu rendah dibagian dadanya memperlihatkan otot sexy dibagian itu, tak lupa jaket kulit berwarna hitam, dia mengambil kunci motor yang tergeletak dinakas kemudian menyalakan motor sportnya dan pergi ketempat tongkrongannya. Mungkin saat ini yang bisa membuatnya lupa akan permasalahan dia adalah bertemu dengan teman-temannya.
"Bos, udah ga liat bos disini. Sibuk ya bos?" tanya lelaki bertato dengan percing menyapa Farel.
"Gue ga sibuk kok," jawabnya singkat sambil mengambil botol minuman kemudian meminum langsung dari botol tersebut.
"Kenapa kok kusut banget tuch muka? Lagi ada masalah?"
"Gue tuch lagi bete sama bokap gue, masa gue disuruh balik lagi ke rumah," keluhnya sambil menyeruput minumannya tak lupa menyalakan rokok dan menghisap rokok itu sesekali.
Lelaki itu hanya tersenyum melihat wajah kesal Farel. Dia tahu persis bosnya itu memang tidak pernah sepaham sama orang tuanya.
Di tempat itu suara desingan motor bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Hanya sorotan lampu motor yang kini menyinari malam kelam. Para muda-mudi tengah bersorak sorai berkumpul dijalanan yang tadinya sepi sekarang terlihat semakin ramai.
Seorang lelaki dengan rambut mohak mengendarai motor sport dan wanita berpakaian sexy yang sedang memeluknya dibelakang motor, menghampiri Farel yang baru saja berada ditengah-tengah mereka.
"Hei bro, gede juga nyali lo datang ke sini," senyum menyeringai terlihat diwajahnya.
"Kenapa lo keberatan? Lagian inikan tempat umum siapapun boleh datang ke sini!" ketus Farel padanya.
__ADS_1
"Ada apa ni?" tanya lelaki bertato yang baru saja kembali dari belakang menghampiri mereka.
"Ga kok bro gue cuma mau nyapa si Farel aja," tukas lelaki itu dengan nada mengejek.
Farel mulai merasa muak dan ingin sekali menonjok lelaki itu "maksud lo apa? Hah!?" Farel menarik kaos lelaki yang berada dihadapannya, tapi Tom yang berada diantara mereka menengahi "Farel, Tom!!! Udahlah bro kalian jangan kayak anak kecil gitu."
"Tapi muka dia itu Lucky, nyari gara-gara aja!!!" Farel bersungut-sungut sambil menunjuk lelaki yang bernama Tom itu.
Tom juga tak mau kalah "apa? Lo pikir gue takut sama lo!!!" tantangnya sambil membusungkan dadanya.
Farel dan Tom memang tidak akur, karena setiap kali ngetrack bersama, lelaki itu selalu saja kalah dari Farel. Membuatnya iri pada Farel.
Dia masih penasaran dengan keahlian Farel dalam balapan. Makanya hari ini dia masih mencoba menantang Farel.
"Ssshhttt, gue ajak lo pada ke sini bukan buat adu jotos. Mending lo bedua ngetrack aja dech daripada maen tonjok-tonjokan?"ajak Luck si pria bertato itu pada mereka.
Kedua orang itu hanya mengikutinya dan mereka kembali ke motor mereka masing-masing. Kedua pemuda itu masih saling menunjukkan angkuhnya masing-masing.
"Nah gitu dong. Lo mau pasang berapa?" tanya Lucky sambil menatap pada keduanya.
"Gue mau pasang lima juta." tantang Tom sambil menunjukkan ke lima jarinya ke arah wajah Farel.
Yang ditunjuk malah terkekeh. Baginya uang bukan tujuan utamanya, karena dia hanya ingin bersenang-senang dan menghilangkan rasa muaknya.
"Kenapa lo malah cengir gitu? Kalau gue menang lo harus bayar lima juta buat gue," Tom terlihat kesal dengan sikap Farel yang seakan meremehkannya.
"Ok, gue ga masalah kalau cuma lima juta itu kecil buat gue, tapi kalau gue yang menang lo harus serahin tuch cewe buat gue," ujar Farel sambil menunjuk gadis yang duduk dibelakang motor lelaki itu.
Gadis itu mengeratkan pelukannya pada Tom, takut terjadi sesuatu padanya. Lelaki itu memperhatikan wanitanya lama, sampai akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
"Ok deal, kalau lo menang cewe ini buat lo," tukas lelaki itu sambil melirik pada wanitanya.
Gadis itu kini merenggangkan pelukannya dari Tom. Dia melepaskan tangannya dari Tom. Sedikit terluka dengan sikap pria itu, dengan mudahnya lelaki itu menjadikan dirinya bahan taruhan. Tidak sadarkah dia, bahwa wanita yang bersamanya sekarang adalah kekasihnya? Bisa-bisanya demi keinginannya dia menjadikan dirinya sebagai taruhan.
Lelaki itu tidak perduli, bahkan sampai gadis itu turun dari motornya dia tetap tidak perduli. Tiba-tiba Lucky memegang tangan gadis itu. Memberi kode bahwa semua akan baik-baik saja. Gadis itu hanya diam dan mendengus kesal.
Setelah adu mulut yang cukup lama, pertandingan dimulai. Farel dan Tom telah berada di garis start dengan seorang wanita cantik berada diantara mereka untuk memandu pertandingan. Gadis cantik itu mengibaskan bendera kecil yang dipegang pada kedua tangannya dan
"GO!!!"
Balapan dimulai. Kedua lelaki muda itu menggas motornya dan melajukan kecepatan motor mereka dengan kecepatan tinggi.
Lucky menatap pada gadis yang sedari tadi menampakkan wajah kesalnya. "Udah, lo ga perlu takut. Percaya sama gue semua bakal baik-baik aja,"
"Apanya yang baik-baik aja? Sialan banget si tom, malah jadiin gue taruhannya!" gadis muda itu mendumel merasa direndahkan.
Lucky terkekeh melihat kemarahan si gadis, terlihat menggemaskan jika dia sedang mengomel seperti itu.
"Kenapa lo malah senyam-senyum gitu?" kesal gadis itu sambil berkacak pinggang menatap tajam pada Lucky.
"Lo kalo lagi marah kok malah tambah cantik ya?" goda Lucky padanya.
__ADS_1
Gadis itu melemparkan kaleng minumannya pelan ke arah Lucky. Dirinya benar-benar kesal dengan ulah Lucky tapi Lucky mengelak sehingga kaleng minuman itu tidak mengenai dirinya.